Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Menyetujui dengan mudah


__ADS_3

Bilqis sengaja mengulur waktu dengan memberi alasan akan membuatkan kopi untuk bosnya itu terlebih dahulu. Alex pun setuju. Pria itu mengangguk walau sebenarnya Alex ingin segera membicarakan tentang pengajuan perjanjian pra nikah yang Bilqis ajukan.


Biasanya di kisah percintaan antara bos dan sekretaris yang ada di novel, surat perjanjian pra nikah itu dibuat oleh bosnya, tapi kali ini justru sekretaris yang meminta pengajuan perjanjian itu.


Alex menggeleng dan tersenyum. “Dunia memang terbalik,” ucapnya lirih.


Ceklek


Alex langsung melihat ke arah pintu yang terbuka. Sesuai harapan, ternyata yang membuka pintu itu memang wanita yang sedang ia tunggu.


“Kau membuat kopi di mana? Di Jerman? Lama sekali.”


“Bukan. Di kutub Utara, Sir. Jadi mohon maaf kalau lama,” sahut Bilqis tanpa berdosa.


“Ibu, kenapa bengong?” tanya Radit pada Laila.


Hari ini Radit tidak pergi ke kampus karena urusannya di sana hampir selesai sehingga kemungkina minggu ini ia akan lebih banyak di rumah sambil menunggu hari untuk wisuda.


“Ibu bingung, Dit. Kalau kakakmu nikah, siapa yang jadi walinya ya?” tanya Laila.


“Ya, Radit lah Bu,” jawab Radit yakin.


“Memangnya bisa? Ayah kalian masih hidup.”


“Tapi ayah kan tidak menafkahi kita. Bahkan sampai sekarang, kita juga tidak tahu dia tinggal di mana.”


“Urusanmu di kampus sudah selesai kan, Dit?” tanya Lainla tiba-tiba.


Radit mengangguk. “Tinggal nunggu wisuda dua minggu lagi.”


“Kalau begitu, minggu depan temani ibu ke Malang ya. Kita coba tanya ayahmu dari keluarganya,” ucap Laila.


“Buat apa, Bu? Radit ga mau ketemu saudara-saudara ayah. Ibu lupa kalau kita pernah di usir mereka. padahal niat ibu baik, hanya untuk membuat aku dan Mba Qis kenal Tuan Ridho dan keluarganya.”


“Radit,” panggil Laila cemas, karena sepertinya Radit dan Bilqis sangat membenci ayah mereka.


“Radit ga mau, Bu.”


“Radit, Tolong temani Ibu. Biar bagaimana pun kita harus berusaha dulu mencari ayahmu. Kalau tidak ketemu, baru menggunakan wali hakim untuk menikahkan kakakmu.”


“Langsung saja pakai wali hakim,” sahut Radit yang benar-benar malas berurusan dengan keluarga ayahnya dan dia pun merasa masih fasik.


“Ya ga bisa gitu dong, Dit. Kita harus usaha dulu. Yo wis kalau kamu ga mau temenin ibu. Ibu jalan sendiri aja.”


“Ya udah kapan?” tanya Radit tanpa melihat wajah Ibunya. Pria yang sudah dewasa itu masih saja bermain play stasion di sela waktu luang.

__ADS_1


Laila tersenyum dan mendekati sang putra. “Kamu memang anak laki-laki kesayangan Ibu yang selalu bisa diandalkan.”


Laila memeluk putranya.


“Ck. Ya kan emang Radit anak laki-laki satu-satunya, Bu. Jadi ya anak laki-laki kesayangan lah.”


Laila tertawa dan kembali memeluk kepala putranya. Laila langsung menyambar kalender duduk yang berada di sebelahnya dan berencana untuk pergi ke tempat kelahiran mantan suaminya. Laila sudah menyebut mantan suami pada Ridho, karena saat dua tahun Ridho benar-benar tidak muncul dan tidak diketahui keberadaannya, Laila pun mengajukan cerai sehingga secara otomatis di sahkan gugatan itu.


****


Di kantor, Bilqis terlihat tegang menghadapi bosnya yang killer.


Alex juga terlihat kesal, karena setiap perkataannya selalu saja bisa dibalas oleh Bilqis. Alex menyilangkan kedua kaki dan melipat kedua tangannya sembari tetap duduk di kursi kebesarannya itu. Mata Alex tak lepas dari sosok wanita yang baru saja meletakkan secangkir kopi di dekatnya.


“Duduk!” pinta Alex pada Bilqis.


“Hm … Sebentar, Sir. saya lupa membawa amplop cokelat itu.” Bilqis menginterupsi untuk kembali keluar ruangan.


“Apa lagi, Qis?” tanya Alex kesal karena sedari tadi Bilqis mengulur waktu padahal buat Alex, waktu adalah uang. Waktunya sangat berharga.


“Sebentar, Sir. saya keluar sebentar untuk mengambil amplop tadi. Amplop yang sudah saya siapkan dari …”


“Ya … Ya … Sana.” Alex langsung mengibaskan tangannya sebelum Bilqis melanjutkan perkataan.


