MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
82. ES LILIN.


__ADS_3

"Ibu, Elin," Jhony dan Hafid serentak.


"Iya Aku!," Hafid untuk apa kamu kemari!, kalau kamu hanya ingin memperkeruh suasana silahkan kamu pergi dari sini," ucap Elin dengan sorot mata tajam kearah Hafid.


Hafid tidak langsung menjawab dia terlebih dulu menarik nafas lalu menghempaskanya.


"Aku kesini untuk meminta maaf pada Jhony walau Aku tahu sendiri kalau itu sangat sulit baginya untuk memberi maaf padaku," balas Hafid.


Elin menatap lekat kearah Jhony. Tampak di mata pria itu masih ada sisa dendam yang terpancar di sana walau tidak sehebat sebelum-sebelumnya.


"Aku tidak mau memaafkanya! cukup besar luka yang sudah dia torehkan dalam hatiku dan juga hati almarhuma Ibuku," ucap Jhony dengan tegas.


Elin terdiam sejenak begitu pula dengan Hafid. Apa yang dikatakan Jhony memang benar adanya. Hafid sudah menelantarkan Jhony dan juga Ibunya selama berpuluh-puluh tahun lamanya.


" Jhony!, Ibu tahu perasaanmu, kelakuan Hafid padamu dan juga Ibumu dulu sudah kelewatan batas. Tapi tidak ada salahnya bukan, bila kamu memberi kesempatan kedua padanya untuk memperbaiki diri. Memaafkan lebih mulia dari pada meminta maaf. Tuhan sendiri bisa memberi maaf pada hambanya yang benar-benar menyesali perbuatanya mengapa kita yang hanya sebagai hamba tidak memberi kesempatan kepada mereka yang meminta maaf pada kita!," ujar Elin menasehati Jhony untuk membuka sedikit hatinya buat Hafid yang tak lain adalah Ayah kandungnya sendiri.


"Tapi Bu," balas Jhony sedikit tidak terima.


Belum juga Elin membalas perkataan Jhony pintu ruang UGD terbuka.


Jhony segera berlari meninggalkan Elin dan Hafid untuk menjemput Melly yang masih terbaring diatas brankar dan belum juga sadarkan diri.


"Bagaimana kondisi teman Aku, Roy!," tanya Jhony dengan wajah kekuatir.


"Kondisi Nona ini baik-baik saja Tuan! dia hanya kecapean dan kurang cairan saja makanya dia pingsan," balas Dokter Roy.


"Terus, kenapa dia masih belum sadarkan diri juga kalau memang dia benar-benar baik-baik saja," tanya Jhony lagi.


"Tuan bersarbarlah dulu! sebentar lagi pasti Nona ini akan sadarkan diri!" balas Dokter Roy.


"Awas saja kalau sampai kamu berani membohongiku! posisimu disini akan di geser oleh Dokter lain, paham," acam Jhony pada Dokter Roy.


"Paham Tuan, paham," balas Dokter Roy ketakutan.

__ADS_1


Elin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya kepala mendengar ancaman Jhony yang membuat Dokter Roy ketakutan.


Tidak lama setelah pertengkaran kecil antara Jhony dan Dokter Roy. Para perawat pun mendorong brankar Melly menuju ke sebuah kamar terbilang luas yang sudah disiapkan khusus buat Melly.


Semua itu tentu saja atas suruhan dari Jhony.


Sebuah ruangan yang cukup besar dengan fasilitas ruangan yang terbilang lengkap membuat pasien yang menghuni didalam sana pasti akan merasa nyaman dan betah tanpa harus ada gangguan dari pasien lain.


Ada televisi, sofa, daput kecil, Ac dan sebuah kamar mandi yang juga ukuranya lumayan luas.


Jhony duduk di kursi samping pembaringan sedangkan Elin dan Hafid berdiri disampingnya sambil menatap Melly yang masih tergeletak tidak sadarkan diri dengan jarum inpus melekat di tanganya.


Lama mereka hanya menatapi Melly disana hingga, Hafid berdehem dengan suara sedikit parau sehingga membuat Jhony dan Elin mengalihkan pandangan kearahnya.


"Heemm..... Elin, bolehkah kita bicara sebentar di luar sebentar!," Hafid menatap lekat kearah Elin yang saat itu berdiri di tengah antara Jhony dan dirinya.


Elin menatap sejenak pada Jhony lalu kemudian membalas.


