
Sejak mendapat telepon dari Zavier, Alex banyak diam. Ia tidak pernah menyangka bahwa akan memiliki ayah mertua yang sama. Alex mengira kemiripan Bilqis adalah kemiripan biasa, karena memang dinatar milyaran manusia, terkadang memiliki kesamaan wajah pada orang lain walau mereka tidak sedarah.
“Mas, kenapa? Dari tadi diam saja,” tanya Bilqis yang bingung dengan tingkah Alex. “Apa ini karena telepon dari temanmu itu? Ada masalah dengan projek di sana?”
Alex memang mengaku jika telepon dari Zavier tadi menyangkut tentang pekerjaan di kantor pusatnya. Kantor pusat Alex memang berada di negara tempat tinggalnya dan ia sebenarnya tidak akan seterusnya berada di sini. Alex berniat hanya tinggal di sini paling lama lima tahun, hingga semua manajemen yang sempat terbengkalai kembali normal dan bisa ditinggalkan.
Alex berbohong dengan mengangguk. Ia masih belum bisa berkata jujur pada istrinya. “Ya. Semoga saja Zavier bisa mengatasi kendala di sana.”
Bilqis sedih melihat suaminya murung. Ia pun mendekati dan duduk di pinggir kursi yang Alex duduki. “Semua pasti bisa di atasi. Tuhan sudah memberikan masalah itu lengkap dengan solusinya. Tinggal, cara kita untuk menemukan solusi itu. Bukan begitu?”
Alex mendongak dan menatap mata Bilqis. Ia pun tersenyum. “Apa ini efek dari habis bercinta? Kamu terlihat lebih dewasa.”
“Enak saja.” Bilqis memukul lengan Alex, membuta pria itu terkikik geli.
Wanita itu pun bangkit dan tidak ingin duduk disamping Alex. Namun, Alex menahan lengan itu dan menjatuhkan tubuh sang istri di atas pangkuannya.
“Terima kasih, Sayang.” Alex memajukan bibirnya. “Cium dong.”
Bilqis menggeleng dan menahan tawa. “Ngga.”
“Cium, Sayang.”
“Ngga. Ih. Tadi kan udah.”
“Lagi. Aku ingin merasakn lagi bibirmu.”
“Bibir mana? Atas atau bawah?”
Alex langsung menyeringai. Bilqis memancing pria yang salah. Tidak perlu dipancing, kemesuman Alex sudah mendarah daging, apalagi memiliki istri se bar – bar Bilqis. Pria itu semakin menjadi.
“Memancingku?”
Bilqis menggeleng. “Tidak, aku hanya bertanya. Memang pertanyaanku salah?”
“Salah. Sangat salah. Itu bukan pertanyaan tapi ajakan.”
“Itu menurutmu.” Bilqis berusaha untuk bangkit, namun tetap Alex tahan.
Tok … Tok … Tok …
Baru saja Alex akan mencium bibir itu, tiba – tiba pintu ruangannya di ketuk.
“Makan siang datang,” ucap Bilqis pada suaminya dengan mata berbinar. Ia memang sudah lapar, apalagi setelah menjadi santapan suaminya tadi. Rasanya energinya habis dan ingin segera di charge kembali.
__ADS_1
Bilqis berjalan menuju pintu dan membukanya. Di sana sudah terlihat Bima dengan membawa makanan pesanan Bilqis.
“Ini pesanan anda, Miss.” Bima merubah panggilannya terhadap Bilqis. Biasanya pria itu memanggil Bilqis dengan nama saja, sekarang menjadi Miss.
“Terima kasih, Pak Bima.” Sedangkan Bilqis tetap memanggil Bima dengan Pak karena memang Bima lebih dulu bekerja dan menjabat posisi ini.
“Bim,” panggil Alex dengan mendekati kedua orang yang tengah berdiri di pintu ruangannya.
“Ya, Sir.”
“Hari ini saya tidak ada jadwal keluar dan say juga tidak ingin menerima tamu dari luar. Jadi jika ada yang ingin bertemu saya, suruh datang besok atau lusa.”
Bima mengangguk. Alex memang ingin sendiri. Ia ingin membuka email dari Zavier dan meneliti semua ukti konkrit hasil penelusuran sahabatnya. Karena ini menyangkut tentang cintanya. Alex tak mengira bisa mencintai dua kakak beradik ini.
“Baik, Sir.” Bima mengangguk. Lalu, pria itu pamit dan Bilqis kembali menutup pintu.
“Hm. Makanan datang. Ayo kita makan!” dengan ceria Bilqis membawa makanan itu dan menyiapkannya di atas meja tamu yang ada di depan meja kerja Alex.
Alex juga duduk di sofa panjang itu. ia melihat menu makanan yang cukup banyak di sana. “Kamu meemsan sebanyak ini?”
Bilqis mengangguk.
