
Hafid terus melajukan kendaraanya menuju kearah selatan menjauhi pusat kota.
Tujuannya saat itu adalah bangunan tua miliknya yang sudah hampir 5 tahunan terbengkalai.
"Kalau benar Shinta pelakunya maka ku pastikan dia dan Shanty akan membusuk dalam penjara," Hafid menambah kecepatan kendaraannya.
Hampir dua puluh menit pria parubaya itu mengemudikan mobilnya hingga dia tiba juga diarea industri yang sudah tidak terpakai lagi. Jejeran bangunan tua yang sudah tidak terawat menambah seram lokasi tersebut.
Hafid memarkirkan kendaraanya agak jauh dari lokasi bangunan miliknya untuk menjaga ke mungkinan Shinta dan anak buahnya jangan sampai melihatnya.
Hafid mengendap-ngendap masuk kedalam lalu bersembunyi pada dinding tembok bangunan tua itu.
Matanya diarahkan kesana kemari untuk mencari keberadaan Shinta atau pun anak buahnya.
"Jika Shinta dan anak buahnya ada disini, setidaknya Aku bisa menemukan kendaraan yang mereka gunakan. Tapi kenapa belum juga ada tanda-tanda yang bisa memberiku petunjuk kalau mereka benar-benar bersembunyi di tempat ini,"
Hafid sedikit mengintip di sudut dinding dan melihat kedalam bangunan tua itu.
Lama Hafid terdiam mengawasi tempat itu, hingga terdengar ada beberapa langkah kaki keluar dari dalam bangunan tersebut.
"Awasi terus tempat ini. Jangan sampai ada penyusup masuk dan mengacaukan rencana Nyonya.Paham!," ujar Rita si perempuan kekar yang mirip seorang pria.
"Baik Rita!, Kami akan terus berjaga-jaga disini dan akan segera memberi laporan jika kami menemukan keganjalan nantinya," ujar seorang pria tinggi besar berjaket kulit dengan kacamata hitam yang di selipkan pada kancing bajunya.
"Bagus kalau begitu, Aku kesana dulu untuk mengawasi seluru bangunan ini," Rita menepuk punggung pria tersebut dan berbalik masuk kembali kedalam bangunan tua itu.
"Oh.. ternyata benar, mereka bersembunyi di tempat ini," ujar Hafid dalam hati sembari mengangguk-ngangguk.
Hafid merogoh kantong celananya dan mengeluarkan handphonya dari dalam sana. Belum juga pria parubaya itu menyalakan handphonya, tiba-tiba benda pipihnya itu berbunyi dan bergetar.
"Kring...kring...kring,"
__ADS_1
"Astaga," Hafid langsung menekan tombol off untuk mematikan panggilan san penelpon.
"Hampir saja ketahuan," Hafid kembali menghubungi si penelpon yang tak lain adalah putranya sendiri yaitu Jhony.
"Ada apa nak kamu menelpon Papa?," tanya Hafid setelah jaringan teleponnya dengan Jhony tersambung.
"Kami sudah berada di luar pagar gedung di dekat mobil Papa. Terus Papa dimana sekarang?," tanya Jhony balik.
"Papa sekarang berada diluar gedung tepatnya dibawah bak penampungan air. Kalau kamu mau masuk sebaiknya dengarkan aba-aba dari Papa dulu. Soalnya di depan gedung ada dua orang sedang berjaga-jaga disana,"
"Baik pa, kalau begitu kami menunggu kabar selanjutnya dari Papa, Tapi ingat, Papa harus terus waspada dan hati-hati jangan sampai para bajingan itu melukai Papa,".
"Iya Nak, Papa mengerti, kalau begitu kita sudahi dulu teleponya," tanpa menunggu jawaban dari Jhony Hafid langsung memutuskan sambungan telepon mereka.
Kembali Hafid memasukkan handphonya kedalam saku celananya dan dengan hati-hati sekali dia mengambil sebuah balok kayu dan mendekati kedua preman yang sedang berjaga di depan pintu masuk bangunan tua itu.
"Bro!,.....pluck," satu pukulan balok kayu di layangkan Hafid kearah dua preman itu. Satunya kena dan langsung tersungkur diatas lantai. Sedangkan satunya lagi berhasil menghindar.
"Sekarang terima ini," Kembali Hafid mengayunkan balok kayunya kearah preman tersebut tapi dengan sigap preman itu menghindar dan memberi tendangan pada pinggang bagian sebelah kiri milik Hafid.
Hafid terjatuh sembari meringis.
"Awo.....," ringis Hafid dan balok yang ada di tanganya terlempar jauh.
"Matilah kau tua bangka," preman itu mengangkat kakinya dan ingin menginjak tubuh Hafid yang sudah tidak bisa lagi untuk berdiri.
Belum juga kaki preman itu menyentuh tubuh Hafid, sebuah tendangan keras sudah mendarat tepat di lehernya.
Preman itu seketika merasa pusing dan hampir terjatuh.
"Berani-beraninya kamu mau menyakiti papaku," ujar Jhony sembari mengangkat tubuh Hafid agar lekas berdiri.
__ADS_1
"Siapa kalian ini?," tanya preman tersebut sembari menggeleng-gelengkan kepalanya karena masih merasa pusing akibat tendangan yang dihadiahkan Jhony padanya.
"Kamu tidak perlu tahu, cepat katakan dimana kalian menyembunyikan putriku," Jhony membentaki preman itu.
"Oh... ternyata kamu Ayah dari bayi menyebalkan itu. Kalau kamu mau mengetahui dimana keberadaan putrimu, langkahi dulu mayatku. Tapi kalian jangan main keroyokan," Preman itu memasang kuda-kuda.
"Astajim, Sombong sekali," ujar Aldo sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Baiklah kalau itu maumu," Jhony langsung menyerang preman tersebut.
Hanya beberapa gerakan saja Jhony dengan mudah menaklukkan preman itu dan mengunci kedua tanganya.
"Cepat katakan dimana kalian menyembunyikan putriku?, atau kedua tanganmu ini kupatahkan sehingga kamu cacat seumur hidup," ancam Jhony.
"Baik-baik, Aku akan mengatakanya, Nyonya Shinta menyembunyikan bayimu diatas lantai dua," ujar preman itu dengan keringat dingin menetes di dahinya.
"Awas saja kalau kamu berani membohongi kami,"
"Sumpah Tuan, Nyonya Shinta benar-benar menyembunyikan bayimu diatas lantai dua," ucap preman itu kini dengan tubuh bergetar.
"Cepat pergi dari sini sebelum Aku berubah pikiran," Sebuah tendangan keras diarahkan Jhony pada bokong preman tersebut.
Preman itu berlari terbirit-birit meninggalkan temanya yang masih tidak sadarkan diri diatas lantai.
"Huu...tadi sangar macam mafia sekarang mirip kerbau di colek hidungnya," teriak Aldo mengejeki preman itu.
"Husss... !, jangan ribut kanda nanti para penculik itu mendengar ke datangan kita," Gisel menepuk punghung Aldo.
"Iya maaf, yayangku," balas Aldo sembari mencolek dagu milik Gisel.
"Sudah-sudah, Ayo kita masuk dan menyelamatkan Azisah," ajak Hafid pada mereka.
__ADS_1
Jhony, Aldo, Melly, Gisel, Lina dan juga pandu mengangguk dan melangkah masuk kedalam gedung tua itu.