
Di rumah sakit, Ridho dinyatakan sudah diperbolehkan pulang. Polisi yang sejak semalam menjaga Ridho pun akhirnya membawa pria itu menuju tempat tahanan. Ridho resmi menjadi tahanan sejak hari ini. Namun, kabar tentang sang istri yang dibawa lari ke rumah sakit khusus tahanan, membuat Riho meminta izin kepada petugas untuk membawanya melihat kondisi Lenka sebelum dirinya juga dibawa ke sel.
Petugas itu mengabulkan permintaan Ridho atas izin Alex. Ridho dan Lenka, masing – masing memiliki pengacara yang jam terbangnya tinggi. Bahkan keluarga Ridho di Malang pun sudh mengetahui hal ini dan langsung terbang ke Jakarta untuk menemui kakaknya.
“Lenka,” panggil Ridho lirih melihat sang istri yang tak lagi seperti yang ia kenal.
Arah mata Lenka hanya tertuju ke jendela. Pandangan mata itu kosong, seperti jiwanya yang kosong dan terhempas oleh kejadian malam itu bersama dengan ketiga teman satu selnya.
“Tidak. lepaskan aku! Lepas!” Lenka langsung histeris saat Ridho mendekat.
Dokter yang kebetulan ada di samping Ridho pun menggeleng, meminta Ridho untuk tidak mendekati istrinya. Lenka menggunakan pakaian khusus yang membungkus tubuhnya hingga kedua tangannya pun terlipat dalam balutan kain itu, karena sedari tadi Lenka terus meronta bahkan mengambil peralatan medis yang sifatnya tajam dan hendak membahayakan para suster dengan mengacungkan benda tajam itu. Alhasi, tim medis pun melakukan hal ini pada Lenka.
Andhira, adik Ridho yang sudah lebih dulu berada di rumah sakit itu pun menangis histeris. Dia adalah orang yang hidup dengan uang Lenka dan Ridho. Dan sekarang, Ridho pun tahu alasan mengapa Lenka sangat baik pada adiknya hingga mau menghidupi biaya hidup keluarga sang adik.
“Istri anda mengalami gangguan kejiwaan,” ujar dokter itu pada Ridho. “Untuk sementara waktu, kami akan mengobservasi pasien dan pasien tidak akan dibawa ke sel.”
Ridho mengangguk. Ia pasrah dan menerima balasan ini. Balasan akibat telah mendzolimi wanita baik seperti Laila dan menelantarkan dua anak tak berdosa seperti Bilqis dan Ridho sejak mereka masih sangat kecil.
Lalu, Ridho kembali hendak dibawa oleh petugas menuju lapas.
“Tunggu!” Andhira menahan Ridho.
“Aku akan meminta Laila untuk mencabut tuntutannya pada Mas,” ucapnya.
Ridho menggeleng. “Jangan! Biar aku dihukum agar aku tidak terus merasa bersalah karena telah menyakiti mereka.”
“Mas,” panggil Andhira lirih. Ia tidak ingin sang kakak dipenjara.
“Kamu harus minta maaf pada Laila, Dhir. Kamu juga banyak salah padanya,” ucap Ridho yang kemudian meninggalkan sang adik, satu - satunya keluarga dekat Ridho yang tersisa.
Kemudian, Ridho mengikuti langkah petugas dan memasuki mobil mereka.
__ADS_1
****
Di sebuah rumah yang ramai dan mulai terdengar musik gambus. Bilqis melihat jam tangan yang melingkar di tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan tepat pukul empat sore kurang lima menit.
Penghulu sudah duduk di tempatnya, begitu pun wali dan para saksi. Radit sudah beberapa kali menelepon nomor ponsel Darwis, tapi tak kunjung diangkat. Alex pun melakukan hal yang sama. Bahkan Alex sudah meminta orang suruhannya untuk menyusul ke apartemen Darwis.
“Sir, Pak Darwis sudah tidak ada di apartemennya,” kata orang dari balik telepon yang dipegang Alex.
Semua orang panik, termasuk Radit. Apalagi Laila, wajahnya yang sudah didandan cantik dengan riasan make up artis terbaik rekomendasi dari sang menantu pun, kini terlihat layu. Tangan Laila terasa dingin. Takut dan gelisah menjadi satu.
Bilqis terus mendampingi sang Ibu. Ia dapat melihat kegelisahan itu.
“Qis, apa Ibu tidak dibolehkan bahagia?” tanya Laila pada putrinya.
Wajah Bilqis pun berubah jadi sendu. Ia dapat merasakan apa yang sedang ibunya rasakan. “Jangan berpikir negatif dulu, Bu! Berdoa saja semua akan baik – baik saja.”
“Tapi sudah lima menit lagi jam empat, Mas Darwis belum datang. Apa dia berubah pikiran?” tanya Laila lagi.
