
Susi tersenyum lalu lalu mempersilahkan gadis cantik itu masuk kedalam.
"Ayo masuklah! Nenek kamu sudah sedari tadi menungguimu,"
"Terima kasih Sus!," balas gadis itu lalu masuk kedalam ruangan tersebut.
Baru dua kali kaki gadis itu dia diayun Dokter Fadlan langsung mencegalnya dari arah depan.
"Untuk apa kamu kemari, jangan bilang kalau kamu ingin mengacau di tempat ini, Ah!," bentak Dokter Fadlan pada gadis itu.
"Enak saja kalau ngonong, harusnya Aku yang bertanya seperti itu padamu, untuk apa kamu masuk kedalam kamar Neneku ini. Oh ..atau jangan-jangan kamu kemari ingin merayu Nenekku yang manis itu, iyakan?," bentak gadis itu kembali kepada Dokter Fadlan.
"Apa! Nenek!, Jadi Nenek Farida itu Nenek kamu, Astaga....sungguh kasihan Nenek Farida yang baik hati itu, punya cucu yang bar-bar sepertimu,"
"Apa kamu bilang, Aku bar-bar! Sus tolong pegangin ini, biar Aku beri pelajaran pada manusia yang satu ini," ucap si gadis, lalu memberikan kantongan pastik serta rantang yang ada di tangannya kepada Susi.
Si gadis lalu mengepalkan kedua buah tangannya lalu sedikit mengankatnya keatas sejajar dengan dadanya.
"Kemarilah, biar Aku memberimu pelajaran yang sangat berarti dan tak akan pernah kamu lupakan di sepanjang sejarah hidupmu,"
Dokter Fadlan hanya mengernyitkan dahinya sembari menggeleng-geleng kepalanya.
"Iiih ..ini anak benar benar ya!," ucap Dokter Fadlan sedikit gemas melihat tingkah gadis itu yang ingin mengajaknya berkelahi.
"Sudah-sudah kalian berdua ini apa-apaan si, bukanya memberi ketenangan pada pasien malah kalian berdua membuat keributan disini. Kalau kalian mau ribut jangan disini tapi di luar sana, Nich juga satu, perempun tapi gayanya seperti laki-laki. Lina, kalau kamu seperti ini terus mana ada laki-laki yang mau nikah sama kamu. Bukanya lembut dan ayu malah kasar seperti bajak laut yang sudah tiga belas hari tidak melakukan perompakan," Nenek Farida membentaki Lina membuat gadis itu sedikit tidak terima.
"Ish...Nenek bukanyanya membelain malah menjatuhkan harga diri cucunya sendiri," protes Lina sambil memanyun-manyunkan bibirnya.
"Ha ..ha ..ha ...benar Nek! mana ada laki-laki yang mau sama Mantili sepertinya, Melihatnya saja laki-laki pasti merasa takut apa lagi menikah denganya," Dokter Fadlan terbahak-bahak hingga membuat Lina makin geram.
"Apa katamu, rasaain ini!," Lina mencoba menginjak kaki Dokter Fadlan tapi dengan sigap Dokter Fadlan menghindar.
"Tidak kena," ucap Dokter Fadlan sambil berlari kecil mendekati Nenek Faridah.
Lina memburu memburu Dokter Fadlan tapi belum juga dia menyentuh Dokter Fadlan, Nenek Farida sudah membulatkan kedua matanya.
__ADS_1
Mau tidak Mau terpaksa Lina menghentikan niatnya itu.
"Awas saja kamu nanti," ucap Lina bersungut-sungut.
"Sudah-sudah, kalian berdua ini seperti anak kecil saja!, kenalin ini Lina cucu kesayangan Nenek yang Nenek ceritain tadi pada Dokter, dan Kamu Lina, kenalin ini Dokter Fadlan, Dokter yang menangani Nenek di rumah sakit ini sejak pertama Nenek di rawat disini,"
"Apa, Dokter! jadi dia ini Dokter Nek!," ucap Lina sedikit menampakkan raut wajah malu setelah mengetahui Fadlan adalah seorang Dokter.
"Iyalah.....Aku ini seorang Dokter sekaligus pemimpin di rumah sakit ini. Setelah mengetahui semua ini, apa kamu masih mau menginjak kakiku seperti tadi Ah!," ucap Dokter Fadlan sambil berkacak pinggan di depan Lina.
