
Di bandara, Radit bertemu dengan sang ayah yang tidak ia ketahui dan tempat lain, justru keadaan sedang genting.
Alex terdiam saat mendapati pertanyaan sang istri yang membuatnya terkejut dan bingung. Ia hanya menatap ke kedua bola mata Bilqis yang juga tengah menatapnya.
Alex masih berjongkok di depan kepala Bilqis yang tengah setengah berbaring di atas sofa. Tiba – tiba Alex tersenyum.
“Mas, aku butuh jawaban bukan senyuman,” ucap Bilqis kesal dan bertanya lagi. “Apa Mas mencintaiku?”
“Apa kamu juga mencintaiku?” Alex malah balik bertanya.
“Ck. Aku yang tanya kenapa balik bertanya?”
“Aku juga ingin bertanya itu,” jawab Alex berkilah.
“Ck. Kamu mau tau jawabannya?” tanya Bilqis yang langsung mendapat anggukan dari Alex.
“Tapi aku ingin kamu yang menjawabnya lebih dulu karena tadi aku kan yang bertanya lebih dulu,” kata Bilqis lagi yang membuat Alex tersenyum lebar.
Bilqis teramat lucu menurutnya. Lalu, Alex mengusap rambut Bilqis dengan lembut dan menyelipkan bagian depannya ke belakang telinga.
“Aku mencintaimu, Qis.”
Entah mengapa jawaban itu tidak membuat Bilqis puas. “Sejak kapan?”
“Sejak kamu menabrakku waktu itu,” jawab Alex jujur.
“Bukan karena aku mirip dengan Mommy -nya Aurel?” tanya Bilqis membuat Alex terkejut dan tidak langi mengusap kepala itu.
Bilqis pun bangkit. Ia memposisikan tubuhnya menjadi duduk dan mengambil semua benda yang ia sembunyikan di bawah bantal.
Bilqis menyerahkan buku harian Tasya yang ia ambil dari kamar rahasia itu pada Alex, lengkap dengan kunci yang ia duplikatkan.
Alex menganga melihat ke kedua benda yang Bilqsi berikan padanya.
“Maaf, aku menduplikasi kunci kamar rahasiamu. Dan, maaf juga aku telah lancang mengambil buku ini dan membacanya,” ucap Bilqis denga hati yang begitu sedih.
“Jika tahu, kamu mendekatiku karena kemiripan kami. Mungkin aku akan memilih untuk resign.”
Kepala Alex menggeleng.
“Jika tahu, kamu menikahiku karena kesamaan wajah kami. Mungkin, aku juga akan menolak permintaanmu dan pergi jauh."
Lagi - lagi Alex menggeleng.
__ADS_1
"Karena aku yakin, cintamu bukan untuk aku, tapi karena untuk kemiripan wajahku saja,” ujar Bilqis dengan lirih.
Alex langsung memeluk tubuh itu. “Tidak. ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan. Sudah aku bilang jangan berasumsi sendiri!”
Bilqis mendorong tubuh Alex dan meminta pria itu menjauh. “Jujur Mas, ketertarikanmu padaku memang hanya karena aku mirip dengan Tasya kan?”
Alex menganggukkan kepalanya perlahan. Bilqis pun tersenyum miris.
“Sudah ku duga.” Bilqis bangkit dari sofa untuk meninggalkan Alex. Namun, Alex menahannya. “Tapi sekarang tidak, aku benar – benar mencintaimu.”
“Cinta macam apa? Cinta padaku tapi kamu membuat kamar rahasia yang tidak boleh aku tahu sementara orang lain tahu?
Bilqis dengan meneteskan air mata. Namun, ia tidak menangis. Ia membiarkan air mata itu luruh dan mengusapnya dengan tetap berbicara.
“Kamu tahu bagaimana perasaanku saat melihat kamar itu? aku tahu kamu memujanya dan aku tahu diri batasanku hanya sampai di mana. Jadi Aku pun akan membuat benteng mulai dari sekarang. Aku menyesal telah membuka benteng itu kemarin. Dan aku akan menutupnya mulai hari ini.”
“Bilqis tidak. jangan seperti itu!” cegah Alex dengan memegang kedua bahu Bilqis. “Aku mohon jangan seperti itu! Aku benar – benar mencintaimu. Aku mencintaimu dan aku juga mencintai kakakmu.”
“Kakak?” tanya Bilqis terkejut.
“Banyak hal yang aku tahu tentangmu dan tentang ayahmu. Tapi, aku belum bisa mengungkapkan padamu karena aku bingung harus mengatakannya dari mana agar kamu tidak kecewa,” jawab Alex frustrasi.
Alex memegang kedua tangan Bilqis. “Percayalah! Semua yang terjadi tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku mencintai Tasya dan aku juga mencintaimu, Bilqis. Kalian berdua berada di tempat masing – masing. Dan, aku tidak bisa menghapus Tasya dari hatiku. Aku juga tidak bisa menghapusmu dari sini karena di sini juga sudah ada namamu.”
Alex mengajak kedua tangan Bilqis yang ia pegang itu untuk menyentuh dadanya. Alex juga mengecup kedua tangan itu dengan air mata yang ikut menetes karena tetesan air mata di mata Bilqis yang tak kunjung berhenti.
