Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Bonchap 1 - dua ibu hamil


__ADS_3

“Ibu, ini mangga Bilqis.”


“Minta sedikit.”


“ih, Ibu dari tadi udah makan banyak.”


“Masih kurang, Qis.”


Mengunjungi rumah Laila setelah mengantar Aurel ke sekolah menjadi aktifitas keseharian Bilqis paska berhenti dari pekerjaannya. Apalagi saat ini sang ibu juga tengah mengandung. Bilqis merasa ada teman senasib seperjuangan. Nasib ketika tidak enak merasakan mual, seperjuangan ketika harus menelan obat yang diberikan dokter. Bagi mereka obat adalah musuh terbesar.


“Berisiiiik,” teriak Radit dan langsung keluar dari kamarnya sembari memegang pipi. “Berisik banget, sih. Ga tahu apa kalau ada orang sakit.”


Hari ini, Radit memang izin tidak ke kantor karena sedang sakit gigi. Ia berniat ingin istirahat sehari di rumah, tapi bukan mendapatkan ketenangan selama libur, malah kebisingan akibat ulah dua ibu hamil itu.


Laila ketawa. “Itu udah ibu beli obat anti nyeri. Diminum supaya ga sakit lagi.”


Kemudian, Radit ikut duduk di antara kakak dan ibunya.


“Lebih baik sakit hati apa sakit gigi, Dit?” tana Bilqis meledek.


“Ck. Au ah.” Radit melengos.


Bilqis tertawa. “Apa perlu aku telepon Maya buat anter kamu ke dokter gigi?”


“Emang bisa? Hari ini dia kan ada ujian pagi.”


Sontak Bilqis menganga, karena ternyata sang adik mengetahui jadwal pengasuh putri sambungnya itu. semalam Maya memang meminta izin libur untuk hari ini karena ada Quiz mendadak yang diadakan bersama kelas pagi karena dosennya sedang tidak bisa mengajar malam.


“Kok kamu tahu?” tanya Bilqis. Laila pun ikut menatap putranya seolah menanyakan hal yang sama.


“Tau lah.”


“Dari mana?” tanya Blqis lagi.


“Ya dari orangnya. Kan aku punya nomor Maya, Mba.”


“Jadi kamu dan Maya beneran jadian?” Bilqis menatap adiknya. Laila pun demikian walau ia belum membuka suara.


“Belum. Tapi, akan.”


“Aaaa …” Bilqis teriak tepat di telinga Laila.


“Berisik.” Laila mendorong pipi putrinya dan Bilqis tertawa.


“Pantes ya kamu sering pulang malam, jangan – jangan sering jalan sama Maya ya?” Kini Laila yang bertanya.


“Cuma jemput dia di kampus doang.”


“Abis itu jalan terus mojok di taman atau bioskop. Ngaku?” Bilqis langung menuduh adiknya.


“Enak aja. Ngga,” sanggah Radit.


“Ngga salah lagi.” Bilqis terus meledek.


“Mba, jangan jadi kompor deh!”


Benar saja, Laila tampak marah. “Kamu tuh ya, kalau anak orang hamil gimana?”


“Dih, emangRadit ngapain Maya?” tanya Radit bingung menanggapi kedua wanita di depannya ini.


“Nah, itu pulang malem ngapain? Kemarin malah kamu pulang jam dua malem. Jangan – jangan kamu sama Maya habis …?” laila kembali mencurigai putranya.


“Ngga. Kalau itu emang lembur, Bu. Ahh …” Radit meringis saat nyeri di giginya kembali datang.


“Walau pun telinga dan mata Radit udah terkontaminasi, tapi Radit tahu mana yang boleh dan tidak. jadi ga usah khawatir.”

__ADS_1


“Memang mata dan telinga kamu terkontaminasi kenapa?” tanya Bilqis.


“Sering menderngar Mba Qis dan Ibu bercinta lah.”


Sontak Bilqis dan Laila menganga. Mereka masih menganga saat Radit sudah pergi.


“Ibu kalau lagi begituan jangan berisik!” ucap Bilqis.


“Kamu kaya ga berisik aja,” sanggah Laila.


Laila kembali menyambar mangga yang baru saja Bilqis kupas hingga bersih.


“Ibu …” teriak Bilqis yang tidak terima mangganya dimakan lagi oleh sang ibu.


“Yang ini buat Ibu.”


“Ibu …” teriak Bilqis lagi.


“Berisiiiik.” Radit ikut berteriak.


Rumah itu serasa hutan. Bertiga serasa ratusan orang. Untung saja tidak ada Alex dan Darwis, jika mereka ada di sini, entah ekpresi seperti apa yang akan mereka ungkapkan melihat keluarga ini.


Bosan di rumah, Bilqis meminta Anto untuk menjemput dan mengantarnya ke kantor. Ia ingin mengajak sang suami makan siang di luar sambil menjemput Aurel bersama, karena Bilqis tahu bahwa hari ini Alex sedang tidak ada jadwal keluar kantor.


“Sayang.” Bilqis langsung membuka pintu ruangan itu dan melihat Alex sedang kedatangan tamu. “Ups, maaf mngganggu.”


Tamu itu adalah Adel. Masih ingat partner kerja Alex yang pernah bertemu dengan Bilqis saat di restoran? Hari ini, Adel datang untuk mengajak bekerjasama kembali. Dan secara tidak sengaja, Bilqis membuka pintu tepat di saat Adel tengah melancarkan aksinya untuk mneggoda Alex dengan cara pura – pura membersihkan noda yang ada di jas Alex.


