
Melly dan Lina melangkah masuk ke dalam sebuah halaman gedung tua dimana mobil Jhony sudah terparkir disana.
Keduanya mengendap-endap masuk kedalam, sambil sesekali menegok ke kiri dan ke kanan.
Tidak lama kemudian, kini mereka berdua tiba di depan pintu utama bangunan tua tersebut.
Melly dan Lina memperhatikan seisi bangunan itu. Tampak hamparan sampah pabrik dan beberapa lemari tua tergeletak begitu saja diatas lantai.
"Mell, kemana bosmu! kok tidak ada tanda-tanda kalau dia sedang berada disini!," tanya Lina dengan tatapan tajam melihat ke seluruh penjuru ruangan.
"Aku juga tidak tahu dimana dia. Tapi yang jelasnya dia pasti ada di sekitaran sini!," jawab Melly yang juga ikut memperhatikan seisi ruangan itu.
"Ayo kita masuk kedalam! siapa tahu dia berada di dalam sana," ajak Lina sambil memegangi tangan Melly.
"Iya, tapi tunggu dulu!, apa di gedung ini tidak ada kecoanya!, soalnya Aku sangat jijik dengan mahluk yang satu itu," ujar Melly sambil memandang kearah lantai dan mewanti-wanti siapa tahu ada kecoa berkeliaran disana.
"Hiiih....., Kamu ini! mana ada si kecoa. Mereka sama sekali tidak meniliki makanan disini, jadi mustahilah kalau binatang menjijikkan itu betah tinggal disini," ujar Lina menarik tagan Melly untuk lebih masuk kedalam.
"Benar ya! awas saja kalau berani membohongiku,"
Kini keduanya melangkah lebih masuk kedalam. Tapi kembali seperti tadi, mereka masih belum bisa menemukan keberadaan Jhony.
"Tu kan tidak ada juga!," ucap Lina setelah mereka sudah menyusuri seisi ruangan itu.
"Terus kemana kira-kira Jhony pergi kalau dia tidak berada di tempat ini!, ataukah jangan-jangan, Jhony pergi ke tempat lain!," balas Melly.
__ADS_1
"Bisa jadi, tapi kalau dia pergi ke tempat lain terus kenapa mobilnya dia simpan diluar sana," ujar Lina.
Melly tidak menjawab dia malah menggelengkan kepalanya tanda kalau dia juga tidak tahu dimana Jhony berada saat ini.
Lama mereka terdiam disana hingga mereka berdua di kaget dengan suara benda jatuh dari atas lantai dua bagunan itu.
"Apa itu!," tanya Lina sambil mendongak keatas.
"Hus....jangan ribut!, sepertinya Jhony ada diatas lantai dua. Dan coba kamu dengar sepertinya dia tidak sendirian, ada beberapa orang diatas sana,"ucap Melly sedikit pelan lalu meletakkan jari telunjuknya kedepan bibir untuk memberi isyarat pada Lina agar tidak mengeraskan suaranya.
"Iya benar!, ada beberapa orang diatas sana, dan sepertinya mereka sedang beradu mulut dan bahkan sedang beradu jotos," ucap Lina sedikit berbisik ke telinga Melly.
"Ayo kita naik dan melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi diatas sana," Kini Melly yang gantian menarik tangan Lina menuju kearah tangga bagunan tua itu.
Dengan pelan-pelan sekali keduanya melangkah naik keatas agar orang-orang yang ada diatas sana tidak mencurigai kedatangan mereka berdua.
Melly dan Lina bersembunyi di balik dinding dan sesekali mengintip di selah-selah daun pintu ruangan itu.
"Cepat lepaskan Nenek Fatimah atau kalian semua akan menanggung akibatnya, terutama kamu mak lampir" ucap Jhony dengan lantang sambil menunjuk kearah Shanty sang Ibu tiri.
Mendengar Nenek Fatimah sedang di sandera, Melly sontak membulatkan matanya. Dia ingin masuk kedalam sana untuk menyelamatkan Nenek Fatihmah tapi dengan cepat Lina menarik tanganya.
"Sabar, kita lihat situasi dulu baru kita bergerak," ucap Lina mencegah Melly untuk masuk kedalam sana.
Melly mengangguk pelan tanda mengiayakan usulan Lina.
__ADS_1
"Berani sekali kamu anak haram memanggilku dengan sebutan mak lampir," bentak Shanty pada Jhony yang tidak terimanya dirinya di samakan dengan mak lampir.
"Terus!, apa Aku harus memanggilmu Jessica Milla, sedangkan wajahmu buruk mirip mak lampir yang habis kecebur di comberan Ibu kota!," ucap Jhony kemudian menyunggingkan bibirnya sedikit keatas.
"Berani sekali kamu menghina majikan kami!," ucap Seorang anak buah Shanty kemudian menyerang Jhony menggunakan sebuah balok kayu.
Jhony yang tiba-tiba mendapat serangan mendadak sontak menghindar kemudian menyerang balik kearah anak buah Shanty.
Kini pertarungan pun di mulai. Anak buah Shanty menyerang Jhony secara bertubi-tubi menggunakan balok kayu dan dengan gesit Jhony menghindar dan sesekali menangkisnya.
Beberapa kali Jhony terlihat meringis kesakitan saat dia mencoba untuk menahan balok kayu yang di layangkan anak buah Shanty kepadanya.
"Awo......." ringis Jhony sambil mengusap kedua tanganya saling bergantian.
"Rasakan itu!, ha ha ha...." anak buah Shanty terbahak-bahak sehingga membuat para sekutunya termaksud Shanty ikut terbahak.
"Ternyata nyalimu cuman sampai disitu! ha ha menyeralah dan cepat tanda tangani surat kuasa ini," Shanty tertawa lalu menyodorkan sebuah kerta putih kearah Jhony.
"Chiii.......," Jhony meludah ke sembarang arah sambil menatap tajam kearah Shanty.
"Dasar perempuan Iblis, kamu relah melakukan apa saja demi mencapai keinginan busukmu itu," bentak Jhony kemudian memperbaiki posisi berdirinya.
"Kurang ajar, kamu masih berani menghinaku. Sumanto serang dia, kalau perlu remukkan semua tulang belulangnya agar dia secepatnya bisa bertumu dengan Ibunya," perintah Shanty pada anak buahnya.
"Baik Nyonya," Kembali sumanto menyerang Jhony tapi kali ini Jhony dengan gesit menghindar sehingga sumanto sangat kewalahan.
__ADS_1
"Hebat Juga kamu! tapi jangan senang dulu, coba kamu rasakan yang ini," Sumanto kembali memukul Jhony dengan balok kayu, tapi dengan cepat Jhony menghindar lalu kemudian berbalik arah dan memberikan sebuah tendangan putar yang sangat keras kearah wajah sumanto dan tak hayal lagi pria itu pun terjatuh seketika keatas lantai bersama balok kayu yang dia genggamnya. Darah segar pun berceceran diatas lantai yang berasal dari mulut dan kedua lobang hidung sumanto.
👉 jangan pelit dong bagi vote, like, dan comentnya ....makasih.