MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
96, 97. HARI PERSANDINGAN PUN TIBA.


__ADS_3

Hari terus berganti hingga tidak terasa dua bulan pun berlalu.


Kini pernikahan Jhony dan Melly pun tiba. Mension milik keluarga Aldo terlihat sangat ramai. Halaman mansion di penuhi dengan deretan mobil mewah.


Para pengusaha baik dari dalam kota maupun luar kota datang berbondong-bondong untuk menghadiri pesta tersebut.


Pesta yang terbesar dan termegah yang pernah ada di sepanjang sejarah yang diadakan di kota itu.


Elin segaja melakukan itu supaya Jhony dan Melly akan terus mengenang hari-hari bahagia mereka itu hingga mereka tua nanti dan memiliki anak cucu di kemudian hari.


Tidak main-main, Elin harus merogoh kantong yang cukup dalam demi terselenggaranya pesta yang selama ini dia idam- idamkan.


Nenek Fatimah dan Pandu sebagai pihak dari keluarga Melly bukanya tidak mau membantu mendanai pesta itu. Tapi, ya, kita tahu Elin, selama dia mampu dan itu benar-benar keinginanya maka dia akan melakukanya tanpa harus ada campur tangan orang lain.


Nenek Fatimah dan Pandu hanya bisa pasrah dari pada berdebat dengan Elin yang tidak mungkin bisa menang darinya.


Lagian Elinlah yang selama ini menjaga Melly sebelum mereka bertemu. Jadi, Nenek Fatimah dan Pandu membenarkan keinginan Elin walau hati mereka sebenarnya ingin sekali ikut andil dalam pesta raksasa itu.


"Nanti pesta Anak-anak mereka baru kami lagi yang bertindak. Kamu lagi yang diam melihat bagaimana kami akan membiayai pesta cucu kami itu" Nenek Fatimah.


"Terserah yang penting Akulah yang pertama melakukan pesta terbesar di sepanjang sejarah perCEOan yang pernah ada di sejara kehidupan nyata dan pernovelan" Elin.


Kira- kira begitulah kesepakatan antara Elin dan Nenek Fatimah.


Sementara itu, Melly yang ada di sebuah kamar di dalam mension terlihat sedang duduk dan dirias oleh dua pria gemulai.


Elin sengaja mendatangkan mereka berdua dari luar kota hanya untuk merias Melly seorang.


Tidak henti-hentinya Kedua pria gemulai yang di ketahui namanya unce dan Temmy itu memuji kecantikan Melly.


Mereka berdua baru kali ini merias seorang penganting tidak banyak embel-embelnya.


"Nona Melly, Anda begitu cantik! Aku sangat iri melihatmu, Lihatlah wajahmu di dalam cermin, cantik bukan!," ucap Temmi sambil memandang kearah cermin yang ada di hadapan mereka.


Melly tersenyum, benar kata Temmy dia bak ratu keraton yang selama ini hanya di pingit tanpa banyak orang yang mengetahui.


Sekali muncul maka sebuah berlian cantik akan bersinar. Itulah Melly, wanita cantik yang jarang berdandan tapi satu kali dia berdandan maka yang lain pasti lewat.


"Iya, Aku sangat cantik. Aku sunggu tidak percaya kalau yang di dalam cermin itu adalah Aku," Melly menepuk-nepuk pipinya sembari tersenyum gemes.

__ADS_1


Benar Nona, Anda seperti putri kerajaan yang cantik, Ayu dan gemulai. Banyak gadis cantik seumuran Nona yang pernah kami rias tapi, tidak secantik Nona Melly. Anda itu alami tanpa make up pun pasti Anda sudah terlihat mempesona," sambung Unce menambahkan.


Tidak lama kemudian daun pintu ruangan itu di ketuk dari arah luar.


Mendengar hal itu Melly ingin bangkit dari tempat duduk tapi dengan secepat kilat Temmy melarangnya.


"Ups... Nona Melly duduk cantik saja di sini biar aike yang membuka pintunya," cegah Temmy pada Melly.


Temmy melangkah mendekat kearah pintu. Setelah tiba di depan pintu, pria bertubuh gembul itu memutar gagang pintu dan sedikit menariknya.


Tampak dibalik pintu seorang perempuan muda nan cantik sedang berdiri disana sambil menggendong bayi laki-laki kira-kira umur tiga tahun lebih.


"Eeee....Nyoya Gisel dan Tuan muda Zaky," ucap Temmy sambil tersenyum dan memegangi pipi gembul Ziko.


