Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Bertemu Ridho


__ADS_3

"Ibu jadi ke Malang?" tanya Bilqis pada Laila.


Sebelum tidur, keluarga kecil Laila tanpa suaminya itu selalu berkumpul di ruang keluarga. Biasanya mereka akan lama di ruangan ini sambil menonton televisi, entah itu siaran sinetron atau premium movie yang disuguhkan salah satu siaran itu.


"Iya, jadi. Radit sudah dapat tiket untuk lusa," jawab Laila.


"Hari biasa?" tanya Bilqis lagi.


"Itu udah tiket paling murah, Mbak," sahut Radit yang sedang menonton premium movie. "Kalau hari sabtu minggu, harga tiketnya naik tiga kali lipat. Sayang uangnya. Lagian Radit juga udah belum ada aktifitas."


Bilqis mengangguk setuju.


"Tapi Ibu jangan lama-lama di sana!" Bilqis kembali menginterupsi.


"Ngga kok, Qis. Ibu sama adikmu cuma semalam saja. Besoknya langsung pulang," jawab Laila.


"Kenapa? Takut ya?" Radit menakuti kakaknya yang memang penakut. "Ati-ati kalo lagi sendiri, Mbak. Kemarin waktu Radit nonton bola, Raditkan bikin kopi terus ..."


Bleb


Laila langsung membungkam mulut adiknya.


"Terus kenapa, Dit?" tanya Bilqis penasaran.


"Jangan di dengar perkataan adikmu!"


Laila membulatkan matanya ke arah Radit untuk tidak menceritakan yang aneh-aneh karena di rumah ini memang tidak ada yang aneh. Hanya saja Radit memamg sering menggoda kakaknya.


"Tapi Bilqis penasaran. Terus kenapa, Dit?"


"Ah, jangan deh! Nanti Mbak Qis takut." Radit nyengir sembari melihat ke arah sang ibu. Walau wajah Laila lembut dan jarang marah tapi Radit tetap sungkan pada sang ibu.


"Ih, ayo dong Dit! Lanjutin ceritanya," rayu Bilqis.


"Mending ga usah tahu kalau kamu takut," ucap Laila.


"Ya bener tuh kata Ibu. Sama seperti kalau kita suka sama orang. Mending ga usah tahu isi hatinya dia, daripada tahu kalau dia ga cinta sama kita, malah sakit hati."


"Curhat kamu, Dit?" tanya Bilqis meledek.


"Bukan, cuma ngedumel." Jawaban Radit sontak membuat Bilqis dan Laila tertawa.


Begitulah keseharian keluarga Bilqis. Walau hiduo mereka penuh luka dan harus dengan perjuangan untuk meraih sesuatu, tapi mereka tetap bahagia dan saling mendukung.


****


"Ibu, ayo! Katanya mau ke supermarket. Ayo Radit temani."


Laila mengangguk. Sebelum pergi, ia akan mengisi bahan makanan dulu di lemari es, agar saat ditinggal, Bilqis bisa memasak sendiri makanan yang dia mau atau paling tidak sediakan mie instan dan telur. Makanan cepat dan mudah, mengingat Bilqis paling malas memasak padahal masakannya juga bisa dibilang enak.

__ADS_1


"Ayo." Laila tampak rapi mengenakan gamis hitam dan kerudung instan coklat muda.


"Beli camilan juga buat di pesawat dan di hotel ya, Bu."


Laila mengangguk. "Iya."


Setelah ke rumah keluarga ayah Bilqis dan Radit atau mantan suami Laila. Mereka akan bermalam di hotel. Semua akomodasi sudah Radit siapkan melalui aplikasi dan mencari harga seminim mungkin dengan fasilitas lumayan bagus.


Radit membawa sang Ibu menggunakan motor. Saat kesusahan membuka helm, pria itu membukakannya. Radit memang pria yang sayang keluarga, apalagi pada Ibunya. Ia tahu betul perjuangan Laila membesarkan dirinya dan sang kakak. Oleh karena itu, Radit sangat menyayangi sang Ibu.


Tak lama kemudian, Laila dan Radit memasuki supermarket. Radit mendorong troli kosong yang perlahan menjadi terisi penuh karena sang Ibu meletakkan barang-barang yang diperlukan di dalamnya.


"Bu, Radit ke tempat parfum cowok ya. Parfum Radit habis."


Laila mengangguk. Wanita paruh baya itu ditinggalkan di tempat makanan segar, di sana Laila sedang memilih daging giling untuk Bilqis karena katanya saat libur, putrinya ingin membuat spagethy.


Lalu, Laila beralih ke tempat minuman. Ia mencari susu segar.


"Sayang, kamu mau ini?" Sebuah suara yang tak asing terdengar di telinga Laila.


Laila pun mencari suara itu.


"Sayang, Jangan lupa beli vitamin C!"


Suara itu kembali terdengar. Jantung Laila berdegup kencang. Lebih dari dua puluh dua tahun ia tak mendengar suara itu.


Laila mencari suara itu, dan ...


"Mas Ridho?"


Laila menutup mulutnya karena tak percaya dengan yang dilihat. Ia melihat mantan suaminya bersama wanita itu. Ya, wanita yang dipilih suaminya hingga meninggalkan ia dan kedua anaknya.


