Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Kebanyakan micin


__ADS_3

Dret … Dret … Dret …


Ponsel Alex berdering, di sana tertera nama Om Darwis. Alex pun langsung mengambil benda yang tergeletak persis di sampingnya dan mengangkat.


“Halo, Om.”


“Hai, Lex. Apa Om mengganggumu?”


“Tidak. Ada apa, Om?”


Darwis terdiam sejenak. Saat ini, ia masih berada di rumah Laila. Darwis mengerjakan pekerjaannya dari rumah. Baru saja ia selesai berkoordinasi dengan rekan – rekannya di Singapura melalui jaringan internet. Usai berkoordinasi dengan beberapa petinggi rumah sakit milik Ronal, Lenka, dan ia sendiri, Darwis langsung menelepon Alex. Di sana Darwis bukan hanya sekedar koordinasi mengenai pekerjaan tapi mengenai mandat yang Ridho berikan padanya.


“Laila ingin mencabut tuntutannya pada Ridho. Bisa kau urus itu?”


Darwis meminta bantuan pada Alex, karena memang Alex yang sebelumnya mengurus gugatan Laila pada mantan suaminya terkait penipuan berencana, karena Laila merasa ditipu mentah – mentah hingga tidak pernah tahu bahwa dirinya melahirkan anak kembar. Sebagai seorang ibu, Laila berhak menuntut itu.


“Jadi, Ibu ingin mencabut tuntannya?” tanya Alex menegaskan.


“Ya. Kemarin Laila meminta pendapatku. Dan, aku menyerahkan penuh keputusan ini padanya. Bagaimana menurutmu?” Darwis balik bertanya.


“Aku yakin ini akan terjadi, karena Bu Laila berhati lembut. Dia tidak akan tega melihat orang lain menderita, walau dirinya pernah menderita.”


“That’s right,” jawab Darwis. “Begitu juga Bilqis. Om dengar, foto Tasya masih ada di rumah mu dan Bilqis tidak marah?”


Alex tertawa. Walau awalnya foto itu menjadi prahara, tapi justru hal itu adalah bumbu yang membuat mereka yakin bahwa mereka saling mencintai.


“Oke. Kalau begitu, Aku akan segera membereskannya, Om. Dalam satu kali dua puuh empat jam, Papa akan bebas.”


Darwis mengangguk. “Terima kasih. Maaf merepotkanmu.”


“Tidak. Tidak sama sekali, Om. Lagi pula, sekarang Om ayah mertuaku.”


Darwis tertawa. “Hahaha … Ternyata impianku terkabul.”


“Maksudnya?” tanya Alex bingung.


“Dulu, sewaktu kau masih menjadi duda. Sempat terlintas dibenakku, jika aku memiliki anak perempuan, aku pasti akan menjodohkan anak perempuanku padamu. Dan sekaranga terealisasi. Walau dengan anak sambungku.”


Alex kembali tertawa. “Bisa saja, Om.”


Darwis pun ikut tertawa. “Rasanya senang melihatmu kembali seperti dulu. Kau pasti bahagia.”


“Tentu saja, Om. Malah lebih dari sebelumnya.”


Darwis ikut bahagia mendengar penuturan Alex. Usai berbincang lagi sebentar, sambungan telepon itu pun berakhir. Alex kembali meletakkan ponsel itu ke meja. Kemudian, ia melihat arlojinya. Waktu jam makan siang sudah tiba. Ia kembali meraih ponsel dan melihat titik keberadaan sang istri.


“Ternyata, kamu masih di sana,” gumam Alex yang melihat Bilqis masih berada di restoran.


Di rumah Laila, Laila masih berjibaku dengan peralatan dapur. kegiatan masak memasak yang ia lakukan hampir selesai. Beberapa masakan sudah matang, tinggal menyisakan tempe goreng tepung yang terakhir ia goreng.


Di dalam kamar, Darwis suda cukup lama berkutat dengan pekerjaannya. Ia hendak melihat apa yang istrinya lakukan diluar. Sedangkan Radit, juga berada di kamarnya. Pemuda itu masih melakukan interview secara online di perusahaan tempat temannya bekerja. Untungnya selama menjadi mahasiswa, Radit cukup aktif di badan eksekutif mahasiswa, sehingga ia tidak sulit mencari referensi dari beberapa kakak kelas yang lebih dulu sukses.


