
Tidak berapa lama kemudian pintu kamar Raka terbuka, tampak pemuda itu sudah berpakaian rapi. Sepertinya pemuda itu akan kesuatu pesta walau kondisinya saat itu terlihat kurang fit.
"Siang Pa, Ma!," sapa Raka pada kedua orang tuanya.
"Siang sayang!, Kamu mau kemana?," tanya Shanty.
"Mau ke cafe Ma! ada teman Raka ulang tahun jadi mereka mengundanku kesana," Jawab Raka sambil merapikan kera bajunya.
"Nak kamu jangan keluar dulu, kondisimu masih sangat memprihatinkan," sambung Hafid yang tidak tega melihat keadaan putra kesayanganya dengan kondisi wajah sedikit pucat.
"Santai saja pa, Raka sudah dewasa, Raka bisa jaga diri kok!, bye Papa, bye Mama," Raka berlalu pergi meninggalkan Hafid dan Shanty begitu saja.
"Hiih ...Anak itu dibilangi mana mau mendengar," ucap Hafid sedikit geram.
"Sudalahlah Pa, Raka jangan terlalu di tekan!," balas Shanty sambil memegang pundak Hafid.
"Terserah kamulah, Aku melakukan semua ini sakin sayangnya Aku padanya, melihat kondisinya makin hari makin memburuk," balas Hafid sambil memalingkan wajahnya.
Melihat Hafid kurang 'mood' Shanty duduk di samping Hafid lalu mengusap lembut punggung pria parubaya itu.
"Apa tadi papa ke rumah sakit menemui Dokter Fadlan!, terus apa katanya!, apa pihak rumah sakit sudah menemukan pendonor ginjal untuk Raka?," tanya Shanty untuk mengalihkan pembicaraan.
"Pihak rumah sakit belum menemukan pendonor ginjal yang tepat buat Raka, itu juga yang membuat Aku pusing sampai sekarang ini, dimana lagi kita harus menemukan pendonor itu. Kata Dokter Fadlan bila sampai tiga bulan ini, kita belum menemukan pendonor yang sesuai dengan ginjal Raka, maka kecil kemungkinan putra kita itu bisa selamat, apalagi Raka masih sering mengkonsumsi obat-obat terlarang dan minum-minuman beralkohol sehingga obat di berikan Dokter padanya sia-sia saja,"
"Percaya saja pada pihak rumah sakit, pasti dalam waktu dekat ini mereka akan menemukan pendonor untuk Raka, Apalagi uang yang telah kita berikan pada mereka sudah cukup besar jumlahnya,"
Hafid sedikit tersenyum lagah setelah mendengar kata penyemangat dari Shanty.
***********
Sementara itu, di tebuah cafe, tampak Melly sedang melakukan pemotretan. Hampir sudah satu jam perempuan cantik itu berpose di beberapa tempat yang ada di cafe tersebut.
"Istirahat dulu," ucap seorang pria sambil bertepuk beberapa kali memberi tanda pada crew untuk rehat sejenak.
Melly juga ikut bubar setelah melihat crew mereka semua bubar untuk istirahat.
"Haus," ucap Melly sambil memegangi leher jenjanya.
__ADS_1
Melly melangkah kearah sebuah meja yang sudah tersaji beberapa macam makanan serta minuman diatasnya.
Belum juga Melly menyentuh apapun diatas meja, seorang perempuan tua sudah meneriakinya hingga membuat orang-orang yang ada di tempat itu berpaling padanya.
"Melly.......!, upss maaf," ucap perempuan tua itu sambil menutup mulutnya sakin malunya mendapat tatapan dari orang-orang yang ada disana.
"Nenek Fatimah," balas Melly sambil berlari kecil membentangkan tanganya pada perempuan tua itu.
"Angnez Mo kali Mell," ucap Nenek Fatimah pura-pura ngambek membuat Melly terbahak-bahak oleh tingkah lucu nenek itu.
Ke duanya pun saling berpelukan untuk melepas kangen karna sudah lama mereka tidak bertemu semenjak peristiwa di cafe itu.
"Ni, Ambillah!," Nenek Fatimah memberikan air mineral pada Melly yang sengaja dia beli khusus untuk Melly.
"Terimahkasih Nek!," ucap Melly sambil mengambil air mineral dari tangan Nenek Fatimah.
"Sama-sama cantik!, Ayo kita duduk dulu, pasti kamu sangat capek bukan?," Nenek Fatimah menarik tangan Melly ke sebuah bangku panjang yang tak jauh dari mereka saat ini.
