Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Kebucinan Alex


__ADS_3

“Daddy, wake up!”


Aurel menggoyangkan tubuh sang ayah. Tepat pukul dua malam, akhirnya Alex dapat memejamkan mata. Itu pun setelah ia menemukan pakaian bekas pakai Bilqis yang masih tergelantung di ruang walk in closet. Piyama yang masih menempel aroma Bilqis dan parfum yang biasa wanita itu gunakan, cukup membuat Alex mampu terlelap. Ia memeluk benda itu seolah tengah memeluk istrinya yang berada jauh di sana.


“Daddy … Ayo ke rumah nenek!”


Aurel kembali menggoyangkan tubuh sang ayah. Perlahan, Alex pun membuka mata. Padahal sedari tadi alarm ponselnya yang selalu berdering diwaktu subuh sudah beberapa kali terlewat.


“Ada apa, Sayang?”


Hap


Aurel langsung menaiki perut sang ayah dan duduk di sana untuk memastikan Alex benar – benar sudah terjaga.


“Hari ini, di rumah nenek ada acara. Ayo kita ke sana!”


Alex baru ingat bahwa hari ini Laila dan Darwis akan menikah. “Oh iya. Ya ampun, Daddy hampir lupa.”


Aurel menepuk keningnya sembari menggoyangkan kepalanya. Seharusnya, Alex yang melakukan gerakan itu.


“Apa Daddy sudah pikun?”


Alex tersenyum dan menggeser sedikit tubuhnya untuk bangkit, lalu bersandar pada dinding ranjang. “Tidak, Sayang. Daddy hanya lupa karena terlalu banyak urusan kemarin.”


Aurel mengangguk. Kemarin memang ia ditinggal seharian. Untung saja, Maya dan Nia bisa memberikan penjelasan padanya sehingga selama satu hari itu Aurel tak lagi merengek meminta kehadiran ayah dan ibunya di rumah.


"Aurel tadi video call sama Mommy,” ucap Aurel


“Oh ya? Kapan?” tanya Alex antusias.


“Tadi, sebelum membangunkan Daddy.”


Bibir Alex langsung melebar. “Kalau begitu, video call Mommy lagi.”


“Sekarang?” tanya Aurel.


“Nanti, setelah Daddy sholat subuh.” Alex mengangkat tubuh putrinya dan di dudukkan di samping. Sementara Alex bangkit untuk menuju kamar mandi dan berwudhu.


“Kau sudah sholat?” tanya Alex dengan mendekatkan wajahnya pada sang putri.


“Sudah dengan Nanny.”


“Good.” Alex menoel ujung hidung Aurel. “Kalau begitu, tunggu Daddy!”


“Oke.” Gadis kecil itu tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


Alex tersenyum lebar melihat ekspresi Aurel yang lucu dan meninggalkannya.


Aurel memiliki gadget sendiri. Namun, Alex membatasi penggunaan itu. Gadget milik Aurel hanya digunakan di saat hari libur atau satu jam saat malam sebagai pengganti menonton televisi. Aurel pun tidak keberatan dengan peraturan yang sang ayah ciptakan. Aurel memang penurut, sama seperti mendiang ibunya.


Tiga puluh meenit, Aurel menunggu akhirnya sang ayah menyudahi aktifitasnya. Alex berdiri sembari melipat sajadahnya dan mengahmpiri sang putri.

__ADS_1


Tut … Tut … Tut …


Terdengar suara sambungan telepon dari ponsel Aurel karena panggilan itu di loudspeaker.


“Hai, Mommy.” Aurel melambaikan tangannya saat layar itu sudah berubah menjadi wajah Bilqis.


Bilqis selalu mengangkat telepon yang datang dari ponsel Aurel. Berbeda saat Alex yang menelepon, telepon itu akan didiamkan atau dimatikan. Walau sudah memaafkan Alex, Bilqis masih memerlukan waktu untuk bisa bersama seperti dulu. Hanya beberapa waktu, tapi itu sangat menyiksa Alex.


“Hai, Sayang.” terlihat wajah Bilqis yang tersenyum.


Kemudian, dengan cepat Alex duduk di samping Aurel dan ikut melambaikan tangan. “Hai, Sayang.”


Di depan Alex, seketika Bilqis tak lagi tersenyum.


“Kamu sudah sholat?” tanya Bilqis dengan pertanyaan yang ditujukan untuk Aurel.


“Sudah.” Aurel dan Alex menjawab bersamaan.


“Tidak tidur lagi?” tanya Bilqis lagi dan tetap dijawab dengan kekompakan ayah dan putrinya itu.


“Tidak.” Aurel mmenjawab dengan gelengan kepala, begitu pun dengan Alex. Seketika, pria yang dijuluki killer itu berubah ekspresi menjadi innocent dan cute. Ingin rasanya Bilqis tertawa melihat ekspresi itu. namun terpaksa ia tahan agar Alex tidak melihat bahwa mereka sudah baik – baik saja.


“Aku bertanya pada Aurel, bukan padamu,” ucap Bilqis dengan menunjukkan matanya ke arah Alex.


“Mommy bertanya padaku, Daddy.” Aurel pun menginterupsi dan menegaskan lagi perkataan sang ibu sambungnya kepada sang ayah.


Alex menggaruk belakangnya yang tak gatal. “Mommy tidak bertanya pada Daddy?” tanyanya dengan wajah yang lagi ditampakkan lugu.


