Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Berhasil menaklukkan bos killer


__ADS_3

Hari ini, Bilqis menemani suaminya dalam rapat bulanan yang diadakan setiap minggu ketiga di setiap bulan. Di dalam ruang rapat yang besar itu, menampung hingga puluhan orang di sana. Terjejer petinggi perusahaan seperti manajer, sekretaris dan para asistennya.


Kedekatan Bilqis dan Alex mengundang rumor di kantor itu. Alex membiarkan rumor itu beredar. Rencananya saat ulang tahun perusahaan yang akan dirayakan di awal tahun nanti, ia akan mengumumkan statusnya di depan karyawannya nanti.


“Oke, saya setuju dengan ide Pak Ringgo. Bagaimana Jhon?” tanya Alex pada para petinggi perusahaan itu.


Orang – orang yang Alex tunjuk untuk membantunya mengelola perusahaan cabang di negara ini.


Jhon mengangguk. “Oke, saya setuju dengan ide Pak Ringgo.”


“Pak Dion, Bagaimana?” Arah mata Alex tertuju pada Dion, mantan bos Bilqis.


“Oke, saya juga setuju. Penjelasan Pak Ringgo sangat detail dan masuk akal.”


“Oke. Deal. Kita akan menggunakan system yang Pak Ringgo bilang tadi. Jhon, pastikan system itu berjalan dengan lancar. Saya akan koordinasi dengan pusat. Bantu saya untuk itu.”


Jhon mengangguk. “Oke.”


“Baiklah, untuk koordinasi tentang projek ini saya anggap selesai. Selanjutnya saya ingin mengumumkan sesuatu.” Alex menoleh ke arah Bilqis dan begitu pun sebaliknya.


“Ulang tahun K-Net coorporate akan segera berlangsung. Kita juga akan libur cukup panjang untuk Nata dan tahun baru. Ibu Dian, pastikan ada sebagian karyawan yang tetap stay di sini selama libur panjang itu.”


Alex memerintahkan manager HRD untuk memberi jadwal antara karyawan baru dan lama yang berhaka untuk mendapat libur atau tidak sesuai dengan dedikasi mereka.


“Siap, Pak,” jawab Bu Dian mengangguk.


“Satu lagi, dari kemarin kita sudah membicarakan tentang gathering annyversary K -Net coorporate. Iya kan?”


Dian menangguk. “Sesuai anggaran yang kemarin Ibu ajukan, jadi akan kemana gathering tahun ini?”


“Seperti yang Sir inginkan. Kita akan ke Labuan Bajo selama tiga hari.”


“Hore ….” Sorak orang – orang yang hadir di rapat itu, terutama para sekretaris dan asisten manager.


“Kami sudah menghitung anggaran untuk akomodasi selama tiga hari dua malam,” ujar Dian lagi. “Kami juga sudah me-range agenda yang akan kita lakukan selama di sana.”


“Good.” Alex mengangguk. “Tolong persiapkan semaksimal mungkin, karena ini adalah kali pertama kita melakukan gathering outdoor. Biasanya, kita hanya merayakan anniversary K-Net dengan makan malam bersama di hotel. Karena dedikasi kalian yang telah berupaya mengembangkan perusahaan ini hingga kian pesat sampai tiga tahun terakhir, maka saya ingin memberikan sesuatu yang lebih juga untuk kalian.”

__ADS_1


Prok … Prok … Prok …


Jhon berdiri sembari menepuk tangannya. Tina yang berada di samping Jhon pun mengikuti. Aksi Jhon juga diikuti oleh Ringgo dan sekretarisnya, juga Dion dan semua orang yang hadir di sana.


“Untuk K-Net coorporate, semoga selalu jaya,” ucap Jhon.


Alex tersenyum dan ikut berdiri bersama Bilqis. Pria itu tersenyum lebar sembari melirik ke arah sang istri yang juga tersenyum lebar.


“Terima kasih, Sayang,” bisik Alex pada Bilqis sembari mendekatkan tubuhnya pada tubuh sang istri yang berada di sampingnya.


Bilqis melirik ke arah sang suami dan tersenyum.


“Terima kasih untuk semuanya. Perusahaan ini tidak akan menjadi besar tanpa kalian,” ucap Alex lantang apda semua orang yang hadir.


