MELLY DAN JHONY

MELLY DAN JHONY
122. BARTER


__ADS_3

Ke tujunya pun masuk kedalam gedung tua itu sembari memantau seisi ruangan bangunan tua tersebut.


"Hati-hati jangan sampai mereka menyadari kedatangan kita," Jhony menghentikan langkah kaki mereka berenam.


"Iya, tapi kok aneh, tidak satu orang pun dari anak buah Shinta berada di lantai ini. Atau jangan-jangan mereka berkumpul diatas lantai dua karena sudah menyadari kedatangan kita?," Aldo yang mulai curiga.


"Benar juga katamu. Kalau begitu ayo kita naik. Pasti mereka semua sudah menunggui kedatangan kita," ajak Jhony pada mereka semua.


Ketujuhpunya menaiki tangga menuju kearah lantai dua. Setelah tiba di depan pintu, Jhony segera memutar knop pintu dan sedikit kasar mendorongnya.


Pack...pack ..pack....


Tiga buah teputangan terdengar dan memantul di dalam ruangan tersebut.


"Akhirnya kalian datang juga," ucap Shinta sembari bertepuk tangan.


"Dimana putriku," Melly ingin mendekati Shinta tapi segera di halangi oleh Jhony.


"Sabar sayang, kita jangan sampai gegabah sehingga membuat keselamatan putri kuta terancam,"


Seketika itu juga Melly terdiam.


"Kalau kamu mau mengambil putrimu, cepat suruh tua bangka itu menandatangani surat- surat pengalihan kuasa atas perusahaan H&S, Karena perusahaan itu adalah milik kakakku. Rita kemarikan surat-suratnya," perintah Shinta pada Rita.


"Baik Nyonya," Rita membuka tas yang sedari tadi tergeletak diatas meja lalu kemudian menyerahkanya pada Shinta.

__ADS_1


"Ini Nyonya,"


Sementara itu Hafid seketika mengerutkan dahinya mendengar ucapan Shinta..


"Apa katamu?," perusahan H&S milik kakakmu. Woy jangan mimpi. Aku membangun perusahan itu dari nol dan baru bertemu Shanty saat perusahaan itu berkembang. Lagian itu sudah bukan milikku lagi tapi milik putraku Jhony,"


"Apa?, kamu dengan mudah memberikan perusahaan besar pada anak harammu itu yang nyata-nyatanya dia tidak pernah mencucurkan keringatnya pada perusahaan besar itu," kini suara Shinta mulai meninggi.


"Mau mau Aku dong!, perusahaan perusahaan siapa kenapa kamu yang sewot," balas Hafid tersenyum mengejek.


"Oh baiklah kalau begitu. Hay anak haram cepat tanda tangani berkas berkas ini dan kamu boleh pulang membawa putri menjengkelkanmu itu," Shinta menatap kearah Jhony.


"Bagaibamana kalau Aku tidak mau," ujar Jhony.


"Oh kamu menantangku!, King bawa bayi sialan itu kemari," perintah Shanti pada salah seorang anak buahnya.


Tidak lama kemudian, King sudah datang sembari menggendong tubuh kecil milik Azisah.


"Ini Nyonya!," King memberikan tubuh kecil Azisah pada Shinta.


"Bayi ini benar-benar imut. Tapi apa dia masih terlihat imut bila Aku merusak wajahnya," ujar Shinta sembari membelai lembut wajah Azisah.


"Tolong jangan lakukan itu pada putriku, Baban tolong putri kita jangan sampai dia melukainya sedikit pun," Melly menangis dan menggoyang-goyangkan tubuh Jhony yang saat itu sedang berdiri tegap di sampingnya.


"Tenanglah Sayang, Aku tidak akan membiarkan dia untuk melukai putri kita sedikit pun," Jhony mencoba menenangkan Melly.

__ADS_1


"Hay Iblis betina cepat lepaskan putriku," bentak Jhony pada Shanty.


"Apa! lepaskan?. Enak saja kalau bicara. Kalau kamu mau cepat tanda tangani perkas-berkas ini atau Aku akan," Shinta mulai ingin mencakar wajah mungil Azisah dengan kuku-kukunya yang panjang.


"Tunggu!, baiklah Aku akan menandatangani berkas-berkas itu tapi jangan lakukan itu pada putriku,"


Shinta segera menghentikan keinginanya sembari tersenyum menatap Jhony.


"Akhirnya kamu menyerah juga. Cepat ambil ini dan segera tanda tangani," Shanti menyodorkan kertas itu kearah Jhony.


Dengan hati-hati sekali Jhony melangkah mendekati Shanty dan mengambil kertas yang ada di tangan perempuan parubaya itu.


"Cepat menjauh dari sini, dan segera tanda tangani itu lalu bawah kembali kemari dan kita barter, Aku dapat kertas itu dan kamu dapat putrimu,"


Jhony segera berbalik. Tapi belum juga dia melangkah. Jhony sedikit menunduk dan memberi tendangan putar pada kedua kaki Shinta.


Shinta terjatuh dan tubuh Azisah terlempar ke udara.


Melly segera melompat tinggi dengan pundak Gisel sebagai tumpuanya.


Melly menangkap tubuh kecil putrinya dan mendarat di lantai dengan sempurna.


"Alhamdulillah, Kamu tidak apa-apa sayang," Melly menciumi kedua pipih putrinya secara bergantian hingga membuat bayi imut itu geli sembari tertawa riang.


BAGI KAWAN-KAWAN YANG MAU BACA NOVEL TERBARU DARI SAYA judulnya" DENDAM ISTRI YANG TERSISIH" SILAHKAN MAMPIR KE CHANNELL YOUTUBEKU.JANGAN LUPA BERI SUBSCREB, LIKE, COMENT, SHERE DAN NYALAKAN LONCENG NOTIFIKASINYA...TERIMA KASIH.

__ADS_1



__ADS_2