Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Ciuman keempat


__ADS_3

Bilqis meletakkan kopi di depan Alex. Sebisa mungkin wanita itu bersikap seperti hari-hari biasa, walau sebenarnya terasa amat canggung berdua bersama Alex terlebih semalam pria itu baru mengirim sebuah Video delapan belas tahun ke atas dengan aktor dan aktris yang diperankan oleh mereka sendiri.


Alex langsung mengambil cangkir kopi itu dan menyeruputnya. Arah mata Alex tertuju pada Bilqis yang hendak pergi dari ruangan ini. “Mau ke mana, Qis?”


Bilqis menoleh. “Balik ke ruangan saya, Pak.”


Alex ingin sekali membahas tentang video yang ia kirimkan semalam, tapi sepertinya sikal Bilqis biasa saja. sempat terbesit dalam benak Alex, apa video itu tidak terkirim? Tapi jelas-jelas terlihat dua centang biru di sana.


“Qis,” panggil Alex.


“Ya.” Bilqis kembali menoleh.


“Hmm … kau tidak menerima pesan chat ku?” tanya Alex membuat Bilqis mematung.


Bilqis lemas, sedari tadi ia berusaha agar Alex tidak membahas hal itu dan ternyata ditanyakan juga. “Hmm …”


Alex bangkit dari kursinya dan mendekati Bilqis. Sedangkan Bilqis hanya mematung di balik pintu itu, karena semula ia memang ingin membuka pintu dan keluar dari ruangan ini.


Tap … Tap … Tap …


Bunyi sepatu Alex seolah terdengar lambat, melangkah menghampiri Bilqis. Sedangkan Bilqis hanya diam membeku. Tangannya dingin, sedingin air cooller yang memang biasa dibuat dingin sesuai permintaan si bos.


Gerakan kaki Alex terus mendekat dan tanpa sadar kaki Bilqis pun mundur perlahan hingga tubuhnya membentur dinding di samping pintu. Ia melihat tatapan Alex yan tak memalingkan sedikit pun dari wajahnya.


Alex terus merekam wajah Bilqis seolah sebuah robot yang tengah membandingkan dengan wajah yang sebelumnya ada dalam membri kebahagiaan dalam hidupnya. Arah mata Alex memandang pada mata, hidung, dan bibir Bilqis. Semua hampir sama, tidak ada yang berbeda dengan mendiang sang istri. Hanya saja dahulu, Alex begitu menyukai kedua bola mata mendiang sang istri yang berwarna cokelat, tapi pada diri Bilqis justru Alex menyukai bibir ranumnya merah muda.


Jantung Bilqis berdegup kencang karena kini Alex sudah menghimpitnya.


“Sir,” panggil Bilqis lembut saat bingung dengan apa yang dilakukan Alex sekarang.

__ADS_1


Alex mengangka satu tangannya dan membelai lembut rambut itu. Bilqis sempat takut dengan perilaku bos killernya itu. Pria itu memang tidak bisa ditebak. Terkadang perhatian, lembut, dan terkadang galak. walau akhir-akhir ini Bilqis juga merasakan perbedaan sikap Alex dari yang sebelumnya. Beberapa minggu terakhir ini, Alex tidak lagi suka marah-marah, tapi tetap menyebalkan menurut Bilqis karena sikap galaknya berubah menjadi sebuah kemesuman seperti pagi ini.


Tanpa kata, Alex tersenyum sambil mengusap lembut pipi Bilqis. Sungguh, keinginan untuk mencicipi bibir itu lebih kuat dan menghilangkan logikanya.


“Sir.” Bilqis mencoba mengingatkan si bos untuk berhenti karena saat ini ibu jari Alex tengah mengusap bibirnya.


“Entah mengapa aku sangat menyukai bibirmu. Apa kau beri pemikat di sini?” tanya Alex dengan menatap lekat mata Bilqis.


Bibir Bilqis langsung mengerucut. Ia membalas tatapan Alex dengan kesal. “Enak saja.”


Bilqis berusaha menepis tangan Alex yang bertumpu pada dinding untuk mengungkung tubuhnya. “Lepas, saya masih banyak pekerjaan.”


