
“Huft …” Bilqis mengeluh karena barang yang ia bawa.
Dengan cepat Alex pun memindahkan berkas yang Bilqis pegang ke tangannya. “Lain kali, minta Bima untuk membawa berkas ini. atau tadi tinggalkan berkas ini di ruang rapat biar aku suruh Bima mengambilnya.”
Bilqis menggeleng. “Tidak perlu. Aku tidak suka merepotkan orang lain.”
“Ya, tapi kamu merepotkanku,” jawab Alex sembari meletakkan berkas itu ke mejanya.
“Aku tidak menyuruhmu untuk membantuku membawakan itu,” kata Bilqis tidak terima.
“Ya, tapi aku tidak tega membiarkanmu memikul beban sendirian.”
Blush … Pipi Bilqis pun memerah. Lagi – lagi Alex mengeluarkan kata maut yang membuat Bilqis terpaut. Jiwanya meronta, hatinya pun berbunga.
Alex menoleh ke arah istrinya yang terdiam. “Hei, kenapa? Pipimu merah. Apa kamu sudah menginginkannya?”
Alex mendekat dan meraih pinggang itu. “Menginginkan apa?” tanya Bilqis yang masih saja polos walau sudah di modusi berkali – kali.
“Ini.”
“Ah.” Bilqis melenguh, karena tiba – tiba tangan Alex meremas salah satu gunungnya.
Bilqis pun langsung menepak tangan itu. “Pelecehan.”
Alex tertawa. “Bagaimana jika yang ini?” tangan itu kembali meremas bagian lain. malah, bagian yang lebih sensitif yang berada di bawah tubuh Bilqis.
“Mas Alex …” teriak Bilqis membuat Alex lebih tergelak.
Kemudian, Alex menggendong istrinya dan membawanya ke sofa. “Sudah berapa kali kita melakukannya di sini?"
Alex sudah menindih tubuh itu dan Bilqis sedang berpikir. “Entah, ratusan mungkin.”
“Belum,” jawab Alex tidak terima, karena ia merasa belum melakukan sebanyak itu.
Bilqis pun tertawa dan Alex ikut tertawa mendengar gurauan sang istri.
****
“Qis, kamu makin deket aja sama Sir Alex,” ucap Mira pada Bilqis.
Keempat sekretaris senior itu tengah menikmati makan siang di depan gedung tempat mereka bekerja.
"Iya, terus ya sejak kamu di skors tiga hari. Sir Alex tuh banyak berubah tau,” sahut Saskia.
“Iya, gara – gara kalian,aku jadi kena tumbal.”
Saskia dan Mira merasa tumbal yang Bilqis alami adalah skosing dan pemotongan insentif atau gaji. Mereka tidak tahu bahwa tumbal yang Bilqis maksud adalah dirinya yang menjadi santapan Alex sepanjang hari selama tiga hari.
__ADS_1
Tina tersenyum. sedari tadi, wanita itu memang tidak banyak bertanya dan hanya tersenyum saj. Bilqis melirik sahabatnya itu. sepertinya ada yang Tina ketahui, tapi wanita itu memilih diam.
“Kenapa, Tin? Dari tadi diem aja. Biasanya kamu yang kepo” ucap Bilqis.
“Iya, padahal dari kemarin dia yang keypoh, Qis. Eh sekarang malah senyum – senyum aja.”
Tina tertawa. “Ya, karena aku lebih tahu sesuatu dari kalian.”
“Apa?” tanya Saskia dan Mira.
“Ada deh. Nanti juga kalian tahu, kalau sekarang belum.”
Bilqis pun memilih diam, karena sepertinya Tina sudah mengetahui pernikahannya dengan Alex dari Jhon. Bahkan, Tina juga tahu rupa mantan istri Alex. Dan informasi itu memang ia dapatkan dari Jhon yang bercerita tentang kehidupan remajanya bersama Alex, Zavier, Max, dan Damian.
“Oh, ya Tin. Terus kapan pernikahan kalian digelar?” tanya Bilqis mengalihkan topik pembicaraan agar tidak melulu membicarakannya.
“Akhir tahun nanti, aku diajak Jhon ke Singapura. Kita akan merayakan tahun baru bersama keluarga besar Jhon di sana.”
“Wah … Akhirnya, hubungan kalian ada ujungnya,” kata Mira senang.
Bilqis pun tersenyum. “Aku senang mendengarnya, Tin.”
Saskia juga mengatakan hal yang sama. “Aku juga senang mendengarnya.”
“Bukan kah, hubunganmu juga ada titik terang sekarang?” tanya Tina pada Saskia.
Saskia langsung menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. “Aku sudah menikah siri dengan Pak Ringgo.”
“Serius, Kiya?” tanya Bilqis.
“Dua rius malah, Bilqis. Ini buktinya.”
“Gila ya, aku keduluan terus nih,” ucap Tina ambigu. Padahal ia mengisyaratkan untuk dua orang temannya yang malah lebih dulu menikah darinya yang sudah menjalin hubungan lebih lama dengan bosnya dari hubungan sekretaris dan bos antara Saskia dan Bilqis.
