Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Happy ending


__ADS_3

"Sayang, sudah siap?”


“Sudah, Mom.”


Bilqis menatap putrinya dari pintu kamar. Ia tersenyum saat sang putri menghampiri.


“Anak Mommy cantik banget sih.” Bilqis menoel hidung Aurel. Semakin hari wajah Aurel semakin mirip dengannya.


“Iya, dong. Anaknya siapa dulu.”


“Anaknya Mommy Tasya,” jawab Aurel gemas.


“Anaknya Mommy Bilqis juga.”


Bilqis tertawa. “Yuk! Daddy udah nunggu di bawah.”


Aurel mengangguk dan menggandeng tangan Bilqis. Pagi ini, mereka akan terbang ke Labuan Baju bersama orang – orang kantor di perusahaan milik Alex. Kebetulan hari ini tepat merayakan annoversary berdirinya perusahaan Alex yang berada di Singapura dan Jakarta.


Di bawah, Alex sudah menyiapkan semua keperluan untuk keluarganya selama tiga hari berlibur. Ia juga membawa Maya dan Nia, mengingat keduanya sama – sama orang yang bekerja padanya. Hanya saja dua orang penjaga keamanan di rumah itu tidak bisa ikut karena mereka harus menjaga rumah ini.


“Daddy …” Aurel yang baru saja menuruni anak tangga, langsung memanggil ayahnya.


Alex menoleh dan melihat Aurel berlari menghampiri, sedangkan Bilqis berjalan dari belakang. Bibirnya tersenyum lebar melihat dua bidadari yang mendekati.


“Ups!” Alex menangkap tubuh putrinya dan menggendong. “Putri Daddy cantik sekali.”


“Ini, Mommy yang nguncirin.” Aurel menunjukkan kuncir kuda yang Bilqis buat.


Alex mencium gemas putrinya dan menoleh ke arah Bilqis. Satu tangannya merengkuh pinggang sang istri dan mencium pipinya. “Istri Daddy juga cantik.”


Bilqis tersenyum memasang pipinya untuk dicium sang suami. “Ada satu lagi yang belum kita sapa.”


“Siapa?” tanya Aurel.


“Dedek bayi yang ada di perut Mommy.”


“Oh iya.” Alex dan Aurel kompak berseru.


Alex yang masih menggendong Aurel pun sedikit membungkuk dan mencium perut Bilqis.


“Pagi dedek bayi,” kata Aurel lucu.


“Sehat sehat kamu di sana ya, Nak.” Alex mengecup perut berbalut dres pendek itu dua kali.


Bilqis pun mengelus kedua kepala yang ada di perutnya, lalu mengecup dua kepala itu bergantian. Kebahagiaan yang dulu dirsakan Tasya, kini dirasakan padanya.


Bus yang membawa hampir seluruh orang yang bekerja di perusahaan Alex, sedang melaju menuju bandara. Alex dan keluarga juga langsung menuju bandara. Mereka akan bertemu di sana. Tina, Saskia, dan Mira pun berada di bus itu. Tidak ada yang membawa keluarga kecuali Alex, mengingat perjalanan mereka cukup jauh dan memakan budget yang tidak sedikit, sehingga para karyawan hanya diberikan jatah satu tiket untuk pasangan atau keluarga.


“Halo, Om Bima.” Aurel melambaikan tangan pada asisten sang ayah saat keluar dari rumah menuju mobil.


Alex masih menggendong putrinya dan keluar rumah bersama sang istri untuk masuk ke dalam mobil.


“Hai, Non Aurel.” Bima membalas lambaian tangan itu sembari membukakan pintu mobil untuk anak da istri Alex.


Alex sengaja membawa mobil mini bus mewahnya untuk menampung lebih banyak orang. Maya dan Nia duduk di kursi penumpang paling belakang. Bilqis dan Alex duduk di kursi penumpang tengah dengan Aurel yang duduk di pangkuan sang ayah. sementara di depan ada sopir dan Bima.


“Are you ready?” tanya Alex pada putrinya.


“Ready,” jawab Aurl semangat dengan suara lantang dan mengangkat tangannya.


Sontak, semua yang ada di dalam mobil itu pun tertawa melihat ekspresi lucu Aurel, termasuk Bilqis. Alex menoleh ke arah istrinya dan tersenyum, lalu mengagkat tangannya untuk mengusap kepala Bilqis lembut.


Mobil panjang dengan jendela yang menggunakan gorden itu pun melaju menuju bandara. Di sana, para karyawan menanti kedatangan CEO sekaligus Owner killer yang kini berubah menjadi smiler.