Bilqis menggeleng. Air matanya terus mengalir. Kini, ia merasakan apa yang dialami ibunya dulu. Diduakan. Walau ia diduakan dengan orang yang telah tiada, tapi rasanya masih saja sama.
“Hei.” Alex menangkup wajah Bilqis dengan kedua tangannya. Ia meminta Bilqis untuk menatapnya dan Alex juga menghapus air mata itu dari pipi Bilqis. “Kamu mencintaiku?”
Bilqis diam. Ia hingga lupa dengan ucapan Alex yang mengatakan bahwa Tasya adalah kakaknya.
“Aku tahu kamu mencintaiku,” jawab Alex setelah menunggu jawaban dari sang istri yang tetap bungkam. “Aku bisa merasakannya saat kita bercinta. Dan, aku berterima kasih untuk itu.”
Alex mendekatkan wajahnya dengan wajah Bilqis hingga tak berjarak. Ia kembali mengusap pipi yang basah itu. “Jangan menangis! Kalau kamu menangis, itu artinya aku telah melanggar janjiku untuk tidak membuatmu menangis lagi.”
Cup
Alex mengecup kening Bilqis untuk memberikan ketenangan. Setelah Bilqis tenang, ia akan menceritakan tentang Tasya dan Ronal. Namun sbeelum hal itu terjadi, Bilqis mendorong tubuh Alex untuk menjauh.
“Aku butuh sendiri.”
Alex menggeleng. “Tidak. Sendiri bukan solusi. Kamu hanya butuh penjelasan.”
__ADS_1
Bilqis ikut menggeleng. “Tidak. Aku ingin sendiri. Please!”
Alex kembali menggeleng dengan tatapan sendu. “Aku tidak akan izinkan kamu pergi. Kamu tidak akan kemana – mana.”
Bilqis memukul dada Alex. “Egois! Menyebalkan! Pemaksa!”
Bilqis memukul brutal dada itu dengn sekuat tenaga. Ia ingin melampiaskan kemarahannya pada pria itu. Biqis merasa dibohongi. Selama ini, ia mengira Alex memang menyukainya karena dirinya, karena dia adalah Bilqis Talitha yang sederhana dan apa adanya. Ternya, tidak. Ternyata pria itu menyukainya karena parasnya yang mirip dengan cintanya terdahulu. Cinta yang tidak dibolehkan untuk hilang dan memaksa dirinya untuk meminta tetap ada bersanding berdua.
Alex seperti pelaku poligami dan Bilqis sebagai istri muda. Walau istri pertama Alex tidak berwujud tapi kenangan yang Alex bangun itu rasanya melebihi dari sesuatu yang nampak.
Alex menarik tubuh Bilqis dan memeluknya erat.
Bilqis meronta. “Lepas!”
Pria itu menggeleng. “Tidak. Aku tidak akan melepasmu.”
“Lepas, Mas!”
“Tidak, Sayang.” Alex tetap memeluk erta tubuh itu hingga Bilqis pun tak mampu untuk meronta apalagi menjauhi tubuh pria itu.
Baiklah, sementara Bilqis akan menuruti keinginan Alex. Walau ia tidak tahu sampai kapan akan bertahan.
Alex terus mencoba menenangkan sang istri. Ia mengecup kepala Bilqis dan menenangkannya dalam pelukan.
“Tadi kamu bilang, Tasya kakakku? Apa maksudnya?” tanya Bilqis dengan menengadahkan kepalanya untuk menatap wajah Alex.
“Aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang, istirahatlah! Kamu lelah. Butuh hati tenang dan kepala dingin untuk mendengar penjelasanku. Oke!”
Bilqis mengangguk. Lalu, Alex menuntun sang istri ke ranjang dan membaringkannya perlahan. Dengan telaten dan penuh perhatian, Alex menyelimuti tubuh itu.
Alex kembali mengusa pipi Bilqis dan merapikan rambutnya. “Aku akan membuatkan sup untukmu. Sekarang istriahatlah dan jangan membaca buku ini!”
Alex membawa buku harian Tasya dan kunci yang Bilqis duplikasi. Lalu, ia tersenyum ke arah sang istri dan mengecup keningnya kembali.
Alex meraih remot tivi dan memberikannya pada Bilqis. “Nonton tivi aja ya, ada drama korea terbaru. Pasti kamu suka. Ia merubah tampilan layar smart tivi itu ke sebuah aplikasi drama korea. Kamu mau cari drama apa?”
Bilqis diam dan Alex menoleh ke arah sang istri setelah mengotak atik menu di layar empat puluh dua inc itu.
“Mau nonton drama apa?” tanya Alex lagi dengan lembut.
Sepertinya mulai hari ini tidak asa lagi judul menaklukkan bos killer, tapi menaklukkan hati sekretaris dingin.
Tanpa menjawab, Bilqis mengambil remot ditangan Alex. Alex tersenyum dan bangkit dari sisi tepi ranjang yang ia duduki persis di samping Biliqs. Kemudian, ia mengecup lagi kening itu.
__ADS_1
“Baiklah, selamat menonton. Aku tinggal dulu ya."
Bilqis tidak menjawab. Arah matanya tetap ke layar televisi itu dan kini hati Alex yang tiba – tiba nyeri. Entah ia akan sanggup atau tidak menghadapi sikap dingin Bilqis yang seperti ini. Alex hanya berharap sikap dingin yang Bilqis tunjukkan ini hanya sementara. Semoga.