Menaklukkan Bos Killer

Menaklukkan Bos Killer
Menerima takdir


__ADS_3

“Bilqis.”


Laila langsung berlari menghampiri sang putri yang baru saja membuka gerbang rumahnya. Sejak mendengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumahnya. Laila langsung keluar untuk melihat siapa yang datang. Radit pun mengekori langkah sang ibu.


Laila memeluk Bilqis. “Bilqis. Ibu menghubungi dari tadi, tapi ponselmu tidak aktif.”


Bilqis menerima pelukan sang Ibu. Terlihat raut wajah cemas di sana. Walau ia sudah menikah dan bukan lagi tanggung jawabnya, tapi seorang ibu tetap lah seorang ibu yang selalu menunggu kabar putrinya yang menghilang. Walau Alex berkata Bilqis baik – baik saja, tapi Laila tetap tidak tenang sebelum bertemu Bilqis.


Laila melonggarkan pelukan dan mengusap tubuh putrinya. “Kau baik – baik saja kan, Nak? Kemana saja kamu seharian?”


“Ibu, sudah Mba Qis jangn di tanya terus. Suruh masuk, kasihan sudah malam.” Radit menginterupsi.


Radit juga melihat Tina yang berdiri di kap mobilnya. “Kak Tina, makasih ya.”


“Sama – sama, Dit,” jawab Tina tersenyum.


Laila ikut menoleh ke arah Tina. Sedari tadi ia tidak sadar bahwa ada orang lain selain mereka bertiga. “Ya ampun, Nak Tina. Makasih a udah anterin Bilqis pulang.”


Laila hendak menghampiri Tina dan Tina pun mendekat. Wanita itu mengamil punggung tangan Laila dan menciumnya.


“Jadi, dari siang Bilqis di rumahnya Nak Tina?”


Tina mengangguk. “Iya, Bu.”


“Oh, syukur lah.” Laila dapat bernafs lega. Ia takut Bilqis kecewa dan pergi jauh. Laila takut jika putrinya tak kembali.


Tapi ternyata, Bilqis bukan tipe anak yang lari dari kenyataan. Walau semula Bilqis kecewa, tapi sebisa mungkin ia mengobati dirinya dengan cepat. Bilqis juga bukan tipe orang yang larut dalam kesedihan. Ia selalu memiliki cara sendiri untuk mengobati segala beban di hati.


“Ibu takut. Ibu kira Bilqis kabur jauh,” ucap Laila yang ditanggapi senyuman oleh Tina.


“Tidak mungkin, Bu. Selain karena Bilqis tidak bisa jauh dari Ibu, ada seseorang yang juga tidak bisa jauh dari Bilqis. Jadi dia ga akan kabur jauh.” Tina meledek sahabatnya dengan melirik ke arah Bilqis.


“Iya, Ibu memang tidak bisa jauh dari Bilqis.”


Radit menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia tahu maksud teman kakaknya. Yang dimaksud seseorang yang tidak bisa jauh dari Bilqis menurut Tina adalah Alex. Bilqis pun tahu ke mana arah ledekan sahabatnya tadi.


“Ya, ya. Biqis tahu kalau Ibu juga ga bisa jauh dari Bilqis,” sahut Bilqis dengan memeluk sang ibu.


“Terima kasih ya, Nak Tina.” Laila kembali mengucapkan ucapan itu kepada Tina.


“Makasih ya, Kak.” Radit pun demikian.


Tina mengangguk. “Ya, Bu. Radit. Kalau gitu, saya pamit ya.”


Kedua orang yang disebut Tina itu pun mengangguk. Tina juga pamit kepada Bilqis dan Bilqis mengucapkan ucapan yang sama sembari memeluk sahabatnya itu.


“Makasih ya.”


“Sama – sama,” jawab Tina menerima pelukan itu.


“Tin, jangan ragu untuk menceritakan masalahmu padaku!” pinta Bilqis pada Tina sebelum wanita itu pulang. Bilqis juga ingin menjadi seperti Tina saat ini, mendengarkan disaat membutuhkan teman, karena dengan mendengarkan saja rasanya masalah sedikit berkurang.


“Iya.” Tina mengangguk dan tersenyum, lalu kembali ke mobil dan memasukinya.


Bilqis, Laila, dan radit melambaikan tangan ketika mobil Tina mulai bergerak hingga menjauh dan tak lagi terlihat.


