Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
KenTang (Kena Tanggung)


__ADS_3

“Mas, kamu ngapain?”


“Ah.”


Bilqis frustrasi menerima sentuhan lidah Alex bertubi – tubi di bagian intinya. Di sana, Alex sangat menikmati bagian itu hingga kepalanya tak kunjung kembali sejajar dengan kepala Bilqis.


“Ah … Mas. Hentikan!”


Alex tidak mempedulikan peringatan itu. Ia masih ingin memberi sensasi yang belum pernah Bilqis rasakan. Dan, besanr saja ini adalah sensasi pertama yang Bilqis rasakan.


“Mas … a-ku … a-ku … ingin … Ah.”


“Yah, Sayang. Lepaskan.” Alex menyeringai, ia suka melihat ketidak berdayaan wanita itu dibawah kungkungannya.


Wanita yang selalu memebentengi diri darinya. Menepis bahwa dia tidak menyukainya. padahal Alex bisa merasakn dari gestur dan debaran jantung Bilqis yang terdengar saat mereka dekat, itu sudah menunjukkan kalau Bilqis pun menyukainya. Hanya saja kisah cinta kedua orang tua membuat wanita itu takut untuk membuka hati, takut untuk tersakiti. Dan perlahan, Alex ingin membuka hati itu. menyadarkan pada Bilqis bahwa tidak semua kisah cinta akan se tragis kisah cinta Ibu dan ayahnya.


“Mas … aku ga ... ku … at. Ah.” Akhirnya tubuh Bilqis pun meledak. Mendadak ia merasa tubuhnya sangat lemas.


Alex tersenyum dan mensejajarkan kepalanya pada kepala Bilqis. Ia mengusap dahi Bilqis yang di penuhi dengan peluh.


“Gimana rasanya, Sayang? Enak?”


Bilqis menggeleng.


“Ngga tahu. Itu rasa apa?” tanyanya dengan nafas naik turun. “Rasanya campur aduk gitu.”


Alex pun tergelak. Ia benar – benar baru menemukan gadis se polos dan se lucu Bilqis. Jika dulu bersama Tasya, Alex juga menemukan gadis polos, tapi Tasya tidak pernah berkata se frontal Bilqis. Seperti jawaban yang dilontarkannya tadi. Bilqis selalu mengatakan apa yang ia rasakan kecuali tentang hati.


“Tapi enak kan?” tanya Alex lagi, membuat kepala Bilqis mengangguk.


Alex tertawa dan mengecup sekilas bibir ranum itu. “Kau lucu sekali, Qis.”


Alex mulai memposisikan lagi tubuhnya untuk melakukan sesi selanjutnya, sesi yang menjadi sesi inti dari sebuah kegiatan bercinta.


“Siap?” tanya Alex dengan menatap wajah itu lekat.


Bilqis mengangguk sembari menggigit bibirnya. Sungguh, ia khawatir apa yang akan terjadi setelah ini.


“Ah … Mas … sakit,” rintih Bilqis padahal Alex belum melakukan sepenuhnya. Si jerry baru sampai di depan pintu.


“Belum. Sayang. Tahan sebentar. Kamu bisa mencakar bahuku.” Alex mencoba menerobos pintu itu. Namun cukup sulit hingga Bilqis kembali menjerit.

__ADS_1


“Aaa …” Tanpa sadar, Bilqis mendorong dada Alex. “Sakit, Mas.” Kepalanya lagi - lagi menggeleng.


“Memang seperti ini, Sayang. Tahan sebentar, sedikit lagi.”


Bilqis menggeleng, menandakan bahwa dirinya tidak ingin melakukannya lagi.


Alex pun frustrasi. “Sayang, tanggung banget. Tahan sedikit ya!”


“Ngga Mas." Bilqis kembali menggeleng. "Sakit.”


“Hanya sebentar, Sayang.” Dengan sabar, Alex berusaha untuk meyakinkan istrinya bahwa kegiatan ini menyenangkan, walau di awal akan terasa sangat menyakitkan. Apalagi untuk mereka yang sudah suami istri, kegiatan yang menyenangkan ditambah pahala dan tidak dosa untuk dilakukan berulang.


Oleh karena itu amat disayangnya jika diluaran sana ada wanita yang menyerahkan kehormatannya begitu saja tanpa pernikahan. Padahal agama dan negara telah sebegitu besar mencoba melindungi perempuan. Dengan pernikahan, perempuan akan mendapat haknya setelah pengorbanan yang sudah mereka berikan.


Bugh


Kali ini Bilqis mendorong dada Alex dengan cukup kencang, hingga pria itu terjungkal.


“Maaf,” ucap Bilqis yang tak sengaja melakukan itu. “Ini sakit, Mas. Aku ga bisa.”


Alex menarik nafasnya kasar. Hingga satu menit kemudian terdengar seauatu dari luar kamar mereka.


Klontang … Klontang … Klontang.


