Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Darwis Satria


__ADS_3

“Om Darwis,” panggil Alex melihat pria paruh baya yang masih bertubuh tegap, hanya saja janggut dan sebagian rambutnya sudah mulai memutih.


“Alex.” Darwis yang tadinya mengedarkan pandangan, kini tertuju pada seseorang yang memanggilnya. Senyumnya mengembang seiring langkah kaki menuju pelaminan. “Alexander Kenneth.”


Pria itu memanggil nama lengkap Alex saat langkahnya mendekat. Darwis adalah pria yang pernah dijumpai Bilqis saat menjadi pacar semalam ketika Alxe membawa sekretaris yang baru beberapa jam tadi sudah menjadi istrinya dengan ikrar yang diucapkan tidak sampai lima menit. Darwis adalah teman ayah mertuanya alias teman dari Ronal sebagai sesama dokter bedah di Singapura. Darwis juga berdarah Indonesia yang lama tinggal di sana dan juga menetap di negara itu. Hanya saja saat ini ia masih berada di Jakarta dan karena itu Alex mengundangnya.


“Om Darwis.” Alex memeluk pria yang cukup dekat dengannya sejak dulu, apalagi saat ayah Alex sempat selamat dari kecelakaan tunggal yang membuat ibunya meninggal di tempat. Kala itu, Darwis dan Ronal yang direpotkan Alex untuk kesembuhan ayahnya yang akhirnya ikut menyusul sang ibu setelah satu tahun kemudian.


“Sudah Om duga, kalian akan menikah,” ucap Darwis setelah pelukan itu melonggar.


Alex tertawa dan mengangguk. “Om Darwis memang tidak pernah salah menilaiku.”


“Karena aku tahu seleramu, Son.”


Alex tertawa lagi, mengingat Darwis memang tidak memiliki anak hingga seusia ini. Sepeninggal istrinya yang juga di derita penyakit yang sama dengan Tasya, Darwis tidak menikah lagi hingga saat ini. Ia pun belum dikaruniai anak dari mendiang istrinya. Alex kerap berkaca pada Darwis, mengingat kondisi cintanya yang sama, sama – sama ditinggal meninggal sang istri, tapi Alex masih beruntung karena masih memiliki kenangan cintanya bersama Tasya dalam bentuk Aurel. Sedangkan Darwis, tidak.


“Bukankah kita memiliki selera wanita yang sama,” ujar Alex meledek Darwis.


Darwis mengangguk. “Ya … Ya … Ya …”


Alex mengikuti arah mata Darwis yang tertuju pada Laila. “Ah, itu ibu mertuaku, Om. Jangan bilang Om mengincarnya,” bisik Alex membuat Darwis tertawa.


Bilqis mengernyitkan dahi saat suaminya berbisik. “Ngomong apa sih?”


“Ah, tidak. ini tentang pria,” jawab Alex tersenyum dengan melirik ke arah Darwis.


Darwis ikut tersenyum, sementara Bilqis cemberut. Alex sengaja tidak membiarkan istrinya berlarian ke sana kemari dengan mengapitkan lengan Bilqis pada lengannya.


Tidak banyak lagi terlihat tamu yang datang, sehingga kedua mempelai ini juga bisa leluasa menemani para tamunya. Sebelumnya, Alexdan Bilqis menghampiri Mister Ammar dan Salman, lalu berbincang sebentar dengan mereka. Bilqis pun berusaha untuk bisa masuk dalam pembicaraan para pebisnis itu. Untung saja ia sekretaris Alex, sehingga ia cukup tahu arah pembicaraan para pebisnis itu.


Tak ada sahabat Bilqis yang datang kecuali Alana. Tina tidak hadir karena yang tahu acara ini hanya bos sekaligus keksaihnya yaitu Jhon. Saskia dan Mira pun tidak tahu bahwa Bilqis melaksanakan pernikahan hari ini.


Untuk rencana kepergiannya ke Labuan Bajo, sepertinya Bilqis tidak akan mengambil hadiah itu dari Tina. Ia tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan Aurel dan Alex karena status dirinya yang sudah menjadi istri. Walau pernikahan mereka di atas perjanjian menurut Bilqis, tapi ia tetap akan menjalani perannya sebagai istri dengan benar.


“Ibu,” panggil Alex kepada Laila yang sedang menemani para tetangga dan kerabat dekatnya.


Alex yang ditemani istrinya membawa Darwis untuk berkenalan dengan Laila.

__ADS_1


“Ya.” Laila menoleh.


Laila terlihat cantik dengan riasan lembut di wajahnya. Gayanya pun terlihat anggun saat mengenakan kebaya berwarna peach.


“Ini kerabat Alex di Singapura, Bu. Perkenalkan namanya Darwis Satria.” Alex mengenalkan Darwis pada Laila.


Laila tersenyum sembari menerima uluran tangan Darwis. “Laila. Saya Ibunya Bilqis.”