Tina, Mira, dan Saskia pun menunggu kedatangan Bilqis. Rencana mereka yag semula ingin berjalan – jalan berempat, justru malah ramai karena diikuti oleh hampir seluruh karyawan yang lain dan satu anggota keluarga mereka.


“Bilqis mana sih? Kok belum datang,” ujar Mira yang hanya membawa suami.


Mira sengaja mengajak suami tanpa anak – anak sebagai momen honeymoon kedua. Saskia yang sudah terlihat buncit pun bersama suami sekaligus bos yang sudah menjadi mantan bos. Tak lama dari perjalanan ini, Ringgo juga akan berhenti bekerja dan memulai usaha barunya sebagai jual beli dan rental mobil.


“Udah mau deket kok. Nih, aku udah di wa Bilqis. Tina menunjukkan ponselnya pada kedua temannya. Ia ditemani Jhon yang sedang berbincang dengan Dion dan Ringgo.


“Tina … Kiya … Mba Mir.”


Ketiga nama yang Bilqis panggil pun menoleh.

__ADS_1


“Bilqis.” Ketiganya langsung menjerit menyebut nama Bilqis dan berlari menghampiri.


“Aduh, jangan lari dong. Gue ga bisa nih,” keluh Saskia, membuat Tina dan Mira tertawa.


Mira menghentikan langkahnya untuk menunggu Saskiya. “Duh, kasian banget sih Bu Mil.”


Tina dan Bilqis yang berdiri tak jauh dari langkah mereka pun tertawa.


“Duh, Bu Mil. Udah keliatan aja tuh perut,” ledek Bilqis.


“Nanti, lama – lama kamu juga sama kek aku, Qis,” sahut Saskia.


“Ya, gue mau liat Bilqis gendut,” sambung Tina.


“Pasti nanti si Bos makin ga nahan,” celetuk Mira.


Keempat wanita heboh itu pun kembali tertawa.


“Nanti, mommy juga seperti tante Kiya?” Aurel bersuara.


Karena terlaalu asyik, keempat wanita itu lupa bahwa di sana ada seorang anak kecil.


“Hei, Auel. Cantik banget,” ujar Tina.


“Lama – lama Aurel mirip banget lu, Qis,” sambar Saskiya.


“Ya, iya lah. Orang ibunya Aurel kembaran Bilqis. Auto mereka mirip,” kata Mira.


Aurel tampak senang, jika orang mengatakan dirinya mirip dengan sang ibu. Walau ia tahu bahwa Bilqis ibu sambung dan merupakan adik dari ibu kandungnya. Hal itu tidak mengurangi sayang Aurel pada Bilqis. Justru semakin hari, Aurel semakin menyayangi sang ibu layaknya ibu sambung. Begitu pun dengan Bilqis yang menyayangi Aurel seperti anak yang lahir dari rahimnya sendiri.


Alex pun terlihat langsung membaur dengan Jhon, Dion, Ringgo, dan beberapa manajer lain.


Tak lama kemudian, ketua panitia yang dibentuk dari tim HRd itu memberi arahan serta penjelasan untuk acara harini dan tiga hari ke depan selama di tempat liburan. Usai dari itu, panitia mengajak seluruh peserta bersiap untuk memasuki pemeriksaan bagasi. Mereka akan melakukan perjalanan kira – kira selama dua jam dua puluh lima menit.


“Mas, aku sudah ingin berangkat.”


“Hati – hati ya! Kalau sudah sapai sana, jangan lupa beri Mas kabar lagi.”


“Oke.”


“Miss you juga, Mas Radit.”


Maya dan Radit saling bertukar pesan. Setelah acara pernikahan Laila dan Darwis kala itu, Radit menjadi dekat dengan Maya. Apalagi saat itu adik laki – laki Bilqis itu mengantarkan Maya pulang hingga terjadi beberapa kali kebersamaan mereka. Radit pun merasa nyaman berbincang dan jalan bersama Maya. Ternyata pengasuh anak dari kakaknya ini berkualitas premium. Menurut Radit, Maya pintar dan selalu nyambung saat diajak berbicara. Pengetahuan Maya cukup luas dan cukup mengetahui banyak hal. Kebetulan, walau menjadi pengasuh dan sempat berhenti sekolah di tengah jalan. Maya yang memiliki semangat untuk menggapai pendidikan tinggi pun di dukung oleh Alex, hingga saat ini ia resmi menjadi mahasiswa kelas karyawan yang dilakukan malam.


“Hoek.”


“Hoek.”


Di tempat lain, Laila terus memuntahkan makanan yang ia makan pagi ini.


“Pasti asam lambung kamu naik ya,” kata Darwis yang menemani istrinya.


Darwis berdiri di samping Laila yang berdiri di wastafel dapur.


