MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
111. DOKTER FADLAN MELAMAR LIMA.


__ADS_3

Setelah selesai memeriksakan kandungan istri mereka, Aldo dan Jhony mengajak istri mereka untuk pulang kerumah mereka masing masing.


Dokter Fadlan terus mengikuti mereka dari arah belakang untuk mengantar kepulangan mereka semua ke depan pintu keluar.


Ziko berada di gendongan Aldo, sedangkan Zaky, berada pada gendongan Jhony.


Belum juga mereka semua tiba di pintu keluar rumah sakit, tiba-tiba seorang gadis belia datang menghampiri mereka semua dengan menenteng sebuah rantang berisi nasi serta lauk pauk.


"Gisel, Melly," Lina dengan senyum mengembang.


"Lina.....!," Melly dan Gisel langsung bergantian memeluk Lina.


"Siapa yang sakit?," tanya Gisel sambil menatap rantang yang ada di tangan Lina.


"Tidak ada," balas Lina singkat


"Terus, rantang ini buat siapa?." kini Melly yang menanyai Lina.


"Ini buat Dokter Fadlan!, Dokter Fadlan tadi berpesan pada Nenek untuk membawakanya makan siang karena dia ingin sekali mencicipi masakan buatan Nenek," ujar Lina sedikit mengangkat rantang yang ada di tanganya.


Aldo, Jhony, Gisel, dan Melly saling menatap. Tidak lama kemudian pecah sudah tawa dari mereka berempat.


"Alasan saja kamu Fadlan, bilang saja kalau kamu mau bertemu Lina bukan?," Aldo menepuk pundak Dokter Fadlan yang sedari tadi berdiri di belakang mereka.

__ADS_1


Dokter Fadlan hanya tersenyum kuda. Bagaimanapun caranya dia menutupi kebohonganya, Aldo dan Jhony pasti bisa membaca pikiranya.


"Fadlan, kapan nich peresmiannya?, awas loe nanti di dahului orang lain," Jhony dengan mata menatap kearah Fadlan.


"Aku si terserah Lina saja!, bulan ini pun akan jadi kalau Linanya mau. Aku sudah pernah melamar Lina pada Nenek Farida tapi Lina belum ada jawaban sama sekali" Fadlan sedikit lesuh.


Kini Aldo, Gisel, Jhony dan Melly yang sedari tadi menatap kearah Dokter Fadlan mengalihkan pandangan mereka ke arah Lina yang saat itu sedang tertunduk malu.


"Heem....," Gisel sedikit berdehem hingga Lina sedikit mengankat wajahnya.


"Apaan?," tanya Lina pura-pura tak paham.


"Jangan pura-pura lugu, tuh Arjunamu mau ada kepastian darimu, terima atau tidak.," tanya Gisel berdiri di samping Lina.


"Terima apaan si Sel?," Lina masih pura-pura bego.


Lama Lina terdiam, hingga terdengar sebuah tarikan nafas panjang dari lobang hidungnya.


"Tidak.......," Jawab Lina singkat.


Aldo, Jhony, Melly dan Gisel kembali saling memandang.


Lain hanya dengan Dokter Fadlan, pria tampan itu melangkah kehadapan Lina dan tiba-tiba menunduk dengan lutut sebagai tumpuanya.

__ADS_1


"Lin, Aku harap kamu menerimaku. Aku berjanji akan menjadi yang terbaik bagimu. Mulai hari ini sampai selamanya," Dokter Fadlan memegangi tangan Lina yang saat itu sedang memegangi rantang pada kedua tanganya.


Lama semuanya terdiam, hingga terdengar dua suara anak laki-laki yang sedari tadi memperhatikan percakapan mereka.


"Telima .....Telima.....," Zaki dan Zyko saling bertepuk tangan hingga yang lain pun ikut bertepuk tangan.


"Teriima....Teriiima.....Teriiiima"


"Dokter Fadlan berdirilah!," Lina memegangi kedua Lengan Dikter Fadlan dan menyuruhnya untuk berdiri.


Seketika itu juga Dokter Fadlan berdiri.


"Dokter sudah sering menanyakan hal ini padaku tapi Aku terus menghindar. Bukanya apa, Aku sadar diri, kita bak langit dan tanah yang jaraknya sungguh jauh berbeda. Melihat ketulisan Dokter Fadlan hari ini, Aku merasa Dokter Fadlan benar-benar tulus padaku. Tapi Jawabanku masih tetap sama yaitu tidak," Lina sedikit menundukkan kepalanya di depan dokter Fadlan.


"Tidak olak ya tante," ujar Zaky.


"Iya itu dia," Jawab Lina yang masih menundukkan kepalanya lantaran malunya pada orang-orang yang ada di sana.


Seketika wajah muram Dokter Fadlan berubah Jadi berseri-seri.


"Apa benar kamu menerimaku Lin?," tanya Dokter Fadlan memegangi kedua lengan Lina dan sedikit menggoyang-goyangkanya.


Lina mengangguk pelan dan seketika itu juga tubuhnya melayang diudara sambil memegangi rantang yang ada di tanganya.

__ADS_1


"Akhirnya Aku akan menikah dengan orang yang selama ini aku sayangi," ujar Fadlan sambil memutar-mutarkan tubuh Lina yang berada dalam gendonganya.


Seketika tawa pun pecah di tempat mereka sedang berada.


__ADS_2