
Tidak lama setelah mereka memutuskan untuk merawat Melly dan Lina dalam satu kamar.
Tanpa mereka semua sadari kalau seseorang sedang berdiri diantara mereka.
"Maaf kalau saya mengganggu kegembiraan Anda semua," ucap Nenek Farida merasa tidak enak Hati.
Seketika semuanya berpaling dan menatap kearah datangnya suara.
"Nenek, Ida," ucap Melly dan Nenek Fatimah bersamaan.
Nenek Farida tersenyum sesaat kearah Melly lalu kemudian menatap kearah Nenek Fatimah.
"I Timang.........," mata Nenek Farida melotot.
Percaya dan tidak percaya kalau yang berdiri di hadapanya saat itu adalah sahabatnya hilang sejak dulu.
Nenek Fatimah yang di panggil dengan sebutan ' I Timang' sontak memandang satu persatu orang dalam ruangan tersebut sembari tersenyum kuda lalu kemudian menatap kembali kearah Nenek Farida.
"Imah kali Ida," protes Nenek Fatimah sambil mendekat kearah Nenek Farida.
Keduanya pun saling berpelukan satu dengan yang lain.
Dari kedua mata perempuan tua itu menetes air mata kebahagian.
Orang-orang dalam ruangan itu juga ikut merasa terharu melihat pertemuan kedua sahabat yang sudah lama terpisah.
Lebih dari dua puluh tahun lamanya mereka berpisah dan di pertemukan kemabili secara tidak sengaja.
Setelah puas berpelukan Nenek Fatimah dan Nenek Farida pun saling melepas pelukan mereka.
"Dari mana saja kamu!, Kenapa kamu pergi tanpa memberi tahu Aku terlebih dulu," ucap Nenek Farida melap air mata Nenek Fatimah menggunakan telapak tanganya.
"Aku keluar Negeri untuk melanjutkan bisnis bersama suamiku! kamu sendiri kemana! sejak kebakaran padepokan persilatan kalian, kamu dan suami menghilang tak tahu kemana rimbanya." tanya Nenek Fatimah balik.
"Panjang cerianya, sebaiknya kita duduk di sofa itu dulu baru kita lanjutin, tidak Aku enak dengan yang lain bila kita cerita di sini," ucap Nenek Farida sambil tersenyum kepada orang-orang yang ada dalam ruangan itu.
Nenek Fatimah pun mengangguk pelan tanda kalau dirinya setuju dengan usulan Nenek Farida.
"Ngomong-ngomong Kamu kok bisa berada di rumah sakit disini?," tanya Nenek Fatimah setelah mereka berdua duduk di Sofa yang tak jauh dari tempat pembaringan Melly.
"Aku datang kesini untuk menjeguk cucu Aku," Jawab Nenek Farida.
__ADS_1
"Cucu kamu!, maksud kamu anak Nindy? terus Nindynya dimana kok Aku tidak melihat dia bersamamu!, " ucap Nenek Fatimah sedikit melipat jidat keriputnya.
"Iya, Sejak kebakaran itu Nindy dan suaminya meninggal. Aku dan mas Bram hanya bisa menyelamatkan anak mereka," kembali mata Nenek Faridah berkaca-kaca mengingat masa lalunya yang kelam.
" Maaf, bukan maksud Aku untuk mengungkit kembali kesedihan kamu di masa lampau!," Nenek Fatimah mengusap Lembut punggung Nenek Faridah.
"Tidak apa-apa!," Nenek Farida sedikit tersenyum.
"Terus cucu kamu dirawat dimana?," tanya Nenek Fatimah kembali.
"Dia sudah sembuh! malah dia berada di ruang yang sama dengan kita sekarang ini,"
"Di ruang yang sama dengan kita! mana dia Aku ingin melihatnya," Nenek Fatihmah melayangkan pandanganya ke seluruh penjuru ruang itu sakin penasaranya siapa sebenarnya cucu dari Nenek farida.
Tapi tidak jua dia temukan orang asing yang ada dalam ruangan itu kecuali orang-orang yang sudah dia kenal baik.
"Tuh.....," Tunjuk Nenek Farida kearah pembaringan dimana Melly dan Lina sedang bercanda gurau diatas sana.
"Maksud kamu, Melly dan Lina itu cucu kamu anaknya Nindy?."
"Iya keduanya cucu Aku! tapi yang anaknya Nindy itu Lina bukan Melly,"
" Syukurlah....," ucap Nenek Fatimah mengelus dadanya.
