MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
125. PANDU TERTEMBAK.


__ADS_3

Rita mendekati Melly, Gisel dan juga lina. Langkahnya yang mirip seorang pria membuat perempuan itu terlihat begitu sangar.


"Majulah," ujarnya sembari memasang kuda-kuda.


Melly, Gisel dan juga Lina segera mengelilingi Rita.


Sementara itu Shanty yang sejak tadi berdiri menonton pertarungan itu mulai berpindah dan duduk di kursi depan meja.


"Ini baru pertarungan sesunghuhnya. Apa kalian bertiga masih bisa menyombongkan diri seperti tadi," Shinta tersenyum tipis.


Kembali pertarungan di mulai setelah sebelumya berhenti sejenak. kini Rita yang mengendalikan pertarungan.


Melly, Gisel dan Lina begitu kewalahan menghadapinya. Kekuatan Rita benar-benar dasyat. Pukulan demi pukulan yang Melly dan kawan-kawanya arahkan kepadanya dengan muda dia hindari dan tangkis bahkan sempat-sempatnya dia memberi serangan balik pada mereka bertiga.


"Rasakan ini!, iyat......," Rita memukul dada Melly dan Lina menggunakan kedua tanganya sedangkan Gisel mendapat tendangan yang cukup keras.


Rita berdiri dengan satu kaki mirip superman yang siap untuk terbang.


"Awo.......," Melly, Lina dan Gisel meringis dan Jatuh diatas lantai.


"Apa kalian masih tidak mau menyerah juga?," Rita sembari melipat kedua tanganya didepan dada.


Ketiganya tidak menjawab. Mereka malah ngesot dan berkumpul pada satu titik.


"Kita benar-benar kewalahan melawan manusia ampibi itu. Dia seperti ikan yang memiliki dua ingsan," Gisel melap mulutnya yang mulai sedikit mengeluarkan darah segar.


"Betul katamu Sel, Perempuan berwujud pria ini benar-benar kuat. Semua titik kelemahnya sudah tidak berpengaruh lagi saat kita menyerangnya," balas Rindu sembari memegangi dadanya.


"Iya, Aku juga merasakan itu, kekuatanya berlipat ganda setelah dia membuka bajunya. Tapi tunggu dulu, kalau kedua mahkota kewanitaanya itu sudah tidak berarti lagi saat kita memukulnya berarti titik kelemahanya ada pada......," Melly menghentikan ucapanya sembari menatap Gisel dan Lina secara bergantian.


Seketika itu juga Gisel dan Lina mengangguk.


"Kami paham maksudmu," Gisel berdiri diikuti oleh Lina dan Melly.


"Kalian berdua usahakan menyerang P4yudaranya. Dan bila dia lengah, kalian berdua tangkap kedua tangannya dan selebihnya biar Aku yang selesaikan, Paham!," bisik Melly kepada kedua sahabatnya.

__ADS_1


Gisel dan Lina hanya mengangguk tanda mereka berdua mengerti.


"Oh... ternyata kalian belum menyerah juga," Rita sembari menggelengkan kepalanya.


"Kamu pikir kami ini selemah itukah?. Tidak ada gunanya kami berlatih setiap hari kalau hanya menghadapi biawak tanah sepertimu kami harus menyerah,," balas Melly dengan muka mengejek.


"Apa katamu, kamu mengataiku biawak," wajah Rita tiba-tiba memerah, Perempuan itu mengepalkan kedua tanganya dan berlari mendekati Melly, Gisel dan Lina.


"Awas," Melly sedikit mendorong tubuh Gisel dan Lina agar pukulan Rita tidak mengenai mereka berdua sekaligus memberikan ruang gerak pada dirinya untuk menghindari dan menangkis serangan Rita.


Kembali Rita menyerang membabi buta pada Melly sakin marahnya Melly menyamakanya dengan biawak.


Pukulan dan Tendangan dari Lina dan Gisel sudah Rita tidak pedulikan lagi. Rita fokus menyerang Melly membabi buta hingga Melly harus terkurung di sudut dinding bangunan itu.


"Sekarang kamu mau kemana lagi?, Rasakan ini," sebuah pukulan keras di layangkan Rita pada Melly.