Melly tidak menjawab dia hanya mengangguk pelan tanda setuju.
Setelah tiba di kursi tersebut dan keduanya mendudukkan tubuhnya disana, Melly membuka tutup air mineral yang di berikan Nenek Fatihmah tadi padanya dan meneguknya beberapa kali hingga tersisah setengahnya saja.
"Hiih..Nenek ini!," Melly memanyun-manyunkan bibirnya.
"Iya..iya maaf!,"
"Ngomong-ngomong Nenek tahu dari dimana kalau Melly ada disini!," tanya Melly pada Nenek Fatimah.
"Dari sini," Jawab Nenek Fatimah sambil memperlihatkan handponenya.
"Aduh sampe lupa!, tadi pagikan Aku posting di IG pribadiku, kalau hari ini Aku melakukan pemotretan disini. Pantas saja Nenek dengan mudah menemukanku," ucap.Melly sambil menepuk Jidatnya.
"Kamu ini masih muda sudah pikun!, ngomong-ngomong pacar kamu yang ganteng itu dimana!, kok sejak tadi Nenek tidak melihatnya di tempat ini?," tanya Nenek Fatimah sambil melayangkan pandanganya kesetiap penjuru tempat dimana mereka berada saat itu.
Mendengar ucapan Nenek Fatimah Melly mengkerutkan dahinya.
"Maksud Nenek siapa?," tanya Melly.
__ADS_1
"cowok yang kamu temani waktu di cafe itu yang jago beladiri dan memiliki paras tampan," jawab Nenek Fatimah.
"Maksud Nenek, Jhony?," tanya Melly lagi.
"Oh ..namanya Jhony, Nenek kira Jojon ha ..ha .ha," balas Nenek Fatimah sambil terbahak-bahak.
"Dia bukan pacar Melly kali Nek, tapi musuh bebuyutan Melly tahu," Melly sedikit protes.
" Ah...Masa.....!," balas Nenek Fatimah sambil tersenyum dan memandang lekat kearah Melly.
"Apaan si Nek," ucap Melly dengan wajah memerah karna ejekan dari Nenek Fatimah itu.
"Bilang saja bila kau mau, katakan sesungguhnya kepada dirinya," Nenek Fatimah melantunkan lagu milik Agnez mo sambil melakukan gerakan-gerakan kecil seperti yang biasa di lakukan oleh diva indonesia itu.
Melly hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat aksi Nenek Fatimah, Walau usia sudah kepala tujuh tapi nenek itu begitu energik bergerak.
Tidak lama kemudian pengambilan gambar kembali di mulai. Melly memperagakan berbagai macam gaya diatas panggung sedangkan Nenek Fatimah duduk menunggunya dari bawah sambil terus memperhatikanya.
"Kenapa anak itu mirip sekali dengan Ana putriku, Seandainya Ana memiliki putri, mungkin sudah sebesar Melly saat ini. Ana dimana kamu Nak!, Mami merindukanmu," ucap Nenek Fatimah dengan mata berkaca-kaca.
Tanpa terasa air mata perempuan tua itu menetes membasahi pipinya, mengingat putri tunggalnya yang hilang dan entah dimana rimbanya saat ini.
Nenek Fatimah terus melamun mengingat masa-masa bersama putri dan juga suaminya dulu. Dan tanpa dia sadari kalau Melly sudah berdiri di depanya.
"Kenapa Nenek menangis,," ucap Melly sambil duduk berjongkok di hadapan Nenek Fatimah.
Nenek Fatimah segera mengusap kedua matanya menggunakan telapak tanganya.
"Nenek mengingat putri Nenek!, wajahnya sangah mirip denganmu," Nenek Fatimah mengusap wajah Melly dengan begitu lembut.
Melly membiarkan sesaat Nenek Fatimah melakukan itu padanya untuk mengobati rasa rindu Nenek Fatimah pada putrinya yang hilang.
"Sudalah!, Ayo kita makan biar Nenek yang traktir," Nenek Fatimah bangkit dari tempat duduknya dan menarik tangan Melly.
Keduanya pun keluar dari ruangan itu dan menuju ke arah ruang makan di cafe itu.
Suasana cafe saat itu terlihat cukup ramai karna sekumpulan pemuda sedang merayakan pesta ulang tahun.
__ADS_1
đŸ‘‰terus beri like, coment dan vote.....terimah kasih.