
Tina langsung menonaktifkan ponselnya hingga sampai ke Jakarta. Di sana, Jhon terus menelepon sang kekasih. Ia kebingungan karena tidak mendapati sang kekasih di kamar hotel atau pun di tempat – tempat lain atau di rumah Bilqis.
Hingga menjelang tengah malam, Tina tak kunjung memberi kabar sampai akhirnya ponsel Jhon berbunyi dan menampilkan pesan.
“Maaf, Jhon. Aku segera pulang karena ayahku sakit.”
Hanya pesan itu yang Tina berikan dan Tina terpaksa berbohong. Walau tidak sepenuhnya bohong karena terakhir komunikasi, sang ayah memang sedang sakit, lebih tepatnya sakit perut disebabkan oleh masakan yang dibuat sang ibu terlalu pedas.
Keesokan harinya, Jhon masih berada di Singapura. Pria itu belum kembali ke Jakarta dan kesempatan itu Tina ambil untuk mengajukan pengunduran diri.
****
Sudah lima hari Jhon belum kembali, Tina pun pergi pagi pulang malam hanya untuk menyelesakan sisa pekerjaannya. Walau HRD meminta Tina untuk tetap tingga satu minggu kemudian sampai Jhon pulang. Akan tetapi, Tina meminta secepatnya untuk pergi dari kantor ini dengan alasan kesehatan sang ayah.
“Tina, kamu yakin hari ini last day?” tanya Mira.
Tina mengangguk. “Iya, Mir. Aku udah cepet – cepet di suruh pulang.”
“Ck. Kaya yang mau dijodohin aja lu.”
Tina tertawa.
“Ngga nunggu Jhon balik?”
Tina menggeleng. “Itu mah gampang. Lagian kita juga sering komunikasi.”
Walau Tina membatasi komunikasinya dengan Jhon, tapi ia tetap membalas pesan dan telepon pria itu, karena selain memiliki keterikatan hati, mereka juga memiliki keterikatan pekerjaan.
Dret … Dret … Dret …
Tina melirik ponselnya yang tergeletak di meja dan berbunyi. Mira pun melihat benda itu menyala dengan sedikit getaran.
“Jhon telepon tuh,” ujar Mira dengan arah mata ke benda pintar milik Tina yang menyala.
“Ya udah, gue pulang duluan ya,” sambung Mira dengan menepuk pundak Tin.
“Hati – hati, Mir!”
“Kamu juga hati – hati! Jangan pulang tengah malem! Takut tau.” Mira mengingatkan temannya, karena hampir lima hari ini Tina memang selalu pulang larut demi menyelesaikan pekerjaan sebelum ia tinggalkan.
Tina pun tersenyum dan mengangguk. Ia membentangkan kedua tangannya kepada Mira. Dua wanita yang bersahabat karena satu profesi itu pun saling berpelukan. Tina mengabaikan bunyi telepon dari Jhon.
“Aku pasti akan merindukamu, Mir.”
“Aku juga. Hm …”
Keduanya berpelukan cukup lama, hingga ponsel Tina kembali berdering. Kemudian, Mira melepaksan pelukan itu.
“Noh, si bule udah nelepon lagi,” ujar Mira dengan melirik lagi ponsel Tina yang kembali menyala.
“Biarin aja,” jawab Tina kesal.
“Eh, dia itu cinta mati sama lu, Mir. Kesian.”
“Halah, dia aja ga kesian sama gue.”
Tina tertawa, lalu melambaikan tangan dan pergi karena kalau tidak pergi, mereka pasti akan tetap berbincang dan telepon Jhon tidak akan diangkat – angkat oleh Tina.
Tina membalas lambaian tangan itu sembari tersenyum kecil, lalu ia menatap layar ponselnya yang masih menyala dan mengangkatnya.
“Halo.”
“Ah, akhirnya teleponku diangkat,” ujar suara Jhon yang terdengar di telinga Tina.
__ADS_1
“Ada apa, Jhon?”
“Ada apa? kamu seperti dengan orang lain saja. Jelas aku menelepon karena rindu padamu.”
“Masa sih?” Tina justru membalas dengan datar.
“Sayang, kamu pasti marah karena aku belum kembali dan menyusulmu pulang hingga saat ini.”
“Sudah biasa, Jhon. Aku tahu kamu pasti ingin minta maaf dan memintaku mengerti, Benar kan?”
“Tina,” panggil Jhon lirih.
“Sudahlah, Jhon. Aku mengerti,” jawab Tina dengan segudang rencana yang tidak Jhon ketahui.
“Besok aku ke Jakarta dengan penerbangan paling pagi. Aku sudah memesan tiket.”
“Oke,” jawab Tina datar.
“Cepat pulang! Aku tahu kamu masih dikantor,” ucap Jhon.
“Tahu dari mana?”
“Wisnu.”
