
Hafid terus melanglah keluar dari dalam perusahaan miliknya dan menuju kearah tempat parkir.
Setelah tiba di depan mobilnya, Hafid mengetuk pintu mobil beberapa kali untuk membangunkan Kamaruddin yang sedang tertidur pulas di dalam sana.
Tok ....tok...tok....
Tiga pukulan tangan Hafid di badan mobil membuat Kamaruddin kelabatan bangun dari tidur lelapnya.
"Maaf Tuan, Saya ketiduran!," ucap Kamaruddin membuka pintu mobil dan keluar dari dalam sana lalu kemudian berlari kecil membukakan Hafid pintu mobil bagian belakang.
"Kau ini pemalas, cepat antar Aku ke rumah sakit PERSADA NUSANTARA," ucap Hafid sambil masuk kedalam mobil.
"Baik Tuan," balas Kamaruddin lalu menutup pintu mobil setelah Hafid benar-benar sudah berada di dalam mobil.
Tidak lama kemudian, kini mobil mewah yang di kemudikan oleh Kamaruddin melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit PERSADA NUSANTARA seperti yang di perintahkan oleh Hafid.
Di sepanjang perjalanan Hafid begitu gelisah, beberapa kali dia mengubah posisi duduknya sambil terus meremas-remas jarinya saling bergantian.
"Kenapa lambat sekali, tambah kecepatanya bodoh," bentak Hafid pada sang sopir.
"Baik Tuan!," balas Kamaruddin lalu sedikit menginjak gas mobil hingga kecepatan mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi.
Sementara itu, di rumah sakit PERSADA NUSANTARA tampak Shanty sedang berdiri di depan pintu ruang UGD.
Ada kekuatir besar yang mendalam pada wajah perempuan parubaya itu. Entah sudah berapa kali dia bolak-balik di depan ruangan UGD dimana di dalam sana, Raka putra semata wayangnya sedang mempertaruhkan nyawa melawan penyakitnya.
"Raka bertahanlah, kamu harus kuat karena cuman kamu satu-satunya harapan mama untuk memajukan perusahaan H&J, Aku tidak mau Jhony yang mengambil alih semuanya, jadi bangunlah dan mari kita sama-sama menghancurkan anak haram itu," ucap Shanty.
__ADS_1
Tidak lama kemudian tampak dari kejahuan Hafid berlari kecil menuju kearah Shany.
Sama halnya seperti shanty istrinya, Hafid pun mengalami hal yang sama. Tampak dari wajah pria parubaya itu kalau dia sekarang sedang panik, kuatir dan juga takut dengan kondisi putranya.
"Sayang bagaimana keadaan Raka!," tanya Hafid sambil mendekat kearah Shanty.
Santy tidak menjawab dia malah memeluk Hafid dengan sangat kuat.
"hiks.....hiks.....hiks......." isak tangis Shanty saat sudah dalam pelukan Hafid.
"Kenapa kamu menagis!, apa putra kita baik- baik saja dan apa kata Dokter Fadlan," ucap Hafid sambil membelai punggung Shanty .
"Raka koma, kata Dokter Fadlan kondisinya sudah sangat menguatirkan, tapi kabar baiknya pihak rumah sakit sudah menemukan pendonor yang tepat buat Raka tapi mereka masih menyembunyikan identitasnya," Shanty melepaskan pelukanya pada Hafid sambil mengusap air matanya.
"Benarkah!, ini kabar yang sangat menggembirakan," Hafid memegangi kedua pindak Shanty lalu menggoyang-goyangkanya.
"Benar! tapi masalahnya, apa pendonor itu mau menyerahkan satu ginjalnya untuk Raka!," Shanty dengan tatapan tajamnya menatap Hafid.
"Apapun Akan Aku lakukan demi menyelamatkan nyawa Raka, walau harus Aku korbankan sebagian dari perusahaan kita, untuk menukar ginjal orang tersebut," ucap Hafid dengan sangat yakin.
Shaty hanya mengangguk kemudian tersenyum.
Tidak lama kemudia pintu ruang UGD terbuka, tampak dari balik pintu dokter Fadlan keluar dari dalam sana.
Melihat hal itu, Hafid dan Shanty bergegas menghampirinya.
"Dok! bagaimana kondisi anak kami,?" tanya Hafid dengan wajah begitu kuatir.
__ADS_1
"Maaf Tuan Hafid, bolehkah kita bicara sebentar di ruangan Saya, karna ada hal penting yang harus kita bicarakan menyangkut kondisi Raka saat ini," balas Dokter Fadlan sambil.
"Kenapa bukan disini saja. jangan kau buat Aku kuatir seperti ini Fadlan," ucap Hafid sedikit emosi.
"Bukan maksud Saya begitu Tuan!, Tapi ada baiknya kita bicarakan ini di ruangan Saya supaya lebih enak," Dokter Fadlan mencoba menahan emosi Hafid dengan tetap memberikan pengertian padanya.
"Betul kata Fadlan sayang! ,baiknya kita bicarakan ini di tempat tertutup agar orang- orang tidak mendengarnya," Shany membelai punggung Hafid dengan sangat lembut untuk menetralkan emosi suaminya itu.
Hafid perlahan mengangguk.
"Kalau begitu, mari ikut Saya," Dokter Fadlan melangkah terlebih dulu dan diikuti oleh Hafid dan Shanty dari belakang.
Tidak lama kemudian, kini ketiganya sudah berada dalam ruangan Dokter Fadlan. Dokter Fadlan mempersilahkan mereka berdua untuk duduk sebelum dirinya ikut duduk.
"Maaf sebelumnya Tuan dan Nyonya!, kalau Saya memberi kabar yang kurang mengenakkan bagi kalian berdua. Kondisi Raka saat ini sudah sangat memprihatinkan paling lama Raka bisa bertahan hidup dua minggu saja kalau Anda berdua belum menemukan pendonor yang tepat untuk menggantikan ginjalnya yang sudah rusak parah itu," ucap Dokter Fadlan memandang Hafid dan Shanty secara bergantian.
"Apa katamu, paling lama dua minggu. Kamu jangan bercanda Fadlan," bentak Hafid berdiri dari tempat duduknya dan memukul meja kerja Dokter Fadlan dengan sangat kuat.
"Tenangkan diri Tuan!, Memang apa yang Saya katakan ini semuanya benar menurut penelitian Saya dan juga para Doktor Ahli yang ada di rumah sakit ini. Kerusakan ginjal Raka sudah tidak bisa di sembuhkan lagi, maka dari itu, kami menyarankan pada Anda berdua untuk mencari pendonor ginjal yang sesuai dengan ginjal Raka supaya nyawa Raka bisa tertolong," balas Dokter Fadlan mencoba memberi penjelasan pada Hafid.
"Terus bagaimana dengan pendonor yang sudah di temukan itu, Apa dia bersedia mendonorkan ginjalnya untuk Raka?," tanya Shanty pada Dokter Fadlan.
"Sebenarnya orang itu bukan pendonor, Dia hanya mengetes ginjalnya saja. Apa sama dengan ginjal Raka atau tidak, dan ternyata hasilnya positif. Ginjal orang tersebut ternyata bisa di tranplantasi ke ginjal Raka," jawab Dokter Fadlan.
Hafid dan Shanty saling menatap mendengar jawaban dari Dokter Fadlan.
đŸ‘‰terus beri like, coment, vote ...makasih.
__ADS_1