
Tiga hari kemudian kini kondisi Melly dan Lina kembali seperti sediakala.
Mereka berdua sudah kembali ke rumah mereka masing-masing.
Pagi itu, Melly sudah bersiap-siap untuk pergi bersama Nenek Fatimah ke sebuah Mall untuk belanja kebutuhan pernikahan Melly.
Melly sebenarnya menolak tapi namanya juga Nenek Fatimah pasti segala upaya akan dia lalukan agar keinginanya bisa terwujud.
Nenek Fatimah melakukan itu semua sebagai wujud terima kasihnya atas apa yang Melly, Jhony dan Lina perbuat setelah menyelamatkan dirinya dari ulah Shanti dan juga anak buahnya beberapa hari yang lalu.
Nenek Fatimah yang sedari tadi menunggu Melly di sofa sambil memainkan handphonenya segera berdiri ketika melihat Melly sudah keluar dari dalam kamar.
"Apa kamu sudah siap Nelly!," ucap Nenek Fatimah lalu memasukkan handphonenya kedalam tas yang sering dia bawa.
"Sudah dong Nek, Nich lihat ! Melly sudah sangat cantik seperti bidadari yang turun dari kayangan bukan?," Melly memutar-mutar tubuhnya sambil berpose seperti yang sering dia lakukan diatas panggung saat peragaan busana.
Nenak Fatimah membuka kacamatanya lalu mengucak-ucak kedua matanya.
Perempuan tua itu seketika mengingat kembali seseorang yang sangat mirip dengan Melly.
"Iya, kamu cantik sekali Nelly, Kamu itu mirip sekali Ana, anak Nenek," Nenek Fatimah takjub dan juga sedih kala mengingat putrinya lagi.
Melihat ada perubahan mimik dari wajah dari Nenek Fatimah, seketika Melly berhenti melakukan aksinya. Dia melangkah mendekat kearah Nenek Fatimah dan mengelus pundak perempuan tua itu dengan sangat lembut.
"Mulai lagi deh sedihnya!, Nanti keriputnya tambah banyak loh kalau Nenek sedih mulu seperti ini," Melly merangkul pundak Nenek Fatimah lalu kemudian menyandarkan kepalanya di bahu perempuan tua itu yang sudah dia anggap sebagai Nenek kandungnya sendiri.
"Maafkan Nenek, karna Nenek merusak suasana pagi ini!," tatap Nenek
Fatimah kosong kedepan sambil mengelus pucuk kepala Melly.
"Tidak ada yang perlu di maafkan Nenek cantik. Ayo kita berangkat, nanti Nenek Farida dan Lina bosan nungguin kita lagi di rumah mereka," ajak Melly sembari memperbaiki posisi berdirinya seperti semula.
"Baiklah kalau begitu lets go Nelly," Nenek Fatimah mulai tersenyum dan menarik tangan Melly menuju kearah pintu keluar.
Belum juga mereka berdua keluar dari pintu tiba-tiba Bi Atun merlari kecil mendekat kearah mereka.
__ADS_1
"Nyonya Fatimah, Nona Melly tunggu sebentar," ucap Bi Atun sedikit Ngos2.
Nenek Fatimah dan Melly sontak berhenti kemudian berbalik badan.
"Iya Bi ada apa?," tanya Melly.
"Bibi hanya mau memberikan ini," ucap Bi Atun sambil menyerahkan sebuah tongkat kearah Nenek Fatimah.
"Astaga, hampir kelupaan lagi!, dasar pikun," oceh Nenek Fatimah menggerutuki dirinya sendiri lali mengambil tongkat miliknya dari tangan Bi Atun.
Melly dan Bi Atun hanya bisa tertawa melihat tingkah perempuan tua itu.
"Sebagai ucapan terima kasihku padamu wahai Bi Atun yang baik hati dan tidak sombong. Sepulang dari Mall nanti, Aku akan membelikanmu papeda bagaimana?," Nenek Fatimah menatap kearah Bi Atun sambil menaikan sebelah alisnya.