“Iya kali, Mas. Udah tiga hari ini, setiap pagi aku muntah – muntah,” keluh Laila.


“Memangnya habis makan apa? Rujak ya?”


Laila berpikir. Ya, ia memang akhir – akhir ini senang memakan makanan itu. Ia pun mengangguk. “Mungkin.”


“Kalau tahu begitu, jangan makan rujak lagi ya.”


Laila mengagguk patuh.


“Sini, Mas periksa.” Darwis mengajak istrinya untuk memasuki kamar.


“Ayo buka bajunya,” kata Darwis setelah melihat sang istri duduk di atas ranjang.


“Memang kalau periksa harus buka baju?” tanya Laila.


Darwis tersenyum. “Khusus untuk kamu.”


“Mas, ih. Genit.”


“Biarin.” Darwis tertawa. “Ayo buka!”

__ADS_1


“Iya.” Laila yang polos itu pun menurut dan membuka bajunya.


“Cel*n* dan B* nya juga.”


“Ish.” Laila memukul lengan suaminya. “Itu sih mau kamu.”


“Cepetan, mau diperiksa ga?” tanya Darwis dengan senyum menyeringai.


“Mas, jangan aneh – aneh ya!”


“Ngga,” jawab Darwis bohong.


Laila tidak menurut untuk permintaan Darwis yang terakhir. Kain segitiga pengaman dan penyangga dadanya itu masih melekat di tubuhnya. Kemudian, Darwis pun mulai mengecek kesehatan Laila menggunakan stetoskop.


“Sudah dua bulan kamu tidak datang bulan. iya kan?”


Laila berpikir dan belum menjawab pertanyaan suaminya.


“Aku hanya satu kali mendapat jatah libur, setelahnya tidak lagi. kamu tidak merasa?” tanya Darwis lagi.


Laila mengangguk. “Tapi aku sudah …”


“Tua?” tanya Darwis.


“Kamu itu masih muda. Masih subur karena periodemu juga masih lancar.”


“Jadi aku …?” tanya Laila menggantung.


Darwis mengangguk. “Bisa jadi.”


Laila menutup mulutnya yang menganga. Darwis menarik laci dan mengambil benda kecil yang sejak dua hari kemarin ia beli karena mengetahui firasat ini.


“Ayo gunakan ini!”


“Tapi mas, perasaan ngga deh. Ngga mungkin, Mas,” ucap Laila yang ragu jika ia tengah hamil.


“Jangan pake perasaan. Harus dengan analisa, Sayang. Ayo coba alat ini dulu.”


Darwis mengajak Laila ke kamar mandi dan menunggu wanita itu mencoba benda yang ia berikan.


“Mas, sana keluar dulu.”


Darwis menggeleng. “Ngga, aku mau lihat langsung.”


“Mas, ih. Malu.”


Darwis tertawa. “Aku sudah sering melihat semuanya. Kenapa harus malu?”


“Maaaas,” rengel Laila yang tak diacuhkan Darwis. Pria itu tetap berdiri di dekat Laila dan menunggu wanita itu menggunakan alat tes yang ia berikan.


“Tuh kan, merahnya Cuma satu. Ngeyel sih,” kata Laila meledek suaminya.


“Belum, alat ini belum bekerja sempurna. Tunggu sebentar lagi.”


Benar yang diucapkan Darwis, tak menunggu lima detik, garis merah kedua pun muncul dan semakin berwaran terang.


“Lailakuuuu … Kamu hamil,” ucap Darwis dengan penuh semangat.


Darwis langsung mengangkat tubuh Laila ke atas. “Aku akan punya keturunan, Laila. Aku akan jadi ayah. Aku akan punya anak.”


Tampak raut yang sangat bahagia dari wajah pria yang Laila cintai itu. bahkan mungkin lebih ia cintai dari pria yang pernah hinggap dihatinya dulu.


Darwis menurunkan tubuh Laila dan mengecup seluruh wajahnya.


Laila yang sebenarnya tidak siap mengandung di usianya seperti ini, ikut bahagia melihat raut wajah bahagia itu. Ia pun senang melihat Darwis yang tampak sangat senang.


“Kamu senang, Mas?” tanya Laila.


“Sangat, Sayang. Aku sangat senang.” Darwis kembali memeluk erat Laila dan sejenak melepasnya, kemudian menatap wajah itu. “Kamu juga senang kan?”


Laila mengangguk. “Ya, aku juga senang.”


Laila mengesampingkan ketidak inginannya memiliki anak demi Darwis. Ia berjanji akan menjaga kandungannya ini dengan baik.


T A M A T

__ADS_1


__ADS_2