Darwis keluar dari kamar. Ia melangkah ke dapur dan melihat sang istri tengah berdiri di sana. Laila baru saja mematikan kompor. Ia hendak menata makanan yang matang itu ke piring. Namun, kegiatannya dikejutkan oleh tangan yang melingkar di pinggang.


“Masak apa?” tanya Darwis tepat di belakang telinga Laila.


“Mas.” Laila yang terkejut langsung menoleh dan tersenyum. “Kamu ngagetin aja.”

__ADS_1


“Kamu terlalu serius,” jawab Darwis.


“Pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Laila.


Darwis menggeleng. “Belum. Tapi aroma masakanmu membuatku harus berhenti bekerja.”


Laila tertawa. “Gombal.”


“Benar, Sayang. Aromanya enak. Kamu masak apa?” tanya Darwis lagi.


“Rendang. Katanya kamu mau rendang dan ini! tempe goreng.” Laila menunjuk pada tempe goreng yang ia masak dengan balutan tepung. “Katanya kamu juga ingin makan tempe.”


Darwis mengangguk. “Ya, pertama aku mencoba tempe tepung seperti ini di Bandung. Dimasak tidak terlalu matang dan rasanya enak.”


“Ya, sekarang aku masak itu untukmu.”


Bibir Darwis pun mengembang. “Terima kasih, Sayang.”


“Sama – sama, Sayang.”


Darwis mendekatkan wajahnya pada Laila. Ia ingin mencium bibir itu.


“Uhuk … Uhuk … uhuk …” tiba – tiba terdengar suara batuk.


Darwis yang semula memeluk istrinya dari belakang dan hendak memberi ciuman pada Laila, langsung terlepas mengingat di sana ternyata Ada Radit yang sedang berdiri.


“Kenapa kamu, Dit?” tanya Laila pura – pura tidak mengetahui penyebab Radit yang sedang berdiri di depan dispenser itu tersedak.


“Ngga apa – apa, Bu,” jawab Radit yang langsung melenggang pergi ke kamarnya lagi. Ia tidak ingin menganggu pengantin baru.


Laila menoleh ke arah Darwis dan mencubit pinggang itu. “Kamu sih, Mas. Malu ketahuan Radit.”


Laila ikut tersenyum. “Sayang, nanti malam pakai baju yang aku beliin ya!”


“Baju? Yang mana?” tanya Laila sembari membawa piring ke meja makan. Darwis pun membantu sang istri membawakan piring itu.


“Baju yang aku paketin, sehari sebelum kita menikah.”


Laila terdiam sejenak, setelah meletakkan piring ke meja. Ia mengingat apa yang suaminya ucapkan hingga akhirnya dia ingat.


“Ah, ya. Ya ampun.” Tiba – tiba raut wajah Laila berubah. Pipinya merah.


“Kenapa?” tanya Darwis gemas. Ia langsung mendekati Laila.


“Baju yang kurang bahan itu?” tanya Laila polos.


Darwis tersenyum gemas melihat ekspresi polos Laila. Ia mengangguk. “Iya, nanti sebelum tidur, kamu pakai baju itu. oke!”


Darwis mengedipkan satu matanya dan meninggalkan Laila. Ia hendak menghampiri Radit di kamarnya. Ada beberapa hal yang ingin ia sampaikan mengenai amanat dari Ridho. Terakhir bertemu, Ridho memberi pesan padanya untuk mengalihkan lima puluh persen saham rumah sakit yang ia kelola saat ini untuk sang putra. Sementara empat puluh persen saham milik Lenka akan dilelang untuk pengobatan Lenka saat ini. Dan, Alex bersedia membeli empat puluh persen saham mimlik Lenka itu untuk istrinya. walau hingga kini, Bilqis belum mengetahui hal itu.


Di kantor, Alex sudah meminta Bima untuk menyiapkan rapat koordinasi dadakan, usai jam makan siang. Namun sebelum itu, ia juga mendatangi restoran tempat Bilqis dan ketiga temannya bercerita dari A sampai Z. Alex dan asistennya bertemu di restoran itu.