"Benarkah!," balas Bi atun memastikan.
"Tentu saja benar," Nenek Fatimah sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak Nyonya tapi kalau bisa kuah ikanya dan sayurnya di banyakin ya, ups.... jangan lupa cabe tumisnya dilebihin dikit juga tidak apa-apa kok" Bi Atun dengan semangat 45.
Tidak lama kemudia, Nenek Fatimah dan Melly kini sudah berada didalam kendaraan mewah milik Nenek Fatimah.
Mereka menuju kearah rumah Lina dengan La' upa sebagai pengemudi setia mereka.
Hanya butuh beberapa menit saja kini kendaraan mewah yang mereka tumpangi sudah memasuki pekarangan yang terbilang sempit tapi terlihatan asri karena di penuhi dengan beberapa jenis tanaman bunga.
La' upa supir pribadi Nenek Fatimah mematikan mesin Mobilnya lalu kemudian keluar dari dalam mobil untuk membukakan pintu bagi mereka berdua.
"Silahkan Nyonya dan Nona," ucap La' upa sedikit menundukkan kepalanya.
"Terima kasih pak," balas Melly dan Nenek Fatimah serentak.
Keduanya pun keluar dari dalam mobil dan melangkah menuju kearah pintu utama rumah milik Lina yang dulunya adalah milik Melly yang diserahkan pada sahabatnya itu.
Belum juga mereka mengetuk pintu, Nenek Farida dan Lina sudah muncul di balik pintu.
__ADS_1
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Nona-Nona cantik," Nenek Fatimah sambil tersenyum.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabbarakatuh, Akhirnya kamu mengakui juga kecantikanku wahai I'Timang," Nenek Farida memperbaiki pakaian yang dia kenakan sambil memutar-mutar badan.
"Tapi boooonk," Nenek Fatimah terbahak-bahan di ikuti oleh Melly dan Lina.
"Hiih ...Apaan sih!," Nenek Farida memukul bokong Nenek Fatimah mengunakan tas miliknya.
"Sakit tahu," protes Nenek Fatimah.
"Makanya jangan suka boonk," balas Nenek Farida.
Melihat pertengkaran kecil diantara kedua perempuan tua itu, Melly dan Lina hanya bisa menggeleng-geleng kepala.
"Sudah-sudah Ayo kita berangkat! takutnya Mall tutup sebelum kita tiba disana bila kalian berdua seperti ini terus," ajak Melly pada mereka berdua.
Keduanya langsung mengangguk dan melangkah menuju kearah mobil.
Kembali La' upa melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang menuju kearah MAll yang mereka tuju.
Tapi belum juga mereka tiba di Mall tujuan utama mereka, Nenek Fatimah menepuk punggung La' upa yang saat itu duduk di samping kirinya.
"Pak kita kesana sebentar," ucap Nenek Fatimah menunjuk sebuah bangunan yang bergerak di bidang perusahaan Jasa.
"Baik Nyonya," balas La' upa tanpa memandang kearah Nenek Fatimah sakin fokusnya mengendara.
Tidak lama kemuadian mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah bangun yang tadinya di tunjuk oleh Nenek Fatimah.
"Inikan perusahaan Jasa untuk orang-orang yang ingin umroh atau ketanah suci makah, Timang, apa kamu berencana kerumah ALLAH itu?," tanya Nenek Farida setelah mereka berempat sudah berada tepat di depan pintu perusahaan jasa umbroh dan ketanah suci mekah.
"Kita masuk saja dulu, entar kamu tahu sendiri tujuan kita sebenarnya kesini untuk apa?," ajak Nenek Fatimah pada mereka bertiga.
Keempatnya pun segera masuk kedalam gedung tersebut setelah sebelumnya sudah di bukakan pintu oleh seorang pegawai yang ada disana.
👉maaf lambat upnya soalnya Authornya lagi mudik ...sulbar ke sulsel.
__ADS_1