
Lina melepas pelukanya pada Neneknya lalu kemudian turun dari tempat tidur.
"Kamu mau kemana?," tanya Nenek Farida heran.
"Lina mau melihat keadaan Melly, kata Nenek Fatimah Mellynya ada di kamar sebelah. Apa Nenek juga mau ikut Lina," tanya Lina balik sambil memasang sepatu ketsnya.
"Tapi Lina, keadaanmu masih sangat lemah. Lagian Dokter Fadlan tadi berpesan pada Nenek supaya kamu banyak-banyak istirahat supaya tenagamu bisa pulih kembali seperti sediakala," cegah Nenek Farida agar Lina tidak pergi dulu menemui Melly sebelum kondisinya benar-benar pulih.
Bukan namanya Lina kalau tidak pintar ngeles.
"Aduh Nek! Lina ini sudah sehat loh, bahkan lebih sehat dari hari-hari sebelumnya. Lihat nich yah!," Lina melompat-lompat sambil membentangkan kedua tanganya seperti orang lagi SKJ 96.
"Hih..., kamu ini selalu saja melawan, kalau begitu ayo kita temui Mellynya," Nenek Farida mengalah untuk mengikuti keinginan Lina.
"Na gitu dong, lest go!," ajak Lina pada Neneknya.
Keduanya pun melangkah meninggalkan ruangan itu.
Nenek Farida dan Lina terus melangkah menuju kamar dimana Melly sedang dirawat tapi belum juga mereka mengetuk pintu ruangan Melly, tiba-tiba Nenek Farida meneput punggung Lina sehingga membuat Lina berhenti sesaat di tempatnya.
"Ada apa lagi Nek," Lina sedikit mengerutkan dahinya.
"Nenek mau pipis!," ucap Nenek Farida sambil menutup bagian itunya menggunakan tas miliknya.
"Pipis disitu saja hi..hi...hi..," Lina tertawa kecil sambil menunjuk kesebuah tepat tepat di belakang tempat sampah.
Tidak hayal lagi tas Nenek Farida mendarat tepat di kepalanya.
"Aduh...sakit tahu Nek," protes Lina sambil memegangi kepalanya.
"Makanya jangan usil, Kamu masuk duluan saja nanti Nenek nyusul. Nenek mau ke kamar yang tadi untuk buang air kecil," ucap Nenek Farida berbalik dan melangkah kembali ke ruang dimana Lina tadinya di rawat.
"Tapi jangan lama-lama ya Nek!," Lina sedikit berteriak karna jarak Nenek Farida denganya sudah lumayan jauh.
__ADS_1
"Iya bawel.....," teriak balik Nenek Farida.
Setelah kepergian Neneknya, Lina segera mengetuk pintu ruangan dimana Melly dirawat.
Tiga kali gadis manis itu melayangkan ketukanya hingga seorang pria muda muncul di balik pintu dengan mata melotot.
"Bukanya istirahan, kamu malah berkeliaran kesana kemari!, cepat pulang ke kamarmu atau Aku suruh perawat untuk menyeretmu kembali kesana," bentak Dokter Fadlan sambil berkacak pinggang di depan Lina.
"Kamu kira Aku ini tikus yang berkeliar kesana kemari tanpa tujuan," balas Lina sambil berjinjit untuk melihat apa benar Melly ada di dalam sana.
Tapi sayang, tubuh Dokter Fadlan lebih tinggi darinya sehingga Lina begitu kesulitan untuk melihat kedalam sana karna terhalang oleh tubuh tinggi Dokter muda itu.
"Tidak boleh-boleh kamu harus pulang ke kamarmu. Kamu jangan mengganggu ketenangan pasien lain, Ayo ikut," Dokter Fadlan memegangi tangan Lina dan menariknya untuk kembali kekamarnya semula.
"Tidak mau, tidak mau!, Aku mau ketemu sahabatku dulu!, Lepasin-lepasin," Lina meronta-ronta untuk melepaskan diri dari Dokter Fadlan.
