
Alex menciumi Aarash yang sedang menyusu pada ibunya.
Cup
Cup
Cup
“Anak Daddy enak banget sih. Lahap banget sih nyusunya. Daday kan jadi pengen.”
“Mas, apa sih?” Bilqis menahan kepala Alex yang terus mengusel di pipi Aarash dan modus hingga ikut menicum sekilas pabrik susu Aarash dan Aariz yang terbuka.
Namun peringatan itu diabaikan oleh Alex. Pria itu tetap menciumi pipi putranya yang baru berusia dua hari.
“Mas, kamu ganggu Aarash.” Bilqis kembali menjauhkan wajah Alex dari putranya.
Alex pun cemberut. “Pelit banget sih.”
Bilqis tertawa. “Kamu udah banyak memonopoli. Sekarang waktunya untuk Aarash dan Aariz.”
“Terus kalau aku lagi pengen. Harus bagaimana?” tanya Alex dengan wajah sendu.
Bilqis kembali tertawa kecil. “Kamu kan udah pengalaman. Jadi kamu pasti lebih tahu saat pernah dalam keadaan seperti ini.”
“Ck.” Alex langsung melipat kedua tangannya di dada. “Sekarang, udah pintar membalikkan perkataanku ya.”
Bilqis menaik turunkan alisnya. “Dari dulu aku memang pintar, hanya saja kurang cerdik dan selalu kalah padamu.”
Sontak, Alex tersenyum. Lalu membekap kepala Bilqis dengan gemas. “Kenapa sih? Kamu selalu saja membuatku jatuh cinta. Kenapa?”
Bilqis tersenyum sembari menggeleng. “Karena aku pintar.”
Alex tertawa dan Bilqis pun demikian. Alex mengecup kening Bilqis berulang dan menemani istrinya memberi asupan pada baby twins yang baru saja dilahirkan. Walau asupan itu belum banyak, tapi cukup untuk mengisi lambung bayi kembar yang baru lahir itu.
Dret … Dret … Dret …
Baru saja, Bilqis ingin istirahat dan merebahkan lagi tubuhnya di tempat tidur pasien, usai membuat Aarash dan Aaris kenyang hingga keduanya tidur di box masing – masing.
__ADS_1
“Siapa?” tanya Alex melihat istrinya memegang ponsel yang berdering itu.
“Tina, Saskia, dan Mba Mira, Mas. Aku angkat ya.”
Alex mengangguk dan Bilqis langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu.
“Bilqis, selamat ya.”
“Congratulation, Sayang.”
“Selamat jadi Ibu, semoga gue bisa nyusul kalian.”
Saskia dan Mira saling memberi ucapan pada Bilqis melalui panggilan video call, lalu di sambung oleh ucapan selamat dari Tina dan mendoakan dirinya sendiri agar ia juga bisa menyusul ketiga temannya yang sudah lebih dulu menjadi ibu.
“Aamiin.”
“Aamiin.”
“Pasti nyusul lah, kan bentar lagi lu sama Jhon juga mau merit,” sambung Kia, setelah Mira dan Bilqis mengaminkan doa yang dipanjatkan Tina untuk dirinya sendiri.
Setibanya di apartemen dan membersihkan diri setelah berkutat dengan pekerjaan kantor seharian, Tina sengaja mempelopori komunikasi melalui panggilan video call bersama Saskia dan Mira. Kebetulan, kedua wanita itu pun memiliki waktu yang longgar di jam itu.
Bilqis mengangguk dengan wajah berseri. “Banget, Mba. Apalagi pas liat wajah senengnya Mas Alex, rasanya aku pengen melahirkan lagi, Mba.”
“Ya ampun, Qis. Bayi masih merah, malah pengen melahirkan lagi,” ledek Saskia. “Kalau gue tunda dulu ah sampe Asykar dua tahun.”
“Sekalian capek, Ki,” jawab Bilqis.
‘Ya, kalau kamu mah, Qis. Mau anak sebanyak apa pun ga akan capek, karena Sir Alex pasti nyediain baby sitter satu – satu.”
Sontak semua tertawa mendengar celetukan Mira.
“Ini kayanya, emang bukan karena Bilqis mau lihat wajah bahagia Sir Alex aja, tapi karena dia udah doyan nina ninu,” sambung Tina dengan tertawa, membuat yang lain pun ikut tertawa termasuk Bilqis yang tersenyum malu.
