
“Apa maksudmu?” tanya Lenka dengan ekspresi biasa untuk menutupi debaran jantung yang sebenarnya tengah berdetak hebat.
“Zavier telah mengambil sebagian data – data penting yang Mama sembunyikan selama ini.”
“Apa?” Syok. Lenka sangat terkejut mendengar ucapan Alex. Ternyata akun yang membuat rusak bank data miliknya adalah Zavier. Kali ini, Lenka benar – benar kecolongan.
“Mama tidak bisa mengelak karena aku memiliki semua bukti itu,” ucap Alex lagi dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Darwis. “Aku juga sudah mengirimkan bukti itu ke Om Darwis.”
Darwis yang tengah berdiri tepat di pintu ruangan Ronal pun langsung menganggukkan kepalanya. “Ya. Dan aku sudah melihat email yang kau berikan, Lex.”
Lenka membeku. Ia sudah tidak bisa mengelak lagi. Masa waktu untuk membohongi Ridho pun akan berakhir. Cukup lama, ia bersenang – senang di atas penderitaan orang lain.
Bilqis yang tidak mengerti dengan pembicaraan Alex, Lenka, dan Darwis pun melangkahkan mendekati sang suami sembari menatapnya. “Apa maksudnya ini? Apa semua ini berhubungan dengan pria yang meninggalkan Ibu?”
Bilqis masih enggan menyebut Ridho dengan sebutan ayah. Lalu, arah mata Bilqis berpindah pada Radit.
“Apa yang ada di dalam itu pria yang meninggalkan kita saat masih kecil?” tanya Bilqis dengan mata yang mulai berkaca.
Radit menunduk. Ia pun tak mampu melihat kedua bola mata sang kakak, karena sudah pasti ia akan menangis. Walau Radit seorang laki – laki, tapi ketika menyangkut tentang kedua perempuan yang ia cintai itu, pasti Radit tidak akan bisa membendung airmatanya.
Langkah Bilqis beralih kepada Radit. Sedangkan Laila sudah menangis di sana. untung saja, Darwis langsung menghampiri wanita itu dan memeluk bahunya dari samping.
“Radit, jawab Mba Qis.” Bilqis menggoyangkan bahu sang adik. “Apa di dalam itu pria yang selama ini kita benci?”
Radit masih diam. “Apa kamu yang membuat dia seperti sekarang? Kamu memukulnya hingga sekarat?”
Radit tak bi membendung lagi airmatanya. Ia mengangkat kepala dengan derai air mata. “Ya. Dia Tuan Ridho yang terhormat. Radit memukulinya semalam hingga tak sadarkan diri.”
Sontak, tangis Bilqis pecah. Wanita itu memeluk sang adik yang juga menangis. Kebencian Bilqis dan Radit terhadap Ridho meang tidak terelakkan dan kini mereka harus berbesar hati untuk menerima kemunculan pria yang selama ini sudah mereka anggap mati.
“Mama lihat! Obsesi Mama terhadap Papa Ronal sudah membuat dua orang anak menderita,” ucap Alex pada Lenka. “Mungkin itu sebabnya Tuhan tidak memberikan anak untuk Mama karena Mama tidak punya hati.”
“Diam!” teriak Lenka. “Kau tidak tahu apa yang Mama rasakan, Lex. Jangan menghakimi Mama.”
“Mama juga tidak tahu apa yang mereka rasakan, Ma.” Alex ikut berteriak.
“Polisi, tangkap Ibu ini,” ucap Alex pada kedua petugas yang semula hendak membawa Radit.
“Tidak. Tidak.” Lenka menggeleng.
“Saya sudah membuat laporan,” ucap Alex lagi sembar menunjukkan bukti pelaporan atas nama Alex di kantor kepolisian setempat melalui Bima. Asisten Alex yang cekatan itu juga sudah memberi jaminan atas Radit.
“Tidak. Alex, jangan macam – macam kamu! Aku selalu baik padamu. Aku tidak punya urusan denganmu,” teriak Lenka lagi.