Laila mencoba mendekati pria yang tidak sedang melihatnya itu. Wanita yang berada disamping pria yang Laila kenal itu tengah menariknya agar keluar dari supermarket ini.


"Mas Ridho ..." Laila memanggil sang mantan suami, tapi Ridho sudah pergi.


Laila tidak ingin kehilangan jejak ayah dari kedua anaknya itu, mengingat dirinya memang sedang mencari keberadaan pria itu. Jika di sini, Laila bisa menemukan Ridho, untuk apa jauh-jauh ke Malang? Pikirnya.


"Mas Ridho." Laila berusaha mengejar.


Suara teriakan Laila, lantas membuat Radit menoleb dan mengejar sang Ibu.


"Mas Ridho." Laila berlari hingga sampai di parkiran.


Radit pun segera meninggalkan belanjaannya dan mengejar sang Ibu.


"Ibu ... Ibu kenapa sih?" tanya Radit dengan nafas tersengal menghampiri ibunya.


"Dit, cepat kejar ayahmu!" pinta Laila sembari menepuk cepat bahu Radit berulang kali.

__ADS_1


"Kejar ke mana? Dan siapa?" tanya Radit bingung. Pasalnya tidak ada orang diparkiran itu.


Radit mengikuti arah mata sang Ibu tertuju pada sebuah mobil yang sudah keluar dari area gedung ini.


"Itu ayahmu, Dit." Laila mengulang ucapannya.


"Ibu mungkin salah lihat." Radit masih tifak percaya karena jika.memang yang dilihat sang Ibu adalah ayahnya, harusnya dia mengenali Laila.


"Pria yang bersama wanita di tempat minuman?" tanya Radit.


"Iya benar." Laila mengangguk. "Kau melihatnya, Dit?"


"Sekilas," jawab Radit.


Radit tidak tahu persis wajah ayahnya karena saat ditinggal, ia belum baru genap berusia dua tahun. Dan setelah sang ayah pergi, Laila tidak pernah memperkenalkan wajah Ridho padanya. Radit pun sudah lupa wajah ayahnya itu.


"Sudahlah, Bu. Mungkin ibu salah lihat. Karena jika memang dia itu Bapak Ridho yang terhormat, dia akan menoleh saat ibu memanggilnya. Tapi Radit libat, bapak itu biasa saja saat ibu berteriak memanggil."


Laila terdiam. Benar apa yang dikatakan Radit. Apa Ridho benar-benar sudah melupakannya? Melupakan anak-anaknya? Jika dirinya yang dilupakan, tidak mengapa, pikir Laila. Tapi tidak dengan melupakan darah dagingnya, karena ada tanggung jawab Ridho yang harus menikahkan anak gadisnya.


Keesokan harinya, Bilqis meminta izin pada Alex untuk datang terlambat ke kantor, karena ia harus mengantar Ibu dan Adiknya ke bandara. Bilqis juga bercerita pada Alex bahwa di sana, Ibunya tengah melakukan sesuatu untuk persiapan pernikahan mereka.


Tentu saja, Alex langsung memberi izin.


"Qis, hati-hati ya di rumah. Matikan semua lampu kalau mau tidur." Laila memberi wejangan pada putrinya yang ceroboh itu.


"Iya, Bu. Paling selama Ibu pergi, aku menginap di apartemen temanku aja," jawab Bilqis yang takut tinggal di rumah sendirian. Ia berencana untuk menginap di apartemen Tina atau Saskia. Itu pun jika keduanya tidak sedang berkencan dengan bos mereka.


"Jangan! Ngapai sih tinggal di rumah orang. Rumah kita juga ga ada apa-apa kok. Kamu tuh dibohongi adikmu."


"Itu bukan hoax, Mbak. Jadi pas aku selesai membuat kopi dan kembali ke ruang tivi, aku dengar di dapur seperti ada orang yang sedang mengaduk kopi. Sama seperti yang aku lakukan sebelumnya."


"Radit." Bilqis menjerit memanggil nama sang adik sembari memukul bahu itu berulang dan mencubitnya.


"Aww ... Sakit, Mbak. Ah." Radit mengelus bahunya yang kesakitan tapi bibirnya tetap tertawa.


"Kalian itu, dimana-mana berantem. Kalau ga berantem rasanya ada yang kurang ya," celetuk Laila untuk melerai kedua anaknya.


Radit masih tertawa, sedangkan Bilqis cemberut.


"Ya sudah, Ibu berangkag dulu ya. Hati-hati di rumah!" Laila melambaikan tangan, setelah Bilqis mencium punggung tangan itu.


"Dah, Mbak. Oh ya, minta Sir Alex buat temani.Mbak di rumah," ucap Radit.


"Ide bagus," sahut Bilqis yang langsung disambit oleh sang Ibu.


"Enak saja. Kalian belum menikah. Apa kata tetangga?"


Bilqis nyengir. Padahal ia tidak benar-benar akan melakukan itu. Atau ia bermalam saja dikantor? Pikirnya. Tapi dikantor malam-malam, justru lebih menyeramkan, pikirnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2