
Nenek Fatimah hanya tertawa mendengar protes dari Melly dan Jhony.
"Iya , iya ....! kemarikan microphone itu, Nenek mau bicara," ucap Nenek Fatimah lalu meminta microphone yang ada di tangan Jhony.
Jhony tidak menjawab lagi, dengan segera dia memberikan microphone yang ada di tanganya kepada Nenek Fatimah.
"Cek....cek...cek....., Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, dan selamat siang saudara-saudariku yang ada disana," ucap Nenek Fatimah sedikit berteriak sambil mengangkat tanganya.
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!, siang......." Balas para pendemo secara serentak kecuali Hafid dan shanty yang saat itu merasa jengkel dengan kehadiran Nenek Fatimah.
"Alhamdulillah, Puji syukur kepada ALLAH Subhanahu wa ta'ala yang telah hadir di tengah-tengah kita sehingga, pada pagi menjelang siang hari ini, kita masih di limpahkan kasehatan serta karunianya, sehingga kita masih bisa berkumpul di tempat ini untuk mencari tahu tentang produk yang selama ini jadi incaran para ABG sampai langsia seperti Saya ini. Bagi saudara-saudariku yang ingin bertanya mengenai bahan baku dari produk terbaru perusahaan DYANA grup boleh layangkan pertanyaannya kepada Saya dan dengan senang hati Saya akan menjawab semua pertanyaan dari kalian itu," ucap Nenek Fatimah kepada seruluh peserta demo yang sedang berdiri lumayan jauh darinya saat ini.
Kembali suara riuh terdengar diantara para pendemo setelah sempat terdiam sejenak mendengar sepatah dua kata dari Nenek Fatimah tadi.
"Jangan-jangan!, isi dalam mobil kontainer ini semuanya bahan baku," ucap seorang perempuan kepada temanya.
"Betul sekali katamu, Aku pun berpikiran seperti itu. Kalau itu benar, berarti sebentar lagi produk yang kita cintai bersama itu akan kembali marak di pasaran dan semua isu yang beredar di masyarakat selama ini hanyalah bohong semata untuk menjatuhkan nama perusahaan DYANA grup," Jawab temanya sambil menatap kearah mobil kontainer yang ada di samping mereka.
Lain halnya dengan Hafid dan Shanty, kedua orang itu kini bercucuran keringat dingin saling memandang satu dengan yang lain.
"Bagaimana ini sayang!, Apa lagi yang harus kita lakukan?. Tidak mungkin bukan, kita kembali mempengaruhi para massa untuk mendemo perusahaan DYANA grup kalau nyata-nyatanya bahan baku mereka sudah ada di depan mata," ucap Shanty yang kini mulai putus asa.
"Tenangkankan dirimu!, pasti ada cara untuk menjatuhkan mereka," balas Hafid yang belum juga menyerah meski dia sendiri tahu kalau isi dalam mobil kontainer itu semuanya bahan baku untuk produk terbaru dari perusahaan DYANA grup.
Lama Hafid berpikir, hingga muncul satu ide lagi dari pikiranya.
__ADS_1
Perlahan-lahan pria parubaya itu mengankat microphone dari tanganya dan mendekatkan kearah mulutnya.
Sebelum berbicara pria parubaya itu melangkah tiga langkah kedepan lalu berbalik menghadap kearah massa dan membelakangi Nenek Fatimah, Jhony, Melly serta rekan-rekanya.
"Wahai para saudara-saudariku yang ada di sana, kita jangan terlalu cepat percaya dengan apa yang di ucapkan Nenek tua itu sebelum kita membuktikan dengan mata kepala kita sendiri kalau mereka sudah punya bahan bakunya. Bagaimana setuju..," kembali Hafid mencoba menghasut para massa untuk tidak semudah itu percaya dengan ucapan Nenek Fatimah.
Kembali riuh suara para pendemo terdengar lalu mereka saling memandang satu dengan yang lain.
Ada yang sepenuhnya percaya kalau di dalam box besar itu adalah bahan baku dan ada pula yang masih ragu-ragu.
