
Dret … Dret … Dret …
Ponsel Laila berdering. Hampir setiap malam ponsel Laila berdering dengan panggilan dari nama yang sama serta pertanyaan yang sama.
Dua hari berlalu sejak Darwis melamarnya di acara wisuda Radit waktu itu. Saat itu, Laila memang belum menjawab keinginan Darwis. Ia juga menolak benda dengan tonjolan berlian kecil itu. namun, Darwis tidak menerima penolakan itu, karena mulut Laila memang belum menjawab tidak dan belum juga menjawab iya.
Darwis pun menyuruh Laila untuk membawa cincin itu terlebih dahulu. Ia juga memberi Laila waktu satu minggu untuk berpikir. Namun, baru satu dua hari, pria itu sudah bertanya tentang itu. Bahkan kemarin, Darwis juga bertanya tentang itu, padahal awalnya ia berdalih hanya ingin mendengar suara Laila saja.
“Radit …” panggil Laila pada putranya yang duduk di sofa dan menikimati tontonan di layar televisi.
“Apa, Bu?” tanya Radit yang melihat sang ibu langsung duduk di sampingnya.
Sebelumnya, Laila sudah berdiskusi tentang lamaran Darwis ini pada Bilqis. Dan Bilqis menyetujui jika sang Ibu inginmenikah lagi. Alsan Bilqis sama seperti Radit. Ia juga menginginkan sang Ibu bahagia, setelah sekian lama wanita itu tidak pernah memikirkan tentang kebahagiaannya sendiri.
Bilqis juga merasa Darwis bukan pria yang suak tebar pesona. Apalagi usianya juga sudah lebih tua dari Laila. Bilqis merasa bahwa Darwis memang membutuhkan teman untuk hari tua. Cocok dengan Ibunya yang nantinya akan tinggal sendirian setelah anak – anaknya pergi untuk mencari cita – citanya masing – masing.
Radit menrima ponsel yang diberikan Laila. “Apa ini, Bu?”
“Dia nelepon lagi. Ibu harus jawab apa?” tanya Laila.
“Ya , ibu jawab aja,” ucap Radit.
“Jawab apa?” Laila kembali bertanya.
“Jawab sesuai kata hati aja, Bu. Kata hati ibu jawabnya apa?”
Laila pun terdiam. Namun ponsel itu tetap bergetar dan berbunyi, hingga ponsel itu tak lagi mengeluarkan suara.
“Yah, teleponnya mati tuh bu. Kasian dari kemarin dia telepon tapi ga ibu jawab,” ucap Radit.
“Abis gimana? Ibu bingung.”
Radit pun tersenyum. Baru kali ini, ia melihat sang ibu salah tingkah seperti ini. Biasanya Laila adalah wanita yang cuek.
“Coba, Radit cek jantung ibu dulu.”
Di sana terdengar suara detak jantung Laila yang berdegup kencang hingga suara dag dig du itu pun terasa di telinga Radit yang sedikit mendekatkan telinganya dengan dada sang ibu.
“Deg deg an ini, Bu. Tandanya Ibu juga suka Om Darwis.”
__ADS_1
Bugh
Laila memukul lengan putrnya. “Kamu tuh ngadi – ngadi aja.”
“Ish, dibilangin ngeyel,” ucap Radit.
“Kamu yang ngeyel.”
Dret … Dret … Dret …
“Tuh ponsel ibu bunyi lagi,” ucap Radit lagi smbari menunjuk ke arah ponsel sang ibu.
“Gimana dong?” tanya Laila gelisah.
Radit langsung merampas benda pintar itu dan menggeser tombol hijau.
“Halo, Om.”
“Halo, Dit. Ibu kamu sudah tidur?” tanya Darwis.
“Belum, Om. Ibu ada nih di samping Radit.”
Bugh
“Om mau ngomong sama Ibu?” tanya Radit.
“Ya. Eh tapi berhubung kamu yang angkat telepon ibumu, Om juga mau ngomong sama kamu. Kemarin Om sempat ngomong sama Bilqis. Semalam Om makam malam di rumah Alex.”
Darwis menjeda ucapannya dan kembali bicara. “Om sungguh – sungguh, Dit. Om menyukai ibumu dan ingin menjadikan ibumu istri Om. Kamu setuju kan? Om sudah meminta izin pada Bilqis dan kakakmu setuju.”
“Radit juga setuju kok, Om. Tinggal Om meyakinkan Ibu,” jawab Radit dengan melirik ibunya.
