Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Apa kamu mencintaiku?


__ADS_3

Grep


Tina menarik lengan Bilqis dan membawa wanita itu ke dalam kamar mandi wanita, saat Bilqis baru saja keluar dari pantry. Sejak menjadi istri Alex, rasanya Bilqis menjadi sulit diajak berkumpul lagi. Saskia dan Mira sering mempertanyakan itu, tapi Bilqis berdalih bahwa dirinya sedang sibuk., sedangkan Tina memang sudah tahu tentang pernikahan CEO dan sekretarisnya itu dari kekasihnya. Jhon yang ikut menjadi saksi pernikahan itu pun tidak bisa menyembunyikan kabar itu dari Tina.


“Tin, apaan sih?” Bilqis terkejut karena tubuhnya langsung di dorong dan ditarik oleh Tina.


“Ck. Ketemu sama lu tuh susah banget sekarang. Mentang – mentang udah jadi nyonya Kenneth.”


Hap


Bilqis langsung menutup mulut Tina. “Ssst … jangan kenceng – kenceng ngomongnya. Kalau ada yang denger bisa repot.”


“Mmmpp …” Tina meronta agar Bilqis membuka bekapan itu dan Bilqis pun menarik tangannya.


“Bilqis, gue ga bisa nafas,” protes Tina bohong, padahal bekapan tangan Bilqis tidak lah kencang.


“Lagian ini suara udah kaya toa. Ga bisa gitu volumenya dikecilin dikit.”


Tina tertawa. “Lagian, kenapa juga mesti disembunyiin, sih? Ada juga lu bangga, Qis. Bisa dapetin bos killer itu. sir, Alex ganteng tau.”


“Ganteng kaya sekuteng. Males ah, ngomongin dia.” Bilqis sudah kembali mencoba menutup rapat hatinya kembali, walau pastinya sulit mengingat akhir – akhir ini Alex sudah berhasil mengisi hatinya hingga mulai masuk ke bagian terdalam.


Namun saat melihat kamar itu, rasanya ia harus menelan pil pahit, karena kasih sayang dan perhatian yang Alex berikan hanya sekedar pelampiasan dari wajah yang mirip dengan mendiang sang istri. Bilqis tidak yakin jika Alex benar – benar menyayanginya, apalagi mencintainya.


Bilqis kembali ingin pergi dari hadapan Tina. Namun, Tina kembali menarik tangan itu.


“Eh, mau kemana?”


“Balik ke meja ku, Tin Tin,” jawab Bilqis.


“Nanti dulu. Bentar napa. Kamu ga tanya, aku tahu pernikahanmu dan Sir Alex dari siapa?” tanya Tina.


“Ngapain tanya, pasti jawabannya Sir Jhon kan? Dia kan memang jadi saksi di pernikahanku.”


Tina tertawa. “Ah, ketauan. Ga asyik.”


“Ck, secara Sir Jhon udah bucin sama kamu. Jadi apa pun yang dia tahu, pasti kamu tahu.”


Tina tertawa lagi. “Ish tahu aja sih.” Tina menoel dagu Bilqis. “Ini karena geboy mujaer. Jadi si bule itu klepek klepek sama gue.”


“Ish, amit – amit.” Bilqis memalingkan wajahnya ke arah lain dengan eksresi sebal. Namun, hal itu membuat Tina semakin tertawa.


“Kamu harus banyak belajar dari aku supaya Sir Alex makin cinta.”

__ADS_1


“Ogah.” Bilqis semakn ingin pergi dari hadapan Tina.


“Qis, tunggu!”


“Bodo,” jawab Bilqis ketus.


“Ish, di bilangin sama yang tuaan juga, ngeyel banget,” kata Tina yang ikut kesal.


“Bodo.”


Tring


Tiba – tiba ponsel Bilqis berdering menampilkan sebuah notifikasi yang ternyata dari Tina. Tina mengirim foto Alex bersama Jhon dan ketiga temannya. Di sana juga ada beberapa wanita di samping pria – pria itu termasuk Alex. Jelas, foto wanita yang bersama Alex bukanlah Bilqis, tapi wajahnya mirip sekali dengan Bilqis.


Bilqis langsung menoleh ke arah Tina yang sedang melipat kedua tangannya di dada sembari mengangkat bahunya. Ia pun berbalik dan kembali menghampiri Tina.


“Pasti kamu dapat foto ini dari Jhon?” tanya Bilqis yang langsung diangguki Tina.


“Facebook dan IG Jhon baru aktif lagi setelah sebelumnya dia lupa password dan aku menemukan foto itu. jangan bilang dia menginginkanmu karena wajahmu yang mirip dengan mendiang istrinya?” tanya Tina membuat hati Bilqis mencelos. Ia telah salah menempatkan nama pria itu di hatinya. Sungguh, Bilqis takut sekarang.


Bilqis langsung membalikkan tubuhnya dan berlari pergi.


“Qis, tunggu!” Tina mengejar, tapi langkah Bilqis lebih cepat.


“Bilqis.” Tina terus memanggil nama sahabatnya yang tidak bisa ia kejar.


Bilqis langsungh menaiki taksi dan pulang ke rumah. Ia masih penasaran dengan kamar rahasia itu. Bilqis tahu di mana ia bisa menemukan kunci itu. Diam – Diam ia membuntuti Alex dan melihat yang dikerjakan suaminya. Ia juga penasaran dengan dokumen yang Alex simpan di brangkas yang belum ia tahu passcode-nya.