"Betul, jangan terlalu mudah percaya dengan ucapan Si Nenek itu. Bisa jadi dia itu orang bayaran dari perusahaan ini untuk mengelabuhi kita semua supaya kita tidak melanjutkan aksi ini. Kita perlu bukti bukan cuma kata-kata saja," balas perempuan yang ada diatas badan mobil sambil mengibarkan bendera.
"Setuju......" kembali suara massa mengelegar.
Nenek Fatimah hanya tersenyum setelah melihat kehadiran Hafid dan Shanty ada di tengah-tengah para pendemo.
Kembali para pendemo saling memandang satu dengan yang lain. Dan lain halnya dengan Hafid dan juga Shanty, kedua orang itu semakin ketakutan kalau-kalau Nenek Fatimah akan membuka kedok mereka berdua di depan para massa.
"Apa maksud Nenek dengan ada penghasut di tengah-tengah kita...." teriak seorang perempuan dengan sangat lantang.
Nenek Fatimah tersenyum kemudian mendekatkan microphonen di depan bibirnya.
"Kalian semua pasti tahu bukan, perusahaan H&S?. Pemilik perusahaan itu sekarang berdiri di tengah-tengah kita untuk memprovokas kalian agar kalian semua mendemo dan menjatuhkan perusahaan DYANA grup," ucap Nenek Fatimah yang masih terus tersenyum melihat Hafid dan Shanty yang mulai menampakkan ke paniknya di sana.
"Ah....pemilik perusahaan H&S?. Bukankah perusahaan itu saingat terberat dari perusahaan DYANA grup. Dan lagi pula baru- baru ini kan mereka juga meluncurkan produk terbaru mereka yang sangat mirip dengan produk baru DYANA grup," ucap seorang perempuan menggunakan Toa sebagai pengeras suaranya.
__ADS_1
"Iya betul..sekali! tapi kita jangan bahas itu dulu, kita bereskan satu-satu sebelum kita lanjut yang lain. Pengawal buka badan mobil kontainer kalian dan perlihatkan kepada mereka semua kalau kita memiliki bahan baku seperti ucapanku tadi," perintah Nenek Fatimah kepada bawahanya.
Tidak lama kemudian, sedikit demi sedikit badan mobil kontainer terbuka dan tampak dari dalam mobil kontainer tersebut tumpukan bahan baku siap olah tersusun rapi di dalam sana.
"Wow ...banyak sekali," ucap para pendemo secara bersamaan sambil membulatkan mata.
"Bagaimana!, apa kalian sudah percaya kalau kami tidak membohongi kalian semua" tanya Nenek Fatimah lalu melangkah menuju kearah mobil kontainer di susul oleh Jhony, Melly serta yang lainya dari arah belakan.
"Betul.....kami semua percaya," balas para pendemo secara serentak.
"Bagus, kalau begitu mulai searang kalian tidak perlu ragu lagi akan kekurangan produk kesukaan kalian itu. Dan sekaranglah saatnya kalian bisa memilih perusahaan yang bisa di percaya dan perusahaan yang hanya mengambil untung dari kalian demi melancarkan niat busuk mereka," ucap Nenek Fatimah menatap kearah Hafid dan Shanty sambil tersenyum mengejek.
"Betul perusahaan H&S ada perusahaan yang tidak ada moral! mulai sekarang kami tidak akan membeli produk mereka lagi. Apa teman-teman setuju.......
"Setuju........" ucap para pendemo bersamaan.
Seketika itu juga tubuh Hafid dan Shanty gemetar.
"Tapi itu semua tidak sesuai dengan apa yang kalian pikirkan, Kami hanya korban oleh keserakahan perusahaan DYANA grup," ucap Hafid mencoba membelah diri dengan wajah diselimuti kepanikan.
"Apapun kata kamu, kami tidak akan percaya lagi. Buat apa membeli produk H&S kalau nyata-nyata produk DYANA grup lebih unggul dari segi kualitas dan harganya pun terjangakau!. Bagaimana saudara-saudari setuju tidak," ucap Perempuan yang tadi mati-matian menjatuhkan DYANA grup kini berbalik arah menyerang perusahaan H&S milik Hafid.
"Setuju.....!.
Sekali DYANA grup tetap DYANA grup," ucap para pendemo serentak mengangkat tangan.
__ADS_1
đŸ‘‰terus beri like, comen, vote ...makasih.