“Alhamdulillah, Om senang mendengarnya. Yang penting kalian berdua merestui.”
Radit mengangguk. “Asalkan Ibu bahagia, Radit dan Mbak Qis pasti setuju. karena kami juga ingin melihat Ibu bahagia.”
Sedari tadi, Laila mendengarkan percakapan itu, karena Radit meloud speaker telepon itu. Laila terharu hingga tak dapat berkata – kata dan ingin sekali menangis. Memang tidak ada lagi hati untuk Ridho. Nama pria yang pernah mengisi penuh hatinya itu pun menghilang entah kemana, mungkin sejak pria itu tiba – tiba pergi tanpa kata. Tidak pernah terbesit di benak Laila untuk menikah lagi. selama menjadi single parent yang ia pikirkan hanya masa depan kedua anaknya, hanya bagaimana caranya untuk memainkan dua peran untuk Bilqis dan Radit agar kedua anaknya itu tidak merasakan kekurangan kasih sayang.
Dan kini, kedua anaknya pun sudah dewasa. Mereka yang malah ingin melihatnya bahagia.
__ADS_1
“Bu,” panggil Radit. “Om Darwis nunggu jawaban Ibu nih.”
“Memangnya harus jawab ditelepon? Apa itu baik?” tanya Laila yang terdengar oleh Darwis.
“Tidak apa – apa, Laila. Aku hanya ingin mendenagr jawabanmu. Sebelum aku pulang ke Singapura dan membawa Radit ke sana, aku ingin segera menghalalkanmu terlebih dahulu,” ucap Darwis lantang.
Radit menyenggol lengan ibunya. “Gimana?”
“I – iya …”
“Iya, apa?” tanya Radit dan Darwis bersamaan.
“Ya, iya.”
“Iya, apa Ibu? Jawab yang jelas.”
“Iya.” Laila menjawab dengan satu kata yang sama.
“Itu ga jelas Bu. Kalau iya, bilang iya aku menerima lamaranmu, gitu.” Radit mengajari ibunya membuat Darwis yang berada di tempat berbeda itu pun tersenyum. ia sudah seperti seorang abege.
Laila pun merasakan hal yang sama. Wanita itu sudah seperti gadis abege yang sedang ditembak oleh panah cinta dari lawan jenisnya.
“Iya, Mas. Aku menerima lamaranmu,” ucap Laila dengan suara yang jelas.
“Alhamdulillah.” Ucapa syukur Darwis langsung terdengar kencang. Sepertinya, pria itu benar – benar bahagia atas jawaban itu.
Radit pun tersenyum ke arah sang Ibu dan memeluknya.
Tiba – tiba, Laila menangis dipelukan sang putra dan Darwis bersujud syukur karena akhirnya ia sudah move on melepaskan kepergian sang istri yang sudah bertahun – tahun pergi. Sebelumnya Darwis tidak pernah merasakan rasa yang seeprti ia rasakan untuk Laila sejak pandangan pertama. Padahal teman – teman sejawatnya sudah banyak menawarkan wanita padanya. Begiut pun kerabat – kerabatnya. Namun, belum ada yang sesuai dihatinya. Darwis juga pernah menerima perjodohan seorang teman. Cukup lama ia mencoba menjalin hubungan itu, tapi tetap saja tidak kena dihatinya. Dan untuk Laila, tidak membutuhkan waktu lama, Darwis merasakan getaran yang berbeda. Ia berusaha mendekatkan diri pada Laila dan semakin dekat justru Darwis semakin tertarik.
Radti langsung memberi pesan pada sang kakak.
“Mbak, Ibu mau nikah. Ibu sudah menerima lamaran Om Darwis. Siap – siap kita akan punya adik.”
Sambungan Laila dengan Darwis pun sudah terputus. Darwis akan segera ke rumah Laila dan mendtangi keluarganya untuk meresmikan pinangan itu.
Ponsel yang dikenakan Radit untuk memberi kabar pada kakaknya adalah ponsel sang Ibu. Laila pun melihat pesan itu dan kembali memukul lengan Radit.
“Kamu ya, senang sekali meledek Ibu.”
__ADS_1
Sontak, Radit pun tertawa. Ia senang karena melihat dua perempuan kuatnya bahagia. kini, tinggal dirinya yang akan mencari kebahagiaannya sendiri. Mungkin bukan di sini, tapi di tempat lain.
“Welcome Singapura,” teriak Radit dalam hati.