Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Emosi Radit


__ADS_3

“Ron, kau sudah lama di sini?” tanya Darwis yang sudah mengetahui maksud dari kedatangan sahabatnya itu.


Untung saja, Laila sudah memberitahu semuanya, sehingga ia bisa menghadapi Ronal jika kedatangan pria itu ke sini untuk menjelek-jelekkan calon istrinya.


“Kau lama sekali, Wis.” Ronal mengeluh karena ia cukup lama berada di dalam apartemen ini.


Ini bukan kali pertama Ronal mengunjungi apartemen Darwis selama di Jakarta. Lagi pula semua akomodasi yang Darwis gunakan ditanggung oleh perusahaannya, karena kedatangan Darwis ke kota ini memang dalam rangka pengembangan teknologi medis rumah sakit miliknya yang bekerja sama dengan salah satu rumah sakit milik pemerintah di kota ini.


“Sorry, Ron. Aku harus memastikan Laila aman dahulu dan sampai rumah tanpa kurang apa pun. Karena aku juga sudah berjanji pada anak laki – lakinya untuk memulangkan ibunya dengan baik,” jawab Darwis jujur.


Darwis langsung duduk di kursi tamu yang tak jauh dari pintu apartemen yang baru saja ia buka. Pintu itu memang sengaja belum Darwis kunci.


Sesaat Ronal mengingat anak – anak Laila yang sedang tertidur tengkurap saat ia pergi meninggalkan wanita itu.


“Wis, kau tahu, calon istrimu adalah mantan istriku,” ucap Ronal


Darwis hanya menatap wajah sahabatnya. Tidak ada keterkejutan sedikit pun di raut wajah Darwis karena ia memang sudah mengetahui hal ini dari Laila. Namun, Darwis tetap berpura – pura tidak tahu untuk mendengar dari Versi sahabatnya.


“Dia janda beranak dua yang telah menggodaku. Kata Lenka, aku menikahinya karena kasihan, karena saat itu anak pertama wanita itu sakit dan harus dirawat. Namun, dia tidak memliki uang untuk membayar rawat inap yang digunakan selama satu minggu. Akhirnya, aku iba mengingat kami juga memiliki anak seusia anaknya.”


Darwis mendengarkan cerita versi Ronal.


“Lalu? Apa lagi yang dikatakan Lenka?” tanya Darwis dengan duduk menghadap sahabatnya untuk berbincang serius.


“Ya, setelah kecelakaan itu. Lenka memintaku untuk menceraikannya. Karena kami ingin membina hidup baru di Singapura. Lenka memaafkanku atas kehilafanku itu.”


“Kau percaya pada Lenka?” tanya Darwis lagi.


“Tentu saja, karena yang aku ingat memang hanya dia saat itu. Amnesiaku tidak mengingat apa pun kecuali Lenka. Aku pikir itu terjadi karena aku memang hanya mencintai Lenka sejak dulu. Tidak ada wanita lain,” jawab Ronal percaya diri.


Padahal saat melihat Laila, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Bahkan ia cemburu ketika Laila dipegang oleh Darwis. Sedangkan dengan Lenka, Ronal tidak pernah cemburu sama sekali. Hal itu, yang membuatnya aneh. Ronal pun tidak mengerti.


“Oh ya, aku ingat saat meninggalkan wanita itu, anak laki – lakinya masih sangat kecil. Mungkin sekitar dua tahun,” ucap Ronal. “Apa sekarang anak itu sudah besar?”


“Ya, aku sudah besar,” tiba – tiba suara dari pintu menjawab pertanyaan Ronal.


Kedua pria paruh baya yang sedang berbincang serius itu pun langsung menoleh ke arah pintu.


“Radit,” panggil Darwis.

__ADS_1


“Kau?” tanya Ronal bingung. “Dia anak laki – laki yang ikut menjemputku di bandara?” tanya Ronal pada Darwis.


Darwis mengangguk. “Ya. Anak yang akan menjadi tim IT di rumah sakitmu.”


Radit melangkah mendekati pria yang ia yakini adalah ayah kandungnya, pria tidak bertanggung jawab yang telah meninggalkan dirinya, sang ibu, dan kakak perempuannya.


Radit yang sudah menggebu ingin meninju Ronal alias Ridho itu langsung menarik kerah kemeja pria paruh baya itu.


“Hei apa – apaan ini? Dasar anak kurang ajar,” umpat Ronal yang tiba – tiba tubuhnya harus berdiri karena tarikan dari tangan Radit di kerah kemejanya.


“Radit, tunggu! Tenang kan dirimu,” ucap Darwis yang sudah mengetahui semuanya.


Sebelum mengantarkan Laila pulang ke rumah, pria itu sempat melihat ponsel yang menunjukkan notifikasi sebuah email masuk dari Alex. Ia pun langsung membuka dan sangat terkejut dengan hasil penyelidikan Alex tentang keluarga istrinya yang baru. Di tambah, pengakuan Laila usai mengantarkan calon istrinya ke rumah. Sungguh, Darwis sangat terkejut. Namun, ia tetap tenang karena memang pembawaan Darwis yang selalu tenang.


