
Alex menyelimuti Bilqis. Tubuh polos wanita yang semula terlelap didekapannya itu pun ia bungkus dengan selimut tebal hingga ke leher. Tubuh polos Bilqis membuatnya menggila. Bahkan hanya dengan melihat tubuh polos yang hendak ia selimuti itu pun, membuat si jerry kembali mengembang.
“Jerry, jangan seperti ini!” gumamnya pelan sembari memukul bagian tubuhnya sendiri itu. “Dia sedang tidur. Biarkan dia istirahat. Oke!”
Alex memberi perintah pada si jerry dan berinteraksi dengan bagian yang sedang mengembang itu untuk segera tidur seperti lawannya yang juga sedang terlelap itu.
“Nanti kalau dia terbangun. Kau boleh menerkamnya lagi,” uar Alex menyeringai menatap wajah Bilqis sembari mengelus pipi mulus itu.
Lalu, Alex mengecup kening istrinya dan kembali bangkit untuk memakai pakaian yang terserak di lantai. Alex keluar kamar untuk membersihkan diri, mengingat di dalam kamar Bilqis tidak terdapat kamar mandi.
Alex menoleh ke arah sofa depan televisi dan melihat Radit terbaring dengan posisi menghadap punggung sofa. Ia tidak tahu bahwa di balik itu Radit belum tidur dan sedang menonton film blue dari ponselnya. Pikirannya yang melanglang buana memkasanya untuk ingin mengetahui aktifitas di dua kamar tadi.
Usai dengan aktifitas panas dengan istri barunya, Darwis pun memilih keluar kamar setelah memastikan Laila sudah terlelap. Sebelum keluar kamar, ia juga sudah lebih dulu membersihkan diri.
“Hei, kau belum tidur?” tanya Darwis pada putra sambungnya yang berbaring miring menghadap punggung sofa.
Sebelumnya, Darwis ingin mematikan televisi, tapi melihat cahaya dari balik tubuh Radit yang sedang menonton fiml di ponselnya itu membuat Darwis mendekat. Radit terkejut dan membalikkan tubuhnya tanpa mematikan apa yang sedang ia tonton di benda pintar itu.
“Hei, kau menonton film …”
Sontak, Radit menekan tombol back dan mengembalikan ponselnya ke menu depan. “Eh, Om ngapain?”
Darwis tertawa. “Aku tahu kau sudah dewasa,” ucapnya yang kemudian duduk di samping Radit yang sudah bangkit.
“Apa yang kau dengar tadi, juga akan kau rasakan nanti. Tapi nanti, setelah menikah,” sambung Darwis pada Radit.
“Ya, aku mengerti. Hanya ingin tahu saja,” jawab Radit santai.
Darwis mengangguk dan melihat Alex. “Hei, kau habis mandi?” tanyanya.
Alex tersenyum dan ikut duduk di sofa itu. “Memang Om saja yang habis mandi. Aku juga lah.”
Darwis pun tertawa. “Apa di hotel taditidak cukup?”
Alex tertawa dan menggelengkan kepala. “Tidak akan pernah cukup.”
“Dasar,” umpat Darwis pada pria yang kini juga menantunya.
“Ngomongin apa sih?” tanya Radit pura – pura tidak mengerti.
Kemudian, Radit bangkit dan ingin membuat kopi panas karena sepertinya ia benar – benar tidak bisa tidur.
“Hei, mau ke mana kamu Dit?” tanya Darwis.
__ADS_1
“Buat kopi.”
“Buatkan Papa juga,” ucap Darwis dengan menyebut dirinya Papa agar kedua anak Laila terbiasa memanggil itu, walau entah mereka akan memanggilnya dengan sebutan itu atau tidak, karena Darwis tidak mungkin memaksa Radit dan Bilqis untuk memanggilnya Papa mengingat mereka sudah dewasa.
“Buatkan aku juga, Dit.”
“Ya … ya … ya …” Radit pasrah dan menuju dapur untuk membuatkan tiga gelas kopi termasuk untuk dirinya.
“Bagaimana, Om?” tanya Alex pada Darwis yang kini tinggal mereka berdua di ruangan itu.
“Bagaimana apa nya?” Darwis balik bertanya, seolah tidak tahu maksud pertanyaan Alex.
Alex menoleh ke arah Darwis dan tersenyum. Darwis pun menoleh ke arah menantunya.
“Luar biasa. Onderdil ibu mertuamu bukan kaleng - kaleng.”
Sontak, Alex tertawa mendengar penuturan pria paruh baya itu. Alex menggelengkan kapala dan meledek lagi, “sepertinya istriku akan memiliki adik.”
Kini, Darwis yang tertawa. Ia pun membayangkan itu. walau rasanya sulit mengingat saat ini Laila sudah menginjak usia ke emat puluh enam. Akan kah ia akan mendapat keturunan? Mengingat saat bersama mendiang istrinya dulu, Darwis belum mendapatkan itu dan menjadikan Alex seperti putranya sendiri hingga kini.
“Semoga saja bisa,” ucap Darwis yang diam – diam berdoa dalam hatinya.