Prok … Prok … Prok …


Semua kembai bertepuk tangan dan Biman menutup rapat ini. Perlahan semua rorang yang semula berada di dalam ruangan itu pun keluar.


“Qis, nanti makan siang bareng kan?” tanya Tina kepada temannya yang masih berada di samping bosnya.


Saskia menyenggol lengan Tina, agar tidak membicarakan hal itu sekarang, mengingat di ruangan rapat ini, Alex masih duduk di sana.


Sejak menikahi Bilqis, senyum di bibir Alex mulai mengembang untuk semua orang. Kesan killer yang selama ini tersemat di diri pria itu pun sedikit memudar. Yang membuat para karyawan heran adalah saat Alex menyapa karyawannya ketika masuk ke dalam gedung itu. Alex menyahut sapaan karyawan yang ia lewati dengan senyuman dan itu sangatlah langka.


Orang yang tersisa di ruang rapat itu hanya Alex, Bilqis, dan Bima, juga Saskia dan Tina yang berdiri di depan pintu, sedangkan Mira sudah keluar dari ruangan ini bersama Ibu Dian.


“Permisi, Sir.” Tina dan Saskia pun pamit, setelah Bilqis memberi kode akan menghubunginy nanti.


“Sir, saya juga permisi duluan.” Bima pun pamit.


Kini hanya tinggal Bilqis dan Alex.


“Mas,” panggil Bilqis pada suaminya setelah dipastikan ruangan ini hanya tinggal mereka berdua.


“Hm.” Alex menyahut sembari meminum air mineral yang ada di dalam botol yang disediakan di sana.


“Boleh ya, aku makan siang sama Tina, Saskia, dan Mbak Mira?”

__ADS_1


Alex menoleh ke arah istrinya. “Lalu, aku bagaimana?”


“Aku kan sudah membawakan bekal untuk Mas. Sudah aku siapkan di meja.”


“Terus, Mas makan sendirian?” tanya Alex sembari menatap sang istri dan menyilangkan kedua kakinya.


Bilqis yang sedang berdiri sambil merapikan berkas usai rapat tadi pun menghelakan nafas. “Ya ampun, Mas. Cuma siang ini aja. Ya …”


Bilqis memohon.


“Kalau aku izinkan. Imbalan untukku apa?” tanya Alex dengan memajukan wajahnya pada Bilqis.


Bilqis yang memahami kemesuman itu pun tersenyum dan ikut mendekati wajahnya, lalumengecup bibir itu.


“Itu imbalannya, sudah puas?”


Alex tersenyum dan menggeleng. “Belum.”


“Mas,” rengek Bilqis yang kesal dengan kemesuman itu.


“Satu ronde diruanganku.”


“Lagi?” tanya Bilqis yang bingung dengan stamina Alex.


Pria itu seperti kuda liar yang tidak pernah lelah jika menyangkut tentang bercinta.


Apa ini karena efek menduda yang sudah lama? Entahlah, tapi Bilqis pun menyukai hal itu. Tidak dipungkiri, ia juga menyukai sentuhan Alex yang membawanya terbang ke langit ke tujuh.


“Baiklah,” jawab Bilqis membuat Alex berkata, “yes.”


Pria itu tampak kegirangan seperti yang baru saja mendapat lotre.


Bilqis pun melirik. “Seneng banget.”


“Iya lah, aku tahu, satu minggu lagi jadwal periodemu. Jadi aku harus memaksimalkan minggu ini bukan?”


Bilqis melongo. Ia tidak menyangka bahkan Alex tahu tentang jadwal masa periodenya. Padahal, ia hanya pernah satu kali mengeluh tentang itu, tentang rasa sakitnya jika masa periode itu datang.

__ADS_1


Alex dan Bilqis keluar dari ruangan itu bersamaan. Para karyawan sengaja mengintip kebersamaan CEO dan sekretarisnya. Apalagi di saat keluar dari ruangan itu, Alex ikut membawakan berkas dan membukakan pintu ruangan itu untuk Bilqis, membuat karyawan lain pun penasaran dengan apa yang terjadi pada bos killernya itu. Mereka meng elu – elu kan Bilqis yang telah berhasil menaklukkan bos killer itu.


__ADS_2