Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Deal


__ADS_3

“Sir, anda serius menyetujui semua isi perjanjian yang saya ajukan?” tanya Bilqis dan Alex pun menggangguk.


“Anda tidak ingin menambah poin lagi? Sir hanya mengajukan satu poin loh.”


Alex tersenyum. “Tidak, untukku satu poin saja cukup,” ujarnya.


Bilqis pun tersenyum dan berkata lagi, “Sir …”


“Bilqis, boleh kamu memanggilku tidak dengan sebutan Sir atau anda?” Alex menatap ke kedua bola mata Bilqis.


Mata Bilqis pun mengerjap. Alex memang selalu berhasil membuat wanita itu gugup. “Maksudnya? Saya idak mengerti”


“Jika kita sedang berdua.” Alex menunjuk dirinya dan Bilqis. “Panggil aku Alex saja.”


Bilqis menggeleng. “Memanggil Sir Alex dengan nama saja? Rasanya itu tidak sopan. Pertama, Usia Sir Alex lebih tua dari saya. Kedua, Sir juga sudah pernah menikah. Menurut saya, setiap orang yang berani mengambil keputusan untuk menikah artinya dia sudah dewasa.”


Alex memperhatikan Bilqis. Sepertinya wanita dihadapannya ini benar-benar trauma akan sebuah pernikahan. Dan, Alex semakin bersikeras untuk menjadikan wanita itu istrinya dan merubah cara berpikir Bilqis, bahwa tidak semua pernikahan itu buruk. Alex berjanji dalam hati untuk membahagiakan Bilqis dan memberi sebuah pernikahan impian untuk wanita itu.


Ceklek


Pintu ruangan Alex terbuka dan menampilkan sosok sang asisten.


“Sir memanggil saya?” tanya Bimo yang langsung diangguki Alex.


“Ya, saya membutuhkanmu.” Alex meminta Bimo untuk duduk di samping Bilqis.


Bimo melihat ke arah Bilqis dan bosnya bergantian. Ia bingung, untuk apa dirinya diminta datang ke ruangan ini, mengingat antara ia dan si bos sedang tidak ada urusan pekerjaan.


“Begini Bimo, saya dan Bilqis akan menikah.” Perkataan Alex, sontak mmebuat Bimo terkejut

__ADS_1


“What?” tanya Bimo dengan wajah yang syok.


“Pak Bimo kaget kan? Saya juga,” ucap Bilqis.


Bimo mengernyitkan dahi, sedangkan Alex malah tersenyum.


“Jangan tanya kenapa ini terjadi, Bim!” sambung Alex. “Yang jelas, kami akan menikah dalam waktu dekat. Dan Bilqis meminta perjanjian pra nikah.”


Alex menyerahkan selembar kertas pada Bimo. Bimo pun langsung menerima kertas itu dan membacanya.


“Jadi, pernikahan Sir dirahasiakan? Tidak ada perayaan?” tanya Bimo.


Alex menggeleng. “Bilqis sendiri yang meminta seperti itu. Da juga tidak ingin orang-orang di sini mengetahui status kami. Jadi yang hanya tahu status kami, hanya kamu.”


“Tapi mengapa? Bukankah setiap wanita akan sangat senang bisa dipinang oleh Sir Alex?” tanya Bimo tak mengerti, mengingat banyak wanita yang mengejar Alex dan ingin menjadi istrinya, tapi Bilqis malah ingin merahasiakan status mereka.


“Tanya saja pada Bilqis,” jawab Aex dengan menatap ke arah wanita yang sedang duduk menegang.


Bilqis melihat ke arah Alex dan Bimo bergantian. “Tidak ada alasan,” jawabnya. “Saya hanya tidak ingin ada kehebohan di kantor ini.”


Alex pun tersenyum. ia semakin tertarik pada gadis unik ini. Ya, benar apa yang dikatakan Bimo. Disaat semua wanita mengejarnya dan ingin menjadi istrinya, justru Bilqis malah menolak dengan sejuta alasan dan menerima dengan syarat.


“Nah, di sini saya meminta kamu untuk menjadi saksi.” Alex kembali berucap dengan menjelaskan tujuannya memanggil sang asisten itu.


Bimo pun mengangguk dan mengerti.


“Kau sudah siapkan materai yang saya minta?” tanya Alex pada Bimo.


“Sudah, Sir.” Bimo menyerahkan benda yang diminta Alex.

__ADS_1


“Baik, kalau begitu bubuhkan benda ini di ini dan kami akan tanda tangan di atasnya. Kamu juga bubuhkan tanda tangan di bawah kami,” ucap Alex selanjutnya.


Bilqis mengikuti perintah Alex. Setelah Bimo menempelkan materai pada sisi kanan dan kiri di tulisan itu, lalu Alex menandatangani sesuai di nama yang tertera. Alex menyerahkan kertas itu pada Bilqis dan Bilqis pun hendak membubuhkan tanda tangannya di sana. namun sebelum itu, Bilqis menoleh ke arah Alex yang sedang tersenyum. Hati Bilqis seolah mempertanyakan senyuman itu, karena jika menurut ahli pakar ekspresi, saat ini ekspresi Alex memang tak bisa diartikan, entah itu senyum karena sebuah rasa senang, bahagia, atau pencapaian sesuatu karena target sudah berada dalam genggaman.


Namun menurut Alex, ia memang tengah merasakan kesemua itu.


Kemudian, tinggal lah Bimo sebagai orang terakhir yang menandatangai perjanjian itu.


“Deal.” Alex mengulurkan tangannya pada Bilqis.


Sesaat Bilqis belum menerima uluran tangan itu. Ia masih terdiam dan menelaah apakah apa yang dilakukannya salah atau tidak.


“Ayo kita jabat tangan! Itu artinya perjanjian ini akan terlaksana,” ucap Alex.


“Tapi perjanjian ini berlaku setelah kita menikah kan?” tanya Bilqis ambigu. Sepertinya ia tidak rela jika perjanjian ini mulai berlaku hari ini.


“Tentu saja perjanjian ini berlaku setelah menikah. Memang kenapa? Apa kau keberatan? Atau kau menyesal telah membuat perjanjian ini?” tanya Alex meledek.


“Tidak.” Bilqis menggeleng. “Saya tidak menyesal sama sekali.”


“Oke. Good kalau begitu,” sahut Alex dengan cuek.


Setelah kesepakatan perjanjian pra nikah selesai, Bilqis dn Bimi pun hendak pamit keluar dari ruangan itu. Alex mengangguk untuk mempersilahkan kedua stafnya kembali bekerja.


“Bilqis,” panggil Alex.


Bilqis langsung menoleh. “Ya.”


“Nanti malam, aku ingin kamu menemaniku untuk bertemu Mr. Ammar.”

__ADS_1


Bilqis mengangguk. “Ya, Sir.”


Nanti malam, Alex memang diundang untuk makan malam bersama dengan Ammar dan istrinya. Hal ini dilakukan Ammar karena jasa yang ditawarkan Alex membuahkan pundi-pundi uang yang diluar dugaan.


__ADS_2