“InsyaAllah bisa. Tidak ada yang tidak mungkin jika Dia menghendaki, bukan?”
****
Pagi ini, semua orang yang semalam bermalam di rumah Laila bersiap untuk mengunjungi Ridho di penjara. Laila terkejut saat mendengar kabar dari menantunya tentang Lenka.
Pinggang Darwis yang masih sedikit pegal akibat aktifitas panasnya bersama sang istri semalam, membuatnya tidak mampu untuk mengemudi mobil. Alhasil, Darwis ikut ke dalam mobil Alex. Di dalam mobil itu pun penuh. Di kursi depan, ada Alex yang mengemudi dan di sampingnya sang istri yang tengah memangku putrinya, sedangkan di kursi penumpang belakang diisi oleh kedua mertuanya, Laila dan Darwis.
“Ya sudah, Radit naik motor aja.”
“Harusnya kamu bisa bawa mobil, Dit. Jadi Maya bisa sama kamu,” kata Bilqis yang melihat kemungkinan Maya tidak dapat tertampung di mobil sedang mawah milik suaminya.
“Ya udah, Maya sama aku aja Mba. Naik motor. Ga apa – apa kan, May?” tanya Radit pada pengasuh Aurel.
“Kalau begitu, Maya ga usah ikut, Non. Maya tunggu di rumah aja.” Maya malu dan memilih ingin tinggal di rumah saja, walau sendirian. Mengingat Nia sudah kembali ke rumah Alex malam itu.
“Ayo ikut aja!” ajak Radit pada Maya. “Setelah itu, aku antar langsung ke rumah Mas Alex.”
“Ide bagus,” jawab Bilqis dari kaca jendela mobilnya yang sengaja ia buka. “Ya udah, May. Ikut Radit aja.”
“Iya, May.” Laila pun menyahut lewat kaca jendelanya yang juga terbuka.
__ADS_1
Mendapat suruhan itu, Maya pun akhirnya setuju. Ia menaiki motor Radit. Mobil sedan mewah berwarna hitam milik Alex sudah melesat pergi, meninggalkan Radit dan Maya yang kini berada di belakang Radit.
Greng
Radit memutar pedal gas, membuat tubuh Maya tersentak maju dan langsung memeluk Radit.
Radit tersenyum. “Pegangan yang kencang, karena aku tidak pelan kalau membawa motor.”
Maya yang polos dan lugu malah patuh dengan perintah itu. Maya pun memeluk Radit, membuat Radit menyeringai merasakan sesuatu yang kenyal dibalik punggungnya.
“Pak Ridho, keluargamu datang.” Seorang petugas memanggil Ridho dan mengeluarkan pria itu dari jeruji besi.
Perlahan kaki Ridho melangkah menghampiri keluarganya yang sudah menunggu di luar. Ia melihat senyum Laila yang tak kunjung lepas dari hadapan sahabatnya. Melihat senyum itu, hatinya kembali teriris. Ia juga melihat putrinya di sana, bersama menantu dan sang cucu. Putra yang sebelumnya memukulinya itu pun hadir dengan seorang gadis yang Ridho kira adalah pacar Radit. Ridho tersenyum melihat kebehagiaan itu. kebahagiaan yang terlihat jelas dari orang – orang yang pernah ia sakiti dan ia tinggalkan.
“Apa kabarmu?” Darwis yang melihat kehadiran Ridho langsung mendekat dan hendak memeluk sahabatnya itu.
“Baik.”
Ya, Ridho memang lebih baik di dalam jeruji besi untuk menyendiri dan berharap tidak bertemu Laila lagi. Sungguh, ia tidak bisa melihat senyum Laila yang ditunjukkan untuk orang lain.
Bilqis dan Radit untuk pertama kalinya mencium punggung tangan sang ayah. Ridho pun memebri pelukan pada kedua anaknya yang telah lama ia tinggalkan. Seketika, air matanya menetes deras.
“Maafkan, Ayah.”
Bilqis dan Ridho mengangguk. entah ke mana benci dan dendam itu. Rasanya hilang seketika setelah ikhlas dan merasakan kebahagiaan lain saat ini.
“Bilqis memaafkan ayah.”
“Radit juga.”
Ketiganya saling berpelukan. Ridho memang hanya ingin mendengar ini. ia ingin mendengar permohonan maafnya diterima oleh orang – orang yang telah ia sakiti dengan sangat dalam itu.
Pelukan ketiganya itu melonggar setelah cukup lama. Lalu, Ridho menoleh ke arah Laila.
“Maafkan aku, Laila.”
Laila mengangguk. Di dalam hati Laila juga tidak ada lagi sakit hati ketika bertemu pria ini. semuanya lenyap karena terganti oleh kebahagiaan yang diberikan Darwis.
Ridho mendekati Laila dan memeluk wanita itu tanpa meminta izin dari sahabatnya. “Aku sungguh meminta maaf padamu.”
Laila menatap Darwis seolah meminta persetujuan dari sikap Ridho. Darwis pun mengangguk dan Laila menerima pelukan itu. “Aku memaafkanmu, Mas.”
Darwis tersenyum, walau sebenarnya ia cemburu.
__ADS_1