"Baiklah, Jhony! kamu jaga Melly sebentar!, setelah ini, Ibu akan kemari lagi untuk menemanimu disini," Elin menepuk punggung Jhony.


Hafid dan Elin melangkah menuju pintu keluar. Hafid memutar gagang pintu dan sedikit menariknya hingga pintu ruangan itu terbuka.


Hafid mempersilahkan Elin keluar kemudian dia mengikutinya lalu menutup kembali daun pintu ruangan tersebut.


Mereka berdua duduk di kursi panjang yang ada di depan ruangan dimana Melly sedang mendapat perawatan.


Ada sekitar lima menit mereka terduduk diam disana hingga akhirnya Hafid mengangkat bicara.


"Elin maafkan Aku dan Juga terima kasih," ucap Jhony dengan bibir sedikit bergetar.


"Maaf untuk apa dan juga terima kasih untuk apa?," Elin sedikit mengernyitkan dahinya.


"Maafkan Aku atas peristiwa masa lalu. Aku tidak bisa menepati janjiku untuk menikahimu karna orang tuaku tidak mau memiliki menantu seorang model," ucap Hafid sedikit menunduk.

__ADS_1


"Mungkin TUHAN memang tidak menakdirkan kita untuk bersatu waktu itu jadi iklaskanlah dan lupakanlah," balas Elin.


"Terima kasih Elin atas ketegaran hatimu," lanjut Hafid.


Elin tidak menjawab, perempuan parubaya cantik itu hanya tersenyum manis sebagai bentuk jawaban atas ucapan Hafid.


"Yang kedua, Aku juga ingin berterima kasih sebesar-besarnya padamu karna kamu sudah menyayangi Jhony dengan sepenuh hatimu tanpa membeda- bedakanya dengan Tuan Aldo serta sudah mendidiknya menjadi manusia yang berhati lembut seperti dirimu," Lanjut Hafid kini menatap lekat kearah Elin hingga membuat perempuan parubaya itu sedikit salah tingkah dibuaynya.


"Ah...., kamu ini sangat berlebihan. Jhony itu dasarnya memang baik. Ibunya telah memberikan pondasi agama yang kuat saat dirinya masih kecil jadi tidak mudah baginya untuk goyah. Hanya karena masa lalunya saja yang kelam hingga terkadang membuatnya dingin dan arogant," balas Elin lagi.


"Sekali lagi terima kasih," Hafid memegangi tangan Elin dan kembali untuk kedua kalinya perempuan itu salah tingkah dibuatnya.


"Heem...., ini rumah sakit, bukan tempat untuk bermesra-mesraan," ucap seorang perempuan tua sambil melipat kedua tanganya di depan dada dan mengalihkan pandanganya ke tempat lain.


Elin dan Hafid segera menarik tangan mereka masing-masing sakin malunya. Kemudian menatap siapa sebenarnya yang sudah menegur mereka.


"Ibu Fatimah," Elin berdiri dan sejajar dengan Nenek Fatimah.


Nenek Fatimah menambah keriput di dahinya dan menatap heran siapa perempuan yang mengenali dirinya itu.


"Kalau boleh tahu! kamu ini siapa kok bisa mengenal Ibu dengan baik," balas Nenek Fatimah yang masih saja heran.


"Aku Elin Bu! teman Ana waktu SMP dulu," ucap Elin sedikit girang karna sekian lama baru bertemu Nenek gaul itu.


Lain hanya dengan Nenek Fatimah, perempuan tua itu meletakan telunjuknya di dekat pelipisnya dan mencoba mengingat-ingat kembali siapa perempuan yang berdiri di hadapanya saat ini.


Hingga tidak beberapa menit kemudian bibirnya tersenyum.


"Es Lilin," ujarnya sambil memegang kedua tangan Elin.


"Elin bu! bukan Es lilin," protes Elin yang memang sejak dulu Nenek Fatimah sering mengejekinya dengan sebutan es Lilin.


"Yang penting ada Lin-Linnya, Ayo kita duduk Ibu sangat rindu padamu... hay kamu geserlah kesana karena ini adalah urusan perempuan," Nenek Fatimah menggerak-gerakkan tangan menyuruh Hafid untuk bergeser.

__ADS_1


Tanpa melawan Hafid langsung bergesar dan memberi ruang untuk kedua perempuan itu melepas rindu.


đŸ‘‰terus beri like, coment, vote yang banyak ya ...terima kasih.


__ADS_2