
Sementara itu dirumah sakit yang sama, Keluarga Aldo pun merasakan kegembiraan yang sama dengan keluarga Jhony.
Gisel melahirkan seorang bayi perempuan yang tak kalah manisnya dengan bayi Jhony dan Melly.
Ini yang membuat Elin sangat bersyukur dan tak henti- hentinya mengucap syukur. Akhrinya apa yang di impi-impikan selama ini terkabul juga.
"Terima kasih Nak, Kamu sudah menghadiahkan Ibu seorang cucu perempuan yang sangat cantik dan imut seperti dirimu. Ibu sudah bisa merias lagi seperti dulu lagi.
Bukanya hanya main mobil-mobilan dan baca buku doang seperti kedua ubur-ubur itu." Elin mencium lembut kening Milik Gisel.
"Sama-sama Bu, Mari kita menjaga dan memberikan pendidikan akhlak padanya biar kelak dia berguna bagi agama dan negara ini," Gisel tersenyum manis.
Aldo yang baru saja datang dari tempat penyimpanan bayinya segera duduk di samping Elin.
"Harusnya Ibu berterima kasih banyak padaku, karena dengan gaya ubur-ubur melayang maka hasilnya seperti itu dan....,"
Belum juga perkataanya selesai, Aldo sudah meringis karena telinganya langsung di jewer oleh Elin.
"Adu...sakit Bu," ringis Aldo sambil memegangi tangan Elin yang sudah melengket mirit capit kepiting di daun telinga Aldo.
"Makanya jangan mesum!, sekali lagi Ibu mendengar yang aneh-aneh, Ibu akan melepaskan daun telingamu dari tubuhmu," Elin dengan memplototkan kedua matanya kearah Aldo.
"Iya...... beecanda juga!," Aldo sambil memanyunkan bibirnya.
Lain halnya dengan Gisel, dia hanya tersenyum dan sedikit menggeleng- gelengkan kepalanya mendengar dan melihat ibu mertua dan suaminya itu.
Tidak lama kemudian daun pintu kamar tersebut di ketuk dari luar.
Aldo berdiri dari tempat duduknya dan berjalan kearah pintu.
Aldo memutar gagang pintu dan menariknya. Tampak Bi Surti, Zaky, Ziko dan Dokter Fadlan berdiri di sana.
"Ayah....," Peluk Zaki dan Ziko pada kaki Aldo.
"Anak Ayah," Aldo mengangkat dua putranya sekaligus. Zaky di posisi kiri sedangkan Ziko berada di posisi kanan.
"Bi surty dan Fadlan, Ayo masuklah," Ajak Aldo pada kedua orang tersebut.
"Terima kasih Tuan," Jawab Fadlan dan Bi Surti serentak.
__ADS_1
Ke limanyapun segera masuk kedalam. Bi Surti mendekat kearah Gisel dan Elin sedangkan Aldo, Ziko, Zaki serta Dokter Fadlan menuju ke box bayi.
"Lihatlah itu, adik kalian Cantik bukan?," Aldo memperlihatkan adik mereka pada Ziko dan Zaky.
"Antik macam bunda," sergah ziko.
"Macam Ayahlah," protes Zaky
"Bunda," ujar Ziko.
"Ayah," balas Zaky.
"Sudah-sudah anak-anak!, kalian jangan bertengkar, kasihan adik kalian sedang tertidur," tegur Aldo pada kedua putranya.
Dokter Fadlan hanya bisa tersenyum melihat pertengkaran kecil sikembar.
"Tuan Aldo!, Istri Tuan Jhony pun sudah melahirkan bayi perempuan. Sekarang mereka ada di ruangan Melati blok 2." ujar Dokter Fadlan hingga semua orang dalam ruangan tersebut segera memandang kearahnya.
"Benarkah itu Fadlan?," Elin yang saat itu membuka rantang yang tadi di bawa oleh Bi Surti.
"Benar Nyonya," Balas Dokter Fadlan singkat.
"Mungkin bulan depan Nyonya setelah Aku menemukan orang yang mau mendampingiku nanti saat menikah. Nyonya tahu sendiri bukan, aku ini yatim piatu. Jadi tidak ada satu pun sanak saudara yang Aku miliki di dunia ini. Andai bukan Anda dan Tuan Aldo yang mengangkat derajatku, Entah apa jadinya diriku ini,"
ujar Dokter Fadlan dengan raut wajah sedih.