Di luar kamar, Radit menjatuhkan panci yang terbuat dari stenles, padahal sedari tadi ia ingin menguping dengan berdalih mengambil air minum. Rumah minumalis itu memiliki ruangan yang berdekatan termasuk kamar Bilqis yang berdekatan dengan ruang televisi dan dapur.


Sontak, Laila keluar dari kamarnya. “Kamu ngapain sih, Dit? Belum tidur?”


Radit nyengir dan menatap sang Ibu. “Radit haus, Bu. Ini lagi ambil minum.” Pria itu berdiri di depan dispenser. “Ini lagian ngapain sih Ibu naro panci di sini.”


Radit hendak mengambil benda itu, tapi justru malah ke tendang oleh kaki sebelahnya. Alhasil benda yang terbuat dari stenles itu kembali terbentur lantai dan berbunyi lagi.


Klontang … Klontang


Di dalam kamar, Alex menghentikan aktifitasnya. Ia dan sang istri mendengar suara riuh dari luar kamarnya.


“Malam – malam begini, bikin heboh saja sih kamu, Dit,” ujar Laila lagi dengan menggelengkan kepala. Ia pun melihat sang putra yang kembali membereskan kekacauan dapur akibat benda-benda yang terjatuh tadi.


“Kamu pasti mau nguping mbak-mu ya?” tanya Laila dengan suara yang cukup lantang karena Laila masih berdiri di depan pintu kamarnya sementara Radit di dekat dapur.


Di dalam kamar, sontak Bilqis terkejut. Ia menatap Alex sembari menutup mulutnya. Ia khawatir jika rintihannya tadi di dengar sang adik.

__ADS_1


“Ngga. Apaan sih Bu. Radit nih pakai penutup telinga,” jawab Radit dengan menunjukkan earphone besar yang seperti bando dan dipasangkan dari kepala hingga ke telinga.


Padahal earphone itu tidak ada suaranya sama sekali.


Laila terdiam. Wanita paruh baya itu tidak lagi memarahi sang putra. Ia hendak membuka pintu kamarnya lagi untuk masuk.


“Ah, aman,” ucap Radit sembari mengurut dadanya. “Ah, ini panci bikin orang ketahuan aja.”


Radit kesal dan menendang benda itu hingga akhirnya kembali berbunyi.


Klontang … Klontang.


Laila kembali keluar. “Radit …” suaranya cukup menggelegar, hingga sang putra pun langsung lari ke kamarnya.


“Di sini sangat tidak aman,” ucap Alex dengan menggelengkan kepala.


Alex dan Bilqis cukup mendengar interaksi Laila dan Radit di luar kamarnya tadi, karena suara mereka cukup kencang, apalagi suara Laila saat kesal melihat kelakuan putranya. Alex pun mendengus dan merubuhkan tubuhnya ke samping Bilqis.


Bilqis menoleh ke arah sang suami. “Tidak jadi dilanjutkan?”


Pertanyaan Bilqis, sontak membuat hasrat Alex semakin runtuh, setelah runtuh karena dadanya yang di dorong cukup kencang oleh sang istri tadi, ditambah kehebohan yang terjadi diluar kamarnya.


“Menurutmu?” tanya Alex pada Bilqis. Namun, yang ditanya hanya mengerjapkan matanya perlahan dan menggelengkan kepala.


“Tidak tahu.”


“Oh, ya ampun.” Alex menepuk jidatnya.


Ia kesal, sungguh kesal. Tapi kepada siapa ia harus melampiaskan kekesalan ini? baru kali ini ia merasakan kentang, kena tanggung padahal tadi sudah di ujung.


“Bilqis …” teriaknya dalam hati sembari menutup wajahnya untuk menenangkan hati.


Sepertinya, ia memang harus ekstra sabar menghadapi Bilqis. Pengalamannya bersama mendiang sang istri, tidak bisa disamakan dengan istrinya yang sekarang. Walau dahulu ia juga mendapat istri yang masih bersegel, tapi tidak sesulit ini untuk melakukan malam pertama.


Alex pun menarik selimut dan menutupi tubuh mereka yang masih polos.


“Jadi? Tidak jadi malam ini?” tanya Bilqis Lagi membuat kepala Alex berdenyut.


“Sekali lagi kamu tanya? Aku tidak peduli kamu akan kesakitan apa tidak,” jawab Alex dengan sorot matanya yang tajam.


Sontak, Bilqis pun takut. Ia memilih membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


Alex merasa bersalah. Ia menarik nafasnya kasar dan mendekatkan tubuhnya pada tubuh Bilqis. Lalu memeluk tubuh itu dari belakang dan berbisik. “Tidurlah, jika kamu siap, kita akan mengulanginya lagi.”


Alex mengecup kepala Bilqis, membuat hati wanita itu terasa tenang. Bilqis pun tersenyum dan memejamkan matanya, diikuti oleh Alex. Alex memeluk tubuh itu dari belakang dengan erat hingga terlelap.


__ADS_2