Bilqis hendak menutup kembali pintu ruangan itu. Namun, Alex segera menghampiri istri dan memegang lengannya. “Sayang, kamu mau ke mana?”


“Aku ga tahu kalau kamu lagi ada tamu. Aku tunggu di luar aja.”


“Eh, jangan! Tunggu di sini aja. Ayo masuk!”


Tingkat sensitifitas Bilqis kembali kambuh. Padahal ia yakin bahwa suaminya tidak melakukan apa – apa.


“Hei, Jangan! Tunggu di sini saja.” Alex tetap menahan lengan istrinya. “Lagian aku dan Adel sudah selesai. Bukan begitu, Del.”


Adel berdiri sembari menarik nafasnya kasar. Raut wajahnya ditekuk, karena baru saja ia ingin menggoda Alex, ternyata istrinya datang.


“Lex, aku menunggu jawabanmu untuk kerjasama kita,” ujar Adel.


“Akan aku pertimbangkan.”


Mereka berbincang dihadapan Bilqis yang masih berdiri di dekat pintu.


“Baiklah, aku tunggu. Jangan lupa mengabariku secepatnya.”


Alex mengangguk.


Adel pun langsung pergi melewati Bilqis dengan berjalan bak seorang model yang sedang berjalan di catwalk. Ia tidak menyalami Bilqis, hanya menatap wanita itu penuh benci.


Bilqis melepaskan tangan Alex yang masih berada di tangannya. Ia ingin pergi dari ruangan ini. namun, Alex tetap menahan lengan itu.


“Hei, mau ke mana?”


“Pulang,” jawab Bilqis cemberut.


“Loh, bukannya kita mau makan siang bareng ya? Mau jemput Aurel bareng juga kan?”


“Ngga jadi. Udah basi.” Bilqis kembali menjawab dengan ketus.


Alex menutup pintu dan menuntun sang istri untuk memasuki ruangannya. “Apanya yang basi? Punyaku ga pernah basi. Seger terus kok.”


Bilqis mengernyitkan dahi. “Apaan sih? Orang ngomong ke mana, jawabnya ke mana.”

__ADS_1


Alex tertawa. “Kamu juga gitu. Aku ngomong apa, kenapa jawabnya basi.”


Alex ikut duduk di samping Bilqis saat wanita itu duduk. Bahkan tubuhnya sengaja menempel pada sang istri. Namun, Bilqis mendorong Alex.


“Ih, sana an.”


“Kenapa sih?” tanya Alex.


“Ada bau Bu Adel di jas kamu.”


Alex langsung mengendus jasnya. “Oke, kalau gitu aku buka jasnya ya.”


Alex kembali ingin mendekap sang istri. Namun, Bilqsi kembali menepis.


“Sana.”


Alex tertawa. Ia justru semakn ingin menerkam Bilqis. Alex menarik Bilqis dan menciumnya.


“Mas, sana.” Bilqis menolak dan berusaha menjauh.


“Cemburu kamu tuh lucu tau ngga. Bikinorang gemes aja.” Alex tetap menarik Bilqis lagi dan mencium leher serta pipinya.


“Mas … kenapa sih harus kerjasama lagi sama dia?”


“Siapa yang kerjasama sama dia? Kita belum deal.”


“Tapi jawaban kamu itu memberi harapan.”


“Harapan apa?” tanya Alex.


“Dia pasti akan nunggu telepon dari kamu.”


“Ya, kalau kerjasama kita menguntungkan kenapa ngga?” Alex mengangkat bahunya.


“Mas. Awas ya kalau kamu kerjasama sama dia.”


“Kenapa? Cemburu ya?” tanya Alex tertawa. “Mas suka liat kamu cemburu.”


“Mas, aku serius.”


“Aku dua rius.”


“Mas,” panggil Bilqis manja.


“Iya, Sayang.”


“Aku serius loh, Mas. Kalau kamu kerjasama sama dia. Jatah kamu akan aku kurangi.”


“Wow wow … aturan dari mana itu?”


“Dari aku lah,” jawab Bilqis merasa menang.


Alex mengungkung Bilqis dan menatap wajah itu tepat di depannya. Ia mengikis jarak. “Baiklah, kamu menang.”


Bilqis tersenyum.


Dahulu, Alex memang selalu menang. Tapi sekarang tidak lagi. Kini, pria itu selalu mengalah dan memberikan apa yang Bilqis inginkan. Karena bagi Alex tidak ada yang lebih berarti dari Bilqis. Wanita cantik, pintar, dan menggemaskan itu rela menghabiskan sisa hidupnya dengan pria beranak satu sepertinya. Bahkan saat ini, Bilqis juga rela menahan rasa tidak enak saat mual, serta saat melahirkan nanti akibat ulahnya. Tidak ada yang lebih besar dari perjuangan seorang istri. Walau dedikasinya bukan sebagai pencari nafkah, tapi mengandung, melahirkan, melayaninya di ranjang, serta menjaga rumah untuk tetap terlihat indah adalah dedikasi yang jauh lebih besar dari pencari nafkah. Semoga pria diluaran sana berpikir yang sama seperti Alex dan dapat menghargai istrinya.


“Tapi satu syarat.” Alex mengangkat telunjukanya ke atas.


“Apa?”


“Mas mau tengok dede bayinya. Hm!” Alex menaik turunkn alisnya.


“Mas,” rengek Bilqis lemas.

__ADS_1


__ADS_2