Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Terjebak bos killler


__ADS_3

“Lepaskan aku!” Lenak terus berteriak saat dua petugas membawanya ke dalam mobil.


Alex dan Radit mengantarkan dua petugas itu hingga melihat Lenka memasuki mobil dinas mereka. Darwis dan Laila pun memastikan itu. Lenka nyaris menjadi bahan tontonan rumah sakit. teriakannya yang mengelegar, mengundang semua orang untuk melihat ke arahnya. Belum lagi kedua tangan Lenka yang diapit oleh pria berseragam itu, jelas menandakan bahwa Lenka adalah pelaku kriminal.


“Lepas! Saya orang kaya. Saya punya uang dan perusahaan di Singapura.” Lenka terus berteriak. “Jangan sentuh tangan saya! Lepas! Saya akan mendatangkan pengacara hebat. Kalian tidak bisa membawa saya!.”


Lenka terus berteriak dan percaya diri.


“Mas, apa dia akan bebas?” tanya Laila pada Darwis.


Darwis tidak dapat memastikan karena Lenka memang memiliki uang dan pengaruh yang cukup, tapi bukan di sini, melainkan di negara tempatnya tinggal. Di sini, semua aset yang Lenak miliki sudah tak bersisa. Ia sengaja tidak meninggalkan harta sedikit pun di negeri ini untuk memulai hidup baru bersama suami amnesianya itu.


“Tenang, Bu. Mama Lenka akan Alex pastikan mendapat ganjaran dari perbuatannya.” Walau Alex geram dengan kelakuaan mantan ibu mertua yang selalu baik padanya itu, tapi ia tetap memanggil Lenka dengan sebutan Mama.


“Aku juga akan memastikan wanita itu dipenjara, Mas.” Radit ikut manyahut.


“Ah, ya. Aku meninggalkan Ronal sendiri. Eh, Ridho maksudku,” ucap Darwis yang kemudian melangkah kembali menuju ruang perawatan, karena Ridho sudah dipindahkan ke ruangan itu.


Darwis menepuk tangan Laila untuk meminta izin pada wanita itu agar meninggalkannya lebih dulu. Ia ingin memastikan kondisi sahabatnya jauh lebih baik dari sebelumnya.


Laila pun mengangguk dan membiarkan calon suaminya untuk menjalankan tugas.


“Bu. Ibu tetap akan tetap menikah dengan Om Darwis, besok?” tanya Radit yang berjalan di depan Alex bersama sang Ibu.


Di belakang Radit dan Laila, Alex sibuk menelepon seseorang.


Laila mengangguk. “Tentu saja.”


“Radit kira, ibu masih mencintai ayah dan tidak jadi menikah dengan Om Darwis.”


“Apa?” tanya Laila yang baru saja mendengar Radit menyebut Ridho dengan panggilan ayah.


“Apa?” Radit malah balik bertanya.


“Tadi kamu menyebut ayahmu apa? Ayah?”


“Iya, Bu. Walau bagaimana pun, Tuan Ridho yang terhormat itu memang ayah Radit kan?” Radit menghela nafasnya kasar.


Sebenarnya Radit pun berat menyebut pria menyebalkan itu dengan sebutan ayah, tapi mau bagaimana lagi? Darah Ridho memang tetap mengalir dalam tubuhnya.


“Lagi pula, sebentar lagi Tuan Ridho sudah tidak terhormat,” kata Radit lagi dengan pandangan lurus ke jalan.


“Kenapa?” tanya Laila polos dan menatap putranya.


Radit ikut menoleh ke arah sang ibu. “Karena sebentar lagi, ayah akan dipenjara, Jadi tidak terhormat lagi dong?”


“Ya salam, Radit.” Laila hendak memukul kepala Radit dan langsung dihindari pemuda itu. “Kapan sih kamu serius?” tanya Laila kesal.

__ADS_1


“Mungkin kalau sudah mendapat istri, Bu.”


“Istri. Palamu! Masih kaya anak kecil begini aja mau punya istri. Mau dikasih makan apa istri dan anakmu nanti.”


“Cinta lah,” jawab Radit sekenanya.


“Enak saja. Cinta ga bikin kenyang.”


Anak dan ibu itu saling bersahutan dan membiarkan Alex dengan aktifitas yang tidak mereka mengerti di belakangnya itu.


Setelah ini, Radit bukan lagi orang biasa. Sebagai wujud Rasa bersalah dan tanggung jawab Ridho, pria itu berpikir untuk memberikan rumah sakit yang sudah ia perjuangkan bersama Darwis untuk sang putra. Walau rumah sakit itu memliki tiga pemegang saham, yaitu Lenka sebagai pemodal awal, dirinya yang merupakan pengelola dan suami dari pemilik modal, juga ada sepertiga saham Darwis yang kala itu membuat kesepakatan karena selama rumah sakit itu baru merintis, Darwis tidak diberi gaji.