“Ayo kita masuk!” ajak Laila pada Bilqis dan Radit.

__ADS_1


Ketiga orang itu memasuki rumah.


“Kamu sudah makan?” tanya Laila pada putrinya.


“Sudah. Di apartemen Tina, Bilqis dibuatkan segala macam makanan, Bu,” jawab Bilqis. “Ibu sudah makan kan?”


Laila menggeleng. “Tidak tertelan.”


“Ibu dari tadi nangis mulu, Mba.” Radit ikut bersuara.


“Kenapa?” tanya Bilqis dengan manatap ke arah Radit dan Laila bergantian.


“Katanya ingat kembaran Mba Qis, mantan istrinya Mas Alex yang udah meninggal itu. Tasya ya namanya.”


Bilqis menarik nafasnya kasar. Sepertinya, ia memang tidak bisa meminta Alex untuk melupakan Tasya, karena walau bagaimana pun wanita itu meninggalkan jejak. Jejaknya sebagai kembaran Bilqis dan jejaknya sebagai ibu kandung Aurel.


“Ibu tidak pernah tahu kembaranmu, Qis.” Laila menangis lagi.


Sejak sampai di rumah ini, Laila memang tak menyentuh makanan. Ia pun tidak beraktifitas dan hanya diam. Padahal Darwis sudah mengirimkan banyak makanan untuk calon istrinya agar tidak sakit. Darwis yang ingin sekali melihat keadaan Laila terpaksa tidak bisa menemuinya karena permintaan Laila sendiri, mengingat besok mereka akan menikah dan Laila masih menganut tradisi pingit. Paling tidak mereka tidak bertemu satu hari sebelum hari pernikahan itu.


Setiap kali mengingat betapa jahatnya Ridho yang menyerahkan satu anaknya untuk diasuh pada Lenka, Laila menangis. Apalagi di sela doa Laila ketika sholat, deraian air mata wanita itu tak berhenti.


“Ibu tidak pernah menggendongnya, memberinya asi, dan merawatnya ketika sakit. padahal dia darah daging ibu. Ibu pun tidak bisa melihatnya karena dia sudah tiada. Bagaimana rupa kembaranmu, ibu tdak tahu,” kata Laila dengan raut wajah yang teramat sedih.


Bilqis pun ikut sedih. Begitu juga dengan Radit. Walau Radit bukan seorang perempuan tapi dia cukup faham sedihnya sang ibu.


“Kalau ibu mau melihat kembaran Bilqis seperti apa? Nanti Bilqis akan ajak Ibu ke rumah Mas Alex lagi. Di sana, banyak barang – barang Tasya. Foto – fotonya pun masih Mas Alex abadikan di sebuah ruangan khusus.”


Radit mengernyitkan dahi. “Benar kah?”


Radit bertanya – tanya, apa sang kakak tidak cemburu dengan hal itu. Ia tidak tahu kekecewaan Bilqis pun tercipta dari ruang rahasia yang disebutkannya tadi.


“Gila kakak ipar gue, ternyata nikahin dua kakak gue langsung,” ujar Radit dalam hati.


Laila yang kurang peka dan agak lambat berpikir, justru malah mengangguk. “Iya, Ibu mau. setelah menikah, Ibu mau mengunjungi rumah Nak Alex dan melihat foto Tasya.”


Laila terlihat senang. Namun, beberapa detik kemudian raut wajah Laila berubah. “Tunggu! Jadi Tasya mantan istri Nak Alex?”


Laila baru sadar membuat Radit lemas.


“Ya ampun, Bu. Dari tadi kemana aja?”


“Tunggu!” Laila meminta waktu agar kepalanya mencerna masalah ini. Yang ia cerna di kepalanya bahwa Ridho menyerahkan bayinya kepada Lenka.


“Jadi, Mas Ridho sebelumnya adalah ayah mertua Nak Alex?”


Bilqis mengangguk. “Bahkan dia menelepon Bilqis satu jam sebelum Bilqis menikah. Padahal Ibu mencarinya ke sana ke mari untuk membawa dia menjadi wali Bilqis. Ternyata, dia jauh tapi sangat dekat.”


Sontak, Laila kembali menangis. “Bilqis.”


Bilqis memeluk sang Ibu. “Takdir membawa Bilqis bekerja di perusahaan Mas Alex. Kita bertemu dan Mas Alex tertarik padaku karena kesamaan aku dengan mendiang istrinya. Dia memaksa menikah dan dari sanalah akhirnya semua terbongkar.”