“Pantas cantik, sama seperti putrinya.” Darwis melirik ke arah Bilqis yang memang terlihat sangat cantik.


Bilqis tersenyum. “Ah, Om bisa saja.”


“Sungguh. Ternyata, kecantikanmu berasal dari ibumu.”


Kini, Laila yang tersipu malu mendengar pernyataan dari pria yang cukup terbilang tampan di usianya yang tak lagi muda.


Bilqis tersenyum meledek ke arah sang Ibu.


“Apa yang cantik? orang udah tua begini,” jawab Laila yang tidak merasa bahwa dirinya cantik.


Darwis tertawa, begitu pun Alex yang sedang tersenyum.


“Ciye …” spontan, Bilqis menggoda Ibunya.


“Apa sih kamu?” Laila memukul pelan lengan sang putri dan kembali tersipu.


Untung saja, momen ini tidak disertai dengan kehadiran Radit. Entah apa yang dikatakan pria selengeyan itu jika Ibunya dipuji seorang pria. Radit yang sedari tadi memakan makanan yang tersedia pun tiba-tiba harus bolak balik kamar mandi karena kebanyakan makan.


Hari semakin sore, malah langit terlihat akan berganti gelap. Darwis masih setia berada di rumah ini. Entah apa yang membuat pria itu betah, padahal hampir semua tamu sudah berpamitan untuk pulang. Sebagai orang yang memiliki kepribadian baik pun, Laila menemani Darwis hingga saat ini. hal itu mungkin yang membuat Darwis menjadi betah dan tak kunjung pulang.


“Dia kerabatmu, Mas?” tanya Bilqis pada suaminya dengan melirik ke arah Darwis dan Laila.


Bilqis duduk bersama Aurel dan menemani anak sambungnya makan. Alex juga duduk bersama anak dan istrinya di meja yang sama. Sementara di teras, Radit menemani kedua temannya yang sengaja diminta datang untuk menghabiskan makanan yang tersedia.


“Dia sahabatnya Papa Ronal, yang telepon kamu tadi saat sedang dirias.”


Bilqis mengangguk. Ia ingat saat berbincang dengan seseorang di telepon, seseorang dengan suara yang mengingatkan Bilqis dengan seseorang.

__ADS_1


“Oh, aku kira Om Darwis itu memang Om kamu.”


Alex menggeleng. “Keluargaku habis, Sayang. Cuma ada adikku yang tinggal di Bali. Kebetulan dia tidak bisa hadir, karena kita terlalu mendadak.”


“Kita?” tanya Bilqis yang tidak merasa menyetujui keputusan Alex yang menikah dadakan seperti ini. “Kamu kali, bukan aku. Ini kan keputusanmu.”


Alex tersenyum dan melirik istrinya. “Ya … Ya … Ini kemauanku.” Alex mengakui jika memang ia yang sangat ingin segera bersama dalam satu atap dengan sekretarisnya itu.


“Ini juga kemauan Aurel, Mom.” Tiba-tiba anak kecil yang imut dan menggemaskan itu membela ayahnya.


Sontak Bilqis pun menelan ludahnya kasar. Ayah dan anak benar-benar sebelas dua belas.


Bilqis menyuapi Aurel dengan lembut. Terlihat Aurel pun memakan makanannya dengan lahap. Putri Alex itu tidak lagi terlihat lesu. Bahkan sakitnya sudah reda dan sembuh karena kebahagiaan hari ini.


“Mom, Daddy juga mau itu dong!” Alex menunjuk gubuk dimsam yang ada diluar rumah.


“Ambil aja sendiri sih,” jawab Bilqis yang sedang menyuapi Aurel.


“Ambilin dong, Mom. Kamu kan istriku. Istri itu harus melaya …”


Bilqis langsung berdiri. “Iya. Udah jangan dikasih tahu lagi. Udah tahu.”


Alex tersenyum. “Bagus.”


Bilqis meonyongkan bibirnya, menuju keluar dan bertemu temna-teman sang adik yang duduk di sana.


“Kakak lu cakep banget, Dit. Pantes dinikahin Bos nya.”


“Iya, dong. Kakak gue cantik berarti kan adiknya juga ganteng.”


“Hoek.”


Interaksi Radit bersama kedua temannya yang terdengar di telinga Bilqis saat melintas. Bilqis pun hanya tersenyum dan kembali melintas untuk masuk ke dalam rumah.


“Ini!” Bilqis meletakkan makanan itu di depan Alex.


“Suapin dong!” kata Alex lagi dengan nada manja.

__ADS_1


“Ya salam, Mas.” Bilqis menghela nafasnya kasar sembari menggerutu dalam hati. “Baru beberapa jam jadi suami udah ngerepotin banget. Welcome to the jungle Bilqis.”


Ia menyemangati dirinya sendiri untuk siap-siap bertahan hidup dihutan belantara.


__ADS_2