Karena terlalu asyik menanggapi cerita Bilqis yang kini menjadi istri bos, keempat wanita yang cantik – cantik itu masih berada dalam restoran. Sudah hampir satu jam mereka di dalam sana. Bahkan hampir semua menu enak sudah dipesan Bilqis dan dinikmati oleh ketiga temannya.


“Eh iya, udah nyobain yang bergerigi belum?” tanya Tina pada ketiga temannya yang kini aktif bercinta.


Kini obrolan mengenaui dua puluh satu plus tidak lagi mereka redam, karena salah satu teman mereka yang polos sudah tak lagi polos dan mengerti akan pembicaraan itu.

__ADS_1


“Aku belom coba, tapi Mas Alex punya tiga bungkus.”


“Ciye … Mas Alex,” ledek Mira mendengar panggilan Bilqis pada bos yang dikenal killer itu.


Bilqis tersenyum. Wanita cantik dan masih terlihat imut itu tersenyum sembari menikmati es krim yang baru saja datang.


“Dia beli di minimarket waktu satu bulan sebelum kami nikah," kata Bilqis lagi.


“Tunggu! Jadi kalian udah nana ninu sebelum nikah?” tanya Saskia.


Plak


Bilqis memukul lengan Saskia. “Ngga lah. Kejadian beli benda itu ga sengaja.”


“Ooo …” Saskia membulatkan bibirnya, begitu pun dengan Mira dan Tina yang juga baru mendengar cerita ini.


Lalu, Bilqis pun menceritakan benda bergerigi yang ditawari kasir minimarket sebanyak dua kali dengan tempat berbeda dan merk minimarket yang sama.


Tina, Saskia, dan Mira tergelak saat mendengar cerita Bilqis.


“Terus sekarang masih utuh tuh benda?” tanya Tina.


“Masih. Kalau mau, nanti aku bawain. Ada tiga rasa.”


Saskia menggeleng. “Sekarang gue mah bablas, ngga perlu benda gituan lagi.”


Saskia sudah tidak memerlukan benda itu, mengingat saat ini ia memang sudah berbadan dua dan akan mengajukan surat pengunduran diri dalam waktu dekat. Rencananya, Ringgo pun akan meminta pensiun dini dan memulai usahanya sendiri. Pria yang usianya baru menginjak kepala empat itu, ingin membuka usaha bersama sang istri untuk menghindari kecemburuan Saskia jika Ringgo memiliki sekeretaris baru.


“Ya udah, Mira cobain tuh.”


Mira menggeleng, tapi ia pun penasaran. “Emang rasanya gimana?”


“Geli – geli gimana gitu,” ucap Tina nyengir.


“Emang masih ada?” tanya Mira malu yang sebenarnya mau, padahal sedari tadi Bilqis sudah mengatakan bahwa benda itu masih ada.


Tina dan Saskia tertawa. “Malu – malu kicung lo, Mir.”


Bilqis tergelak melihat ekspresi polos Mira. Bilqis dan ketiga temannya memang memilih kursi privasi. Kursi tamu satu dan lainnya memiliki pembatas dari rotan yang tingginya setinggi orang Indonesia. Namun walau dibatasi, suara kehebohan keempat wanita bar – bar itu cukup terdengar dari bilik kursi tamu sebelahnya.


Dan saat ini, di sini Alex duduk bersama Bima juga dua kliennya. Alex dapat mendengar suara kehebohan keempat wanita itu


“Gimana pisangnya si killer? sedep ga?” tanya Saskia.


“Sedep lah. Pokoknya micin mah kalah,” jawab Bilqis membuat Tina, Saskia, dan Mira tertawa.


Di balik bilik itu, sontak Alex pun tersedak.


“Sir, pelan – pelan,” ucap salah satu klien itu pada Alex.


“Ya. Terima kasih.”


Bima melirik sang Bos. Pria itu hanya tersenyum simpul. Ia juga menyadari pemilik keempat suara wanita dari bilik sebelah.


“Kebanyakan micin, jadi beg* dong lu, Qis?” tanya Saskia tertawa.


“Iya. Sampe diapain aja aku pasrah. Terserah dah.”

__ADS_1


Sontak, Ketiga wanita itu kembali tertawa.


__ADS_2