Bilqis melonggarkan pelukannya pada sang Ibu dan tersenyum menatap Laila. Sungguh, Laila tidak bisa berkata – kata.


Sejenak kedua mata ibu dan anak itu saling bertatapan.


Kemudian Bilqis kembali berkata, “Bilqis yang tadinya antipati pada pria dan bertekad tidak ingin menikah justru jatuh ke pelukan kakak ipar Bilqis sendiri, Bu.”

__ADS_1


“Bilqis.”


Laila kembali memeluk putrinya. Sungguh ia bangga memiliki seorang putri seperti Bilqis yang selalu menerima takdirnya. Di matanya, Bilqis adalah putri yang tegar dan tangguh.


“Mba Qis.”


Radit pun memeluk kedua wanita dihadapannya itu. Ia cukup tahu suasana hati sang kakak tanpa bertanya. Laila pun sungkan untuk bertanya bagaimana keadaan hati sang putri saat ini.


Semua rasa itu hanya tersalur lewat pelukan. Ketiganya berpelukan, berharap kekecewaan itu akan ada sampai malam ini saja dan besok, mereka sudah kembali menghirup udara dengan hati lapang dan wajah secerah pagi.


“Bilqis ikhlas, Bu. Bilqis ikhlas menerima takdir ini karena tanpa jika Bilqis tidak menikah dengan Mas Alex, mungkin semua ini tidak akan pernah terbongkar dan ayah tetap amnesia selamanya.”


Radit setuju. pemuda itu mengangguk. “Dan mereka tidak pernah mendapat hukuman atas kejahatannya.”


Bilqis ikut mengangguk setuju. “Selalu ada hikmah di setiap kejadian.”


“Alhamdulillah. Ibu bersyukur diberikan anak – anak seperti kalian. Terima kasih ya, Allah.”


Air mata Laila terus mengalir. Dibalik kekecewaannya terdapat satu hikmah besar, yaitu ketegaran hati kedua anaknya. Ia senang karena kedua buah hatinya sudah menerima takdir.


“Berarti, Aurel benar – benar cucu Ibu?” tanya Laila lagi.


Bilqis kembali mengangguk. “Aurel bukan cucu sambung ibu.”


“Berarti, Radit juga Om nya Aurel beneran dong,” sahut Radit.


“Ya iya lah beneran. Emang kamu om jadi – jadian.”


“Mba Qis,” panggil Radit manja pada Bilqis, membuat wanita itu tertawa.


Bilqis kembali memeluk ibu dan adiknya. “Lusa, kita tengok ayah di penjara!”


“Boleh.” Radit setuju.


“Ibu ngikut saja. yang pasti, Ibu minta izin dulu sama Mas Darwis.”


“Ciye … Mas Darwis,” ledek Radit yang langsung mendapat pukulan dari sang Ibu.


Radit pun langsung lari untuk menghindari pukulan itu, sedangkan Bilqis hanya tertawa melihat Ibu dan adiknya yang kembali menjadi Tom and Jerry.


Tring


Ponsel Bilqis berbunyi menampilkan sebuah pesan.


“Terima kasih, Sayang. Sudah memaafkanku. Love you.”


Bilqis kembali mengernyitkan dahi. Ia heran mengapa Alex masih saja tahu aktifitasnya. Padahal kamera yang menempel di kerah hodiinya itu sudah ia ambil.


Bilqis pun meraba lagi tubuhnya dan benda – benda yang ia gunakan.


Tring


Ponselnya kembali berdering dan menampilkan satu pesan lagi dari orang yang sama.


“Walau tidak melihatmu tanpa busana, mendengar suaramu saja sudah menghilangkan sedikit rinduku.”


Bilqis kembali mengernyit dan melempar ponselnya asal di atas ranjang saat ia sudah berada di kamarnya, hingga ponsel itu pun tergeletak terbalik. Ada benda aneh yang menempel di balik ponselnya.

__ADS_1


“Again?” tanya Bilqis kesal setelah mendapati benda yang fungsinya untuk menyadap suara. “Dasar killer, udah kaya james bond aja. Perlengkapannya lengkap banget. Huft!”


Hah, sepertinya ia benar – benar akan selalu dibuat pusing oleh tingkah Alex yang terlampau cerdas.


__ADS_2