
Kembali ke perusahaan DYANA grup. Sore itu Jhony sudah bersiap-siap untuk kembali ke rumah. Semua alat kantornya sudah dia rapikan dan sebagian juga dia masukkan kedalam tas kerjanya.
Setelah dirasa cukup, Jhony berdiri dari tempat duduknya dan mengambil jas hitamnya yang sedari tadi dia letakkan di puggung kursi kerjanya.
Jhony memakai jas hitamnya itu dan sedikit merapikan sebelum dia benar-benar keluar dari ruangan tersebut.
Tidak lama kemudian Jhony mengambil tas kantornya dan kemudian melangkah keluar dari ruang kerjanya.
Melihat majikanya keluar dari ruang kerjanya Nina berlari kecil menghampirinya.
"Tuan Jhony tunggu sebentar," Nina sedikit berteriak untuk menghentikan langkah Jhony.
Jhony segera berhenti lalu berbalik setelah mendengar Nina memanggil namanya.
"Iya, ada apa kamu memanggilku," tanya Jhony sedikit heran.
"Begini Tuan, tadi Aku melihat pemberitaan di Tv kalau besok ada beberapa kumpulan massa ingin datang kemari untuk berdemo." Nina dengan sedikit gemetar sambil meremas-remasi jari-jarinya.
"Apa!, kumpulan massa untuk berdemo!," tanya Jhony lagi dan sedikit megeryitkan dahinya.
"Benar Tuan! menurut informasi yang saya dengar, besok mereka mau datang ke perusahaan DYANA grup untuk memprotes kebijakan dari perusahaan DYANA grup yang tiba-tiba menghentikan produksi tanpa ada pemberi tahuan terlebih dulu kepada konsumennya," jawab Nina yang masih sedikit gemetar.
"Ada-ada saja mereka itu! baiklah kalau begitu, kamu suruh seluruh pegawai yang ada di perusahaan ini untuk membersihkan halaman yang akan di tempati para pendemo besok dan jangan lupa, kamu suruh mereka memperluas area tempat parkir supaya kendaraan para pendemo bisa aman saat melakukan unjuk rasa dan satu lagi siapkan makanan dan minuman untuk para pendomo itu supaya mereka bersemangat untuk berorasi besok, paham,"
"Paham Tuan," balas Nina dengan wajah bingung.
"Baiklah kalau begitu, Aku mau pulang dulu. Besok kita pikirkan lagi, hal apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi para pendomo itu besok hari." ucap Jhony melangkah meninggalkan Nina yang masih dengan wajah bingungan.
Setelah kepergian Jhony Nina yang sedari tadi terlihat bengong kini menggaruk-garuki kepalanya. Nina benar-benar bingung dengan pemikiran bosnya itu.
"Sebenarnya apa yang ada di pikiran Tuan Jhony itu, Sepengetahuan Aku, kalau massa banyak biasanya di beri pagar berduri atau menutup pagar agar mereka tidak masuk ke area gedung yang akan di demo, ini malah di biarkan begitu saja, di fasilitasi pula. Seolah-olah dia mendukung massa untuk mendemo perusahaan, Kan aneh!, ah sudalah dari pada kena marah, mending Aku lakuin saja apa yang dia perintahkan tadi." Nina membalikan badanya lalu menuju kearah ruang kerjanya.
Sementara itu Jhony terus melangkah menuju kearah tempat parkir dimana mobilnya kini sedang berada.
Setelah menekan tombol ON yang ada pada kunci mobilnya dan lampu mobilnya berkedip. Jhony membuka pintu mobilnya kemudian masuk kedalam .
__ADS_1
Tidak beberapa lama kemudian kini mobil miliknya itu meninggalkan area perusahaan DYANA grup menuju kearah rumahnya.
Disepanjang perjalanan, Jhony terus teringat dengan kata-kata Nina tadi, kalau besok akan ada demo besar-besaran di perusahaan DYANA grup.
"Ya ALLAH tunjukkanlah jalan padaku, supaya Aku bisa menyelamatkan perusahaan DYANA grup dari keterpurukan, Hanya padaMU Aku berserah dan hanya padaMu pulalah Aku memohon," ujar Jhony yang terus melajukan kendaraannya menuju kearah kediamanya.
Tidak lama kemudian Jhony memasuki area pekarangan rumahnya setelah sebelumnya di bukakan pintu oleh Pak Satpam sang penjaga rumah.
Jhony memasukkan mobilnya dalam garasi mobil dan tak lama kemudian Jhony keluar dari dalam sana dan menuju kearah pintu masuk kediamanya itu.
Bi Jhoana yang melihat Tuanya sudah datang segera menyambutnya.
" Sore Tuan! kalau boleh tahu, malam ini Tuan mau makan apa, biar bibi masakkan buat Tuan," tanya Bi Jhoana sedikit menundukkan kepalanya.