"Aisst ...kamu ini! Ibu dan Aldo sudah menganggapmu sebagai keluarga. kamu itu sama posisinya dengan Aldo dan Jhony di hati Ibu. Jadi kami ini adalah keluargamu sekarang sampai selamanya, paham!," Elin bangkit dari tempat duduknya dan melangkah mendekati Dokter Fadlan dan mengelus pundak Dokter muda itu.
"Terima kasih Nyonya, kalian benar-benar orang kaya yang baik hati. Kalian tak pernah membeda-bedakan orang dari sudut pandang apapun," Dokter Fadlan mencium pucuk tangan Elin.
"Kalau begitu segeralah menikah. Tak baik bila kita menunda-nunda hal baik. Soal orang yang akan mendampingimu nanti biarlah Ibu dan Aldo yang berada di posisi itu. Kamu tenang saja dan persiapkanlah segala sesuatunya. Bila ada kekurangan jangan sungkan-sungkan ngomong pada Ibu atau pada Aldo,"
"Baiklah kalau begitu, Saya akan segera mengurus semuanya Nyonya," ujar Dokter Fadlan kini di selimuti dengan kegembiraan. Semua permasalahan yang selama ini melilit dalam hati serta pikiranya akhirnya terlepas juga setelah mendengar perkataan Elin.
Setelah Gisel tertidur pulas. Aldo, Elin, Zaky, Ziko dan Dokter Fadlan menuju ke kamar dimana Melly sedang di rawat. Sedangkan Bi Surti tinggal untuk menemani Gisel disana.
Hanya butuh beberapa Menit saja kini mereka sudah tiba di sebuah ruangan yang cukup besar.
Fadlan mengetuk daun pintu ruangan tersebut beberapa kali hingga seorang pria parubaya membukakan mereka pintu sambil tersenyum manis pada Elin.
__ADS_1
"Elin, Aldo, si kembar dan Dokter Fadlan, silahkan masuk," Hafid membuka lebar daun pintu.
"Terima kasih," ucap mereka serentak.
Semuanyapun masuk kedalam.
"Ibu, Aldo dan Fadlan," Jhony bangun dari tempat duduknya dan menyambut kedatangan mereka.
"Bagaimana keadaan Melly sehabis melahirkan?," tanya Elin langsung.
"Kata Dokter, Melly baik baik saja walau sedikit lemas sehabis dia melahirkan," jawab Jhony.
" Baguslah kalau begitu, Ibu mau melihatnya dan melihat cucu Ibu," Elin melangkah menuju pembaringan dimana Melly sedang terbaring dengan bayi mungilnya berada di sampingnya.
"Cup, cup ,cup. Cucu Nenek yang cantik dan menggemaskan. Nak selamat ya, kamu sekarang sudah Jadi Ibu," Elin menyentuh pipi bayi Melly dan duduk di kursi disamping pembaringan.
"Terima kasih bu!, bagaimana keadaan Gisel dan bayinya. Dengar- dengar dia juga melahirkan bayi perempuan ya?," tanya Melly.
"Iya, kalian sama. Sama-sama lahirin bayi perempuan. Jadinya cucu ibu sudah satu pasang," balas Elin sembari tersenyum bahagia.
Ziko dan Zaky segera mendekat kearah Elin dan Melly.
"Ante, Adenya antik mirip adik Iko, kalau becal nanti iko mau jaga dia macam Ayah Jaga munda," ujar polos Ziko sambil mencium pipi gembul bayi Melly.
"Boleh dong sayang. Ini juga adik kamu toh," balas Melly.
"Aki juga mau ante, jaga ade ini ama jaga ade satunya," Zaky tak mau kalah.
"Kalian boleh menjaga adik kalian karena itu memang sudah tugas seorang kakak pada adiknya," Melly mengelus pucuk kepala Ziko dan Zaky.
Tidak lama kemudian daun pintu ruangan itu kembali di ketuk.
Pandu yang sedari tadi duduk di sofa segera berdiri untuk membuka pintu.
"Apa ini ruangan Nyonya Melly?," tanya seorang perempuan parubaya seumuran dengan Elin.
Pandu tidak menjawab. Matanya tak berkedip sedikitpun memandangi perempuan parubaya yang ada di hadapanya saat itu.
"Hallo, pak," ujar perempuan parubaya itu sambil melambaikan tanganya di depan wajah Pandu.
__ADS_1