Ziko sedikit mengeryitkan dahinya setelah Temmy memanggilnya dengan sebutan Zaky. Bocah itu diam saja walau Temmy salah menyebut nama.


"Tem, apa kalian sudah selesai mendandani Melly," balas Gisel sembari menatap Temmy yang saat itu masih asyik memegang pipi si kecil Ziko.


"Hampir selesai Nyonya, setelah itu kami akan memakaikan Nona Melly baju kebaya seperti perintah Nyonya besar,"


"Apa kami boleh masuk untuk melihatnya?,"


"Ciko kali om," kini Ziko mulai protes.


"Maaf ternyata Ziko, tapi Kok om si, tante kali Ziko," protes balik Temmy pada Ziko.


"Tapi kok ada kumisnya, milip kakek Hambali," sambung Ziko lagi sambil memperhatikan wajah Temmy dengan seksama.


"Gemes de ah," Temmy mencubit lembut pipi Ziko untuk sekali lagi antara jengkel dan gemes mendengar ucapan Ziko memanggilnya om.


"Tante ya tante, om ya om, jangan bolak balik nanti Tuhan malah loh, kata Ayah,"


"Iya, Iya...., Iya kamu menang, om bukan tante deh," Temmy memonyon-monyongkan bibirnya.


Gisel hanya bisa tersenyum mendengar perdebatan kecil antara putranya dengan Temmy.


Walaupun Temmy seorang pria tapi dia lebih suka di panggil tante ketimbang om.


Setiap orang beda, jadi kita tidak bisa menghakiminya. Kita hanya bisa mengingatkan saja terimah atau tidak terimah itu hak mereka yang penting kita sudah mengingatkan.

__ADS_1


Setelah Temmy membuka pintu cukup Lebar, Gisel melangkah masuk sambil menggendong Ziko.


Gisel melangkah kesana kemari mencari sesuatu tapi tidak juga dia temukan.


Temmy, Unce dan Melly yang saat itu berada di depan meja rihas begitu keheranan melihat tingkah Gisel yang rada-rada aneh.


"Nyonya!. Nyonya cari apa si!, kok dari tadi bolak balik mirip strikaan," ujar Temmy pada Gisel.


"Aku cari Melly, Tem!, Ziko kamu lihat tanta Melly Tak," Gisel mebatap wajah putranya.


"Tak Bun.....," Ziko menggeleng- gelengkan kepalanya tanda tak tahu.


Melly yang mendengar percakapan antara Gisel dan Ziko menggeleng dan memplototkan matanya kearah Ibu anak itu.


"Lebay ...ini Aku Melly," ujar Melly yang tahu kalau Gisel dan Ziko pasti sedang mengerjainya dan pura-pura tidak mengenalinya.


"Apa kamu Melly, Ziko apa benar dia tante Mellymu?," kembali Gisel bertanya pada putranya.


"Bukan Bun, Mana ada tante Melly secantik tante itu!, pasti tante itu Angku -Angku," ucap Polos Ziko.


Melly bangkit dari tempat duduknya dan melangkah mendekat keara Gisel dan Ziko.


Tanpa bicara Melly menghujami Ziko dengan berpuluh-puluh ciuman sehingga wajah bocah kecil itu di penuhi dengan lipstik.


"Ampun tante Melly, Ziko iyap," Ziko terbahak-bahak sakin gelinya di perlakukan seperti itu oleh Melly.


"Makanya jangan nakal! kamu jangan contoh Ayah sama Ibumu yang suka sekali ngerjain tante ya!," Melly kini menghentikan aksinya menciumi Ziko secara bertubi-tubi.


"Iya tante! Ziko janji," Ziko masih cengegesan.


"Ini pasti ulahmu bukan! mengajar si ganteng ngerjain Aku," Melly memukul pundak Gisel.


Bukanya meringis, Gisel malah tertawa saat Melly memukulnya.


"Ha ..ha ...habisnya kamu cantik sekali Melly, Aku sama Ziko jampir-hampir tidak mengenalmu sakin cantiknya, Iyakan sayang?," tanya Gisel pada Ziko.


"Iya tante, tante tuh milip bidadali kayangan. Tapi secantik-cantiknya tante lebih cantik Bunda ciko dong iyakan bun?," tanya balik Ziko pada Ibunya.


"Tentu dong!," Ziko, Melly dan Gisel sontak tertawa terbahak-bahak begitupun dengan Tammy dan Unce.

__ADS_1


__ADS_2