
“Nenek.”
Aurel berlari ke arah Laila yang juga langsung menyambutnya. Kedua tangan Laila terbentang lebar untuk menangkap tubuh mungil Aurel. Laila yang tidak biasa tidur lagi setelah subuh, ikut melihat rumahnya yang sedang di tata untuk pesta pernikahan sederhana.
“Aurel.”
Sejak suara deru mobil Alex berhenti tepat di depan gerbang rumahnya. Laila langsung menoleh dan benar saja, anak kecil yang ternyata cucu kandungnya itu pun keluar dari sana.
“Aku kangen nenek,” ucap Aurel di dalam pelukan itu.
“Sama, nenek juga kangen kamu.” Laila kembali memeluk Aurel. Kali ini pelukannya semakin erat. Laila juga mengecup seluruh wajah Aurel berkali – kali, membuat gadis kecil itu tertawa.
“Geli, Nek.” Aurel tertawa mendapatkan ciuman bertui – tubi dari sang nenek.
Di samping wanita beda generasi itu, Alex berdiri. Ia tesenyum melihat interaksi Laila dengan Aurel.
Laila ikut tertawa. “Habis nenek gemas. Nenek kangeeeen banget sama kamu.”
“Iya, Nek. aku juga.”
Lalu, Laila menoleh ke arah Alex usai puas memeluk dan menciumi cucunya. “Alex.”
Laila yang semula berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Aurel pun bangkit dan menghampiri menantunya. Kemudian, Laila memeluk Alex.
“Terima kasih, Nak. Jika Bilqis tidak bekerja di tempatmu, mungkin ibu tidak akan pernah tahu kalau ibu punya anak kembar.”
Alex tersenyum kecil dan mengangguk sembari menerima pelukan itu. “Alex juga tidak menyangka akan menikahi dua putri Ibu.”
Laila menatap Alex. “Apa pun alasanmu menikahi Bilqis, Ibu yakin kamu mencintainya.”
Alex mengangguk dan menggenggam tangan Laila. “Alex sang mencintai Bilqis, Bu. Walau awalnya memang Alex memaksa menikahinya karena dia mirip Tasya, tapi sekarang bukan karena itu.”
“Ibu tahu. Ibu bisa melihat dan merasakan itu. bahkn sejak pertama kali kamu datang ke sini. Ibu merasa kamu memang cocok untuk Bilqis.”
“Terima kasih, Bu,” ucap Alex pada Laila.
Laila tersenyum. “Bilqis ada di kamar Ibu. Tiba – tiba, dia ingin mandi di kamar Ibu.”
Alex langsung menyeringai.
“Temui lah!” pinta Laila pada menantunya tanpa menyadari apa yang akan sang menantu itu lakukan pada putrinya.
Bibir Alex langsung tersenyum lebar. Kobaran semangatnya menyala. “Baiklah, kalau begitu, Alex pinjam kamarnya ya, Bu.”
Laila mengangguk polos. “Ya, sana! Biar Aurel sama Ibu di sini.”
__ADS_1
“Oke!” Alex mengacungkan ibu jarinya ke atas dengan senyum sumringah.
Akhirnya, ia bisa bertemu sang istri lagi, pujaan hatinya, belahan jiwanya dan bidadari yang akan menemaninya di surga nanti bersama kembarannya. Alex memimpikan kelak, mereka bisa bersama bertiga di sana, dengan dua bidadari cantik yang pernah mengisi hari – harinya di dunia.
Alex langsung mendekati kamar Laila. Ia membuka kamar itu perlahan. Benar saja, Bilqis tidak terlihat di sana, hanya ada bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi. Alex melihat kamar Laila yang sudah disulap menjadi kamar pengantin.
Seketika bibir tersenyum, ingin rasanya ia mengulang malam pertamanya bersama Bilqis.
Klek
Bibir Alex kembali tersenyum saat mendapati pintu kamar mandi yang tak terkunci. “Ah, rezeki anak soleh,” gumamnya yang perlahan membuka sedikit demi sedikit pintu itu.
Waw, kedua mata Alex langsung keluar dari tempatnya ketika melihat Bilqis yang sedang berdiri do bawah shower dengan posisi membelakangi. Bagian belakang tubuh Bilqis yang bulat itu tercetak jelas. Sungguh, ia merindukan tubuh itu.
Sebelum menghampiri Bilqis di sana, Alex sudah memastikan kamar itu terkunci dan ia pun menanggalkan pakaiannya.
Mata bilqis yang sedang terpejam menikmati guyuran air shower itu pun tiba – tiba terbuka saat merasakan dua tangan melingkar dipinggangnya. Kepala Bilqis yang hendak menoleh pun tak bisa bergerak karena Alex mengunci leher Bilqis dengan kepalanya yang sudah berada di salah satu bagian tubuh yang disukainya itu.
"Mas.”
Tangan kanan Alex memutar kran dan mematikan air yang mengguyur mereka sebelumnya. Lalu, bibir Alex mulai menelusuri area leher, tengkuk serta bahu polos itu.
“Mas.”
