
Setelah bercandanya selesai dan Melly sudah mengenakan kebaya sesuai keinginan Elin.
Melly dan Gisel duduk di sebuah sofa yang masih dalam ruangan yang sama.
Sementara Ziko diajak oleh Temmy dan Unce untuk bermain agar bocah imut itu tidak mengganggu obrolan serius antara ibunya dengan Melly.
"Mell, Aku mau nanya serius nich!, apa kamu benar-benar yakin ingin Menikah dengan Jhony!. Bukanya apa-apa, selama inikan Aku melihat kalian seperti kucing dan tikus yang tak pernah akur sama sekali," tanya Gisel memandang lekat pada sahabatnya itu.
"Aku yakin, Jhonylah pria yang terbaik bagiku sell!. Dia sudah menyelamatkanku dan melindungiku beberapa kali. Dan lagian, akhir-akhir ini sifat dan kelakuanya padaku sudah sangat berbeda seperti sebelum-sebelumnya. Kamu tahu gak Sel, Jhony pernah mengungkapkan rasa sayangnya padaku di tempat umum," Melly tersimpuh malu mengingat kejadian waktu itu.
"Benarkah!," ucap Gisel memandang Melly dengan tatapan serius.
Melly tidak menjawab dia hanya mengangguk dan tersenyum.
"Syukurlah kalau dia menyayangimu!, tapi pertanyaanya!, apa kamu juga menyukainya seperti dia menyukaimu?," Kembali Gisel bertanya untuk lebih memastikan.
"Uhm...., gimana ya!, ada de, hiii....hiiii...," balas Melly dengan tertawa kecil.
"Ini anak!," Gisel memukul pundak Melly yang masih saja tersenyum-senyum tidak menentu.
"Dengan melihatmu tersenyum, maka Aku sudah tahu jawabanya!. Mell, Aku sebagai sahabatmu dan juga sudah menganggapmu sebagai saudara, hanya bisa mendoakanmu semoga kalian berdua menjadi keluarga yang tenang, tentram, damai, penuh cinta dan kasih sayang, Aamiin," Gisel mengusap Wajahnya mengunakan kedua telapak tanganya
"Aamiin, terima kasih ya Sell," Melly menghamburkan pelukanya kearah Gisel dan di sambut Gisel dengan memeluknya kembali.
__ADS_1
Sementara itu di kediaman Jhony, tampak pria tampan itu sudah bersiap-siap untuk berangkat ke mension milik Aldo.
Setelan jas abu-abu di padukan dengan kemeja lengan panjang bagian dalam serta celana panjang berwarna hitam membuat pria itu terlihat begitu menawan.
Hafid yang sedari tadi menemaninya terus saja menatap putra semata wayangnya itu dari dalam cermin.
Ada rasa bersalah dalam hatinya bila mengingat kembali semua masa silamnya memperlakukan Jhony dan Ibunya tidak manusiawi.
Terlihat air mata pria parubaya itu menetes di selah-selah kedua matanya.
"Nak!, maaafkan Ayah!, Ayah hanya bisa memberimu penderitaan tanpa pernah memberimu kebahagiaan," tatap Hafid pada Jhony yang saat itu sedang duduk di depan meja rias sambil memandangi seluruh penampilanya apa masih ada yang kurang sebelum dia berangkat ke mension Aldo.
Seketika Jhony berhenti ketika melihat Hafid dalam cermin mengusap air matanya menggunakan pergelangan tanganya.
Jhony berbalik dan menghampiri Hafid.
Mendengar Jhony memanggilnya papa, seketika mata Hafid melotot. Hafid mengorek lobang telinganya menggunakan jari telunjuknya kiri dan kanan secara bergantian.
"Apa aku tidak salah dengar?," Hafid masih terus mengorek lobang telinganya dan sesekali menepuk pipinya untuk mengembalikan kesadaranya.
"Apa yang papa lakukan!," Jhony mengeryitkan dahinya memandang heran pada Hafid.
"Ka....kamu !,kamu barusan memanggilku apa!, Aku mohon ucapkan sekali lagi," ucap Hafid terbata dengan pengharapan yang begitu besar.
__ADS_1
"Papa," ujar Jhony singkat.
Seketika itu juga Hafid memeluk Jhony dengan sangat erat. Air matanya tidak bisa dia bendung lagi.
Ucapan itulah yang selama ini sangat dia harapkan.
"Terima kasih TUHAN, Engkau tidak pernah menutup telinga untuk mendengarkan doa hambaMu yang penuh dosa ini. Akhirnya anakku yang selama ini aku sia-siakan memanggilku dengan sebutan Papa. Terima kasih, terima kasi, terima kasih kupanjatkan padaMu," Hafid tidak henti-hentinya mengucap Syukur pada TUHAN sambil memeluk erat tubuh Jhony.
"Sudahlah Pa!, lupakanlah semua yang terjadi. Dan Jadikanlah semua kejadian masa lalu sebagai pelajaran untuk papa bisa menjadi lebih baik dan selalu di jalan ALLAH," Jhony mengusap air mata Hafid menggunakan kedua ibu jarinya.
"Terima kasih sekali lagi karna kamu sudah memaafkan dosa-dosa Papa padamu," pandang Hafid dengan tatapan sendu.
Jhony tidak menjawab dia hanya tersenyum.
"Sudah ya sedih-sedihnya!, baiknya kita berangkat ke mension. Keluarga diluar pasti juga sudah menunggui kita," ajak Jhony pada Papanya untuk keluar dari dalam kamar itu.
"Kamu pasti sudah tidak sabar ya melihat calon menantu Papa yang cantik itu,"
"Itu juga salah satunya hiii....hiii.....," Jhony tertawa kecil.
"Papa punya sesuatu buatmu! tapi minumnya setelah kamu dan Melly malam pertama," ujar Hafid memegangi lengan Jhony.
"Apaan!," jawab Jhony penasaran.
__ADS_1
"Ada de, pokonya tiga kali diatas tiga kali dibawah haaa haaa haaa...!, Ayo kita keluar, keluarga kecil kita pasti sudah menunggui kita sedari tadi di luar," Hafid tertawa sambil menarik lengan Jhony menuju kearah pintu keluar kamar itu.
Jhony mengikuti langkah Hafid dengan wajah masih penasaran dengan ucapan Hafid barusan.