Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Gara - gara benda kecil


__ADS_3

"Sekarang aku panggil kamu Ridho apa Ronal?" tanya Darwis meledek.


Di ruangan itu, kini hanya tinggal dua pria paruh baya. Radit membawa Laila pulang dengan menggunakan motornya. Darwis sengaja meminta Laila pulang untuk istirahat dan mempersiapkan dirinya besok.


Saat ini waktu menunjukkan pukul tiga sore. Hari ini masih hari sabtu. Sebelumnya, Darwis memang sengaja merencanakan untuk menikah di hari minggu, tepatnya besok pukul empat sore.


Ridho tersenyum getir. "Apa saja," jawabnya.


"Aku mengenalmu dengan nama Ronal. Rasanya asing lidahku menyebutmu dengan panggilan Ridho."


"Dua nama itu membuatku tidak nyaman. Ridho mengingatkanku betapa buruknya aku karena telah meninggalkan Laila dengan dua anak yang masih kecil. Kau lihat, bahkan saudara kembar Tasya tadi lari dan tidak ingin melihatku. Putraku juga."


Ridho tertunduk lesu. Darwis hanya bisa menjadi pendengar. Sungguh ia pun turut sedih dengan kondisi sahabatnya ini.


"Tapi aku juga tidak suka dipanggil Ronal, karena nama itu palsu dan mengingatkanku akan kejahatan Lenka."


Darwis mengangguk. Ia tidak menyangka jika wanita yang selama ini ia anggap baik dan luar biasa itu ternyata jahat. Dibalik keanggunan Lenka tercipta sesuatu yang diluar dugaan.


Keduanya terdiam sejenak. Darwis duduk menghadap Ridho yang duduk di atas tempat tidur pasien.


Kemudian, Darwis bersuara lagi. "Besok, kau boleh pulang."


Ridho menarik nafasnya kasar. "Ya, hotel prodeo menantiku."


"Aku tidak bisa berbuat apa - apa untuk itu," ucap Darwis lesu.


"Tidak apa. Aku memang ingin diberi hukuman. Jika tidak, maka selamanya aku akan merasa bersalah."


Akhirnya, Darwis mengangguk. Ia beranjak dari tempat duduknya dan menepuk bahu Ridho. "Istirahat lah."


Ridho mengangguk. Kemudian, dia memanggil lagi sahabatnya ketika Darwis sudah hampir mendepkati pintu.


"Wis."


"Ya." Darwis menoleh.


"Kau jadi akan menikahi Laila besok?" tanya Ridho.


Darwis menganggukkan kepalanya pelan. Sunggug ia merasa sangat tidak enak.


"Kau mencintainya?" tanya Ridho lagi membuat Darwis kembali menganggukkan kepala.


"Tentu. Hanya dia yang bisa menggantikan posisi Jasmine dihatiku."


Hati Ridho mencelos. Ia memang tidak akan mungkin bisa kembali pada Laila setelah apa yang dilakukannya. Walau kesalahan yang ia lakukan tidak salam keadaan sadar, tapi sangat lah fatal. Sungguh, dari hati kecil Ridho yang paling dalam, ia masih sangat mencintai Laila. Itu terbukti ketika masih amnesia, dada Ridho.bergemuruh saat melihat kemesraan dan kebersamaan Laila dengan Darwis.


"Apa kau masih mencintainya?" Darwis balik bertanya.


Ridho pun menganggukkan kepalanya pelan. "Saat dipertemuan malam itu, aku sangat cemburu melihatmu bersamanya. Padahal waktu itu posisiku masih amnesia."


Ridho menarik lagi nafasnya. "Tapi aku sadar diri. Laila tidak akan mungkin menerimaku lagi. Jangankan Laila, Bilqis dan Radit pun tidak menerimaku."


Darwis ikut menarik.nafasnya kasar. Ia prihatin. Walau sang sahabat kini menjadi rival karena sama sama mencintai satu wanita, tapi Darwis tetap memiliki rasa iba.


"Isyirahat lah, Ron. Jangan terlalu banyk berpikir. Hal itu bisa membuat kepalamu sakit," ujar Darwis. "Kau baru saja sembuh."