Kungkungan itu terlepas, tapi dengan cepat Alex menarik pinggang Bilqis dan memutarnya sehingga mereka saling bertatapan tanpa jarak karena tubuh Bilqis berada dalam pelukan pria killer itu.


Cup


Tanpa permisi, Alex mencium bibir merah mudah Bilqis.


Walau Alex bukan seorang player apalagi playboy, tapi sebelum menikahi Tasya, ia juga memiliki beberapa kekasih dan dari beberapa kekasihnya itu mengakui bahwa Alex adalah good kisser sejati.


Alex mempergakan kelihaian berciumannya bersama Bilqis. Lima detik, belum berhasil. Namun dalam hitungan ke sepuluh, bibir Bilqis pun terbuka. Alex bersorak dalam hati dan ia kembali menikati ciumannya seperti dalam rekaman video yang semalam Alex kirim untuk Bilqis.


Alex cukup lama memgut bibir itu. Lidahnya menerobos area mulut Bilqis yang rasa cokelat. Bilqis memang pecinta cokelat, tapi herannya tubuh wanita itu tidak gemuk. Selain enak, Bilqis juga meyakini bahwa cokelat adalah penghilang stres.


“Eum …” Nafas Bilqis mulai habis. Ia kewalahan hingga tanpa sengaja menghirup oksigen dari pria itu.


Dulu, Bilqis bergidik ketika melihat orang yang berciuman hingga ke dalam rongga mulut dan saling menesap. Rasanya geli, karena membayangkan air liur dirinya yang menyatu dengan air liur orang lain. dan, Bilqis pun mual saat melihat adegan itu. isi perutnya serasa ingin keluar. Tapi kini, ia melakukannya dan tidak merasa mual. Justru ia heran dengan yang terjadi pada tubuhnya saat Alex melakukan ini.


“Mmmch …” suara kecapan terakhir, karena Alex akhirnya melepas pagutan itu.

__ADS_1


Nafas Bilqis memburu. Dadanya naik turun dan tersengal. Alex pun sama, tapi tidak separah Bilqis. Bibir Alec tersenyum saat melihat Bilqis kelelahan seperti usai lari maraton ratusan kilometer.


"Manis. Bibirmu manis, Qis."


Mata Bilqis hanya bisa membulat. Ia kesal tapi tidam bisa mengungkapkan karena tubuhnya pun menerima perlakuan itu.


“Ini ciuman keempatmu,” ucap Alex dengan menyelipkan anak rambut Bilqis ke belakang telinga.


“Keempat?” Biqis gagal fokus. Bukannya marah karena mendapat serangan mendadak. Ia malah menanggapi pria itu.


Alex tertawa. “Ya, keempat. Pertama, yang ada di video itu. Kedua, di gerbang rumahmu. Ketiga saat kamu dimobil semalam. Dan keempat, sekarang.”


“Jadi di mobil kemarin, Sir belum tidur?”


“Ubah panggilanmu saat kita sedang berdua, Qis. Atau aku akan menciummu lagi.”


Bilqis bergidik ngeri. Sepertinya bos killernya ini memang sudah benar-benar berubah menjadi duda mesum.


Alex menggeleng. “Aku hanya menunggu, apa yang ingin kamu lakukan.” Alex menjelaskan mengapa ia pura-pura tidur, malam itu.


“Jahat.” Tanpa sadar, Bilqis memukul dada Alex. “Mas, Jahat.”


Alex tertawa. “Perjanjian kita belum berlaku kan?” ucapnya dengan senyum jahil.


Kening Bilqis semakin berkerut dan kesal dengan pria mesum ini.


“Maaaas.”


Alex kembali tertawa. Teriakan Bilqis yang memanggil namanya dengan sebutan mas terdengar syahdu. Walau wajah wanita terlihat garang karena menahan kesal.

__ADS_1


Bibir Alex semakin menyungging lebar ketika mengingat perjanjian pra nikah itu, karena ia tahu bahwa setelah menikah pun perjanjian itu tidak akan berlaku.


__ADS_2