"Tidak ada apa-apa,"
"Ngomong-ngomong Ana sekarang dimana?, Oh ..iya ..iya Aku tahu pasti dia dan Ayahnya lagi sibuk ngurus perusahan kalian di negeri orang buka?,"
Lama Nenek Fatimah menjawab kini giliran matanya yang berkaca-kaca.
"Suami Aku sudah lama meninggal. Sedangkan Ana.......," Nenek Fatimah tidak sanggup melanjutkan ucapanya.
"Ana kenapa Imah?," Nenek Faridah memegangi pundak Nenek Fatimah.
Untuk kedua kalinya Nenek Fatimah terdiam sesaat sebelum menjawab.
Tampak Perempuan Tua itu menarik nafas dalam-dalam dan menghempaskanya dengan sangat pelan.
"Ana hilang....!!, tidak tahu kemana rimbanya sekarang," Nenek Fatimah tertunduk lesuh.
"Apa Ana hilang!," teriak Nenek Farida hingga orang-orang dalam ruangan itu terdiam serentak.
__ADS_1
Elin yang mendengar itu juga sangat kaget dan melangkah mendekat kearah mereka berdua.
"Apa Aku tidak salah dengar kalau Ana hilang," ucap Elin sambil duduk di samping Nenek Fatimah.
Nenek Fatimah tidak menjawab dia hanya mengangguk pelan.
"Astaga!....,tapi Ibu tenang saja, kalau Ana memang berada di dalam kota ini Aku akan berusaha untuk mencarinya. Aku akan menyuruh Aldo dan juga Jhony untuk membantuku jadi, Ibu bisa tenang sekarang" ucap Elin sambil mengelus lembut punggung Nenek Fatimah.
"Terima kasih Lin!, semoga saja Ana segera di temukan dan kami bisa berkumpul kembali seperti dulu," kini Nenek Fatimah sedikit legah karna Elin sudah berjanji akan membantu mencari anaknya yang hilang itu.
"Kalau begitu Ayo kita gabung dengan yang lain. Melly dan Lina pasti akan sedih bila melihat Kedua Nenek yang mereka sayangi sedih-sedihan seperti ini," Ajak Elin sambil memegangi tangan Nenek Fatimah dan tersenyum kearah Nenek Farida.
Kedua perempuan tua itu pun mengangguk lalu berdiri.
Ketiganya melangkah kearah pembaringan untuk bergabung dengan yang lain.
Kembali canda ria terdengar dalam ruangan itu.
Melly dan Lina serta Dokter Fadlanlah yang jadi sasaran empuk ke jailan mereka hingga, membuat ketiga orang itu salah tingkah dibuatnya.
Hampir setengah jam mereka bercanda di dalam ruangan itu hingga, Elin, Hafid, dan Jhony mohon diri untuk pulang karna ada urusan penting yang harus mereka selesaikan.
"Mell, Lin Ibu pulang dulu ya besok ibu kemari lagi dan membawakan makanan spesial buatan Ibu sendiri untuk kalian berdua," Elin mencium pipi Melly dan Lina secara bergantian.
Melly dan Lina hanya mengangguk sembari tersenyum.
"Meong! Babang Jhony juga pulang ya, nanti malam Babang Jhony datang lagi kemar untuki menemuimu dan melepas rindu, rindu kita berdua gitu!" Jhony juga ingin mencium Melly tapi kerah majunya sudah di tarik oleh Elin.
"Jhony kamu ini mesum sekali! Ayo pulang sebelum Ibu benar-benar melemparmu turun ke lantai dasar," ancam Elin pada Jhony.
"Iya...iya ...Ibu pelit banget si! dada meong ummmach," Jhony hanya bisa memberi ciuman jauh pada Melly.
Melly merotasikan kedua bola matanya melihat kelakuan Jhony yang menurutnya sudah mulai anah dan mendekati gila.
Setelah kepergian Elin, Hafid dan juga Jhony. Kini giliran dokter Fadlan pamit karna masih ada pasien yang ingin dia tangani.
"Fadlan juga permisi ya! kalau ada waktu Aku kemari lagi untuk menegok Nona janda," sambil matanya menatap kearah Lina.
"Ah....! Nona Janda," ucap Melly dan kedua perempuan tua yang ada dalam ruangan itu.
Lina tidak mempedulikan sama sekali ucapan Melly dan juga Neneknya.
__ADS_1
Matanya hanya menatap tajam kearah Dokter Fadlan yang sudah menghilang di balik pintu.
đŸ‘‰terus beri like, coment , vote ...yang banyak ....terima kasih.