Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Wanita bar-bar yang pemalu


__ADS_3

“Daddy …” teriak Aurel saat melihat ayahnya membuka pintu utama.


“Hai, princes.” Bibir Alex langsung mengembang diiringi tangannya yang membentang.


Aurel berlari menghampiri sang ayah dan Alex pun menangkap tubuh mungil itu.


“I miss you, Dad,” seru Aurel yang langsung dibalas dengan ciuman sang ayah di pipi chubby-nya. “I miss you too, my princes.”


“Dddy belum membawa Mommy?” tanya Aurel sembari melongok ke belakang tubuh ayahnya.


Alex menggeleng. “Belum. Belum sekarang. Sabar ya.”


“Kapan, Dad?”


“Sebentar lagi, Daddy janji akan membawa Mommy. Bantu Daddy dengan doa, oke!”


Aurel mengangguk. “Aku selalu berdoa agar Mommy kembali.”


Alex tersenyum dan mengusap rambut putrinya sembari berjalan menuju sofa.


Biasanya Alex langsung mengedarkan ke seluruh dinding rumah ini dan menemukan foto Tasya dalam segala pose bersama dirinya atau pun bersama Aurel yang kala itu baru berusia enma bulan, delapan bulan, satu tahun, dan satu tahun enam bulan. Tapi kini, semua foto Tasya sudah tidak ada yang tersisa di dinding. Alex sengaja mengumpulkan semua benda-benda almarhumah di sebuah ruangan yang di kunci dengan kunci yang ia pegang sendiri. Ruangan itu adalah ruangan rahasia Alex.


Alex mencoba untuk menyimpan kenangan itu di sebuah tempat khusus. Seperti cintanya pada mendiang sang istri. Cinta itu akan tetap ada, tapi di tempatkan di tempat khusus. Dan bersama Bilqis, Alex akan memulai lagi petualangan cinta itu. Tentang Tasya, biar hanya dia yang tahu.


Walau semula, Alex mendekati Bilqis memang karena paras wanita itu yang menyerupai mendiang sang istri. Tapi kini, Alex benar-benar menyukai wanita itu. Wanita yang sering ia jumpai di kantor dan membantu menyiapkan keperluan serta membuatkan kopi enak setiap hari di kantor itu telah membuat hari-harinya menjadi hidup.


“Kamu menyukai sekretaris Daddy?” tanya Alex dengan Aurel yang duduk di pangkuannya.


“Ya. Aku sangat menyukainya, Dad.”


“Kenapa? Apa karena sekretaris Daddy itu mirip Mommy?”


Aurel berpikir sejenak sembari mengetuk-ngetuk dagunya. “Hmm …”


Alex pun tertawa melihat ekspresi Aurel yang lucu.


Memang buah hatinya ini tidak begitu faham tentang ibu kandungnya. Mengingat, Tasya meninggal di saat usia Aurel yang masih sangat kecil dan tidak tahu apa-apa. Aurel hanya tahu wajah sang ibu kandung, hanya dari fotonya saja. itu pun Alex yang memperkenalkan lewat foto-foto yang dulu ia pajang di setiap dinding. Alex sengaja melakukan itu agar selalu ada mendiang sang istri di setiap aktifitasnya.

__ADS_1


“Mommy baik. Dia juga memiliki kesukaan yang sama sepertiku. Dan, Ibunya Mommy juga baik. Aku suka mereka, Dad.”


Mommy yang Aurel maksud pasti adalah Bilqis dan Laila. Karena dengan Tasya, Aurel belum bisa memberi pendapat tentang mendiang ibunya, mengingat usianya yang masih sangat kecil waktu sang ibu masih ada.


Alex kembali tersenyum dan mengusap lembut wambut putrinya. “Daddy juga suka Mommy.”


Kemudian, mereka pun tertawa. Aurel tertawa sambil menutup mulutnya disaat jejeran gigi susunya yang rapih itu tampak semua.


Setelah bercengkerama sebentar, Alex membawa putrinya ke kamar. “Ayo tidur! Sudah malam. Biasanya, kamu tidur saat Daddy pulang kerja.”


Aurel mengangguk. “Ya, biasanya mataku tak bisa melek.” Aurel sengaja membulatkan kedua matanya dengan kedua tangannya.


Alex tertawa. “Lalu, mengapa sekarang matamu bisa melek?”


“Karena aku rindu Daddy. Daddy selalu piulang malam.”


“Hmm …” Alex pun mengulum senyum. “Maafkan Daddy, Sayang.”


Aurel mengangguk. “Ya, aku maafkan. Seperti biasa. Karena aku putri yang baik hati.”


Alex kembali tersenyum dan menaruh putrinya di atas tempat tidur bernuansa sofia itu. bukan hanya tempat tidur itu yang bergambar sofia, tapi seluruh baranga yang ada di kamar ini, hingga cat dindingnya pun diberi gambar kartun princes berwarwa ungu itu.


“Benarkah?” mata Aurel berbinar. “Tentu aku mau.”


