MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
81. PERMINTA MAAFAN HAFID.


__ADS_3

Jhony membopong Melly masuk kedalam mobil miliknya lalu mendudukknya di kursi bagian depan.


Sementara Nenek Fatimah dan Lina juga ikut masuk kedalam mobil dan duduk di bagian belakang kursi penumpang.


Jhony melajukan kendaraanya dengan kecepatan tinggi dan seketika dia menurunkan kecepatan mobilnya karna mendapat teguran dari Nenek Fatimah.


"Joko tidak usah terlalu ngebut! Nelly pasti akan baik-baik saja. Dia hanya kecapean Jadi, santailah tidak usah terlalu kuatir seperti itu. Lagian kalau kamu ngebut-ngebutan seperti tadi bisa-bisa kita semua bisa ikut masuk dan dirawat di rumah sakit karena kecelakaan," ucap Nenek Fatimah menatap Jhony dari dalam kaca spion.


"Tapi Nek! Aku sangat kuatir kalau sampai Meong ada apa-apa nantinya!" balas Jhony dengan kekuatiran berlebihan.


"Percayalah pada Nenek, Meongmu akan baik-baik saja dan akan segera sembuh seperti sediakala" ucap Nenek Fatimah sedikit mengangguk untuk mengurangi kekuatiran Jhony.


Jhony hanya bisa diam dan kembali konsetrasi melajukan kendaraanya.


"Meong dan Joko itu siapa Nek!," kini Lina yang memetong pembicaraan mereka sakin penasaranya dengan sebutan Meong.


"Yayangnya Joko...ha ..ha ..ha!," Nenek Fatimah terbahak-bahak hingga membuat Lina makin tidak mengerti. Perempuan cantik itu menggaruk-garuki kepalanya sakin penasaran dengan sebutan Meong.


Tidak beberapa lama kemudian, kini mobil milik Jhony memasuki area rumah sakit dan di ikuti oleh mobil milik Hafid dari arah belakang.


Para Dokter dan Perawat sudah berdiri sejak tadi menunggui kedatangan mereka atas perintah Dokter Fadlan.


Jhony mengirimkan pesan singkat pada Dokter muda itu agar mempersiapkan segala sesuatunya sebelum mereka tiba di rumah sakit.

__ADS_1


Jhony menghentikan mobilnya tepat di depan pintu utama rumah sakit, lalu kemudian keluar dari dalam mobil dan berlari kecil kearah pintu dekat Melly sedang duduk dan belum juga sadarkan diri.


Jhony Membuka pintu mobil tersebut lalu mengangkat tubuh Melly dari dalam sana dan meletakkanya diatas brankar yang sudah di sediakan oleh para Dokter dan Perawat rumah sakit.


"Cepat bantu Aku!, kenapa kalian hanya berdiam diri saja seperti patung disitu," bentak Jhony pada Dokter dan juga Perawat rumah sakit sambil mendorong brankar dimana Melly sedang tergeletak diatas saja.


Para Dokter dan Perawat segera bergerak setelah mendapat bentakan dari Jhony. Sebenarnya mereka sedari tadi ingin melakukan itu tapi takut salah dimana Jhony. Apa lagi setelah melihat perhatian Jhony begitu berbeda dengan gadis itu membuat para Dokter dan perawat harus hati-hati untuk menghindari kemarahan dari mantan sekertaris Aldo itu yang di ketahui begitu dingin dan arogant dimata mereka.


Sementara itu, Nenek Fatimah dan Lina yang sudah keluar dari dalam mobil hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala melihat kemarahan Jhony yang tidak jelas kepada para Dokter dan juga para perawat rumah sakit itu.


"Lin! kamu juga harus di periksa, takutnya ada luka yang tidak terlihat pada tubuhmu setelah pertarungan tadi," ucap Nenek Fatimah sambil merangkul tubuh Lina.


"Aku tidak mau Nek!, Lina takut dengan jarum suntik," Lina mencoba menolak permintaan dari Nenek Fatimah.


Lina hanya pasrah dan mengikuti keinginan dari Nenek Fatimah.


Sementara itu, di depan ruang UGD.


Jhony berjalan mondar-mandir di depan ruangan tersebut.


Entah sudah berapa kali dia bolak-balik di depan ruangan itu sambil meremas-remasi jari- jemarinya saling bergantian.


Tampak dari wajah pria tampan itu terlihat kekuatiran yang begitu mendalam.

__ADS_1


Sesekali bibirnya terlihat bergetar untuk memanjatkan doa pada Sang Pencipta.


Hafid yang baru datang segera mendekat lalu memegangi bahunya.


"Nak tenangkan dirimu,"


Jhony segera berbalik dan mendapati Hafid sedang berdiri di depanya.


"Untuk apa Kamu kemari," bentak Jhony pada Hafid.


"Aku hanya ingin menemanimu di saat-saat sulit seperti ini," ucap Hafid sedikit menundukkan kepalanya.


"Aku tidak butuh belas kasihan darimu! jadi pergilah dari sini," ucap Jhony masih dengan nada ketus.


"Aku tahu kamu begitu marah besar padaku tapi, izinkanlah Aku menebus semua kesalahan yang telah Aku perbuat padaMu dan juga Ibumu," Hafid yang masih terus menundukkan kepala.


"Memang mudah untuk minta maaf! tapi apa kamu pernah berpikir sedikitpun dengan luka dalam hati ini! luka yang tidak akan pernah sembuh bahkan sampai nyawa terlepas dari jasad paham!,"


" Tolonglah, berikan Aku satu kesempatan lagi untuk menebus semua kesalahanku padamu. Karena bila kamu tidak memaafkanku, hidupku tidak akan bisa tenang karena di hantui rasa bersalah padamu ," Hafid memegangi tangan Jhony tapi dengan sigap Jhony menepis dan mendorong pria parubaya itu hingga hampir terjatuh.


"Jhony .....!, Ibu tidak pernah mengajari kamu untuk berbuat kasar seperti itu pada orang tua," ucap seorang perempuan parubaya sambil mendekat kearah Jhony dan Hafid.


Mata Jhony dan Hafid sontak terbelalak setelah melihat siapa yang kini datang menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


đŸ‘‰terus beri like, coment, dan vote ...terima kasih.


__ADS_2