Mendengar ada keributan kecil di luar, Nenek Fatimah segera keluar dan menemukan Dokter Fadlan sedang menarik tangan Lina.
"Dok! dia itu temanya Melly jadi biarin dia masuk," ucap Nenek Fatimah pada Dokter Fadlan.
"Lina, Ayo masuk dari tadi Melly nanyain kamu mulu" Ajak Nenek Fatimah lalu kembali masuk kedalam ruangan tersebut.
"Na malu sendirikan loe!, makanya jangan asal maksa orang sebelum kamu dengarin penjelasanya terlebih dulu,"
Dokter Fadlan tidak menjawab, dia malah menarik kembali Lina tapi kali ini berbalik arah.
Dokter muda itu masuk kedalam bilik Melly sambil menggenggam erat tangan Lina.
Semua orang dalam ruangan seketika tertegun melihat peristiwa itu hingga membuat Melly memplototkan matanya kearah Lina.
"Husst......," Melly menatap kearah Lina lalu kemudian memonyong-monyongkan bibir untuk memberi kode pada Lina supaya segera melepaskan tanganya dari tangan Dokter Fadlan.
Lina yang di perlakukan seperti itu oleh Melly segera mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Apaan....?," tanya Lina pada Melly dengan suara sangat kecil sampai-sampai tidak kedengaran di telinga.
"Itu......," Melly membalas dengan suara kecil pula sambil menunjuk kearah tangan Lina yang di genggam erat oleh Dokter Fadlan.
Seketika itu Lina melihat kebawah dan matanya langsung melotot. Lina baru sadar kalau tanganya sudah sedari tadi di gengam erat oleh Dokter Fadlan.
Secepat kilat Lina menarik tanganya hingga mambuat Dokter Fadlan tiba-tiba tersentak.
"Apaan si," Dokter Fadlan memplototkan kedua matanya kearah Lina.
"Apaan-apaan! apa kamu tidak malu apa! menggengam tangan gadis di depat umum," bentak Lina tapi suara segaja di pelankan.
Dokter Fadlan tiba-tiba menggaruki kepalanya lalu menatap keorang-orang yang ada di dalam ruangan itu yang sedari tadi sudah siap untuk menertawai mereka berdua.
"Cie...cie......!," ejek Elin, Nenek Fatimah, Hafid dan juga Jhony sambil tertawa terbahak-bahak hingga membuat Lina dan juga Fadlan ingin sekali berlari ke dalam hutan dan menyembunyikan wajah mereka berdua di dalam semak-semak sakin malunya.
"Ada yang sebentar lagi nyusul Nich!," lanjut Jhony sambil bersiul-siul membuat orang-orang di dalam sana kembali terbahak-bahak.
Hampir Lima menit mereka menjaili Dokter Fadlan dan Lina hingga Nenek Fatimah menghentikanya.
"Sudah-sudah, kasihan mereka!. Lina, kenapa kamu kemari. Nenek kan sudah berpesan padamu tadi supaya kamu istirahat yang cukup," Nenek Fatimah menatap lekat kearah Lina.
"Lina sudah sembuh kok Nek! lagian Lina bosan di dalam kamar terus," jawab Lina.
"Iya sama.......!," sambung Melly
"Hiii... dua anak gadis ini benar-benar tidak mau diatur! Atau begini saja, biar mereka berdua bisa betah dirawat di rumah sakit ini, bagaimana kalau tempat tidur Lina kita pindahin saja kemari supaya mereka berdua bisa di rawat barengan!," usul Nenek Fatimah sambil menatap Elin, Jhony, Hafid, dan juga Dokter Fadlan secara bergantian.
Tidak hayal lagi Lina dan Melly pun sontak menjawab walau sebenarnya mereka berdua sama sekali tidak ditanya.
"Setuju..........,"
Orang-orang dalam ruangan itu sontak menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kedua anak gadis itu yang kini sudah diatas pembaringan sambil berpelukan dan tertawa bersama.
__ADS_1
👉Ayo bantu like, vote, coment ...ya terima kasih.