Alex memilih menghentikan langkahnya dan melihat GPS sang istri. Pergerakan mobil yang dikendarai Rendi rupanya mengarah ke apartemen Tina. Sesuai perkiraan Alex. Sang istri pasti akan bermalam di apartemen salah satu teman sejawatnya itu.


“Pria itu pemilik K-Net corporate kan?” tanya Rendi pada Bilqis.


Mereka duduk bersebelahan di dalam mobil yang dikendarari pemiliknya.


Bilqis mengangguk. “Ya, dia teman baiknya bosmu.”


Bos besar Rendi yang Bilqis maksud adalah Ammar.


“Ya. Pantas saja aku tidak asing dengan wajah pria tadi,” jawab Rendi sembari tetap fokus menyetir. “Ah, tunggu!”


Rendi ingat sesuatu. Dia pun menoleh ke arah Bilqis. “Tadi kalau tidak salah dengar, Pria itu menyebutmu istriku. Kalian …?”


“Apa?” Rendi tidak percaya. “Jadi kamu sudah menikah? Ah, Qis. Kau selalu membuatku patah hati.”


Sontak, Bilqis yang semula menatap ke arah jalan pun menoleh ke arah Rendi. “Jangan bilang kau masih menyukaikum?”


“Tentu saja. apalagi melihatmu yang makin cantik.”


Bilqis tertawa tipis. “Hati – hati, Bung! Kau bisa mendapat bogeman dari suamiku.”


Rendi menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia cukup ingat ancaman dan aura menakutkan itu. “Sepertinya bukan hanya bogeman, tapi keluargaku juga terancam punah.”


“Apa dia mengancammu tadi?” tanya Bilqis yang langsung diangguki Rendi.


“Ya ampun.” Bilqis menepuk jidatnya. “Ya Tuhan, aku benar – benar terjebak olehnya. Aku tidak bisa ke mana – mana, Ren. Bagaimana ini?”


Rendi hanya etrtawa melihat ekspresi Bilqis yang merengek lucu.


“Nih.” Rendi malah memberikan tisu pada Bilqis.


“Aku belum mau menangis.”


Rendi pun nyengir. “Aku kira, kamu ingin menangis karena meratapi nasib.”

__ADS_1


“Si*l.” Bilqis memukul lengan atas Rendi.


Lalu, tiba – tiba ponselnya pun berbunyi


Tring


“Jangan memegang pria lain selain suamimu!”


Bilqis membaca pesan yang datang dari suaminya. keningnya mengernyit. “Apa ada cctv di dalam mobilmu?” tanya Bilqis sembari mengedarkan pandangan ke segala penjuru yang ada di dalam mobil itu disertai dengan tangan Bilqis yang meraba bagian interior itu.


“Tidak ada.” Rendi menggeleng.


“Pasti ada,” jawab Bilqis yang masih meraba bagain bawah interior dan bagian atas interior mobil itu.


“Dia pasti meletakkannya di bawah sini atau di atas. Tapi kapan dia meletakkan benda yang membuatku tidak bisa bergerak itu?"


Bilqis berkata dengan suara pelan yang lebih terdengar seperti gumaman. Rendi pun bingung dengan sikap teman sekolahnya itu.


“Kamu kenapa sih, Qis? Ngapain sih?” tanya Rendi ketika melihat Bilqis yang sedari tadi sibuk mencari sesuatu yang tidak ia tahu.


“Ah, si*l.” Bilqis menyandarkan kasar tubuhnya ke punggung kursi yang ia duduki. Ia frustrasi karena tidak mendapatkan benda yang diinginkan.


Tring


Alex kembali mengirim pesan pada sang istri dan langsung dibuka Bilqis.


“Kamu tidak akan menemukan benda itu, karena kecerdikanku di atas rata – rata.”


“Cih!” Bilqis pun berecih kesal.


Walau sudah menjadi suami, tapi sepertinya predikat killer tetap melekat pada diri Alex menurut Bilqis.


“Dasar bos killer, edan.”


“Siapa yang edan?” tanya Rendi saat mendengar umpatan wanita di sampingnya yang duduk bersandar dan terlihat lelah.


“Ah.” Bilqis menoleh ke arah Rendi.


“Pria itu,” jawab Bilqis.


“Suami mu?” tanya Rendi yang langsung diangguki Bilqis.


Rendi malah tertawa. “Itu karma mu karena telah menolakku dulu.”


Week


Bilqis pun mengernyitkan dahi.

__ADS_1


“Percaya diri sekali pria ini,” gumamnya dalam hati.


__ADS_2