“Jadi, dua minggu lalu, istrinya Mas Ringgo kepergok selingkuh sama Mas Ringgo sendiri. Istrinya memang sudah lama begitu, makanya dia juga begitu ke aku. Dia kan yang godain aku duluan,” ucap Saskia membela diri.
“Terus?” tanya Mira.
“Ya, Mas Ringgo langsung menggugat cerai. Terus satu minggu kemudian, dia ke rumahku dan kami menikah siri dulu. Mas Ringgo janji setelah surat cerainya selesai, akan mendaftarkanku ke KUA.”
“Baguslah kalau begitu. Pokoknya kamu harus terdaftar di KUA, Ki. Dan sebelum itu terjadi, pastikan kamu jangan punya anak dulu dari Mas Ringgo,” sahut Mira.
“Memang kenapa begitu?” tanya Bilqis polos.
“Ya, supaya kita punya kekuatan, Qis. Perempuan jangan pernah mau dinikahi siri saja, karena hukumnya lemah. Kita akan direndahkan dan tidak dapat apa – apa kalau dia macam – macam.”
“Ooo gitu.” Bilqis membulatkan bibirnya.
__ADS_1
“Tenang, Mbak Mir. Aku percaya sama Mas Ringgo.”
Lalu, Saskia melirik ke arah Bilqis. “Memang kenapa, Qis? Kamu juga abis nikah siri?”
Bilqis langsung menggeleng dengan cepat, karena Alex memang tidak memperlakukannya demikian. “Ngga lah, enak aja. Gak mau lah aku kalau Cuma nikah siri doang.”
“Iya lah, Bilqis kan orangnya ga mau rugi,” ucap Tina tertawa.
Sontak, Mira dan Saskia pun ikut tertawa. Ya, Bilqis memang dikenal wanita yang perhitungan. Jika ke minimarket saja, ia akan menghitung detail kembaliannya. Jika kurang lima ratus perak saja, Bilqis akan mempertanyakan. Padahal maksud Bilqis agar jelas dibawa kemana nilai rupiah kecil yang jika dikalikan ratusan pengunjung setiap harinya akan menghasilkan pundi yang banyak. Bilqis hanya tidak ingin ada oknum yang memanfaatkan nominal receh itu.
****
Di rumah, Alex kembali mengerjakan pekerjaan kantor di ruang kerjanya. Setiap menjelang akhir tahun, pekerjaan memang overload dan padat. Itu semua terjadi karena mereka akan libur cukup lama, terutama untuk para petinggi yang sudah mempersiapkan liburan keluar kota atau luar negeri dari jauh – jauh hari.
“Mas, mau aku buatkan kopi?” tanya Bilqis yang baru saja membuka pintu ruangan itu setelah menemani Aurel tidur hingga anak itu terlelap nyenyak.
Alex menoleh dan tersenyum. “Sini dulu.” Ia melambaikan tangan ke arah Bilqis dan mengajak wanita itu untuk mendekat.
Bilqis pun mengikuti. Kemudian Alex menuntut tubuh itu untuk duduk di pangkuannya. Alex mencium bibir itu. Ciuman yag menjadi sebuah pagutan singkat.
“Kamu belum tidur?” tanya Alex yang langsung mendapat jawaban berupa gelengan kepala.
“Kenapa? Ingin bercinta lagi?” tanya Alex meledek.
Bugh
Bilqis melayangkan tinju pada lengan kekar itu. “Itu mau mu.”
Alex tertawa. “Mau mu juga.”
“Ngga ya. Aku ga pernah minta.”
“Ngga pernah sekali,” sahut Alex yang masih meledek.
“Mas Alex.”
Alex menarik kepala Bilqis dan mengecup kening itu. “Aku mau kopi susu,” ucapnya.
“Tumben sekarang suka pakai susu.”
“Ya, teryata susu enak juga,” jawab Alex genit.
“Ish, amit – amit.” Bilqis bergidik ngeri dan bangkit dari pangkuan itu untuk membuatkan minuman yang pria itu inginkan.
Setelah keluar dari ruang kerja Alex, Bilqis melewati satu ruangan yang tidak bernah terbuka dan selalu terkunci. Kaki Bilqis mendekat dan memegang handle pintu itu.
Sebenarnya Bilqis pernah melakukan ini beberapa kali, tapi setiap kali ia memutar knop pintu itu, selalu tidak pernah bisa terbuka. Entah mengapa Bilqis sangat penasaran dengan kamar ini. Ia memergoki Alex yang keluar dari kamar ini tiga kali. Bilqis juga bertanya apda Nia dan Maya yang bungkam dan mengatakan bahwa kamar itu hanya gudang, tapi hati Bilqis mengatakan bukan, kamar itu bukan gudang, karena saat ia pernah memergoki Alex yang hendak menutup pintu itu, ia melihat sekilas ruangan itu di dalamnya yang rapi dan tak tampak seperti gudang.
__ADS_1
Klek
“Ah, tidak terkunci,” gumam Bilqis senang.