
Shinta bangkit dari jatuhnya. Perempuan parubaya itu sama sekali tidak meringis atau merasakan sakit pada tubuhnya.
Dari bibirnya tersungging senyum getir menatap Jhony dan semua musuh-musuh nya yang ada dalam ruangan itu.
"Kurang ajar kamu haram!, King cepat tutup pintunya, jangan sampai ada salah satu diantara mereka keluar dari tempat ini," perintah Shinta pada seorang anak buahnya.
Dengan sigap dua dari tujuh anak buah Shinta berlari kearah pintu dan menutup daun pintu ruangan tersebut.
"Ayah, tolong pegangi Azisah, dan papa tolong lindungi Ayah dan Azisah jangan sampai para penjahat itu merebut dia lagi dari tangan kita," ujar Melly sembari menyerahkan bayinya pada Hafid.
Hafid mengangguk sembari mengambil cucunya dari tangan Melly.
"Nak, kamu hati-hati, jangan sampai para bajingan itu menyakitimu," Pandu menepuk pundak Melly dan disambut Melly dengan senyuman.
"Ha ..ha ..ha!, Apa kalian semua sudah mulai panik dan berubah pikiran!," tawa Shinta memecah seisi ruangan itu dan diikuti oleh tawa ke tujuh anak buahnya.
"Ciih..Dengan saudara kembarmu dan anak buahnya saja kami tidak takut, apalagi bajingan teri-terian macam kalian ini," Jhony sengaja meludah untuk memancing emosi Shinta.
Ternyata apa yang dilakukan Jhony benar-benar membakar amarah Shinta.
"Kurang ajar kamu anak haram. Kalian semua tangkap mereka dan buang mereka dari atas gedung ini agar mereka semua tahu sedang beradapan dengan siapa mereka saat ini," kembali Shinta menyuruh anak buahnya tapi kali ini bukan satu-satu lagi, melain semuanya untuk menyerang Jhony dan teman-temanya.
"Baik," ujar mereka serentak dan mengambil lawan masing-masing.
Aldo dan Jhony sedikit menjauh untuk agar lebih leluasa menghadapi 4 anak buah Shinta yang saat itu tiba-tiba menyerang mereka berdua.
Sedangkan Melly, Gisel dan Lina menghadapi anak buah Shinta satu lawan satu.
__ADS_1
Melly dan Gisel menghadapi dua pria bertubuh kekar, sedangkan Lina menghadapi Rita, perempuan yang berpenampilan seperti pria.
Pertarungan sengit pun terjadi, Melly dan Gisel saling membelakangi sementara dua anak buah Shinta terus memberi pukulan dan tendangan kearah mereka berdua secara bertubi-tubi.
"Sel, kita tidak bakalan menang jika kita tidak menyerang balik mereka," bisik Melly tanpa melihat kearah Gisel sakin sibuknya menangkis pukulan dan tendangan dari lawannya.
"Betul, tenaga kita akan habis bila hanya menangkis serangan dari para penjahat ini,"
"Kalau begitu bersiaplah,"
Gisel hanya mengangguk dan menunggu aba-aba dari Melly.
Kembali pertarungan sengit terjadi diantara mereka hingga akhirnya Melly mencolek pinggang Gisel.
"Sel sekarang saat," ujar Melly sedikit mengeraskan suaranya.
Hingga pria tinghi besar itu terpental jauh dan tersungkur di depan kaki Shinta.
Sama halnya yang dilakukan oleh Gisel, Melly pun melakukan hal yang sama.Dia mencoba berlari kecil, ketika Melly sudah mendekat Gisel menunduk, Melly segera menginjak pundak Gisel dan memberikan tendangan super pada lawan Gisel tadi.
Kembali sebuah tubuh besar terjatuh macam buah kelapa yang baru saja jatuh dari pohon.
"Sakit tahu," protes Gisel sembari membersihkan pundaknya.
"Iya maaf tapi ini satu-satunya cara untuk memberi mereka pelajaran," Melly ingin sekali tertawa tapi, sedapat mungkin dia tahan karena takut Gisel mengomelinya.
Tidak berselang lama kemudian sebuah tubuh menabrak mereka.
__ADS_1
"Awoo," ringis Lina yang baru saja mendapat pukulan keras dari Rita.
"Lina, Apa kamu baik-baik saja?," tanya Melly dan Gisel dengan wajah panik melihat ada sedikit darah keluar dari bibir sahabatnya itu.
"Aku baik-baik saja. Luka seperti ini sudah biasa bagiku. Kalau luka dihati Aku mungkin tak sanggup untuk menahanya," Lina mencoba bercanda untuk mengurangi kekuatiran pada kedua sahabatnya itu walau dirinya saat itu tidak mungkin baik-baik saja.
"Ha..ha ..ha, Apa kalian berdua ingin merasakan apa yang dialami teman kalian itu," Rita tertawa dan menunjuk kearah Lina yang saat itu berdiri di tengah-tengah antara Melly dan Gisel.
"Coba saja kalau kamu bisa. Mari kita buktikan siapa diantara kita yang lebih kuat," tantang Melly yang tidak ada takut-takutnya sedikitpun melihat tubuh kekar Rita.
"Majulah, biar Aku berikan kalian pelajaran satu per satu," Rita menjulurkan telapak tanganya dan menggerakkan jari-jemarinya untuk memberi isyarat agar Melly, Gisel dan Lina maju.
"Hati-hati Mell, perempuan jadi-jadian ini memiliki tenaga super. Dia sama sekali tidak merasakan apa-apa saat Aku memukul atau menendang tubuhnya kecuali.....," Lina memotong ucapanya.
"Kecuali apa?," Melly dan Gisel bersamaan sakin penasarannya dengan ucapan Lina.
"Kecuali kita memukul......," Lina berbisik ke telinga Melly dan Gisel secara bergantian.
Seketika mata Gisel dan Melly melotot.
"Ahh.....Apa?,"
KAWAN2 BANTU YA DENGAN MEMBERI SUBSCREB, LIKE, COMENT, SHERE SERTA NYALAKAN LONCENG NOTIFIKASINYA PADA CHANNEL AKU DI YOUTUBE SEKALIGUS MRMBACA KARYA BARU AKU DISANA.
NAMA CHANNEL : DUNIA NOVEL.
JUDUL NOVEL : DENDAM ISTRI YANG TERSISIH. TERIMA KASIH.
__ADS_1