Sesampainya di rumah Alex, Bilqis langsung ke meja kerja yang berada di ruang kerja Alex. Ia menarik laci dan mengambil sebuah kotak, lalu pergi lagi. Tak lama kemudian, Bilqis kembali ke rumh dengan meletakkan lagi kunci itu pada tempatnya. Ia juga mencoba menata kotak itu persis pada semula, karena Alex termasuk orang yang detail. Jika ada tata letak yang berubah, pasti dia akan curiga.


Bilqis sengaja menduplikat kunci itu agar leluasa memasuki kamar yang hanya baru sebentar ia datangi. Kemarin ia tidak sempat melihat – lihat benda yang ada di sana. Bilqis hanya sempat melihat foto yang terpajang saja karena takut Alex akan memergokinya berada di kamar itu.


Dret … Dret … Dret …


Ponsel Bilqis berdering. Ia langsung melihat ponselnya yang tertulis nama Suami Killer di layar itu.


“Halo.”


“Sayang, kamu di mana? Kok ga ada di kantor?” tanya Alex yang terdengar panik.


Saat tiba di kantor, ia tidak mendapati Bilqis di sana dan langsung menelepon wanita itu.


“Maaf, Mas. Aku pulang,” jawab Bilqis.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Alex yang semakin terdengar panik. “Kamu sakit?”


“Ya, kepalaku agak sedikit pusing.” Bilqis memang tidak berbohong. Kepalanya memang agak sedikit pusing.


Pusing karena memikirkan ketidakjelasan cintanya. Apa yang ia lihat di kamar rahasia itu dan diperjelas dengan perkataan Tina. Ditambah, masa periodenya yang juga tidak jelas. Kemarin ia sempat mengalami tanda – tanda datang bulan, tapi keesokan harinya justru sudah tidak ada lagi tanda – tanda itu.


“Kalau begitu, aku akan pulang,” ucap Alex yang benar – benar khawatir pada sang istri.


“Jangan! Tidak perlu. Aku hanya butuh istirahat saja. lagi pula, sebentar lagi aku ingin menjemput Aurel.”


“Tidak. Tidak usah menjemput Aurel. Biar Maya saja yang menjemputnya. Kamu jangan ke mana – mana. Istirahat saja. aku akan pulang menemanimu.”


Alex phobia mendengar kata sakit pada orang yang ia sayangi, mengingat apa yang pernah terjadi pada mendiang istrinya dulu, membuat Alex begitu protek jika Aurel sakit, begitu juga dengan Bilqis sekarang.


Mendengar Bilqis sakit, Alex langsung meninggalkan pekerjaannya, padahal masih banyak rencana yang ingin ia kerjakan hari ini. Namun demi Bilqis, ia meninggalkan itu semua.


Kaki Alex yang panjang, melangkah cepat menuju lobby. Ia meminta sopir untuk mengantarnya pulang dan segera berlari ke dalam rumah saat mobil itu tiba di depan rumahnya.


“Sayang,” panggil Alex yang langsung membuka pintu kamar dan melihat Bilqis tengah meringkuk di sofa dengan selimut yang membungkus tubuhnya.


Pipi Bilqis basah. Ia segera menghapus pipi yang basah itu setelah membaca buku tebal kecil yang ada di kamar rahasia itu. Buku tebal kecil yang Bilqis kira itu adalah sebuah buku harian mendiang istri Alex yang bernama Anastasya. Bahkan Bilqis baru mengetahui nama itu. Tiba – tiba ari matanya meleleh saat membaca tulisan tangan yang menceritakan tentang segala cinta yang Alex curahkan pada wanita itu. Di dalam buku iu juga terselip beberapa lembar surat cinta dari Alex. Cemburu? Ya, Bilqsi cemburu karena hingga saat ini ia belum pernah mendapat surat cinta itu. jangan kan surat cinta, pernyataan pun belum pernah ia dengar dari mulut pria itu.


“Sayang, kamu kenapa di sini?” Alex berjongkok di depan kepala Bilqis dan mendekatkan wajahnya.


“Hm.” Dengan cepat Bilqis menyelipkan buku itu di belakang bantal besar yang ia gunakan.


“Kenapa tidur di sini?” tanya Alex lagi dengan langsung mengangkat tubuh itu dan hendak membawanya ke atas tempat tidur.


“Kamu tahu, di sofa itu dingin, karena AC-nya lebih dekat ke sana.” Alex menunjuk pada benda yang ditempel persisi di atas tempat tidurnya dan memantul ke arah sofa.


Bilqis diam. Tidak ada wanita yang tidak terbawa perasaan jika diperlakukan seperti ini pada laki – laki, terlebih laki – laki ini adalah suaminya.


“Bagian mana yang sakit?” tanya Alex dengan menyentuh kepala Bilqis. “Di sini?”


Bilqis belum menjawab. Matanya hanya mampu menatap wajah tampan itu.


“Atau di sini?” tanya Alex lagi dengan memegang perut Bilqis, karena menurut cerita Bilqis sendiri, ia sering mengalami sakit perut hebat jika masa periodenya baru tiba.


“Mau aku buatkan sup?” Alex bertanya terus menerus hingga akhirnya Bilqis mengangguk.


Alex pun tersenyum dan hendak pergi ke dapur untuk membuatkan makanan yang ditawarkannya tadi. Namun, ssebelum Alex pergi, Bilqis menahan lengan itu.


“Apa kamu mencintaiku?”

__ADS_1



__ADS_2