"Masakan seperti biasanya saja Bi," Jawab Jhony menjawab pertanyaan Bi Jhoana.
"Baiklah kalau begitu Tuan!, Bibi akan segera siapkan," Bi Jhoana membalik badan dan ingin melangkah kearah dapur.
Tapi belum juga Bi Jhoana melangkah, Jhony sudah memanggilnya.
Bi Jhoana segera berbalik dan menatap heran kearah majikanya itu.
"Iya Tuan, ada apa?." tanya Bi Jhoana heran.
"Tolong Bibi doakan Jhony!, agar ALLAH mempermudah setiap urusan Jhony, Karna Jhony yakin, doa orang-orang tulus seperti Bibi inilah yang di jamah oleh ALLAH," ucap Jhony sedikit memohon.
"Astaghfirullah Tuan, biarpun Tuan tidak meminta itu pada Bibi, Bibi
senang tiasa menyebut nama Tuan di dalam setiap doa yang Bibi panjatkan kepadaNya," balas Bi Jhoana.
"Terima kasih banyak Bi!, kalau begitu, Jhony ke kamar dulu, Jhony mau mandi lalu kemudian istirahan sedikit," ucap Jhony tersenyum lalu melangkah menuju kearah kamar pribadinya.
"Ada masalah besar apa sebenarnya yang di tanggung oleh Tuan Jhony, sehingga baru kali ini dia meminta pada Bibi untuk mendoakanya, Ya ALLAH permudahkanlah urusan Tuan Jhony karna Aku tahu ENGKAU tidak akan melupakan manusia baik seperti Tuan Jhony itu....Aamiin, ucap Bi Jhoana sambil menatap kasihan pada Tuanya itu.
Sementara itu, di dalam kamar milik Jhony, tampak pria itu baru saja selesai melakukan ritual mandinya dengan pakaian santai yang sudah melekat pada tubuhnya.
__ADS_1
Jhony mendudukkan tubuhnya diatas kursi lalu mengeluarkan laptopnya dari dalam tas kerjanya.
Setelah laptopnya menyala, Jhony kembali melanjutkan pekerjaan kantornya yang belum sempat dia selesaikan tadi di kantor.
Waktu terus berjalan hingga tidak terasa sholat magrib pun tiba.
Jhony menutup layar laptopnya dan bergegas ke kamar mandi untuk berwudu.
Tidak lama kemudia, Jhony keluar dari dalam sana dan mengambil sajadah dalam lemari kemudian membentangkannya ke atas lantai.
Butuh beberapa menit pria itu menghadap TUHANYA, hingga kembali Jhony berdiri dan mengambil sajadah yang dia bentangkan tadi diatas lantai dan melipatnya lalu memasukkannya kembali ke dalam lemari.
Setelah selesai melakukan sholat magrib Jhony keluar dari kamar dan bergegas menuju kearah meja makan karna perutnya saat itu sudah mulai keroncongan.
Tampak di meja makan Bi Jhoana sedang menata beberapa makanan diatas meja hingga Beliau tidak menyadari kalau Jhony sudah berdiri di dekatnya.
"Bi, apa semuanya sudah siap!," tanya Jhony,
Bi Jhoana sedikit mengangkat kepalanya lalu menatap kearah Jhony.
"Ee..Tuan, maaf Bibi tidak menyadari kalau Tuan ada di sini sakin sibuknya menata makanan ini," ucap Bi Jhoana sedikit merasa tidak enak pada Jhony.
"Tidak apa Bi!. Apa Jhony sudah bisa makan!, soalnya Jhony sudah lapar sekali, di tambah dengan aroma masakan Bibi sangat menggugah selera membuat nafsu makan Jhony makin bertambah," Jhony mendudukkan tubuhnya diatas kursi dan matanya tidak pernah berpaling dari makanan yang ada di depanya.
"Silahkan Tuan, semuanya sudah beres dan siap untuk Tuan santap," balas Bi Jhoana sambil tersenyum.
"Bibi Juga duduk dan temani Jhony makan," pinta Jhony sambil menaruh makanan diatas piring.
"Bibi nanti saja Tuan, soalnya di dapur masih ada beberapa pekerjaan yang tidak boleh Bibi tunda-tunda," ucap Bi Jhona sedikit menolak karna pekerjaanya di dapur memang lagi menumpuk.
"Baiklah kalau begitu!, Jhony duluan makan, nanti kalau Bibi sudah selesai kerjanya, Bibi makan Juga!,Bibi tidak boleh menunda-nunda makan takutnya maag Bibi kambuh lagi seperti dulu."
"Beres Tuan," balas Bi Jhoana lalu meninggalkan Jhony sendiri di sana menuju kearah dapur.
đŸ‘‰terus beri like, coment, dan vote nya ya ..makasih.
__ADS_1