“Apa tidak kebanyakan?” tanya Alex lagi.
Bilqis menggeleng. “Tidak. Makanku memang banyak.”
“Mas, ih rese banget.” Bilqis pun memukul paha Alex. “Dasar badboy!”
Pria itu tertawa dengan duduk menyilang. Ia senang meledek istrinya dan membuat wanita itu kesal. Tapi saat ini, Bilqis memang benar – benar kesal. Padahal Alex pun tidak bersungguh – sungguh berkata demikian. Ia memang hanya bercanda. Walau pun tubuh Bilqis akan berubah nantinya atau setelah melahirkan. Ia tidak peduli, yang penting ia bersama wanita ini, wanita yang membuatnya hidupnya berwarna dan penuh candad tawa.
Bilqis belum kembali duduk di samping Alex. Ia memilih tetap berada di depan meja itu dan membelakangi Alex setelah memberikan Alex piring yang berisi nasi danlauk pauk yang ia pesan.
Alex menyuapkan makanan itu ke mulutnya sembari melirik Bilqis. Bilqis yang semula ceria dan banyak bicara, tiba -tiba diam hanya karena ledekan tidak sengaja Alex yang bersifat body shaming. Padahal saat ini, tubuh Bilqis tidak gemuk dan tidak kurus.
“Hei, mengapa makan di situ? Tidak duduk di sampingku?” tanya Alex yang tidak mendapat jawaban.
Alex pun meletakkan piringnya dan mendekati Bilqis. Ia memeluk wanita itu dari belakang. “Kau marah?”
Bilqis diam. Entah mengapa, ia jadi sensitif.
“Kalau pun tubuhmu gemuk. Aku tetap akan menyukainya. Aku suka ditindih buldozer,” ucap Alex yang kembali mendapatkan pukulan. Kali ini, Bilqis memukul dadanya bertubi – tubi dengan pukulan yang tidak terasa menurut Alex.
Alex tertawa dan mengambil kedua tangan Bilqis, lalu memasukkan tubuh itu ke pelukannya. “Aku menyukai segala hal dalam dirimu, Sayang. percayalah!”
__ADS_1
“Mas, nyebelin. Nyebelin banget.”
“Hei, kamu menangis?” tanya Alex pada Bilqis yang benar – benar sensitif. Ia tak mengira wanita bar – bar seperti Bilqis memiliki hati sensitif.
“Maafkan, Mas. Sayang. Maaf. Mas Cuma becanda. Kamu malah diambil hati jadi nangi begini. Maaf ya.”
Alex benar – benar lembut. Bilqis seperti mendapat kasih sayang yang penuh dari seorang laki – laki. Karena menurutnya Alex adalah paket komplit. Di balik ke-killer-an Alex tersimpan karakter yang mengayomi dan hangat. Bilqis pun terpseona lebih dalam oleh sikap suaminya.
“Apa aku sudah jatuh cinta padanya?” tanya Bilqis dalam hati dengan menatap sang suami.
Alex juga menatap istrinya semabri menghapus jejak airmta di pipi mulus itu. “Aku janji tidak kan membuatmu menangis lagi.”
“Janji?”
Alex mengangguk. “Ya. Tapi kamun juga harus janji satu hal.”
“Apa?” tanya Bilqis.
“Jangan pernah berasumsi sendiri. Tanyakan apa pun yang mengganjal dihatimu padaku. Apa pun. Dan yakin bahwa aku akan membahagiakanmu.”
Bilqis mengangguk. “Ya.”
Entah di dalam perjalanan akan seperti apa, tapi saat ini kepala Bilqis memang mengangguk. Alex pun kembali memeluk tubuh itu sebentar dan melonggarkan.
“Ayo, kita makan lagi!”
Bilqis mengangguk. “Ayo.”
Keduanya duduk bersebelahan. Alex kembali memegang piringnya. “Ini enak, Sayang. kamu mau coba?”
Alex menunjukkan brokoli di sendoknya dan hendak mengarahkan ke mulut Bilqis.
“Aku tidak suka.” Kepala Bilqis menggeleng.
“Ini enak. Ayo coba! Aurel saja suka.”
Bilqis kembali menggeleng. “Tidak. Rasanya pasti pahit.” Bilqis memang tidak terlalu menyukai sayuran. Tapi Alex akan merubah kebiasaan buruk Bilqis.
“Tidak pahit, ayo coba!” Alex tetap memaksa dan Bilqis tetap menggeleng hingga Alex pun bertindak ektrim. Ia mengambil bibir Bilqis dan menciumnya, lalu memaksa memindahkan makanan itu hingga berada di dalam mulut Bilqis.
“Mas,” rengek Bilqis saat sadar dengan kelakuan suaminya.
Alex tertawa.
__ADS_1
“Dasar Badboy!”
“Dasar bar – bar!”