MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
59. PENYAKIT RAKA KAMBUH LAGI.


__ADS_3

Dua minggu kemudian, kembali produk baru dari perusahaan DYANA grup meluncur di pasaran.


Animo masyarakat tetang Produk tersebut semakin hari semakin meningkat. Bukan cuman di negara ini saja produk itu diminati tapi di luar negeri pun jadi incaran para konsumen hingga membuat pundi-pundi keuangan perusahaan DYANA grup makin hari makin bertambah.


DYANA grup kini menjadi perusahaan nomor dua terbesar setelah perusahaan A&J milik Aldo. perusahaan yang dulunya hampir gulung tikar kini berkembang begitu pesat setelah di tangani oleh Jhony.


Lain halnya dengan perusahaan H&S milik Hafid. Perusahaan itu semakin hari makin terpuruk. Animo masyatakat tentang produk mereka benar-benar anjlok, sehingga perusahaan itu mau tidak mau harus pemutuskan hubungan kerja dengan beberapa karyawanya.


Hafid dan Shanty benar-benar kalang kabut dibuatnya. Baru kali ini mereka berdua benar-benar ditaklukkan oleh perusahaan yang tidak sebanding dengan perusahaan mereka.


"Kurang ajar!, Jhony benar-benar telah memukul telat kita. Entah kekuatan magis apa yang dia miliki sehingga orang-orang mau berpihak kepadanya," ucap Hafid dengan geram sambil memukul meja kerjanya dengan keras.


Elsa sekertasnya hanya bisa terdiam melihat kemarahan dari bosnya itu.


"Elsa, keluarkan semua barang baku yang ada di gudang, lalu kembalikan kepada pemiliknya, katakan pada mereka kalau kita tidak bisa membayarnya" Hafid memutari meja kerja lalu duduk di kursi kebesaranya.


"Tapi tuan!, mereka mana mau," jawab Elsa sedikit menampakan wajah ketakutan.


"Apa kamu sudah mencoba!, sehingga secepat itu kamu katakan kalau mereka tidak mau," balas Hafid dengan tatapan tajam.


"Saya belum mencoba Tuan, tapi kemarin mereka datang dan memintah sisa pembayaran dari bahan baku mereka itu. Kata mereka, kalau sampai perusahaan kita tidak melunasi sisa dari pembelian barang baku mereka, mereka akan membawa masalah ini kerana hukum," ucap Elsa sambil menundukkan kepala.


Tubuh perempuan itu sedikit bergetar sakin takutnya dengan Hafid.


"Apa!, Mereka mau membawa masalah ini kerana hukum," Hafid berdiri dan sedikit menyondongkan kepalanya kedepan dan menatap tajam kearah Elsa.


Elsa tidak menjawab, perempuan itu hanya menganggukan kepalanya tanda mengiyakan.


"Benar-benar kurang ajar, mereka ingin mengambil keuntungan dalam keterpurukan perusahaan kita ini," ucap Hafid sambil menjatuhkan bokongnya begitu saja diatas kursi.


Lama mereka terdiam, hingga dua ketukan terdengar dari arah daun pintu ruangan tersebut.


Mendengar hal itu Elsa membalikkan badanya dan melangkah menuju kearah pintu.

__ADS_1


Elsa memutar gagang pintu kemudian menariknya.


Tampak dari luar ruangan itu dua orang sedang berdiri disana.


"Silahkan masuk Tuan David dan Tuan Dony," ucap Elsa sambil membuka lebar daun pintu ruang kerja milik Hafid.


David dan Dony tidak menjawab. Keduanya langsung masuk begitu saja dan melangkah mendekat kearah Hafid yang sedang termenung di kursi kerjanya sambil menopang dagunya menggunakan tangan kananya.


"Selamat siang Tuan Hafid," ucap David lalu mendudukan dirinya di kursi di depan Hafid dengan meja kerja Hafid sebagai pengantaranya, sedangkan Dony melangkah menuju ke arah sofa yang ada dalam ruangan itu kemudian duduk santai disana sambil membaca majalah.


"Huum....siang!, ada apa kalian berdua kemari," balas Hafid acuh sambil memperbaiki posisi duduknya.


"Kami berdua datang untuk menagih janji Tuan!."


"Janji apa maaksudmu," tanya Hafid pura-pura tidak tahu.


"Jangan pura-pura tidak tahu Tuan. Andakan dulu pernah berjanji, setelah selesai melakukan demo terhadap perusahaan DYANA grup Tuan akan langsung melunasi sisa pembayaran bahan baku kami."


David sedikit mengeryitkat dahinya begitu pula dengan Dony yang ada disana.


