
Alex membuka email dari Zavier, setelah Bilqis pergi untuk menjemput putrinya di sekolah.
Usai bercinta di kantor dan makan siang bersama, Bilqis membersihkan diri di kamar mandi yang ada di dalam ruangan Alex dan Alex juga meminta Bima untuk membelikan satu stel pakaian ganti untuk istrinya.
Bilqis menganga melihat kemudahan yang ia dapat. Ternyata seperti rasanya menjadi istri CEO. Tidak pernah terbayangkan olehnya sedetik pun.
Perlahan, Alex menscrol barisan dokumen yang Zavier kirim. Di sana terlihat tanggal kecelakaan dan rekam medis seseorang bernama Ridho.
"Jadi, ayah Bilqis amnesia?" gumam Alex.
Di dalam rekam medis itu menyatakan riwayat terakhir penyakit yang di alami Ridho hingga tertera tanda tanga persetujuan dari keluarga pasien saat pasien dibawa pulang.
"Mama Lenka?"
Alex daoat melihat tanda tangan dan nama yang tertera di sana. Entah bagaimana Zavier mendapat rekam medis yang sudah dua luluh satu tahun itu atau saat Radit baru berusia dua tahun dan Bilqis enam tahun.
Alex kembali membuka dokumen lain, yaitu paspor dan identitas Ronal yang dibuat satu minggu setelah kepulangan Ridho dari rumah sakit paska kecelakaan itu.
"Jadi Mama Lenka yang melakukan semua ini?" tanya Alex tak percaya. Sungguh, ia tidak percaya. Pasalnya setahu Alex, Lenka adalah ibu mertua yang baik.
Alex langsung mengambil ponselnya dan mendial nomor Zavier.
Tut ... Tut ... Tut ...
Sambungan telepon Alex, belum juga diangkat oleh Zavier.
"Zav. Come on! Angkat teleponku," gumam Alex kesal. Pasalnya ia sudah mendial nomor itu hingga tiga kali.
Alex mencoba lagi.
Tut ... Tut ... Tut ...
"Halo."
"Ck, berasa orang penting."
Zavier tertawa. "Ternyata enak ya jadi orang penting."
"Si*l."
Zavier kembali tertawa. "By the way, ada apa meneleponku?"
"Tidak perlu di tanya, pasti kau tahu," jawab Alex kesal.
"Ya ... Ya ... Ya ... Aku tahu."
"Jadi Bilqis dan Tasya kembar?" tanya Alex to the poin pada sahabatnya.
__ADS_1
"Aku belum bisa memastikan itu. Tapi berdasarkan penelusuranku ke bank data milik Aunty Lenka. Tasya lahir bulan Oktober. Seharusnya jika kembar, almarhumah istrimu harusnya lahir di bulan yang sama seperti bulan lahir istrimu sekarang."
"Apa Mama Lenka memanipulasi identitas Tasya dan Papa Ronal."
"Ya. Menurutku begitu."
"Untuk apa?" tanya Alex bingung.
"Untuk memiliki orang yang dia sayangi tentunya, karena ternyata Aunty Lenka adalah istri kedua."
Alex pun terdiam. Teka Teki ini pun semakin terjawab. Alex memang penasaran dengan keluarga Bilqis, sejak Laila menceritakan tentang trauma istrinya tentang laki - laki hingga mengikrarkan diri untuk tidak terlibat dengan lawan jenis dan percintaan.
"Baiklah. Telusuri lagi dan kabari aku jika ada ibfi terbaru," ucap Alex.
"Kau enak mengatakan itu. Tidak mudah untuk meretas data aunty Lenka, system nya ketat."
Alex tetawa. "Itu deritamu."
"Si*l. Kau yang punya masalah, aku yang repot."
Alex kembali tertawa hingga sambungan telepon itu ia putuskan.
Alex kembali merenung. Ia berjanji akan menguak tabir ini, lalu menceritakannha pada istrinya. Namun, ia kembali berpikir, jika bercerita pada Bilqis tentang siapa Ronal, itu artinya ia pun harus menceritakan awal mula ketertarikannya pada wanita itu. Dan, ketertarikan itu bermula dari wajahnya yang yang mirip dengan mendiang sang istri. Apa Bilqis akan menerima itu?
"Ah, tidak." Alex menggeleng. Ia seperti buah simalakama. Mundur kena, maju kena.
Di Singaoura, Lenka menerima telepon dari seseorang.
"Bos, ada yang meretas bank data."
"Bodoh. Bagaimana bisa? Cari tahu akun itu."
"Sudah saya cari, tapi nihil."
Zavier cukup cerdik. Akun bayangannya mampu menghilang, setelah merampas beberapa data milik Lenka.