Jhon memang sengaja memata – matai kekasihnya lewat office boy yang sering mendapat uang tip besar.
Tina pun menghela nafasnya kasar. Memang Wisnu dikenal mata duitan. Jika disuruh membeli makanan saja, dia akan cepat membelikan untuk orang yang memberi tip lebih besar.
“Ayo pulang sekarang! Sudah malam. Pekerjaan tidak akan pernah ada habisnya. Lagi pula besok, kamu bisa kerjakan lagi.”
“Iya,” jawab Tina, padahal besok saat Jhon kembali ke sini, ia sudah tidak ada.
“Hati – hati! Love you more.”
Sepulang dari Singapura lima hari lalu, Tina mulai menata hati dan mencoba tidak mencintai Jhon lebih dalam lagi.
Klik
Tina memutuskan sambungan telepon itu. Di sana, Jhon menatap ponselnya sembari tersenyum getir. Ia merasakan perbedaan sikap Tina lima hari terakhir. Hal itu pula yang membuatnya ingin segera kembali ke Jakarta, walau Michelle terus merengek agar dirinya tidak pulang.
Pukul sebelas malam, Tina baru keluar dari gedung itu. Targetnya dalah hari ini hari terakhirnya bekerja dan ia pun dapat menyelesaikan semua pekerjaannya dan membuat orang yang akan menggantikan posisinya nanti menjadi mudah mengerjakan pekerjaan itu.
Ngiiik
Bruk
Taksi yang Tina tumpangi berhenti mendadak dan menubruk seseorang.
“Ya ampun, Pak. Kenapa?” tanya Tina panik seiring tubuhnya yang terhuyung tiba – tiba.
“Maaf, Mbak. Ada orang nyeberang sembarangan.”
Tok … Tok … Tok
Tiba – tiba orang itu mengetuk jendela Tina.
“Mbak, jangan dibuka jendelanya, takut orang jahat,” ucap di sopir.
Namun, Tina tetap membuka jendela itu karena semakin melihat jelas pria yang ada di luar sana, ia semakin mengenali.
“Rendi.”
“Tina. Teman Bilqis kan? Tolong aku.”
__ADS_1
Tina pun membuka pintu mobilnya dan Rendi langsung masuk ke dalam.
“Ada apa, Ren?” tanya Tina bingung melihat Rendi terengah – engah.
“Aku dibegal, Tin.”
“Pak, ayo jalan!” Tina meminta sopir itu untuk segera menjalankan mobilny.
“Di mana, Ren?”
“Di sana.” suara Rendi terdengar parau. Ia seperti yang baru saja lari maraton sejauh lima ratus kilometer.
“Di persimpangan xxx ya, Pak?” tanya di sopir dengan melirik Rendi dari kaca spion dalam.
“Benar, Pak.”
“Di sana, memang rawan, Pak,” sahut si sopir.
“Kamu naik apa, Ren?” tanya Tina.
“Motor, Tin. Aku ga tau motor aku gimana, aku langsung kabur karena mereka bawa senjata.”
“Ya ampun. Ya udah yang penting kamu selamat.”
Rendi mengangguk. “Terima kasih, Tin.”
Tak lama dari itu, Rendi meminta Tina untuk berhenti.
“Kamu yakin berhenti di sini?”
Rendi mengangguk. “Iya ga apa – apa. aku ingin ke rumah kakakku, karena dompetku juga diambil mereka.”
“Ya ampun, Ren.” Tina ikut prihatin.
“Mungkin hari ini hari apesku, Tin. Atau mungkin akhir – akhir ini aku jarang sedekah, jadi diambil paksa sama Allah.”
Tina semakin prihatin. Ia pun membuka dompet dan mengambil beberapa uang.
“Ini pegang buat pegangan kamu.”
“Ngga usah, Tin. Makasih. Aku ke rumah kakak aku aja.”
“Ga apa – apa. terima aja,” ucap Tina dengan mengepalkan uang itu ke tangan Rendi.
“Makasih, Tin. Aku janji akan kembalikan uangmu.”
“Santai aja,” ujar Tina tersenyum.
Rendi pun ikut tersenyum. Tak lama kemudian, taksi yang ditumpangi Tina pun berhenti di tepi jalan, tak jauh dari komplek. Lalu, Rendi turun.
“Terima kasih, Tina.”
“Sama – sama, Ren.hati – hati!”
“Kamu juga hati – hati. Sudah malam.”
Tina mengangguk.
Kemudian, tiba – tiba Rendi berkata pada sopir taksi itu. “Pak, antar teman saya sampai tujuan dengan selamat. Jangan macam – macam! Saya sudah menandai mobil dan tanda pengenal anda.”
“Iya, Mas. lagian saya mau ngapain?” kata sopir itu.
Rendi tersenyum pada Tina, begitu pun sebaliknya. Sungguh, Rendi tidak akan melupakan pertolongan Tina.
__ADS_1