“Ya, tapi Bilqis istriku. Dan, Mama memiliki urusan dengan keluarganya. Urusan Bilqis adalah urusanku, Ma.”
“Si*l. Kau tidak bisa melakukan ini!” Lenka panik.
Kedua petugas yang semula mendekati Radit dan hendak menahannya, kini berbalik karena Alex menunjukkan dua surat, pertama surat pelaporan atas Lenka dan yang kedua suat penangguhan atas Radit yang telah dilaporkan Lenka sebelumnya.
__ADS_1
“Alex, cabut laporanmu!” teriak Lenka pada mantan menantu kesayangannya.
“Alex, di dalam Ridho sudah siuman,” ucap Dharwis yang kini memanggil Ronal dengan nama aslinya. Ia keluar dari ruangan itu memang bermaksud untuk memberitahukan hal ini. Namun, ia mendapati keadaan diluar justru lebih genting dari keadaan Ridho yang berada di dalam sana.
“Sayang, ayo temui ayahmu!” kata Alex yang sudah memegang tangan Bilqis untuk memasuki ruang unit gawat darurat khusus menangani Ridho.
Bilqis menoleh ke arah Radit. Radit mengangguk dan ikut memegang sang kakak. Darwis juga mengajak Laila untuk memasuki ruang perawatan intensif mantan suaminya.
“Alex, lepaskan Mama!” teriak Lenka yang hendak digiring ke kantor polisi.
Alex menoleh ke belakang ke arah dua petugas yang hendak membawa Lenka. “Tunggu!”
Kedua petugas itu pun menghentikan langkahnya, membuat Lenka tersenyum.
“Mama tahu, kamu tidak akan tega menahan Mama. Bagaimana pun, kamu sudah menganggap Mama seperti Mama mu sendiri kan?” sahut Lenka dengan wajah memelas meminta belas kasihan pada Alex.
“Ya, lepaskan dia, Pak! Saya ingin dia menemui suaminya dulu.”
Alex menjelaskan kepada petuga yang akan membawa Lenka tadi. Ia ingin Lenka bertemu suaminya dulu dan menjelaskan duduk perkara masalah ini.
Kemudian, Alex mengajak Lenka memasuki ruang perawatan yang di dalamnya tengah berbaring sang suami.
“Mas.” Lenka langsung berlari ke arah Ronal alias Ridho yang baru siuman lima menit yang lalu.
Ridho tidak berekspresi saat tubuhnya ditubruk oleh sang istri, justru arah matanya tertuju pada tiga orang yang baru saja mendekat ke arahnya, siapa lagi kalau bukan keluarga yang telah ditinggalkannya dulu, mereka adalah Laila, Bilqis, dan Radit.
Merasa diabaikan, Lenka pun menatap wajah sang suami.
Namun, ekpresi Ridho tetap tidak berubah. Pria itu tetap menatap ke arah Laila, Bilqis, dan Radit dengan mata berkaca.
“Mengapa kau tega melakukan ini padaku, Len? Mengapa kau membuatku meninggalkan mereka? Padahal semua keinginanmu sudah aku lakukan.”
Deg
Jantung Lenka serasa berhenti sejenak. “Apa maksudmu?”
Ridho mengalihkan pandangannya ke arah Lenka. “Aku sudah ingat semuanya.”
Duarr
Kini, bukan lagi jantung Lenka yang serasa berhenti sejenak, tapi serasa tersambar petir karena kedok yang selama ini ia tutup rapi, akhirnya terbongkar juga. Alih – alih selama ini menyembuhkan penyakit amnesia sang suami, rupanya justu Lenka membeli obat agar Ridho tetap memiliki ingatan yang buruk.
“Aku sudah menikahimu, walau sebenarnya aku terpaksa melakukan itu. Aku juga sudah memberikan satu anak kembarku untukmu. Apalagi yang kurang? Hingga kau memisahkanku dan membuatku dibenci oleh anakku yang lain.”
Deg
Kini, Laila dan Bilqis yang bingung.
“Apa maksudmu, Mas?” tanya Laila yang tidak sabar hingga melangkah mendekati Ridho.