"Perketat system. Jika ada akun mencurigakan, segera hubungi aku."
"Baik, Bos."
Lenka menutup langsung sambungan telepon itu.
Pikirannya menerawang ke dua puluh delapan tahun lalu. Saat iti, ia benar - benaf terpukul mendapatkan informasi dari seorang teman bahwa Ridho telah menikah.
Memang, Lenka sendiri yang memutuskan hubungannya dengan Ridho. Semula, ia hanya menggertak pria itu agar segera kembali ke Jakarta dan minta ditugaskan ke kota itu. Tapi Ridho lebih cinta dengan kota kecil tempatnya mencari pengalaman sebagai dokter muda.
Lenka sangat mencintai Ridho. Saat kuliah, mereka adalah pasangan kekasih yang membuat banyak orang iri. Ridho yang bucin menjadikan Lenka bak ratunya. Apalagi Lenka juga terlahir dari darah biru yang cukup kaya raya. Lenka tidak pernah tidak bisa memiliki apa yang ia inginkan.
__ADS_1
Ridho pun terpesona dengan kecantikan Lenka. Siapa yang tidak terpesona dengan wanita cantik, kaya, dan juga pintar. Lenka memiliki segalanya. Namun saat mengetahui bahwa Ridho menikah, dunianya pun runtuh. Ia sempat terpuruk karena itu. Ia sempat menghubungi Ridho kembali dan meminta pria itu untuk kembali. Tapi Ridho menolak hingga mereka dipertemukan oleh keadaan yang tidan mengenakkan.
Ketika itu, Ridho sedang mengemudikan mobilnya dengan cepat. Tanpa sengaja, mobil second yang Ridho beli untuk memudahkan membawa Laila yang sedang hamil besar itu pun oleng.
#Flashback On
Ridho memang tidak membeli mobil baru. Ia membeli mobil bekas yang menurutnya masih bagus dengan dana terjangkau.
"Aaa ...." teriak Ridho saat mobilnya tak terkendali dan tak tahu penyebabnya.
Dugh
Kepala Ridho terbentur setir. Mobilnya pun berhenti setelah ia berusaha menekan rem.
"Keluar ... Keluar ..." teriak orang - orang di luar sembari mengetuk jendela mobilnya.
Dada Ridho bergemuruh. Ia khawatir kelakuannya telah merenggut nyawa seseorang karena saat melaju di dua arah, bukan hanya ada mobilnya saja tapi mobil arah lawannya.
Ridho pun keluar dari mobil.
"Baoak harus tanggung jawab, Ibu di dalam mobil itu luka parah."
"Ya, ya. Tenang. Saya akan tanggung jawab. Saya dokter, saya akan periksa korban, sebelum ambulans datang."
Warag yang semula ingin menghakimi Ridho pu mengundurkan diri. Ridho berjalan menghampiri mobil yang tampak kerusakannya lebih parah dari mobilnya.
"Lenka." Ridho terkejut saat mendapati si pengemudi mobil sedan itu. Ia tidak menyangka bahwa akibat mobilnya yang oleng, mengorbankan orang lain. Bahkan korban itu adalah orang yang dulu pernah mengisi hatinya.
"Lenka bertahanlah!"
Ridho menekan nadi wanita itu yang masih berdenyut. Ia mencoba memberi Lenka pertolongan pertama hingga ambulans datang
Ridho membawa Lenka ke rumah sakit tempatnya bertugas. Di sana, Lenka langsung mendapat perawatan.
"Maafkan aku, Len. Bertahanlaj, ku mohon!" Ridho terus menyemangati wanita itu dengan terus menggenggam tangannya hingga tubuhnya masuk ke dalam ruang instalasi gawat darurat.
"Ben, bagaimana kondisinya?" tanya Ridho pada teman sejawatnya yang saat itu sedang bertugas menjadi dokter jaga.
Ben menggeleng. Raut wajahnya yang ditampilkan Ben dapat Ridho baca.
"Dia masih hidup kan? Tadi aku sudah melakukan pertolongan pertama sebisa ku."
"Ya, dia masih hidup tapi sepertinya terjadi benturan hebat di rahimnya. Karena pendarahan tidak berhenti."
"Lalu?" tanya Ridho cemas.
"Alternatif terakhir hanya pengangkatan rahim."
__ADS_1
Ridho terkejut. Ia pun semakin takut. Rasa bersalah pada Lenka kian akut. Pertama, ia sudah memgingkari janjinya dengan menikahi wanita lain. Kedua, ia telah menjadikan Lenka wanita cacat karena tidak bisa mengandung dan melahirkan.