Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Bersyukur


__ADS_3

Sebelumnya ...


Sebelum Bilqis sampai di rumah dan mengenakan alat tes kehamilan hingga menghebohkan seisi rumah termasuk Alex yang hendak dalam perjalanan menuju pertemuan dengan klien penting.


Tepat, setelah menjemput Aurel dan mengajaknya makan di restoran serta jalan - jalan sebentar. Bilqis di telepon oleh Laila untuk sama - sama datang ke penjara dan menjemput Ridho. Laila juga sudah menghubungi Radit untuk pulang cepat dan bertemu di sana.


Darwis yang sudah berada di rumah Laila.saat Bilqis akan berangkat menjemput Aurel pun sudah siap mengantar istrinya bertemu mantan. Namun, bukan mantan terindah bagi Laila.


"To, antakan saya ke rutan xxx dulu ya," kata Bilqis pada sopirnya


"Iya, bu." Anto mengangguk patuh.


Mobil mewah itu pun bergerak ke rumah tahanan tempat Ridho mempertanggungjawabkan apa yang ia perbuat hanya selama dua bulan. Sebelum lanjut ke persidangan sebenarnhya, Laila sudah lebih dulu mencabut tuntutan itu.


Sebenarnya sudah lama, Laila ingin mencabut tuntutan itu, tapi Ridho sendiri yang ingin lama di tempat ini. Pria paruh baya itu ingin menebus kesalahannya di sana. Rasanya jika langsung menerima kebaikan Laila, ia merasa malu, sangat malu.


Darwis sampai lebih dulu di rumah tahanan itu dibanding Bilqis dan Radit. Darwis memang sengaja datang lebih dulu bersama pengacara Alex. Mereka menyelesaikan beberapa berkas hingga Ridho pun keluar dari tempat itu.


"Ridho."


Untuk pertama kali, Darwis memanggil Ridho dengan nama aslinya.


Ridho tersenyum getir. Di sana ia melihat Laila yang semakin cantik dengan tangan yang tengah terselip di dalam lengan Darwis. Tampak aura yang berbeda dari wajah itu.


Ayah."


Bilqis berjalan mendekati sang ayah dan memeluknya. Pelukan kedua dari anak perempuan yang telah Ridho tinggalkan.


"Bilqis, terima kasih telah memaafkan ayah," ucap Ridho.


Bilqis mengangguk. "Kalau ibu saja bisa memaafkan ayah. Kenapa Bilqis tidak."


Ridho melirik ke arah Laila yang sedang di rangkul oleh Darwis. Pria itu terlihat posesif dengan terus merangkul bahu Laila dan memberi jarak pada Ridho.


Darwis tidak ingin kecolongan seperti waktu itu. Walau hanya berupa pelukan, tapi tetap membuatnya cemburu. Walau Laila mengatakan rasa itu hanya masa lalu. Tapi, Darwis tetap menjaga yang kini menjadi miliknya. Apalagi tatapan Ridho saat itu sudah beralih pada Laila, seperti yang ingin dihampiri.


Darwis memajukan kakinya untuk mendekati Ridho dan memegang bahunya. "Lenka sudah menunggumu di rumah sakit. Aku harap denga ada kamu disisinya, perlahan dia akan sembuh."


Laila mengangguk. Ia menyetujui pernyataan itu, karena Laila pun berharap Lenka akan sembuh.


Ridho tersenyum ke arah Laila, walau di depannya ada Darwis.


"Terima kasih, Laila. Terima kasih karena kamu telah mencabut tuntutan itu. Sungguh aku tidak meminta ini," kata Ridho.


"Tapi Lenka membutuhkanmu, Mas," jawab Laila.


Ridho tersenyum. "Bahkan kau memperdulikan orang yang telah membuatmu menderita. Yang kau lakukan membuatku menjadi kerdil, Laila."


Laila menunduk. Darwis pun mengambil alih. "Dendam tidak akan membuat kita tenang. Kalian sudah saling memaafkan. Mari kita membuka lembaran baru. Hidup baru."


Laila setuju. Bilqis pun mengangguk.

__ADS_1


Kemudian, Ridho menurunkan pandangan dan melihat ke arah Aurel yang berada dalam pegangan tangan Laila.


"Cucu Opa." Ridho membentangkan kedua tangannya untuk Aurel.


Sudah cukup lama Aurel tidak bertemu kakeknya. Selama ia bersama sang ayah di sini, sudah lebih dari satu tahun, Aurel tidak Ridho di Singapura.


"Opa." Aurel berlari mendekati Ridho dan memeluknya.


Tidak ada beban lagi dihati Ridho. Rasanya semua sudah terungkap. Tidak ada lagi rahasia besar yang ditutuli setelah puluhan tahun.


"Ayah." Radit berdiri di depan Ridho.


"Oh, putra ayah." pelukan Ridho beralih pada Radit.


"Radit putraku."