Bilqis menggerutu sepanjang jalan menuju mejanya dan mengambil selembar kertas yang sudah ia print di rumah. Bahkan isi dari kertas itu membuat ia tidak bisa tidur tepat waktu.


Setelah menyambar map cokelat itu, Bilqis segera kembali ke ruangan Alex. Sebelum masuk ke dalam ruangan itu, ia kembali menarik nafas dalam.


“Inhale, exhale. Inhale, exhale.” Bilqis terus mengatakan itu untuk menenangkan diri hingga saat ketiga kalinya ia akan berucap suara teriakan dari dalam sana memanggil namanya.


“Bilqis …”


“Iya, Sir.”


Bilqis segera masuk ke dalam ruangan itu.


Alex menatap Bilqis sembari menarik nafasnya. “Kau membuang banyak waktuku. Seharusnya aku sudah mengerjakan banyak hal. Tapi sampai jam segini, aku belum melakukan pekerjaan apa pun.”


“Karena apa?” tanya Bilqis polos.


“Karena ada seorang wanita yang meminta perjanjian pra nikah. Padahal aku rasa, dia tidak dirugikan sama sekali dan seharusnya perjanjian pra nikah itu aku yang membuat, bukan dia. Karena di sini, aku yang berkuasa.”


Bilqis tidak menjawab. Ia hanya menatap mata Alex dengan mengerjapkan matanya perlahan sembari berpikir. “Jadi orang yang Sir maksud itu saya?”


“Bukan, tapi Bimo,” jawab Alex kesal. “Ya, kali aku nikah sama Bimo.”

__ADS_1


Sontak, Bilqis pun tertawa. Dan Alex sempat tersenyum melihat tawa manis Bilqis. Namun dengan cepat iua mengembalikan mimik wajahnya yang tegas dan sedikit menyebalkan.


“Mana surat perjanjian yang kau buat?” tanya Alex dengan menatap amplop yang semula sempat ia pegang saat keluar dari lift bersama Bilqis.


“Ini!” Bilqis menggeser amplop itu ke depan Alex.


Namun, saat Alex hendak mengambil amplop itu, Bilqis kembali menariknya. “Sir tahu, saya membuat ini sampai terlambat tidur. Seharusnya jadwal tidur saya itu delapan jam, tapi karena mengetik ini, saya hanya tidur enam jam.”


Bibir Alex menyungging.


Lalu, Bilqis kembali menggeser benda itu ke depan Alex. Namun, lagi-lagi Bilqis kembali menarik benda itu saat Alex hendak mengambil.


“Ya, aku tahu kamu jadi tidak tidur delapan jam karena membuat ini. jadi boleh aku lihat isinya?” tanya Alex kesal.


“Baiklah.” Bilqis pun memberikan benda itu dan berkata, “Sir harus setuju dengan isi perjanjian itu.”


Alex mengernyitkan dahi sembari membuka tali yang menempel di benda itu. “Kau mengaturku?”


“Tidak. Hanya saja, ini untuk kepentingan bersama,” jawab Bilqis.


“Oh, ya? Baik. Mari kita bahas.”


Jantung Bilqis dag dig dug, saat melihat Alex mulai serius. Mimik wajahnya terlihat tak bersahabat. Sesekali dahi Alex pun mengernyit. Ah, Bilqis sangat takut. Ia harus mempunyai argumen agar tidak menjadi orang lemah.


“Setuju,” ucap Alex dengan menyerahkan kembali amplop itu pada Bilqis.


“Setuju?” tanya Bilqis tak percaya. “Anda langsung menyetujui perjanjian ini begitu saja? Tidak ada yang dibahas?”


Alex menggeleng. “Tidak. tapi saya hanya menambahkan satu point saja di akhir. Setelah itu, kita bubuhkan tanda tangan di atas materai dan disaksikan satu orang saksi. Aku akan memanggil Bimo.”


Alex segera mengangkat teleponya dan meminta Bimo untuk datang ke ruangan ini. dengan cepat Bimo pun melaksanakan perintah.


Alex kembali menarik surat yang dibuat Bilqis. “Kalau begitu, aku akan menambahkan satu point di sini dengan tulisan tangan agar lebih konkrit.”


Bilqis tampak senang. Ia tidak menyangka pengajuan perjanjian pra nikah ini akan begitu mudah. Semula ia pikir, Alex akan mempersulit dan akan ada perdebatan panjang hingga sempat membuatnya mengulur waktu untuk mempersiapkan beberapa kemungkinan saat berhadapan dengan pria killer ini. Namun semua, diluar ekspektasi.


“Segala hal yang tertera pada poin di atas dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan keinginan pihak kedua.”


Tulisan Alex yang bagai tulisan seorang dokter itu pun hanya terlihat satu baris.


“Tulisan anda bagus sekali, Sir,” sindir Bilqis yang melihat tulisan Alex justru berbanding terbalik dengan yang ia ucapkan. “saya sampai tidak bisa membacanya.”


Bilqis tertawa. Alex pun ikut tertawa sembari menatap licik pada Bilqis.


“Dia tidak tahu saja, aku sengaja membuat jelek tulisan itu supaya dia malas membacanya. Dan itu berhasil bukan?” ucap Alex dalam hati dengan senyumnya yang licik.

__ADS_1


__ADS_2