"Terus, kapan kalian ke sini buat jenguk keponakan kalian nih?" tanya Bilqis dengan memperlihatkan dua bayinya yang tertidur di box tempat tidur milik rumah sakit, karena malam ini adalah malam kedua Bilqis masih menginap di rumah sakit.
“Wah, aku belom bisa cuti, Qis.”
__ADS_1
“Kalau aku lagi ga punya duit buat akomodasi. Kemarin Mas Ringgo lagi negluarin modal gede buat usahanya.”
“Ya udah ga apa – apa. yang penting doanya” Bilqis menjawab alasan Mira dan Saskia yang tidak bisa datang menjenguk Aarash dan Aarisz karena memang jarak yang sangat jauh.
Lalu, Bilqis melihat ke arah Tina melalui layar ponselnya. “Kalau kamu ke sini kan, Tin?”
Tina mengangguk. “Iya, gue sama Jhon berangkat besok pagi.”
Kebetulan besok memang libur weekend. Mereka pun sengaja bertandang ke sana saat libur. Kebetulan lagi, Jhon memang ingin menjenguk anak perempuannya yang menurut ibu sekaligus mantan Jhon bahwa sang anak sedang drop hingga harus dirawat di rumah sakit. Namun, tidak rumah sakit yang sama dengan Bilqis.
Cukup lama, keempat wanita itu bercengkerama dari sebuah panggilan video call. Dapat terlihat pancaran kebahagiaan dari Bilqis, Saskia yang juga baru dua bulan lalu melahirkan, juga dari Mira yang memang sudah lama menjadi ibu sekaligus wanita karir.
Di sana, Tina terlihat senyum, walau sebenarnya senyum itu menutupi sebuah kesedihan karena hingga kini, diantara teman – temannya hanya dirinya yang masih belum mendapat kepastian hubungan. Sampai dengan saat ini hanya dia yang belum memiliki bayi, walau sebenarnya hal itu bisa terjadi, hanya saja ia butuh kepastian dahulu dari kekasihnya.
“Ki, pas abis lahiran kemarin, gimana caranya bikin Pak Ringgo tetap puas?” tanya Bilqis yang tiba – tiba mengalihkan pembicaraan ke urusan ranjang.
“Gue dapet ilmu dari Mira, Qis. Hayo, Mba Mira tutorialnya!”
Mira tertawa. Tina pun menyumbang senyum yang lebar pada ketiga temannya.
“Kalo Bilqis mah ga perlu tutorial. Dia tuh sebenarnya lebih jago, Cuma pura – pura aja,” jawab Tina meledek.
“Buktinya, dia bisa menaklukkan si killer ampe jadi istrinya loh. Gimana ngga jago coba.”
Sontak, Saskia tertawa. Tina mengangguk setuju dan Bilqis pun ikut tertawa, walau saat tertawa perut Bilqis sedikit nyeri.
“Udah ah. Jangan ketawa terus,” sahut Bilqis.
“Ya udah. Udah malem. Si Bilqis pasti mau istirahat,” ucap Tina.
“Oke. Sekali lagi selamat ya, Sayang,” sambung Saskia yang kembali mengucapkan selamat pada Bilqis.
“Selamat ya, Qis. Maaf aku belum bisa jenguk baby twins ke sana.” Mira pun menambahi.
“It’s oke. Yang penting sehat semua.” Mira, Saskia, dan Tina mengangguk mendengar jawaban dari Bilqis.
“Buat Tina, aku tunggu di sini ya,” kata Bilqis lagi.
__ADS_1
“Okay, cinta.” Tina mengangkat ibu jarinya ke atas.
Kemudian sambungan panggilan telepon itu teputus. Tina meletakkan ponselnya di samping dan tersenyum miris. Ia miris pada dirinya sendiri yang masih jalan ditempat. Sedangkan ketiga temannya yang lain sudah meelangkah jauh ke depan. Bahkan Saskia, temannya yang memiliki skandal sama dan lebih parah karena Ringgo masih berstatus suami orang saat mereka menjalin hubungan. Namun, hidup Saskia kini lebih beruntung. Dia pun mendapat pengakuan serta kasih sayang dari orang tua Ringgo karena telah melahirkan anak laki – laki dan cucu pertama laki – laki di keluarga suaminya.