Ridho tersenyum dan menganggukkan kepala. Lalu kembali memanggil Darwis saat pria itu hendak membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


"Jaga dia untukku, Wis. Bahagiakan Laila dan jangan sakiti hatinya seperti aku!"


Darwis kembali menoleh ke arah Ridho. "Tentu." Ia mengangguk.


Tidak ada niatan dihati Darwis untuk menyakiti Laila sama sekali. Justru Darwis memang ingin melindungi dan membahagiakan wanita yang menurutnya hebat itu.


Di apartemen Tina, Bilqis berdiri tepat di balkon luar ruang televisi. Bilqis menyandarkan tubuhnya pada pagar besi itu sembari menatap langit. Sudah cukup lama ia berada di tempat ini dan cukup lama juga ia berpikir.


"Hei, minum ini." Tina menyodorkan cangkir berisi jahe hangat.


Bilqis menoleh ke arah cangkir itu. "Apa lagi ini? Dari tadi aku dikasih makanan dan minuman terus."


Tina tertawa. Ia memang senang membuat makanan jika ada temannya datang. "You know lah. Gue kan seneng kalo bebikinan makanan sama minuman kek gini. Ayo! Lumayan buat ngangetin badan kamu."


Biliqs menerima cangkir dari tangan Tina. "Sorry ya, harusnya kamu diangetin Jhon, tapi malam ini terpaksa diangetin sama jahe."


Sontak, Tina tertawa hingga hampir tersedak. "Wah, udah bisa ngeledek dua puluh satu plus nih."


Tina tertawa dan Bilqis pun tertawa. Setelah seharian jiwa bergejolak dan serasa dipermainkan takdir, akhirnya bibirnya bisa kembali menyungging tawa.


Tubuh Bilqis masih berbalut hodie milik Alex. Di sana, Alex pun dapat tersenyum lebar melihat keadaan sang istri yang semakin lebih baik. Bahkan sang istri sudah kembali tertawa.


"Bye the way, tadi kami bilang Jhon punya mantan. Maksudnya?" tanya Bilqis serius.


Tina menghabis jahe itu, lalu mulai menjawab pertanyaan itu. "Jhon punya anak dari mantan kekasihnya, Qis."


"Apa?" tanya Bilqis terkejut.


Tina mengangguk san menghelakan nafasnya sambio tersenyum ke arah langit. "Tiga bulan lalu, mantan pacarnya itu datang padaku. Memintaku untuk memutuskan rencana pertunangan kami karena dia ingin kembali pada Jhon."


Tina tertawa. "Nah, itu dia."


"Terus?" tanya Bilqis yang juga ingin tahu tentang kisah asmara Tina dengan sahabat suaminya.


Sebelum Alex membawa Jhon ke sini untuk membantunya mengelola perusahaan yabg ia buka di sini. Jhon memang memiliki kekasih di Singapura dan hampir menikah. Namun, tiba - tiba kekasihnya pergi meninggalkannya tanpa kabar, hingga Jhon sedikit depresi dan lari ke sini untuk bekerja sekaligus menghilangkan mimpi buruk itu. Dan, kedekatan Jhon dengan Tina yang saat itu adalah sekretarisnya, perlahan menyembuhkan luka Jhon hingga gairah itu kembali membara dan Tina yang memang menyukai bos nya sejak pandangan pertama terlena hingga menyerahkan segalanya untuk Jhon termasuk kesuciannya. Jhon adalah orang pertama yang mengambil kehormatan itu hingga Tina menjadi wanita yang liar seperti ini.


"Aku menyerahkan semua keputusan pada Jhon. Jika dia memang masih mencintai wanita itu. Aku menyuruhnya untuk kembali."


Bilqis menganga. "Apa? Ga bisa dong. Kamu udah kasib keperaw*n*nmu sama dia, terus dia kembali sama mantannya? Ngga ga terima aku."


Justru Bilqis yabg terlihat kesal, padahal Tina masih santai.


Tina tertawa. "Yah, gue pasrah waktu itu Qis. Gue juga ga mau kalau cuma punya tubuhnya tapi hatinya masih tertinggal di sana."


"Terus?" tanya Bilqis lagi.