Aurel melirik ke arah kedua orang tuanya. Ia menatap Alex, lalu ke arah Bilqis yang ada di layar ponsel itu. Kemudian, Aurel menatap ibunya di layar.


“Daddy masih nakalin Mommy?” tanya Aurel lucu.


Bilqis pu mengangguk. “Masih.”


“Daddy menggigit Mommy lagi?” tanya lagi dengan wajah polos. “Soalnya, aku sering melihat leher Mommy merah. Apa itu gigitannya Daddy?”


Week


Wajah Alex pun langsung pias. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bilqis pun tak mampu lagi menahan tawanya, hinggaterdengar lah suara tawa itu.


“Mommy kok ketawa? Bukan kah digigit itu sakit?” tanya Aurel lagi.


“Ya, sakit.” Bilqis mengangguk. “Makanya Mommy masih marah sama Daddy.”


Aurel langsung menggeser duduknya ke arah sang ayah. “Daddy, kenapa seperti itu? Daddy selalu berkata padaku untuk tidak menyakiti makhluk makhluk ciptaan Tuhan. Tapi Daddy menyakiti Mommy.”


Alex harus menghentikan drama ini. ia terpaksa mengangguk. “Ya, ya. Daddy salah. Daddy sudah minta maaf sama Mommy.”


Alex mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. “Daddy minta maaf. Daddy tidak akan menyakiti Mommy lagi. Janji!”


Alex juga mengangkat kedua tangannya ke atas sebagai tanda janjinya di hadapan sang putr.

__ADS_1


“Mommy, Daddy sudah janji tidak akan menyakiti Mommy lagi. jadi Mommy harus memaafkan Daddy.”


“Ya, Mommy memaafkan Daddy.” Bilqis pun mengangguk dan tersenyum.


“Yeaay …” Aurel bersorak. “Kalau begitu, sekarang Aurel dan Daddy ke rumah nenek, karena Mommy dan Daddy harus berpelukan.”


Bilqis melongo. “Kenapa jadi dia yang ngatur?” tanya Bilqis dalam hati melihat Aurel tampak mengatur kedua orang tuanya.


Alex tersenyum dan berteriak. “Setuju. Ayo kita ke rumah nenek sekarang!”


“Hei. tunggu!” Bilqis menginterupsi, ia masih belum setuju dengan aksi peluk – pelukan seperti permintaan Aurel tadi.


“Daaah, Mommy. We coming!” Aurel hendak mematikan sambungan telepon itu dan melambaikan tangan ke arah kamera.


“Tunggu!” Bilqis masih belum siap jika anak dan suaminya datang pagi – pagi. ia masih ingin bersantai sejenak d dalam kamarnya dan menikmati kerinduan di sana. lagi pula acara pernikahan sang ibu pun berlangsung masih cukup lama karena acara akan digelar sore hari.


“Daaah, Mommy!” Alex melambaikan tangan dengan senyum menyeringai. “Tunggu pelukan Daddy ya.”


Bilqis pun cemberut. Ia memonyongkan bibir membuat Alex tertawa geli. Alex yang sedang mendominasi ponsel sang putri karena Aurel bergegas kembali ke kamarnya untuk bersiap, memanfaatkan momnen ini.


“Miss U, Mommy. Daddy kangen bibir Mommy. Mmmuaaachh …” Alex memonyongkan bibirnya di depan kamera itu, membuat Bilqis semakin geli melihatnya.


“Ish, amit – amit.” Bahu Bilqis begidik ngeri melihat kemesuman dan kegenitan itu.


Namun, Alex malah tertawa. “Aku sangat merindukanmu, Sayang. Lihat!” Alex menunjukkan piyama bekas pakai milik Bilqis.


“Semalam aku sampai memeluk kemejamu untuk bisa tidur. Ayo lah, pulang!”


Bilqis terkejut melihat piyama bekas pakainya kemarin malam yang belum sempat ia letakkan di ruang loundry. Hatinya berbunga ketika mengetahui ternyata sebesar itu rindu sang suami padanya. Namun, Bilqis tetap tidak menampakkan wajah senang itu. Padahal dalam hati ia sangat senang diistimewakan seperti ini.


“Pulang ya,” ucap Alex lagi. kali ini dengan nada memelas.


“Baru satu malam,” jawab Bilqis. “Aku masih rindu kamarku.”


“Kamu lebih merindukan kamarmu dibanding aku? Terlalu,” jawab Alex kesal.


Pria itu benar - benar sudah dibuat bucin oleh Bilqis.


Ekspresi wajah Alex berubah menjadi pemaksa seperti aslinya. “Aku ga mau tahu, pokoknya setelah acara Ibu dan Om Darwis selesai. Kamu harus pulang.”


“Dih, kok gitu?” tanya Bilqis tak terima. Mereka masih berdebat menggunakan ponsel Aurel.,


“Aku udah pakai cara lembut dan tidak berhasil, jadi aku pakai cara biasanya.”


“Mas Alex, aku masih ingin di sini,” rengek Bilqis yang masih ingin menginap di rumah sang ibu.


“No debat, Oke! Bye, Sayang. Tunggu kami di sana. Mmuaaachhh …” Alex mematikan ponsel itu setelah memberi kecupan, padahal di sana Bilqis masih ingin protes.


“Mas …”


Tut … Tut … Tut …

__ADS_1


Sambungan telepon itu pun terputus. Bilqis kembali melempar ponselnya. “Ish, kenapa aku selalu kalah sama dia? Menyebalkan.”


__ADS_2