Bukan Melly namanya kalau tidak bisa menghindar. Melihat sebuah ketupat ingin mendarat di wajahnya Melly segera menunduk.


Tak hayal lagi pukulan Rita tepat sasaran tapi bukan di wajah Melly melainkan pada tembok bangunan itu.


Melihat Rita masih mengibaskan tanganya dan sudah tidak konsentrasi lagi. Melly segera melepaskan roknya hingga menyisahkan celana pendek ketat berwarna hitam sebatas paha.


"Sekarang saatnya," Melly memberi aba-aba pada Gisel dan Lina sembari melempar rok miliknya kewajah milik Rita.


Gisel dan Lina segera memegangi tangan perempuan itu. Lina di sisi kiri sedangkan Gisel di sisi kanan.


Rita terus meronta tapi sayang Gisel dan Lina memegang erat kedua tanganya. Pandanganya gelap gulita karena wajahnya tertutup oleh rok milik Melly.


"Cepat lakukan!, soalnya bau keteknya mengalihkan duniaku," ujar Lina yang mengunci tangan Rita dari arah belakang.


Melly mundur beberapa langkah dan berlari kencang ke hadapan Rita.


Kaki kananya di tendangkan mulai dari arah bawah menuju ke selah selah paha milik Rita tepatnya di daerah ke wanitaan perempuan tersebut.


"Aaaa....aaaaaa.....aaaaaa," suara Rita melengking memecah seisi gedung itu.

__ADS_1


Kembali Melly melakukanya hingga benar-benar Rita sudah tidak tahan lagi dan seketika lunglai.


Lina dan Gisel segera melepaskan peganganya pada perempuan itu. Seketika itu pula Rita terjatuh diatas lantai sembari memegangi daerah sensitifnya.


"Telurku......," Rita berguling-guling kekiri dan kekanan.


"Ahh.....telur!," Melly, Lina dan Gisel terbelalak sembari menutup mulut mereka menggunakan telapak tangan mereka masing-masing.


Shanty yang melihat Rita sudah tidak berdaya segera mengambil tas kecil miliknya dan mengeluarkan sebuah pistol dari dalam sana dan mengarahkan kearah bayi Azisah yang saat itu berada pada gendongan Hafid.


"Dooor......," satu ledakan pistol terdengar nyaring didalam ruangan itu.


"Papa," Melly berteriak dan berlari mendekati Pandu yang sudah berkelimangan darah diatas lantai.


Peluruh yang di tembakkan oleh Shinta mengenai bagian dadanya.


Jhony yang baru saja melumpuhkan lawan-lawanya bersama Aldo seketika mengambil balok kayu yang tergeletak diatas lantai tak jauh darinya.


Jhony melemparkan balok kayu itu kearah Shanty dan mengenai pergelangan tanganya.


Tidak hayal lagi, pistol yang di genggamanya terpental jauh. Shanty berlari untuk mengambil pistol tersebut tapi sayang Lina dan Gisel sudah menghadangnya.


"Rasakan ini," Gisel memukul bagian wajahnya sedangkan Lina menendang bagian perutnya.


Shanty terpental dan menabrak meja. Seketika itu juga perempuan parubaya itu pingsang dan ambruk diatas lantai.


"Papa kenapa papa lakukan semua ini," Melly meletakkan kepala Pandu di atas pahanya.


"Aku hanya ingin berguna bagimu dan juga anakmu. Dulu papa menyia-nyiakanmu bersama ibumu. Mungkin inilah satu-satunya cara papa untuk menebus semua kesalahan papa padamu dan juga ibumu," mata pandu mulai redup dan tiba-tiba tertutup.


"Papa, Melly mohon bangunlah. Melly tidak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya. Papa bangun.....," Melly menggoyang goyangkan tubuh Pandu.


TERUS IKUTI CHANNEL AKU DI YOUTUBE YA CLICK DIPENCARIAN YOUTUBE," RINDU SAYANG, RINDU YANG MALANG," JANGAN LUPA BERI SUBSCREB, LIKE, COMENT, SHERE DAN NYALAKAN LONCENG NOTIFIKASINYA TERIMA KASIH.


__ADS_1


__ADS_2