"Aku minta break."


"Tina," panggil Bilqis sedih. Ternyata sahabatnya pun melalui masa sulit di saat yang sama.


"Tapi Jhon tidak sanggup. Baru dua hari, aku tidak memberi kabar dan cuti mendadak. Jhkn kelabakan dan menangis di depanku."


"Terus?"


"Ck. Dari tadi terus terus mulu lu, Qis. Udah kaya tukang parkir."


Bilqis tertawa. "Tina, disaat kek gini kamu masih aja happy."

__ADS_1


"Ya, hidup itu memang harus dibawa happy, Qis. Jalanin aja. Kalau pun aku ga berjodoh sama Jhon. Aku pasrah."


"Tapi kan dia udah ..." Bilqis masih tidak rela jika Jhon tidak menikahi Tina.


"Bukan salah Jhon juga. Salah gue juga yang nyerahin diri. Sebenarnya kalau saat itu aku menolak, Jhon juga ga akan maksa."


"Ck. Dasar aja kamunya juga gatel."


"Ho oh, abis enak sih. Jadi gatel kan gue."


"Idih, najis." cibir Bilqis membuat Tina tertawa kencang.


Usai berbincang cukup lama dengan Tina, Bilqis hendak membersihkan diri.


"Gih, buruan mandi. Nanti gue anter lu pulang."


Bilqis tersenyum. "Makasih ya."


Tina mengangguk.


Malam ini, Bilqis tidak jadi menginao di apartemen Tina. Ia memilih ke rumah Laila. Ia ingin bertemu adik dan ibunya karena paska semua terungkap, mereka belum bicara bersama. Apalagi besok, sang ibu pun akan melangsungkan pernikahan.


Bilqis berjalan menuju kamar mandi. Ia ingin memanjakan tubuhnya dengan air hangat dan aromaterapy. Rasanya ia butuh berendam dengan air yang cukuo panas hingga terasa seperti sebuah pijatan.


Bilqis menggantungkan hoodie milik Alex dengan kerah yang tertuju pada dirinya. Di kerah hoodie itu terdapat benda kecil menempel tanpa Bilqis sadari.


Bilqis menanggalkan pakaiannya satu persatu hingga tubuhnya pun tak lagi terbalut apa pun.


Di tempat yang jauh, di sebuah ruang kerja, seorang pria meneguk salivanya kasar sembari menatap layar ponselnya. Ia seperti tengah menonton video porn*.


Alex semakin panas ketika di sana melihat Bilsqis sedang meraba tubuhnya sendiri dan dia memainkan bagian favorit Alex dengan jarinya sendiri sembari menggigti bibirnya tepat di depan cermin besar yang ada di dalam kamar mandi itu.


"Bilqis, kau benar - benar liar. Kelakuanmu membuat si jerry meronta," gumam Alex yang terus menatap layar ponselnya tanpa berkedip sedetik pun.


"Ah," Bilqis menggeliat dan menoleh ke arah hoodie yang tergantung.


Keningnya mengernyit menyadari ada sesuatu yang menempel di kerah hoodie itu.


Bilqis pun mendekat dan semakin mendekat.


"Ya ampun." Ia menepuk keningnya dan baru tersadar bahwa benda yang menempel ini yang membuatnya seorti sedang diuntit.


"Kau puas, hah!" marah Bilqis sembari bertolak pinggang di depan kamera itu, sedangkan di sana gairah Alex yang sedang memuncak berubah menjadi satu hal yang lucu.


Alex tertawa.


"Dasar killer, menyebalkan! Sejak pertama bertemu hingga saat ini, selalu membuatku kesal dan malu." Bilqis masih marah - marah di depan kamera kecil itu.


"Nih." Bilqis mendekatkan wajahnya ke kamera hingga hanya bagian hidungnya saja yang terlihat dan menarik ujung hidung itu hingga kedua lubang hidungnya terlihat di kamera.


Sontak, Alex pun tertawa kencang dan terpingkal, hingga sesuatu bunyi terdengar.


Bruk


Alex jatuh dari kursi kerjanya.


"Ah, b*k*ngku sakit." Alex meringis sembari mengusap bagian belakang tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2