Seketika Ridho menangis lagi. Ia tak kuasa melihat Radit, anak yang tidak sama sekali mendapatkan kasih sayangnya, karena saat ia pergi, Radit masih sangat terlalu kecil.


"Ayah."


Radit membalas pelukan itu. Ia tahu bahwa saat ini sang ayah sudah memberikan kepemilikan saham rumah sakit itu padanya. Namun Radit tetap ingin di sini dan menerima perusahaan lain untuk bekerja.


"Kata Darwis, kau tidak ingin memegang rumah sakit? Rumah sakit itu milikmu, Dit." setelah melonggarkan pelukan dengan sang putra, Rdho bicara.


Radit memggeleng. "Tidak bisa, Yah. Radit tidak bisa ke Singapir."


Radit memang tidak bisa jauh dari kota ini, karena sepertinya ia tidak mau lagi meninggalkan hatinya, seperti yang ia lakikan dulu pada mantan kekasihnya yang menikah duluan. Sekali lagi, ia ingin memperjuangkan cintanya.


"Kenap?" tanya Ridho.


Usai keluar dari rumah tahanan, Ridho segera ke rumah sakit tempat istrinya dirawat. Jika memungkinkan, Ridho akan membawa Lenka pulang dan mengurusnya di rumah. Melihat Laila sudah bahagia dengan Darwis, Ridho pun memilih kembali pada Lenka.


****


"Sayang," teriak Alex setelah taksi yang ia gunakan berhenti di depan taman.


Alex berlari memasuki rumah dan langsung menuju kamar.


"Daddy." Aurel menyapa sang ayah.


Alex menghampiri putrinya dan bertanya, "mana Mommy?"


"Masih di dalam. Mommy masih terlihat sedih," jawab Aurel yang ikut menangis.


Alex yang panik pun langsung menghampiri istrinya di dalam kamar mandi. Melihat Bolqis terduduk di tepi bath up membuat Alex berjongkok.


"Sayang kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Alex lembut.


Bilqis menggeleng.


"Aurel menangis melihatmu seperti ini."

__ADS_1


Seketika, Bilqis menolej ke arah Aurel. Ia membentangkan tangan dan mengajak Aurel untuk mendekat.


Aurel pun mendekat dan memeluk Bilqis. Di sana, Maya dan Nia keluar. Mereka membiarkan keluarga itu bersama.


"Apa Aurel nakal? " tanya anak kecil itu lucu.


Bilqis menggeleng. "Tidak. Aurel tidak pernah nakal. Aurel anak pintar dan menggemaskan."


"Terus, kenapa Mommy nangis?" tanya Aurel lagi.


Di samping Aurel, Alex masih berjongkok di depan Bilqis.


"Ini tangis bahagia, Sayang," jawab Bilqis, membuat Alex bingung dan memgernyitkan dahi.


"Setiap habis sholat, Aurel minta apa?" Bilqis bersuara lagi.


"Adik," jawab Aurel spontan.


"Kenapa?" tanya Bilqis dengan merapikan kunciran putrinya.


"Karena teman - teman Aurel, semua memiliki adik. Dan, Aurel juga mau itu."


"Dan sekarang, doa Aurel terkabul," ucap.Bilqis senang.


Alex terkejut. "Maksud kamu?"


Bilqis tersenyum pada Alex dan menyelipkan sebuah benda kecil ke tangan itu. Alex langsung melihat benda yang diselipkan itu.


Bibirnya merekah melihat benda yang cukup familiar karena dahulu, Tasya juga menggunakan itu saat Aurel masih berada dalam perutnya.


"Sayang, kamu?" tanya Alex yang masih tak percaya.


Bilqis mengangguk. "Firasatmu benar, Mas. Aku hamil."


"Ya ampun." Alex mengucap syukur dalam hati. Lalu menggangkat Bilqis ke atas.


"Aaa ... "


Bilqis tertawa.Alex mengajaknya untuk.berputar sebagai wujud rasa senang.


Aurel ikut senang dengan kebahagiaan yang terpancar dari senyum kedua orang tuanya.


"Daddy, aku juga ingin digendong." pinta Aurel.


Sontak, Alex dan Bilqis menoleh ke tubuh mungil dan kecil itu. Mereka menepuk keningnya karena lupa telah mengabaikan Aurel seorang diri.


Alex menurunkan Bilqis dan berganti dengan memgangkat tubuh Aurel.


Akan adanya adik untuk Aurel, tidak akan membuat mereka mengabaikan putri pertamanya itu. Baginya, keluarga itu penting. Apalahi Alex adalah tipe penyayang keluarga dan akan mementingkan mereka di atas segalanya.


"Terima kasih, Sayang," ucap Alex pada Bilqis saat wanita itu di tuntun untuk keluar dari ruangan kecil itu.

__ADS_1


Ia keluar dengan tetap membawa Aurel dalam gendongannya.


"Terima kasih, ya Allah." Ia pun tak henti mengucapkan syukur pada sang maha pencipta atas kebahagiaan ini.


__ADS_2