"Tapi perjanjianya dulu tidak seperti itu bukan!. Tuan sendiri yang meminta kami untuk menjual barang baku kami kepada Tuan dengan harga dua kali lipat dari harga biasanya, terus kenapa sekarang Tuan malah memutar balikkan fakta," ucap David dengan nada jengkel.


"Iya itu dulu, tapi sekarang berbeda. kamu bisa lihat sendiri bukan!, bagaimana keadaan perusahan kami sekarang ini!, saham kami anjlok, produk kami tidak laku. Membayar gaji karyawan saja kami terkadang kesulitan apalagi membayar sisa dari bahan baku kalian itu," ucap Hafid dengan raut wajah sedihnya.


David dan Dony saling memandang lalu keduanya mengedikkan bahunya satu dengan yang lain.


"Baiklah Tuan, kami akan memberi jangka pada Anda sampai perusahaan Anda pulih kembali seperti sedia kala," ucap David sambil berdiri .


"Oke, kalau perusahaan kami pulih kembali Aku janji akan membayar sisa uang kalian itu!, tapi ingat,kalian berdua harus terus membatu Aku untuk menghancurkan Jhony dan perusahaan DYANA grup, bagaimana!." Hafid ikut berdiri lalu menyodorkan tanganya kearah David.


"Kalau itu kami tidak bisa!, kami berdua sudah tidak mau berurus dengan manusia satu itu. Ayo Dony kita pulang," David membalikkan tubuhnya dan mengajak Dony untuk pergi dari tempat itu.


Dony hanya bisa mengangguk dan mengikuti David dari arah belakang.

__ADS_1


"Woy ....kalian berdua pengecut!, kalau kalian tidak mau membantuku menghancurkan Jhony dan perusahaan DYANA grup, jangan harap Aku akan membayar sisa uang kalian berdua," teriak Hafid sambil melemparkan beberapa map yang ada diatas meja kerjanya kearah David dan Dony yang semakin lama semakin jauh melangkah keluar dari ruang itu.


"Benar-benar Aku tidak habis pikir kenapa semua pengusaha yang dalam kota ini sangat takut dengan si Jhony itu, ada kekuatan apa sebenarnya di balik orang itu," kembali untuk kedua kalinya Hafid menjatuhkan tubuhnya diatas kursi.


Sedangkan Elsa yang sedari tadi berdiri disana melangkah lalu memungut map serta berkas yang berhamburan diatas lantai.


Setelah tidak tersisa lagi, Elsa melangkah ke arah meja kerja Hafid dan menyusun rapi kembali map diatas meja seperti semula.


Tidak beberapa lama kemudian handpone milik Elsa berbunyi.


Elsa menatap layar handponya dan sedikit mengeryitkan dahinya setelah tahu siapa yang sedang memanggil dalam sana.


"Nyonya Shanty," ucap Elsa hingga membuat Hafid sedikit menegada keatas setelah Elsa menyebut nama istrinya.


"Iya nyonya, apa ada yang bisa Saya bantu?," tanya Elsa setelah sambungan telponya dengan Shanty terjalin.


"Apa Tuan Hafid ada di kantor?," balas Shanty dari ujung telpon dengan nada panik.


"Ada Nyonya, apa Anda mau bicara dengan beliau!," tanya Elsa lagi.


"Cepat berikan padanya, Aku mau bicara," suara Shanty terdengar nyaring disana hingga membuat Elsa sedikit menjauhkan handpone dari daun telinganya.


"Iya baik," balas Elsa lalu menyodorkan handponenya kearah Hafid" Nyonya ingin bicara dengan Anda Tuan,"


Tanpa menjawab, Hafid lalu mengambil handphone dari tangan Elsa.


"Iya, Ada apa mencariku!, dan lagian kenapa kamu tidak menghubungiku lewat handphoneku saja," ucap Hafid


"Handponemu tidak aktif sedari tadi! Sayang sekarang Aku ada dirumah sakit PERSADA NUSANTARA. Penyakit Raka kembali kambuh, tolong segera kemari....hiks...hiks ..hiks...," Shanty kini menangis terseduh-seduh didalam sana.


"Apa! penyakit Raka kambuh lagi, Kamu tenanglah, sebentar lagi Aku akan tiba disana" Hafid mematikan sambungan telephonnya dengan Shanty kemudian meletakkan handphone milik Elsa begitu saja diatas meja lalu melangkah terburu-buru menuju kearah pintu keluar sakin paniknya mendengar penyakit Raka kambuh lagi.


đŸ‘‰Semangat beri vote, likedan coment ya ...makasih.

__ADS_1


__ADS_2