__ADS_1
Bilqis pun melakukan hal yang sama. Sedari tadi kepalanya menoleh ke arah Laila dan Ridho bergantian. Ia juga ingin semuanya jelas. Tentang Tasya, tentang wajahnya yang serupa, tentang masa lalu sang ibu yang berimbas pada masa depannya. Tentang semua hal yang membuat ia menjadi orang yang takut untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Bakan ia sempat bertengkar hebat dengan Alex karena masalah ini, karena wajahnya yang sama dengan mantan istri sang suami.
“Darwis sudah mengatakan semuanya padaku paska aku kecelakaan dan amnesia. Aku juga sudah mengingat semua.”
“Laila,” panggil Ridho dengan mengarahkan matanya pada sang mantan istri. “Maafkan aku. Aku telah memberi satu anak kita kepada Lenka. Bilqis memiliki kembaran yang aku beri nama Tasya. Dan Tasya adalah istri pertama Alex yang sudah meninggal. Tasya adalah ibu kandung Aurel.”
Jedar
Suara petir di luar sana menambah suasana menegangkan di ruangan ini. Bilqis menutup mulutnya saat menganga mendengar penuturan sang ayah. Ia menoleh ke arah Alex.
“Tidak.” Bilqis menggeleng.
“Mas, apa maksudmu? Apa saat mengandung Bilqis, aku mengandung bayi kembar? Pantas aku merasakan hal berbeda. kamu jahat, Mas!” Laila langsung mendekati Ridho dan memukul pria itu.
Kemudian, Darwis dengan cepat menahan tubuh Laila untuk ditenangkan.
“Kamu jahat, Mas. Kamu jahat!” teriak Laila histeris dan langsung dipeluk oleh Darwis.
Di sisi lain, Bilqis pun histeris. “Tidak. ini tidak mungkin, kamu …”
“Sayang,” panggil Alex sambil meraih lengan Bilqis.
Namun, Bilqis langsung menepis tangan itu. Ia menggelengkan kepala, tidak percaya dengan kenyataan yang ada sembari melangkah mundur perlahan. Rasanya ia ingin lari dari kenyataan.
“Mba Qis.” Radit pun memanggil sang kakak agar Bilqis tetap tenang, karena ekspresi sang kakak sangat terlihat kecewa.
“Sayang.” Alex kembali mendekati sang istri dan hendak memeluknya.
Namun, Bilqis terus menjauh. Ia menepis tangan Alex yang ingin meraih tubuhnya. “Kamu sudah mengetahui semua ini?” tanyanya dengan menatap mata Alex.
Alex terpaksa menganguk, ia tidak ingin ada kebohongan lagi. Sungguh tidak nyaman menyimpan sebuah rahasia yang sewaktu – waktu pasti akan meledak, seperti hari ini.
“Kamu memaksaku untuk menikah karena wajah kami sama? Karena menikahiku sama saja mengembalikan istrimu yang sudah tiada itu?”
Alex menggeleng. Sungguh, sebelumnya ia pun tak tahu bahwa Bilqis dan Tasya kembar. Ia hanya tertarik karena wajah yang sama itu tanpa berpikir jika mereka adalah kembar.
“Jadi, aku hanya sebagai pengganti? Bukan orang yang benar- benar kamu cintai?”
Alex lagi – lagi menggeleng.
“Tidak, Sayang. Tidak begitu. Jangan berpikir negatif seperti itu! Walau awal ketertarikanku memang karena wajahmu yang mirip dengan Tasya, tapi sekarang aku benar – benar mencintaimu.”
Alex berkata dengan jujur. Ia mengungkapkan kalimat itu dari dasar hatinya yang paling dalam.
Namun, Bilqis terlanjur tidak percaya. Ia tetap menggeleng dan terus melangkah mundur, hingga berbalik dan berlari.
“Sayang.” Alex langsung mengejar.
“Mbak Qis.” Radit ikut keluar dari ruangan itu dan berlari mengejar.
__ADS_1
“Bilqis.” Laila menangis. Ia sama histerisnya dengan sang putri, hanya saja Laila bisa ditenangkan oleh Darwis.