"Oh ternyata ...Dokter Fadlan tadi pincang gara-gara kakinya di injak gadis itu...Astaga sungguh tragis nasibmu pak Dokter," ucap Susi dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.
Lina tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya tertunduk sakin malunya sudah memperlakukan seorang Dokter seperti tadi.
"Kenapa kalian berdua hanya diam saja, Ayo salaman," ucap Nenek Farida sambil menatap kearah Dokter Fadlan dan Lina secara bergantian.
"Apa salaman?," Dokter Fadlan dan Lina saling memandang satu dengan yang lain.
"Iya salaman, masa ciuman. Cepat lakuin kalau kalian tidak mau, terpaksa Nenek keluar dari sini. Nenek mau pulang saja ke rumah urusin janda-janda Nenek dari pada ngurusun kalian berdua yang sangat mirip Tommy and Jerry,"
Terlihat dari wajah gadis itu kalau dia benar-benar tulus menyayangi Neneknya.
"Terus kenapa kamu hanya diam disini cepat lakuin seperti perintah Nenek tadi!,"
Mau tidak mau terpaksa Lina berdiri dari tempat duduknya dan melangkah mendekati Dokter Fadlan yang saat itu pura-pura tidak memandangnya sambil melipat kedua tanganya di depan dada.
"Kalau bukan karna Nenek, Aku tidak mungkin mau bersalaman denganmu," ucap Lina sedikit berbisik.
"Kau kira Aku juga mau ..hiii," Dokter Fadlan megedikkan bahunya.
Kembali pertengkaran kecil terjadi diantara mereka berdua, hingga seketika terhenti saat Nenek Farida berdehem.
"Hem......"
Dokter Fadlan dan Lina sontak memandang kearah Nenek Farida sambari tersenyum kerbau.
__ADS_1
"Kenalin Aku lina," ucap Lina sambil menyodorkan tanganya kearah Dokter Fadlan.
"Fadlan.....," balas Dokter Fadlan singkat.
Melihat itu Nenek Farida dan Susi langsung tersenyum.
"Sudah....Ayo kita makan, Sus boleh bawakan rantang itu kemari, Nenek sudah lapar,"
"Baik Nek!," balas Sus lalu melangkah mendekat kearah Nenek Farida.
"Kalian berdua ikutlah makan dengan kami!, Lina tolong kamu persiapin semuanya supaya kita bisa bersama-sama menyantap makanan yang kamu bawa tadi,"
"Baik Nek," balas Lina sedangkan Dokter Fadlan dan Susi hanya bisa mengangguk, biarpun menolak tak mungkin Nenek Farida membiarkanya.
Tidak lama kemudian, mereka berempat menikmati makanan dengan hikmat.
Hanya bunyi sendok dan piring yang sesekali terdengar dalam ruangan itu.
Seketika Nenek Farida tersenyum sendiri ketika melihat Dokter Fadlan makan dengan sangat lahap.
"Gimana Dok!, enak bukan?,' ucap Nenek Farida sambil tersenyum menatap kearah Dokter Fadlan.
"Enak sekali Nek! emangnya cucu Nenek ini belinya dimana, biar Aku memasukkannya ke dalam list tempat makan favoriteku supaya sewaktu-waktu bila ada waktu Aku bisa singgah disana untuk makan-makanan lezat seperti ini lagi," balas Dokter Fadlan yang terus menikmati makanan yang ada dalam piringnya.
Mendengar ucapan Dokter Fadlan, Lina hanya bisa tertunduk dan tak mau menatap wajah Neneknya.
"Ha ..ha ..ha.....Kalau Dokter mau, Dokter bisa ke rumah, nanti Nenek temani Dokter gimana?," ucap.Nenek Farida sembari tertawa terbahak-bahak.
"Benarkah Nek!," balas Dokter Fadlan dengan wajah sangat serius.
Nenek Farida hanya tersenyum sambil membulatkan kedua jarinya membentuk hurup O.
Setelah semua merasa kenyang, Dokter Fadlan pun meminta izin kepada Nenek Farida dan tak lupa mengucap banyak terima kasih atas makan yang telah di berikan padanya.
đŸ‘‰terus beri like dong, vote, dan coment ..terima kasih.
__ADS_1