Alex tampak sangat bergairah. Hasratnya kian memuncak, apalagi sudah beberapa malam ia tidak menyentuh tubuh itu. Rasanya seperti sedang sakau akibat pengaruh morfin tubuh Bilqis yang terasa begitu candu.
"Hei, wanita sombong. berhenti berteriak," ucap salah satu nara pidana yang lain.
Wajah wanita yang merupakan teman satu sel Lenka itu tampak menakutkan. Walau dia berjenis kelamin wanita tapi wajahnya tidak seperti seorang wanita. di pipinya pun terdapat banyak jahitan seperti bekas luka sayatan pisau. Belum lagi di pergelangan tangannya.
Wanita itu mendekati Lenka. Lenka pun kembali berteriak.
“Keluarkan saya! Saya akan bayar berapa pun, yang penting keluarkan saya!”
Tidak ada yang bisa menolong Lenka. Bahkan Ridho sekali pun. Padahal pria itu yang selalu diangungkannya dan selalu dipujanya, karena Ridho sendiri pun tidak sedang dalam keadaan baik. sel penjara juga menantinya hari ini.
“Mas Ridho, tolong aku! Keluarkan aku dari sini!” Lenka menendang – nendang jeruji besi itu.
“Percuma kau berteriak. Mereka tidak akan mengeluarkanmu kecuali satu,” ucap wanita yang lebih menyerupai pria itu.
Wajahnya mendekat tepat di depan wajah Lenka yang berusaha menghindar.
“Apa?” tanya Lenka.
“Layani semua pertugas – petugas itu, maka kau akan keluar. Itu pun untuk hari ini saja,” jawab wanita itu sembari tertawa.
__ADS_1
Tawanya diikuti oleh dua penghuni lain.
Wanita yang seusia dengan Lenka itu pun mengelus pipi Lenka. “Sangat halus.”
“Lepas!” Leka bergidik ngeri. Ia ingin menghindar wanita itu, tapi tidak bisa.
“Kau sangat cantik,” senyum wanita itu menyeringai.
“Apa dia penyukai sesama?” tanya Lenka dalam hati membuatnya semakin ketakutan.
“Ya. Aku menyukaimu,” jawab wanita itu seperti tahu sesuatu yang baru saja dikatakan dibenak Lenka.
Lenka langsung menggeleng. “Tidak. Aku akan menuntutmu jika kau melakukn sesuatu padaku.”
“Oh ya?” tanya wanita itu menantang.
“Baik lah, sejauh mana kau memiliki kekuasaan. Aku ingin melihatnya.”
“Ya, ayo bos bungkam bibir wanita itu agar tidak berteriak,” sahut salah satu penghuni yanglain.
“Ya, buat bibirnya merasakan dinginnya bibirmu,” sahut penghuni yang satunya.
Tubuh Lenka gemetar, ia tidak pernah membayangkan bahwa apa yang dilakukannya akan berakibat seperti ini. Ia pikir dengan uang semua akan mudah. Lenka pikir dengan kekayaan semua bisa ia beli. Padahal di atas langit ada langit. Ketika dia merasa kaya, ada orang yang lebih kaya lagi darinya.
“Tidak. jangan!” kini kesombongan itu pun runtuh. Lenka mencoba memilih memohon.
Sontak, ketiga wanita itu tertawa.
“Hei, mana kesombonganmu tadi?”
“Jangan!” Lenka menggeleng. “Aku akan berteriak dan akan mengadukan kelakuan kalian pada petugas.”
Ketiga wanita itu kembali tertawa. Wanita berwajah menakutkan yang dipanggil bos, tertawa lebih kencang.
“Sel kita, jauh dari petugas, Sayang,” ucapnya. Lalu, dia melirik ke kedua temannya. Seketika mulut Lenka dibungkam.
“Mmmpphh …. Mmmpphhh …” ternyata kedua wanita itu membungkan mulut Lenka dengan kain.
Lenka menggeleng. ia terus meronta saat ketiga wanita itu hendak menjamahi tubuhnya. Seumur hidupnya, Lenka baru merasakan tubuhnya digerayangi oleh wanita, tapi ketiga wanita ini memiliki tenaga layaknya seorang pria. bahkan keganasannya serta gairahnya pun sama.
“Tidaaaaaaak,” jerit Lenka dalam hati. Entah ia akan bertahan berapa lama hidup di dalam sana, mempertanggung jawabkan atas segala perbuatannya.
Laila tidak pernah berdoa buruk untuk Lenka. Dia hanya meminta balasan yang setimpal atas kedzoliman wanita itu.
Seketika pandangan mata Lenka kosong, usai dikerjai ketiga teman satu selnya itu. tubuhnya tampak rapuh dan banyak luka.
__ADS_1
“Hei, kalian apakan dia?” tanya petugas yang menghampiri sel tempat Lenka berada. Petugas itu pun langsung meminta bantuan temannya dan memasuki sel itu.
Kedua petugas itu melihat Lenka tergolek dalam keadaan mengenaskan dan langsung dibawa ke rumah sakit khusus tahanan.