MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
61. BELUM DI VAKSIN.


__ADS_3

Beberapa saat mereka berdiam hingga kembali Hafid menatap kearah Dokter Fadlan.


"Siapa orang itu!, kalau bisa beri tahu kepadaku dimana alamatnya biar Aku menemuinya. Berapapun uang yang dia minta Aku akan beri padanya asal dia mau mendonorkan ginjalnya pada Raka," ucap Hafid


"Kalau masalah itu, kami tidak bisa beri tahu, dia akan muncul sendiri nanti jika waktunya tiba" balas Dokter Fadlan.


"Kenapa kamu tidak mau memberi tahu kepada kami siapa orang itu!, hah," kembali Hafid membentaki Dokter Fadlan.


"Kami tidak ada hak untuk memberi tahukan itu pada Anda, karena yang bersangkutan sendiri yang menginginkanya, jadi sabarlah Tuan, diakan akan muncul sendirinya nantinya. Tapi yang jadi pertanyaanya, apa dia mau mendonorkan ginjalnya pada Raka ataukah tidak, itu terganting rezeki Raka nantinya,"


"Pasti dia mau!, manusia mana di dunia ini yang menolak bila di beri uang banyak," ucap Shanty memotong pembicaraan Hafid dengan Dokter Fadlan.


Dokter Fadlan sedikit mengernyitkan dahinya setelah mendengar ucapan dari Shanty itu.


"Tidak semua orang di dunia ini bisa dibayar dengan uang. Ada segelintir orang yang relah menjaga harga dirinya walau mereka di disuguhkan dengan berkelimpahan harta dan juga tahta," balas Fadlan yang merasa tidak terimah dengan ucapan dari Shanty barusan.


"Kamu juga sama, Kamu juga itu Dokter mata duitan Fadlan. Cepat katakan siapa orangnya biar aku membayarmu tujuh kali lipat dari gajimu," lanjut Shanty


"Biarpun Nyonya memberiku semua uang yang Nyonya miliki, Aku tidak akan memberi tahukanya pada kalian berdua, soalnya yang bersangkutan tidak mau kalau orang lain mengengetahui identitasnya," balas Dokter Fadlan yang kini ikut imosi mendengar Shanty meremehkanya.


"Sombong sekali," ucap Shanty dengan dengan wajah sinis memandang kearah Dokter Fadlan.

__ADS_1


"Sudah ...sudah!, kita kesini bukan untuk bertengkar," ucap Hafid melerai pertengkaran kecil antara Shanty dan Dokter Fadlan. "Jadi kapan si pemilik ginjal itu datang kemari?," sambung Hafid.


"Kami juga tidak tahu, tapi katanya, dia akan muncul pada saat yang tepat,"


"Baiklah, kami akan tunggu, kamu beritahu saja kami nanti, berapa uang yang dia minta supaya kami menyiapkan untuknya. Kalau begitu kami berdua permisi. Ayo sayang kita pergi temui Raka," Hafid menarik tangan Shanty untuk keluar dari ruang kerja Dokter Fadlan.


"Sombong sekali mereka, mentang-mentang punya uang banyak seenak hatinya mengira bisa membeli semua yang ada di dunia ini dengan uangnya," ucap Dokter Fadlan setelah Hafid dan Shanty sudah keluar dari dalam ruang kerjanya.


Lama Dokter Fadlan termenung di sana, hingga terdengar ketukan tiga kali dari arah daun pintu sehingga membuat lamunanya buyar seketika.


Tok....tok...tok..


"Masuk," Dokter Fadlan sedikit mengeraskan suaranya.


"Ada apa!, kenapa wajahmu pucat seperti itu," tanya Dokter Fadlan menatapi sang perawat.


"Anu Dok! Nenek Farida kembali mengamuk seperti kemarin, Katanya dia tidak betah tinggal di rumah sakit ini. Dia mau pulang saja katanya," balas Perawat tersebut.


"Katanya dia punya cucu!, kenapa Aku tidak pernah melihatnya menemani neneknya di rumah sakit," tanya Dokter lagi Fadlan pada si perawat tadi.


"Cucunya sering datang kok Dok! semalam dia menginap disini dan tadi pagi dia keluar setelah Nenek Farida tertidur. Dia juga menitipkan Nenek Farida pada kami sebelum dianya pergi," balas si perawat.

__ADS_1


"Baiklah .....!, kamu duluan kesana, nanti Aku menyusul, tapi ingat, jangan keras padanya, dan teruslah membujuknya, supaya dia mau tetap menjalankan perawatan di rumah sakit ini. paham!,"


"Paham Dok! kalau begitu Saya permisi dulu," ucap sang perawat lalu dianggukkan kepala oleh Dokter Fadlan.


Tidak lama kemudian Dokter Fadlan pun melangkah keluar dari dalam ruanganya. Dia terus melangkah menuju ruangan Nenek Farida. Tapi belum juga Dokter muda itu sampai ke tempat tujuanya, sebuah badan kecil membentur tubuhnya.


"Hay punya mata tidak!," bentak sang punya tubuh.


Dokter Fadlan hanya bisa mengernyitkan dahinya, karna baru kali ini, ada seorang perempuan muda yang berani membentakinya, apa lagi saat ini dia berada di daerah kekuasaanya yaitu Rumah sakit PERSADA NUSANTARA.


"Hay kamu yang menabrakku tapi kenapa kamu yang marah-marah. Apa tidak salah tu!," Dokter Fadlan membalas membentaki perempuan muda itu.


"Kamu yang salah sudah lihat ada orang terburu-buru kamu malah menghalangi jalannya," kembali perempuan muda membentaki Dokter Fadlan.


"Hiihh...ini anak, sudah salah ngotot pula, atau jangan-jangan kamu belum di vaksin ya!," Dokter Fadlan menbunyikan rahanya sakin jengkelnya melihat perempuan muda yang ada di hadapanya saat itu.


"Ini.... terimalah vaksin dariku anti corona level 19...," ucap Perempuan muda itu sambil menginjak kaki Dikter Fadlan dengan sangat keras hingga yang empunya kaki meringis kesakitan.


"Awo........."


"Rasain loe.....Wee...." ucap Perempuan muda itu berlari meninggalkan Dokter Fadlan sambil menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


"Hii......awas saja kamu nanti," ucap Dokter Fadlan sambil melangkah pincang menuju kearah ruang Nenek Farida.


đŸ‘‰terus beri like, coment , vote dan rate bintang limanya ya makasih.


__ADS_2