“Bilqis rasa tidak.” Bilqis menggeleng. “Om Darwis tidak seperti Ayah.”
“Pak, bagaimana kabar mempelai pria? Apa sudah ada tanda – tanda kedatangannya?’ tanya Pak penghulu yang duduk bersila ditemani kakak kandung Laila yang akan menjadi wali.
“Belum, Pak. Panitia sedang menelepon pihak mempelai pria,” jawab kakak laki – laki Laila.
Pak penghulu itu melihat jam di tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul empat lewat sepuluh menit. Ia masih memiliki jadwal menikahkan orang lagi tepat pukul empat lewat tiga puluh menit di tempat yang tidak jauh dari rumah ini.
“Wah, saya tidak bisa menunggu lama ini, Pak.” Pak pengulu itu mengeluh. “Karena dua puluh menit lagi, saya harus menikahkan orang lagi.”
“Maaf, Pak. Tunggu lah sebentar,” ucap kakak Laila. “Sebentar lagi, pasti mempelai pria nya datang.” Kakak laki – laki Laila terus menenangkan Pak penghulu yang duduk gelisah karena masih dikejar pekerjaan lain.
Ternyata kegelisahan itu bukan hanya milik Laila. Radit, Bilqis, Alex, Pak penghulu, serta saudara – saudara Laila yang lain pun ikut gelisah menanti kedatangan Darwis.
__ADS_1
Sepuluh menit berlalu, Darwis tak kunjung datang. Padahal satu jam sebelumnya, Darwis mengabarkan kalau dia dan beberapa sanak saudaranya yang sengaja datang dari Singapura sudah berada dalam perjalanan menuju rumah ini.
“Ibu tidak jadi menikah, Qis.” Laila menangis. Wajah sumringah yang tadinya terpancar sebelum lewat pukul empat, kini berubah menjadi muram.
Laila meringkuk di atas ranjang yang dihiasi taburan bunga.
“Ibu jangan seperti ini! Om Darwis pasti hanya terlambat saja.”
Laila frustrasi. Ia menggeleng dengan deraian air mata yang cukup membuat make up di wajahnya pun sedikit berantakan.
“Dia pasti berubah pikiran, Qis. Keluarganya pasti tidak setuju dengan Ibu. Siapa Ibu? Ibu hanya wanita tanpa gelar sarjana, mantan seorang buruh pabrik. Wanita bodoh yang dibodohi suaminya, bahkan dicampakkan begitu saja.”
Laila menangis. Bilqis pun menangis melihat keadaan sang Ibu. “Ibu, jangan bilang begitu!”
Laila masih sesegukan. “Itu memng benar, Qis. Ibu memang orang kampung, jadi tidak pantas mendapat pria seperti ayahmu dan seperti Mas Darwis. Seharusnya Ibu berkaca dari masa lalu.”
“Ibu.” Bilqis memeluk sang Ibu.
Di luar, Pak penghulu tampak sudah tidak bisa lagi menunggu. Pria paruh baya yang mengenakan peci hitam itu ingin segera pergi untuk memenuhi janjinya menikahkan pasangan yang akan menikah di tempat lain.
“Pak, tunggu lah sebentar! Lima menit lagi,” ujar Radit membujuk Pak penghulu itu dengan mengangkat kelima jarinya.
Kemudian, Alex meminta Pak penghulu itu untuk bicara empat mata. Di sana, Radit dan beberapa saudara Laila hanya melihat gerakan bibir Alex dan Pak penghulu itu bercengkerama. Selang satu menit kemudian, mereka berjabat tangan. Entah negosiasi apa yang diberikan Alex pada Pak penghulu itu.
Radit kembali berjalan ke arah jalan besar di depan rumahnya. Rahang Radit mengeras. Ia tidak bisa bayangkan bagaimana keadaan sang ibu jika pernikahan ini tidak terlaksana. Apalagi saat ini banyak tetangganya yang memang julid semakin julid dan membincangkan kejelekan Laila.
“Dit.” Alex menepuk bahu adik iparnya.
“Mas, Om Darwis mana? Radit sudah meneleponnya lebih dari dua puluh kali, tapi tidak diangkat.” Radit tampak cemas sekaligus marah.
“Tenang, Dit. Aku kenal siapa Om Darwis. Dia bukan orang pengecut.”
__ADS_1
“Tapi mana? Dia sudah sangat terlambat. Radit tidak sanggup melihat Ibu.”
Ya, sedari tadi Radit memang tidak mendatangi kamar sang ibu dan melihat kondisinya di sana. Ia tidak sanggup melihat kekecewaan dari wajah wanita yang sangat ia sayangi itu. Cukup sang kakak saja yang menenangkan ibunya.