“Baiklah. Kalau begitu, Sekarang kamu harus tidur. Dan besok, tidak boleh susah dibangunkan. Oke!” Alex mengangkat jari kelingkingnya.


“Oke!” Aurel langsung menautkan jari kelingking iu dengan jari kelingkingnya.


Alex tersenyum lebar dan mengecup kening sang putri. Setelah itu, Alex bangkit dari tepi ranjang dan mematikan lampu kamar.


“I love you, Daddy,” bisik Aurel sesaat sebelum sang ayah menutup pintu kamar itu.


“I love you too, Sayang.” Alex menjawab pernyataan cinta sang putri dan menutup kembali kamar itu dengan sempurna.


Lalu, Alex berjalan menuju kamarnya sendiri, kamar yang berada di lantai dua dan tidak jauh dari kamar putrinya. Sepulang sekolah putrinya nanti, ia berencana untuk menjemput Aurel dengan Bilqis dan mereka akan makan siang bersama atau mungkin berjalan-jalan sebentar untuk memenuhi janjinya pada sang putri.


Sesampainya di kamar, Alex tidak langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia justru berdiri di balkon dan sembari menatap bintang. Bibirnya kembali tersenyum saat mengingat tingkah laku Bilqis di dalam mobil tepat di depan gerbang rumah sekretarisnya itu. Alex menyentuh bibirnya dan kembali tertawa. Memang sangat lucu tingkah sekretarisnya itu.

__ADS_1


“Wanita bar-bar yang pemalu,” ujarnya.


Lalu, Alex merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel. Ia membuka galeri dan melihat kembali sebuah video. Seharusnya itu adalah sebuah foto, tapi Alex salah menekan tombol karena saat itu memang ia hanya ingin mengabadikan momen mesumnya dengan sekretarisnya itu. Entah untuk apa? Yang pasti saat Bilqis mengatakan bahwa ia adalah orang pertama yang mencium bibir itu, Alex pun merasa bangga dan ingin mengabadikan.


Alex tertawa dan sengaja hendak mengirimkan foto itu ke seseorang.


Di tempat yang berbeda, Bilqis baru saja mengurumkan dua foto pada ketiga temannya di grup. Kebetulan grup itu hanya berisi mereka berempat, yaitu Tina, Mira, Saskia, dan Bilqis. Grup yang isinya keempat wanita itu memang grup chat yang sengaja dibuat Tina, diluar dari grup kantor. Grup yang isinya tentang ghibah, berkeluh kesah jika kesal dengan seseorang disaat kerja, dan bergurau. Grup itu lebih banyak digunakan untuk bergurau, berbagi tentang sesuatu yang lucu, merehatkan pikiran setelah penat dengan aktifitas kerja.


“Qis, ini namanya bukan ciuman. Tapi nempel doang,” respon Saskia di grup.


“Yah, ini sih bukan bukti konkrit, Jeng Bilqis.” Tina pun menyahut.


“Ya ampun, kurang konkrit apa lagi sih? Ini udah bukti kalau aku udah naklukin dia. Ada foto aku berdua lagi di restoran, itu susah banget loh ngambilnya. Ga semua orang bisa foto mesra gitu sama dia.”


Bilqis menunjukkan fotonya bersama Alex dengan Alex yang sedang merangkul Bilqis.


Foto itu diambil saat Pak Ammar mengantar istrinya ke toilet. Saat makan malam itu, ia hanya berdua dengan Alex dan dengan menghilangkan rasa malu, Bilqis memberanikan diri untuk meminta foto bersama Alex. Tanpa diminta, pria killer itu malah merangkul bahu Bilqis. Sesuatu yang tidak direncanakan oleh Bilqis, tapi menguntungkan untuknya.


“Iya sih. Jarang-jarang loh ada orang yang bisa foto sedekat itu sama CEO.” Kali ini, Mira berkata dan membela Bilqis.


Bilqis pun menjawab dengan emot love untuk Mira. Mereka berkomunikasi melalui chat grup. Namun, Mira kembali menulis.


“Foto pertama udah konkrit lah, tapi foto kedua belum. Seolah rekayasa," lanjut Mira yang kini menghempaskan Bilqis.


“Setuju,” sahut Saskia.


“Oke, gue juga setuju. Foto pertama diterima. Tapi, foto kedua, ulang.” Tina menegaskan.


“Ah, Mbak Mira. Kompor banget sih,” jawab Bilqis, setelah chat mereka dibaca oleh keempat anggota grup itu.


Tring


Alex mengirim video dengan caption “tidak perlu mencuri ciuman seperti tadi, karena kita pernah berciuman lebih dari itu.”


“Eh, bentar. Ada notif masuk dari CEO nih. Aku lihat dulu ya.” Bilqis menginterupsi untuk memutus komunikasi itu sejenak.


Lalu, Bilqis membuka pesan dari si boss.

__ADS_1


“What?” Mata Bilqis membulat saat membuka video yang dikirim itu.


__ADS_2