“Tidak bisa, Om. Laki – laki ini yang telah meninggalkan Ibu, meninggalkan kami saat kami masih kecil,” ucap Radit dengan mata berkaca – kaca.


“Kau mendengarkan percakapanku dan Ibumu?” tanya Darwis pada Radit.


Mata Radit memerah dan terus tertuju pada Ronal yang sedang ketakutan.


“Ya, aku mendengar semuanya. Aku yakin pria ini adalah Bapak Ridho yang terhormat,” jawab Radit dengan terus menatap wajah pria yang sebagian memiliki kesamaan dengan wajahnya.


Dari hidung hingga dagu, wajah Radit dan Ronal tampak mirip. Sedangkan bentuk mata Radit lebih sama dengan bentuk mata Laila.


“Dit, lepaskan dia. Om akan menjelaskan duduk perkaranya,” ujar Darwis sembari menahan lengan Radit agar melepaskan cengkeraman di leher Ronal.


“Tidak, Om. Aku tidak akan melepaskannya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika aku bertemu dengan pria ini, aku akan memukulnya hingga babak belur.”


“Radit, sadar! Itu tidak benar.”


Bugh


Radit langsung melayangkan tinju ke wajah Ronal dengan tetap mencengkeram leher itu.


“Radit, tidak! Stop!” teriak Darwis untuk menghentikan aksi calon anak sambungnya itu.


Bugh


Radit kembali memukul Ronal hingga pria itu tersungkur.

__ADS_1


“Ah, Darwis. Tolong aku!”


“Radit, hentikan!” Darwis menahan dada pemuda itu.


“Lepas, Om. Aku masih belum puas memukulnya,” kata Radit dengan dada naik turun menahan emosi.


“Dia amnesia, Dit. Saat dia meninggalkan kalian, dia tidak ingat tentangmu, tentang ibumu, dan tentang kakakmu. Yang dia ingat hanya Lenka, wanita masa lalunya sebelum menikah dengan ibumu.”


Sontak, Radit menoleh ke arah Darwis. “Amnesia?”


“Ya, ayahmu amnesia hingga saat ini dia belum sembuh. Satu – satunya penjelasan yang kita butuhkan adalah dari Lenka. istri ayahmu sekarang."


Mata Radit kembali tertuju pada Ronal. tatapannya begitu tajam hingga Ronal pun semakin ketakutan. Sudut bibir Ronal sudah mengeluarkan darah. Dahinya pun juga berdarah karena saat tersungkur, dahi itu terbentur lemari besar yang ada di sana.


Darwis langsung menghampiri Ronal dan membantu temannya untuk berdiri. Sungguh, ia sangat prihatin dengan keadaan Ronal saat ini.


Ronal pun berdiri dengan bantuan Darwis yang hendak memapahnya untuk sampai ke sofa. Namun, tiba – tiba dari belakang, Radit kembali memukul pria itu.


Bugh


Ronal kembali tersungkur dan terbentur ujung meja yang lancip. Tubuhnya langsung ambruk dan seketika tak sadarkan diri, mengingat pukulan Radit yang cukup keras dan benturan di kepalanya pun bisa dipastikan juga cukup keras.


“Radit, kau gila! Biar bagaimana pun dia ayahmu,” ucap Darwis kesal melihat kelakuan anak muda itu.


Radit tidak bisa berpikir jernih. Hanya dendam membara yang ada di kepalanya. Padahal yang dilakukannya salah. Ia pun mematung melihat Ronal yang tergeletak tak berdaya.


Darwis panik. Ia langsung berjongkok mendekati Ronal dan memastikan nadinya masih berdetak. Dengan cepat, Darwis merogoh ponsel di sakunya dan menelepon ambulans.


“Darwis, ada apa dengan suamiku?”


Tiba – tiba suara seorang wanita menggema dan langsung ikut berjongkok di depan Darwis.


“Lenka?”


“Apa yang terjadi pada suamiku?” tanya Lenka histeris.


Lalu, Lenka menatap ke arah Radit. “Siapa pemuda ini? Apa masalahnya dengan suamiku hingga dia memukulnya seperti ini?” tanya Lenka lagi.


Lenka tidak menyadari bahwa sesaat lagi, kebusukannya akan terbongkar. Sesaat lagi, ia akan menuai apa yang telah ia tanam selama puluhan tahun.

__ADS_1


Sejak kemarin Lenka memang resah dan ingin segera menyusul sang suami hingga akhirnya ia sampai di apartemen ini untuk mencari tahu keberadaan Ronal melalu Darwis, karena sedari tadi ponsel Ronal tidak aktif saat ia menelepon.


Ya, ponsel Ronal memang kehabisan baterai usai mengirimkan pesan pada Darwis.


__ADS_2